by

Pisang dalam Nasi Kotak

Setandan buah pisang tergeletak di sudut meja. Harumnya semerbak memenuhi ruangan. Tuan Ar dan istrinya sedang sibuk menyusun satu set makanan, untuk dibagikan kepada tetangga di dalam kotak-kotak karton yang sudah dibentuk. Sekat plastik sudah dimasukkan ke dalamnya dan siap untuk diisi.

Setiap orang yang datang memuji keharuman pisang itu, karena buah itu matang di pohon dan dipanen oleh tangan Tuan Ar, khusus untuk acara syukuran kelahiran cucunya. Warna pisang itu kuning mulus tanpa ada semburat hijau di bagian tepi. Bentuknya juga bulat lonjong dan besar-besar.

“Sempurna,” kata Tuan Ar tentang hasil kebunnya itu.

“Benar, dia begitu sempurna. Seakan kau memakai pengharum ruangan di seluruh bagian rumah. Bahkan karung bekas pembungkusnya pun masih menyimpan keharuman yang sama dengan sumbernya,” sahut Nyonya Ar.

Nyonya Ar mencetak nasi dengan menggunakan mangkuk sup. Bentuknya cantik, seperti gunung. Selain itu, ia juga memasak sayur buncis campur daging yang aromanya menggugah selera. Ada pula kentang dan hati sapi yang dimasak pedas, membangkitkan keinginan untuk segera makan. Belum lagi potongan ayam goreng yang lezat, dan kerupuk udang yang mekar sempurna dan matang merata di dalam kemasan plastik.

Semua makanan itu siap untuk dimasukkan ke dalam sekat plastik. Sekat terbesar diisi oleh nasi. Sekat besar lainnya untuk ayam bakar. Dua lainnya untuk kentang dan buncis. Sekat untuk sambal berbentuk bulat kecil sengaja dikosongkan sebab kentang yang Nyonya Ar masak sudah sangat pedas.

“Ah, cantik sekali bentuk nasi hasil cetakanku ini. Kau begitu putih, padat dan rapi. Juga wangimu mirip daun pandan. Aku sangat menyukaimu,” puji Nyonya Ar saat memasukkan nasi.

“Terima kasih, Nyonya. Tapi aku tak sudi jika harus satu kotak bersama dengan pisang,” jawab nasi berbentuk gunung itu.

“Sudahlah jangan banyak membantah. Bukankah sudah menjadi tradisi bahwa buah pisang akan selalu dimasukkan ke dalam kotak nasi?” Nyonya Ar tampak tak peduli.

Potongan ayam goreng bagian paha hingga kaki yang aroma rempahnya begitu kuat, dengan warna kuning keemasan diangkat oleh Nyonya Ar dari baskom besar dan didekatkan ke hidungnya sambil memejamkan mata. Ia begitu menikmati wanginya.

“Ayam goreng lezat dengan tekstur daging yang lunak. Kau pasti akan habis lebih dulu. Mencium aromamu saja aku sudah merasa lapar,” puji Nyonya Ar.

Baca Juga  Wanita Tua yang Memberi Makan Batu Nisan

“Ya, berkat keterampilan tanganmu, tapi semua itu tak ada artinya jika pisang juga ikut berada di dalam kotak ini,” jawab ayam goreng.

Nyonya Ar membuang napas. “Diamlah,” katanya.

Sayur buncis yang diiris diagonal dengan campuran daging sapi yang dicincang halus, diambil sesendok besar untuk dimasukkan ke dalam sekat. Nyonya Ar tampak puas dengan masakan itu. Senyumnya mengembang melihat warna hijau segar berpadu dengan merahnya paprika. Aroma masakan lada hitam begitu menggoda.

“Aku berhasil membuat sayur buncis terenak di dunia hari ini,” ujar Nyonya Ar.

“Terima kasih, Nyonya, tapi apa gunanya semua itu jika pisang ikut masuk ke dalam kotak ini? Aku pasti akan beraroma pisang,” bantah sayur buncis.

“Hush! Jangan banyak bicara!” bentak Nyonya Ar.

