oleh

Kenali Berbagai Modus Penipuan Masa Kini dan Cara-cara Menghindarinya

Secara umum, penipuan adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk membohongi berbagai pihak, dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum. Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), penipuan diatur dalam pasal 378 dan ancaman hukumannya adalah pidana penjara paling lama empat tahun.

Jika pada masa lalu penipuan hanya bermodalkan kata-kata penuh tipu daya, maka seiring dengan perkembangan teknologi, kita harus waspada terhadap penipuan secara digital atau online melalui WhatsApp, media sosial, atau situs belanja online.

Agar terhindar dari jeratan penipuan masa kini, kita harus mempelajari berbagai modus atau cara penipuan tersebut dilakukan, antara lain.

1. Penipuan Saat Belanja Online

Banyak sekali orang yang berbelanja pada toko-toko online, namun tidak mendapatkan barang yang dibelinya ataupun barang yang didapat tidak sesuai dengan pesanan. Untuk menghindari hal-hal semacam itu, kita harus menghindari pembelian langsung pada toko-toko online.

Gunakan aplikasi resmi dan terpercaya seperti Shopee, Tokopedia, Lazada, Bukalapak, atau Blibli.com. Selain itu, jangan tergiur dengan harga yang sangat murah yang sengaja dibuat untuk menarik perhatian pembeli, sehingga orang akan buru-buru mentransfer uang tanpa memperhatikan toko yang dituju.

Sebaiknya juga jangan terpaku pada ulasan atau testimoni dari para pembeli suatu produk, karena bisa saja testimoni itu dibuat oleh penjualnya. Jika kita membeli langsung pada toko online, sebelum melakukan transaksi periksa ulang identitas penjualnya seperti nama toko atau perusahaan, alamat, alamat email, formulir kontak, dan nomor telepon penerima tersebut, apakah benar-benar ada.

Cek juga rekening penjual di cekrekening.id. Jangan lupa untuk menyimpan bukti transfer untuk membuat laporan jika terjadi penipuan.

2. Penipuan Kelebihan Bayar

Pelaku penipuan ini biasanya melancarkan aksinya kepada orang-orang yang berjualan barang, makanan, pemilik kos atau rumah kontrakan. Mereka mengaku telah mentransfer sejumlah uang untuk membayar pesanan makanan atau uang kos, dengan menyertakan bukti pembayaran. Biasanya jumlah pembayaran tersebut lebih dari kesepakatan harga dengan dalih kelebihan bayar. Penerima uang akan diminta untuk mentransfer kembali kelebihan uang yang diterima.

Baca Juga  Punya Peran Penting, Ini 11 Ratu dan Putri di Kerajaan-Kerajaan Nusantara Pada Masanya

Jangan pernah langsung percaya pada bukti transfer yang kita terima. Langsung saja cek apakah benar ada tambahan pada saldo rekening kita. Pengirim uang bisa saja memberikan bukti transfer palsu yang sangat mirip dengan yang asli dari bank. Jika kita lihat dengan teliti, pasti ada perbedaannya.

3. Penipuan Salah Transfer

Pelaku penipuan ini memberitahu kita, bahwa ia telah salah mentransfer uang dengan jumlah tertentu ke rekening kita dan meminta agar uang tersebut dikembalikan. Saat kita transfer kembali, ternyata uang tersebut berasal dari pinjaman online. Pelaku penipuan menggunakan identitas kita untuk melakukan pinjaman online, dan mengakibatkan kita yang harus mencicil pinjaman tersebut.

Untuk menghindar dari salah satu modus penipuan masa kini yang sudah sering terjadii, jika ada tambahan dana misterius di rekening kita, sebaiknya hubungi pihak bank untuk kejelasannya dan jangan menuruti permintaan untuk mentransfer kembali uang tersebut.

4. Penipuan Memenangkan Hadiah

Penipuan jenis ini sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Pelaku menjanjikan hadiah dari undian berupa barang seperti ponsel, laptop, motor, hingga mobil. Untuk pengiriman hadiah, penerima harus membayar pajak yang harus ditransfer lebih dulu. Jangan pernah percaya pada hadiah-hadiah seperti itu. Tidak ada satu pun pihak pemberi hadiah resmi, yang meminta penerimanya untuk mentransfer uang untuk pembayaran pajak begitu saja.

Undian-undian berhadiah besar pasti akan diumumkan secara besar-besaran melalui berbagai media, bukan hanya melalui WhatsApp atau SMS.

5. Penipuan Berkedok Amal

Banyak orang yang mempunyai rezeki berlebih dan ingin membagikannya kepada orang-orang yang lebih membutuhkan. Namun, ada banyak orang, organisasi atau yayasan yang memanfaatkan kebaikan orang dengan melakukan penipuan berkedok amal. Singkatnya, mereka menjadi perantara bagi para penyumbang, tetapi nantinya hasil amal tersebut akan digunakan untuk kepentingan pribadi.

