by

Mengapa Sastra Perlu Diapresiasi? Ini Dia Jawabannya

Ada yang mengatakan sastra tidak penting. Maka dari itu, jangankan menghargainya, mempelajarinya pun tidak perlu dilakukan. Tetapi mengapa ada materi apresiasi sastra di kampus? Lantas, mengapa sastra perlu diapresiasi? Jawabannya akan penulis ulas di artikel ini dengan penjelasan ringan namun terarah.

Sejatinya sastra tidak asing di Indonesia, bahkan iklim kesusasteraan nusantara telah lama muncul terutama di masa pra kemerdekaan, yang disebut pujangga lama. Dari sini terlihat kalau sastra perlu ada, bahkan harus diapresiasi atau dihargai dengan adanya alasan-alasan berikut:

1. Sastra Berupa Racikan Imajinasi

Sungguh tidak mudah membangkitkan imajinasi. Sebab membutuhkan pola berpikir khusus dan rumit dibandingkan berpikir ilmiah. Makanya, penyair lebih mudah membuat karya penelitian, sedangkan kalangan intelektual belum tentu bisa melahirkan karya sastra. Ini alasan pertama sastra harus diberi penghargaan yang tinggi.

Tanpa berpikir imajinasi, karya sastra tidak akan estetis. Yang tertulis hanya kata-kata tak bermakna dan tanpa maksud. Sekalipun menggunakan diksi indah, nilainya tidak elegan. Bahkan karya tidak lebih surat cinta semata. Tak ada yang diharapkan dari sastra semacam ini. Si pengarang pun tidak akan puas terhadap karyanya.

2. Di Dalamnya Ada Kepekaan Intuisi

Apakah untuk melahirkan karya sastra hanya mengandalkan imajinasi semata? Tentu tidak, karena pembaca tidak akan mencoba memasukkan emosi saat membacanya. Untuk itu, pengarang harus pintar memainkan kepekaan intuisi di dalam karya. Jika pembaca menangis, berarti ia telah berhasil.

Pernah menangis saat menonton sinetron? Tak hanya karena peran artis yang bagus saja melainkan kepiawaian skenario dalam memasukkan emosi ke dalam cerita. Nah, peran di film disebut seni pementasan, sedangkan script-nya merupakan sastra. Itu artinya, sastra punya peran besar yang menggerus emosi pemirsa.

Baca Juga  Nilai Positif Film Upin dan Ipin yang Bikin Trenyuh
3. Ada Idealisme Pengarang di Dalam Sastra

Pengarang tidak asal membuat karya sastra, melainkan ada idealisme berpikir yang dijadikan arah dan tujuan. Baik terkait fenomena sosial hingga marginalitas memprihatinkan. Tidak dipungkiri, ada peradaban yang berubah disebabkan sebuah karya. Ini terjadi hampir di seluruh negara di dunia.

Pejuang Indonesia berani melawan penjajah karena terhipnotis Karawang Bekasi-nya Chairil Anwar. Nusantara menikmati alam reformasi karena sajak liris dari seorang Wiji Tukul. Yang terakhir, keberhasilan NASA menerbangkan astronot pertama ke bulan, karena termotivasi sajak yang dikutip presiden Abraham Lincoln.

4. Ada Ajaran Kebijaksanaan Melalui Kata

Sesakit hati penyair, kata-katanya masih seharum bunga. Ungkapan sastrawi ini sejatinya ajaran untuk santai di dalam hidup, termasuk tidak membalas rasa sakit dengan rasa sakit yang sama. Tidak membalas hinaan dengan cacian. Alangkah damainya bumi andai semuanya penyair.

Jika engkau berjumpa dengan orang yang lidahnya bercabang, maka berilah madu agar dia terus berkata-kata. Ini quotesy liris dari Kahlil Gibran yang lahir satu abad lalu. Di dalam karya tersebut, ada harapan agar manusia membalas rasa sakit dengan kebaikan. Apakah tidak disebut bijaksana orang-orang semacam ini?

5. Melahirkan Kemampuan Berpikir Kreatif

Mengapa sastra perlu diapresiasi? Jawabannya karena karya sastra melahirkan kemampuan berpikir kreatif. Hal ini didapatkan dari kebiasaan meracik kata menjadi lirik yang tidak biasa. Serta kemampuan memilah diksi antara yang estetis dengan yang tidak. Belum lagi ada tipografi dan rima yang membutuhkan kreativitas tinggi.

Orang kreatif berpotensi sukses di dalam kehidupannya. Selain tidak mudah menyerah pada kerumitan hidup, juga cerdas menentukan solusi. Mental semacam ini bisa dipupuk melalui kebiasaan membuat karya sastra. Ya, semakin sering bersastra, pikiran  kreatif akan semakin terasah.

Baca Juga  Pertengkaran Imajiner dengan Tukang Cakwe
6. Mengandung Filosofi Kehidupan

Jika belajar filsafat sastra, akan terlihat kalau karya sastra berguna bagi kehidupan. Baik terkait kemanusiaan, keadilan, pemerataan hak sosial, hukum hingga politik. Luar biasanya, semua dimensi berkehidupan terkadang masuk ke dalam satu karya. Hanya satu karya saja. Ini karya sastra yang paling bermutu.

Model karya semacam ini, sering dimunculkan penyair Libanon, Kahlil Gibran. Bahkan, di karya fenomenal-nya yang berjudul Sang Nabi, dia memasukkan berbagai dimensi hidup. Dari masalah marginalitas, kasus agraria, otoritarianisme pemuka agama hingga cinta seorang ibu. Uniknya, setiap kali mengulang bacaan, pembaca akan menemukan hal baru dan berbeda.

7. Menjadi Pengisi Waktu Luang yang Elegan

Sastra perlu diapresiasi, karena menjadi pengisi waktu luang yang elegan. Pasalnya, ada hiburan yang didapatkan tanpa menghilangkan kreativitas dan imajinasi. Lain soal kalau mengisi waktu dengan membuat karya ilmiah. Pikiran akan lelah karena metode yang kaku dan monoton. Belum lagi biaya riset yang mahal.

Dari durasi waktu pembuatan juga lebih pas. Karena waktu luang pasti tidak terlalu lama. Sedangkan membuat karya sastra, satu dua jam selesai. Kalau membuat karya ilmiah membutuhkan waktu lebih panjang hingga berbulan-bulan. Belum lagi harus riset, wawancara, survey dan lain sebagainya.

8. Sebagai Bentuk Apresiasi Kebudayaan

Sastra dan kesusasteraan merupakan kebudayaan bangsa. Untuk itu, penghargaan atau apresiasi terhadapnya harus diberikan masyarakat. Bentuknya bermacam-macam. Bisa membuat narasi apresiasi, atau rajin membuat karya, sehingga hasil karsa dan cipta ini tidak hilang ditelan jaman.

Lebih jauh, sastra harus dibelajarkan dengan sistematis dan terukur. Jangan di kampus jurusan Bahasa Indonesia dan Sastra saja. Tetapi harus merambah sekolah menengah bahkan dasar. Baru, generasi bangsa bisa mendapatkan momentum kreatif yang bagus.

Baca Juga  Bisa Kamu Coba, Inilah 6 Cara Agar Tidak Bosan Membaca

Sekarang pembaca sudah tahu mengapa sastra perlu diapresiasi. Jadi, buang jauh-jauh paradigma sastra itu tidak penting. Gantikan dengan girah melahirkan karya yang konsisten. Karena sejatinya, memang tak perlu menjadi sastrawan untuk hidup, tetapi yakinlah dengan sastra membuat kehidupan lebih indah.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Publikasi Terkait Lainnya