Tiba giliran kentang hati sapi yang berwarna kemerahan karena banyak cabainya untuk masuk ke dalam kotak. Nyonya Ar tersenyum puas melihat kentang dan potongan hati sapi berbentuk dadu itu. Petai ikut meramaikan masakan Nyonya Ar. Jangan ditanya bagaimana aromanya. Sedap sekali.

“Kau sungguh elok dan lezat. Aku bangga bisa memasakmu hari ini. Jangan membantah seperti teman-temanmu, ya,” kata Nyonya Ar.

“Begini, Nyonya. Apa kau tak mau mengerti juga, bahkan setelah teman-temanku membicarakan hal yang sama tentang pisang?” tanya kentang.

Nyonya Ar menggeleng. “Diamlah,” katanya.

Setelah nasi, ayam, buncis dan kentang menempati sekat masing-masing, giliran kerupuk yang masuk dan menutupi sebagian permukaan makanan. Tuan Ar mngingatkan istrinya agar tak lupa memasukkan air mineral gelas beserta sedotannya ke dalam kotak.

Nyonya Ar mengangguk. Namun, diam-diam ia memikirkan perkataan makanan-makanan itu. Ia pun berinisiatif memotong plastik berukuran seperempat kilo, dan meletakkannya di atas permukaan makanan dengan mengambil kerupuk terlebih dahulu. Di atas lembaran plastik itu Nyonya Ar meletakkan kerupuk dan air mineral.

Nyonya Ar hampir memetik sebuah pisang untuk diletakkan di sisi air mineral, tetapi urung. Ia penasaran pada kericuhan di dalam kotak, lalu mengendap-endap untuk menguping pembicaraan makanan-makanan itu.

“Hai kerupuk. Kau beruntung ditaruh di dalam plastik yang dirapatkan. Pikirkanlah bagaimana nasib kami. Masakan wangi khas tubuhku terserap dan tergantikan oleh aroma pisang. Menjijikkan! Percuma Nyonya Ar meletakkan plastik, karena aroma pisang mampu menembus sampai ke luar kotak!” seru nasi.

Baca Juga  Rindu yang Membelenggu

“Masih lebih buruk nasib kami, sayur dan lauk. Masakan kami yang gurih dan lezat ini harus rela kehilangan rasa dan aroma kami karena satu pisang saja?” protes ayam, mewakili buncis dan kentang.

“Iya, tapi jangan mengira aku aman walau di dalam plastik rapat, sebab rasa dan aroma udang yang kupunyai pun pasti akan tercampur dengan aroma pisang. Bayangkan saja bagaimana rasaku nanti. Yang paling aman adalah air mineral, sebab ia punya kemasan tersendiri dan benar-benar tertutup rapat,” sanggah kerupuk.

“Tidak juga. Lihatlah, Nyonya Ar pasti akan meletakkan pisang itu di sisiku. Bayangkan saat aku bersentuhan dengannya. Jika airku menjadi wangi, maka orang yang meminumnya akan menjadi mual, sebab aku disukai karena tak berasa dan tak beraroma,” keluh air mineral.

Nyonya Ar menjadi gusar. Ia bangkit dan membelalakkan mata bulatnya dari atas kotak. Semua makanan ketakutan ketika wanita berambut putih itu, memerintahkan mereka semua untuk tidak menolak keberadaan pisang. “Kalian ini memang tidak bisa bersyukur!” bentaknya.

Nyonya Ar lantas menghampiri pisang dan memetik satu dari buahnya. Ia hendak memasukkan pisang itu ke dalam kotak tetapi si pisang memberontak.

“Maaf, Nyonya. Sebaiknya tidak usah sertakan saya di dalam kotak. Tidak apa-apa. Saya tak ingin keberadaan saya menyusahkan teman-teman,” rintih pisang.

“Sejak kapan kau menyusahkan? Bukankah pisang memang selalu ada di dalam nasi kotak?” Nyonya Ar mulai gundah.

“Benar, Nyonya. Tapi kalian tidak tahu betapa menderitanya kami sejak dahulu, karena aroma kami membuat mereka kehilangan rasa dan aroma khas dari diri mereka, malah semua masakan berbau pisang.”