Baca Juga  Istilah ‘Container Garden’ yang Dapat Kamu Jadikan Pilihan Berkebun untuk Lahan Sempit

Sebaiknya kita melakukan riset sebelum memberikan dana untuk amal. Periksa apakah yayasan atau lembaga penerima dana yang kita tuju benar-benar dapat dipercaya. Lakukan pengecekan lebih awal jenis pembayaran apa yang yayasan amal tersebut gunakan untuk menghindari penipuan. Kita bisa memanfaatkan fitur di sejumlah browser internet, yang dapat memberikan peringatan jika halaman pembayaran yang kita tuju tidak aman.

Pilihan lainnya yang lebih terjamin adalah menggunakan jasa crowdfunding atau pengumpulan uang secara kolektif, untuk proyek sosial dan kemanusiaan seperti KitaBisa atau AyoPeduli.

6. Penipuan Dengan Alasan Keadaan Darurat

Pelaku penipuan ini menelepon kita dan memberi kabar, bahwa salah satu anggota keluarga kita mengalami keadaan darurat seperti kecelakaan ataupun terkena kasus hukum. Biasanya mereka mengaku sedang berada di rumah sakit atau di kantor polisi.

Penelepon meminta penerima untuk mentransfer sejumlah dana untuk biaya rumah sakit atau untuk menangani kasus hukum. Penerima telepon yang panik akan langsung mentransfer dana yang diminta tanpa mengkonfirmasi ulang.

Berusahalah untuk bersikap tenang jika mengahadapi menerima telepon dengan berita seperti itu. Hubungi teman, kerabat, atau siapa saja untuk membantu mengetahui kebenaran berita tersebut termasuk pihak rumah sakit atau kantor polisi. Modus penipuan semacam ini sudah sangat sering terjadi, dan sudah banyak himbauan untuk tidak memercayainya, tetapi tetap saja masih ada orang yang tertipu.

7. Penipuan dengan Cara Hipnotis atau Gendam

Pelaku penipuan ini meminta korbannya untuk menyerahkan barang-barang yang dimiliki seperti uang, perhiasan, dan ponsel. Di bawah pengaruh hipnotis atau gendam, kita akan dengan sukarela menyerahkan barang-barang yang diminta. Tidak hanya berhadapan secara langsung, pelaku juga bisa menipu kita melalui telepon dan mengarahkan kita untuk menuju ke ATM dan mentransfer sejumlah dana.

Penipuan jenis ini sudah terjadi sejak dahulu hingga sekarang. Untuk menghindarinya, jangan melamun atau membiarkan pikiran kosong. Sibukkan diri dengan memvaca atau mendengarkan musik. Dalam agama Islam, sangat disarankan untuk berzikir agar terhindar dari kejahatan dengan cara hipnotis atau gendam.

Baca Juga  Dianjurkan untuk Ditiru, Inilah 5 Kebiasaan Hidup Sehat di Pesantren
8. Penipuan dengan Modus Love Scam

Kejahatan love scam atau penipuan berkedok asmara biasanya berawal dari perkenalan pelaku dan korban di media sosial seperti facebook dan instagram. Pelaku biasanya berpenampilan menarik, sopan, ramah, dan penuh perhatian. Dalam waktu singkat perkenalan tersebut berlanjut dengan hubungan asmara. Perlahan-lahan, korban akan terpedaya dan bersedia memenuhi apapun yang diminta oleh pelaku.

Modus penipuan yang sering terjadi adalah pelaku meminjam sejumlah dana kepada korbannya, untuk kepentingan bisnis namun tidak pernah mengembalikannya. Modus lainnya adalah pelaku meminta korban untuk mengirimkan foto-foto bagian tubuh korban, lalu meminta sejumlah uang. Jika tidak dituruti, maka pelalu akan menyebarkan foto-foto tersebut. Korban dari love scam ini sebagian besar adalah wanita lajang berusia separuh baya.

Agar tidak terjerat bujuk rayu dari pelaku love scam, jangan pernah membagikan data pribadi seperti nama lengkap, tanggal lahir, maupun alamat rumah, baik di situs dating maupun di jejaring media sosial.

Gunakan situs dating yang terpercaya, yang memungkinkan kita tetap bisa merahasiakan informasi pribadi diri, hingga kita siap membagikannya kepada orang yang benar-benar telah kita percayai. Jangan gunakan webcam atau video call yang dapat direkam oleh pihak lain untuk tujuan jahat. Yang tak kalah penting, jangan pernah mau untuk menerima atau mengirim uang dari dan kepada siapa pun yang kita kenal secara online.

Setelah mengetahui berbagai modus penipuan masa kini, sebaiknya kita selalu berhati-hati dengan menjaga kerahasiaan data-data pribadi kita dan tidak membagikannya di media sosial. Usahakan untuk tidak mudah percaya pada orang-orang yang bersikap mencurigakan. Jika menjadi korban penipuan, jangan panik dan laporkan kepada pihak berwajib dengan membawa bukti-bukti yang diperlukan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 comment

Publikasi Terkait Lainnya