by

Tema-Tema Menarik untuk Puisi yang Sering Dipakai Sastrawan

Ada banyak tema-tema menarik untuk puisi yang perlu diketahui oleh sastrawan terutama pemula. Sekalipun demikian, esensi tematik tetap milik si pengarang puisi sedangkan pembaca hanya menjadi penilai saja. Maka dari itu, tema-tema yang akan dijelaskan ini kadang memang dipakai satu saja, tetapi ada juga sastrawan yang menjadikan keseluruhan tema sebagai dasar pembuatan puisi.

Nah, di bawah ini akan dijelaskan beberapa tema yang sering dipakai sastrawan dalam menulis puisi. Semuanya didasarkan pada pengalaman pribadi, pengalaman orang yang ditulis ulang, ataupun pengalaman di masa depan yang masih belum terjadi. Untuk itu, silakan disimak ini tema-tema yang dimaksud:

1. Post Kolonial

Tema post kolonial adalah tema seputar penjajahan. Biasanya puisi dengan tema semacam ini lahir dari kegelisahan penyair yang hidup di jaman penjajahan. Luar biasanya lagi, terkadang karya sastra dengan tema post kolonial juga dijadikan sebagai dasar perlawanan, serta sebagai dasar untuk memotivasi para pejuang.

Memang ada banyak cara untuk melepaskan diri dari penjajahan. Namun seorang sastrawan memiliki cara berbeda, untuk melepaskan rasa ketaksukaannya kepada para predator negara tersebut. Alhasil banyak para penyair yang akhirnya ditangkap karena dianggap telah berseberangan dengan politik penjajahan.

2. Romantisisme

Tema-tema menarik untuk puisi yang berikutnya adalah tema seputar percintaan yang disebut tema romantisisme. Ini merupakan tema puisi yang paling populer dan dianggap tema yang paling mudah untuk dijadikan puisi. Menurut sebagian penyair, alasannya karena peleburan intuisi ke dalam teks lebih cepat dan lebih kental.

Ini adalah fakta. Apalagi jika puisi tersebut berbicara tentang rasa sedih ketika ditinggal kekasih atau perasaan berbunga-bunga akibat berjumpa dengan sang idaman hati. Tentu, ketika tema semacam ini dijadikan bait-bait diksi puisi, ada semacam luapan perasaan yang tanpa disadari muncul ke dalam teks pasca teks tersebut dibacakan.

Baca Juga  Cerpen: Sebab Kamu Hanya Mencintainya
3. Gender

Kesenjangan antara laki-laki dengan perempuan seharusnya sudah selesai pasca terjadinya revolusi feminisme di Amerika pada abad 19. Bahkan di Indonesia sendiri, RA Kartini telah menyodorkan emansipasi wanita yang menjadi sebuah argumen, kalau laki-laki dan perempuan berdiri sederajat dan semartabat.

Namun, gejolak konflik antara laki-laki dan perempuan selalu saja muncul ke permukaan. Salah satunya adalah kasus KDRT yang terkadang melibatkan kaum perempuan sebagai korbannya. Nah, sastrawan perempuan kadang mencoba mengangkat tema gender ini, ke dalam puisi semata untuk mengingatkan kembali tentang persamaan kederajatan di atas.

4. Marginalisme

Marginalisme kadang disebut juga sebagai orang-orang yang terpinggirkan. Nah, kalau seorang penyair merasa kalau marginalisme sedang terjadi di lingkungannya, baik itu menimpa dirinya sendiri maupun orang lain, maka terkadang ia membuatnya menjadi puisi. Ini bisa dilihat pada puisi Khalil Gibran yang mencoba mendramatisir terjadinya marginalitas di Libanon di kala itu.

Sastrawan Indonesia juga banyak yang membuat puisi bertemakan Marginalisme. Terutama yang terkait dengan konflik kepentingan kalangan elit dengan rakyat kecil yang tidak ujung berhenti. Tak urung, karena puisi yang dibuat mengandung unsur kritik yang keras, si penyair pun harus meringkuk di balik jeruji besi.

5. Feminisme

Feminisme merupakan tema puisi yang biasanya dibuat oleh penyair laki-laki. Di dalamnya biasanya dipenuhi dengan diksi pujian kepada sosok kaum hawa yang mungkin menjadi idaman hatinya. Kadang juga berisi diksi-diksi sedih jika si perempuan hanya menanam luka dan duka di dalam jiwa.

Sama seperti tema romantisisme, tema terkhusus perempuan ini juga paling sering dipakai seorang penyair untuk membuat puisi. Alhasil, diksi yang dipakai pun tidak pernah jauh dari benda alam yang memang identik dengan keindahan salah satunya adalah bulan, purnama, bunga, mawar, pelangi dan selainnya.

Baca Juga  Cerpen: Kamu Bukan Jodohku
6. Patriotistik

Para pejuang Indonesia, berani melawan penjajah di tahun 45 hanya dengan berbekal bambu runcing dan senjata rampasan. Namun, lebih jauh dari itu, ada pekikan penyemangat yang tidak bisa dilupakan sampai saat ini, yaitu pekikan takbir dan kalimat sastra “Merdeka atau Mati”

Lihat bagaimana sebuah diksi puitistik bertemakan Patriotistik berhasil menggugah semangat juang. Para pahlawan seakan tidak takut mati hanya demi menikmati alam kemerdekaan. Nah, sedangkan para penyair selanjutnya, lebih menggunakan puisi patriot semata, untuk mengenang para pahlawan yang telah berjuang dengan gagah perkasa sampai darah penghabisan.

7. Spiritual

Puisi spiritual adalah puisi yang temanya lebih mengarah pada dimensi keagamaan. Di dalamnya pasti terdapat diksi yang memang mengambil dari petikan nash atau memang keseluruhan puisi didasarkan pada nash-nash tertentu. Ada banyak penyair Muslim yang mencoba memasukkan tema ini ke dalam sebuah puisi.

Puisi spiritual semata untuk mengajak masyarakat bertakwa kepada Allah dengan cara yang unik. Di dalamnya juga ada kalimat pengingat tentang kekuasaanNya, nikmat yang telah diberikan, serta mengingat kematian. Sisi religius seperti inilah yang coba disentuh melalui kacamata sastra.

8. Konflik Sosial

Tema-tema menarik untuk puisi yang terakhir ialah tema terkait konflik sosial. Segala macam konflik sosial akan coba diulas dengan cara berbeda. Namun, di dalam sebuah puisi pasti ada diksi khusus yang memang menjadi keterwakilan dari tema di atas.

Sejatinya puisi yang bertema konflik sosial bukan untuk mencari solusi atas konflik yang sedang terjadi. Mungkin tujuan penyair hanya ingin memberitahukan kalau konflik tersebut pernah ada, sekaligus juga untuk memasukkan pandangannya terkait konflik yang sedang terjadi tersebut.

Itulah beberapa tema-tema menarik untuk puisi yang sering dijadikan acuan pembuatan karya seorang penyair. Namun, lebih jauh dari itu, terkadang semua tema dipakai secara keseluruhan di dalam karya demi untuk memberikan nilai absurd sebuah teks. Makanya, ada argumen yang menyatakan, semakin tersembunyi sebuah tema, maka puisi tersebut akan semakin berkualitas.

Penulis : Agus Heriyanto

Gravatar Image
Saya adalah seorang penulis artikel online yang telah menekuni profesi selama 8 tahun lebih. Ini Saya lakukan semata untuk memberikan informasi yang berharga kepada seluruh pembaca online di seluruh Indonesia.

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

Artikel Terkait