Nyonya Ar terdiam sejenak. Dalam hatinya ia membenarkan ucapan pisang. Ia bahkan pernah membuang satu kantong sayur bayam dari tetangganya, karena di dalam plastik pembungkusnya terdapat satu buah pisang. Ia termenung, lalu memikirkan sebuah solusi.

“Baiklah. Kau ada di luar kotak.”

“Tapi, Nyonya, bukankah itu akan merepotkanmu?”

“Pastinya. Apa boleh buat. Itu, kan, permintaanmu.”

“Bagaimana caranya, Nyonya?”

“Akan kutempatkan di atas kotak dengan kuberi perekat, atau akan kubawa kalian di dalam plastik besar secara tersendiri, dan baru akan diambil ketika kotak dibagikan.”

“Maaf menyusahkanmu, Nyonya.”

Nyonya Ar lantas mengembalikan pisang itu ke tempatnya, lalu kembali ke kotak nasi dan membuka tutupnya lalu bicara.

Baca Juga  8 Keuntungan Ikut Lomba Menulis Cerpen bagi Penulis Pemula dan Profesional

“Dengar, kalian semua. Pisang telah mendengar semua pergunjingan kalian dan ia memilih untuk mengalah, bahkan ia memohon padaku untuk tidak disertakan dalam pemberian nasi kotak. Padahal dia adalah pelengkap nasi kotak sejak zaman ibuku masih kecil, dan kalian ingin mengubah tradisi itu sekarang. Aneh.”

Makanan-makanan itu terdiam, kemudian terdengar kasak-kusuk di antara mereka. Sebagian merasa bersalah, sebagian lagi bersikukuh untuk meninggalkan pisang sendirian.

Nyonya Ar bicara lagi. “Dengar, sekali lagi. Apa kalian tahu? Sebagaimana enak dan lezatnya kalian, kalian adalah buatan tanganku, dan aku hanya manusia. Tapi pisang, dia menjadi seperti itu tanpa campur tangan manusia. Aku tidak membumbuinya sedikitpun, dan aku sama sekali tak mengerti apa maksud Sang Pencipta membentuknya seperti itu, lengkap dengan aroma tubuhnya yang banyak meninggalkan jejak di mana pun ia ditempatkan.

“Wah, berarti dia lebih terhormat daripada kita,” ujar nasi.

“Ya, dan kau lebih terhormat daripada kami, nasi, karena Nyonya Ar tidak sedikitpun membumbuimu. Kau sudah wangi, sama seperti pisang. Hanya perlu dimatangkan saja,” imbuh kentang.

“Air mineral pun demikian. Ia sudah terbentuk tanpa ada zat tambahan. Manusia hanya mengemasnya saja supaya bisa dinikmati hingga ke tempat kita,” balas nasi.

“Kurasa ayam lebih istimewa, sebab dia hidup dan dapat berjalan ke sana kemari sebelum diolah, sementara kita hanya bisa diam dan menunggu,” timpal air mineral.

“Kalian pun istimewa, buncis dan kentang. Kalian juga tercipta dari alam. Manusia mengolahnya menjadi hidangan lezat, dan masing-masing punya ciri khas,” sahut ayam.

“Kalau begitu, kita harus mau menerima kehadiran pisang tanpa harus merasa terganggu dengan keharumannya,” tukas buncis.

“Setuju!” jawab semua yang di dalam kotak.

Nyonya Ar tersenyum dan mengambil pisang, lalu memasukkannya ke dalam kotak, tepat di samping air mineral. Kotak pun ditutup dan ia melanjutkan pekerjaannya dibantu oleh Tuan Ar. Ada lima puluh kotak yang harus terisi penuh, dan sampai hari ini pisang tetap ada di antara nasi kotak.

“Sayang, kudengar kau dari tadi bicara sendiri. Ada apa?” tanya Tuan Ar.

“Ah. Tak apa, Suamiku,” sahut Nyonya Ar sambil tersipu. Hanya wanita itu yang dapat mendengar percakapan dari semua benda. Itulah sebabnya Nyonya Ar sering terlihat bicara sendiri.

Bekasi, 12 Agustus 2022

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

4 comments

Publikasi Terkait Lainnya