by

Dongeng Naga: NACIL SI PEMBERANI

NACIL SI PEMBERANI

Pada zaman dahulu, di sebuah hutan hiduplah seekor Naga kecil, bernama Nacil. Ia sudah menjadi yatim piatu sejak berumur 3 tahun. Tidak ada binatang yang mau berteman dengannya kecuali, Kely si kura-kura. Mereka selalu bermain, bernyanyi dan belajar bersama.

Seperti pagi itu, Nacil mengajak Kely berkeliling hutan dengan naik ke punggungnya. Merekapun terbang melintasi pepohonan dan sungai sambil bernyanyi gembira.

“Ca ca ca… Baca baca…”

“Ba tambah ca, menjadi baca,

“Bu tambah ku, menjadi buku”

“Kalau baca buku menjadi tahu”

“Kalau baca buku menjadi berilmu”

Kwakakkk kakak……… kwaaaa wuzzzz…. Sesekali Nacil mengeluarkan api dari mulutnya.

“Hai Nacil, lihat …! Warga hutan sedang bermain di bukit itu”, kata Kely sambil menunjuk ke arah beberapa binatang yang sedang berkumpul di bawah pohon asam.

“Ayo kita ke sana!!”, Ajak Kely

“Ah, tidak usah… kita bermain di tempat lain saja Kely…”, kata Nacil

“Mereka tidak suka padaku…”, lanjut Nacil sedih,

Kely memahami perasaan sahabatnya, namun ia penasaran ingin tahu apa yang dilakukan para binatang hutan di bukit itu.

“Nacil, bagaimana kalau kita berhenti di balik batu besar itu saja? Aku penasaran, ingin melihat mereka bermain…”, kata Kely

“Ayolah Nacil… sebentaaar saja”, bujuk Kely.

Akhirnya Nacil mengikuti keinginan sahabatnya itu. Merekapun berhenti di balik batu besar yang tidak jauh dari tempat para binatang berkumpul.

“Naga itu sudah sering membakar pucuk pohon hutan ini”, kata Ayam jago.

“ya kau benar Pak Jago, akupun pernah terkejut dibuatnya”, kata Monyet “Pohon yang terkena api dari mulut Naga itu salah satunya adalah pohon tempat tinggalku”, sambung Monyet.

Nacil yang mendengar pembicaraan itu jadi sedih, ia tidak menyadari bahwa selama ini warga hutan resah karena api yang tak sengaja keluar dari mulutnya mengenai beberapa pucuk pohon yang dilintasinya saat terbang.

Haummmm… sudahlah, tak perlu dibesar-besarkan… lagi pula, Naga itu masih kecil, mungkin ia tak sengaja…”, kata Harimau.

“Ah.. kau ini Pak Parimau, masih saja membelanya… ingat, api kecil bisa jadi kawan tapi jika api sudah besar, ia akan menjadi lawan,” kata Ibu gajah.

Kwek kwek kwekkk… kau benar ibu gajah”, sambut  bebek

Haummmm… Baiklah, nanti kita akan pikirkan cara menyelesaikan masalah ini”, kata harimau

“Ibu, apakah naga itu akan memakanku??”, kata anak Gajah

“Tidak Nak, ibu akan melindungimu. Selama ada ibu di sampingmu, kau akan baik-baik saja”, kata ibu Gajah.

Tak lama, terdengar suara derap kaki kuda yang cukup banyak.

“Pemburu…. Awas ada pemburu…. !!!! gak… gak…  gak… teriak burung gagak sambil terbang memberi peringatan.

Semua binatang hutan, lari menyelamatkan diri.

“Aduh… kakiku saki!! Ibu…”, teriak anak Gajah yang jatuh tersandung batu.

Ibu gajah yang mendengar teriakan anaknya, segera berhenti dan lari menolong anaknya.

Para pemburu segera melempar tali dan jaring besar ke tubuh ibu dan anak gajah itu.

Wusss….Beep!! mereka tertangkap.

Nacil yang menyaksikan kejadian dari balik batu segera berdiri ingin menolong. Tapi Kely melarangnya.

“Tidak usah kau tolong gajah-gajah itu, nanti kau tertangkap pemburu”, kata Kely.

“Lagi pula, kau dengar sendiri tadi apa yang dikatakan ibu gajah. Ia jahat”, sambung Kely kesal.

“Kita tidak boleh seperti itu sahabatku, mereka sedang dalam bahaya”, kata Nacil

“Lalu bagaimana jika para pemburu menangkapmu?”, kata Kely cemas.

“Bismillah Kely… hanya Allah sebaik-baik pelindung”, kata Nacil mantap.

Nacilpun melompat ke arah pemburu.

Para pemburu terkeju, namun pemimpin pasukan pemburu segera menarik anak panah dari busurnya.

Wussss.. zap!

“Akh…!!”, Nacil berteriak. Sayapnya terkena panah.

“Nacil sahabatku!!!”, teriak Kely dari balik batu.

“Pasukan, tangkap kura-kura itu!”, perintah ketua pemburu.

“Tangkap semua binatang, jangan ada yang terlepas!! Hwahahaha…. hari ini kita untung besar”, kata pemburu senang.

“Naciiil!!”, teriak Kely saat pasukan pemburu menariknya dari dalam jaring.

Nacil yang melihat sahabatnya disakiti segera bangkit, tubuhnya menjadi merah.

Kwwwaaaagrrr wuzzzzzzz!!! Keluarlah api dari mulut Nacil.

Para pemburu terkejut, mereka lari ketakutan. Bahkan ada yang berteriak karena bajunya terkena sambaran api. Nacil dan teman-temannya selamat. Mereka saling bermaafan.

Sejak saat itu, warga hutan hidup rukun dan damai.

Pesan:

Sayangilah teman, tidak boleh menyimpan dendam dan takutlah hanya kepada Allah.

Lubhuk, 1 Maret 2O2O

Comment