by

Ziarah

Dimas melihat Hendry berulah saat upacara bendera. Anak itu sengaja menjatuhkan sekeping koin ketika semua kepala tertunduk melangitkan doa. Suasana hening pun pecah oleh denting logam yang membentur lantai lapangan. Beberapa anak tersedak menahan tawa. Dimas sungguh terusik.

Dimas berjalan di samping Kakek sambil menjinjing keranjang bunga. Mereka menyusuri paving blok yang membelah barisan makam di kanan dan kiri. Suasana sepi membuat ketukan ujung kruk kakek terdengar lebih nyaring.

Pada setiap nisan tersemat nama, tanggal gugur dan kesatuan. Kompleks pemakaman itu memang bukan kompleks pemakaman biasa. Di tempat itu beristirahat dengan tenang para pahlawan yang gugur saat berjuang meraih kemerdekaan Indonesia.

Kakek berhenti berjalan. Ia menepi di sisi sebuah pusara. Lama ia menatap nisan bertulisan “Tak Dikenal” lalu diikuti kata “Pejoang” di bawahnya. Dengan isyarat tangan, Kakek meminta bunga yang dibawa oleh Dimas.

Angin berembus menyebarkan semerbak bunga. Kakek menaburkan isi keranjang hingga tak lagi kelopak yang tersisa.

“Dimas,” ucap Kakek dengan nada puas.

Dimas menyahut sembari bergeser lebih dekat ke sebelah Kakek.

Kakek membetulkan posisi kruknya. Ia bersikap seolah-olah dirinya seorang instruktur upacara yang sedang memberi amanah. Setelah menghela napas, ia berkata, “Kemerdekaan tidak kita peroleh secara cuma-cuma. Tak terhitung berapa banyak pahlawan yang gugur demi negeri ini terbebas dari cengkeraman penjajah.

Tapi, setelah Indonesia merdeka, Belanda tidak mau melepaskan tanah jajahannya begitu saja. Mereka kembali ke Bumi Pertiwi dengan dibonceng oleh Tentara Sekutu. Mereka melakukan agresi militer untuk kembali berkuasa di negeri kita tercinta.

Bangsa Indonesia tak sudi dijajah lagi. Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup di tangan penjajah. Para pejuang angkat senjata untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia.

Banyak di antara mereka hanya bersenjatakan golok atau bambu runcing untuk menghadapi musuh. Persenjataan yang tak sepadan itu membuat para pejuang kembali mengandalkan taktik perang gerilya.

Baca Juga  Mirror Verse

Setiap hari para pejuang masuk-keluar hutan. Mereka mengintai musuh dari balik pepohonan. Apabila iring-iringan pasukan Belanda melintas, mereka langsung menyergap, kemudian bergegas menghilang ke dalam rimbunnya hutan.

Mereka senantiasa  berpindah-pindah tempat supaya keberadaan mereka tak terlacak oleh musuh. Terkadang mereka menerabas hutan hingga ke tempat yang jauh. Itulah pula yang dialami oleh seorang pemuda pejuang hingga ia tertangkap.

Tentara Belanda memaksanya untuk membuka suara, menunjukkan di mana tempat persembunyian para pejuang lainnya. Pemuda itu bungkam. Ia memilih diberondong peluru daripada berkhianat kepada bangsanya. Jasadnya ditinggalkan begitu saja di tepi jalan.

Setelah pasukan Belanda pergi, penduduk desa menghampiri tubuh yang tak lagi bernyawa itu. Tak seorang pun mengenal siapa namanya dan dari mana ia berasal. Para penduduk desa hanya tahu dirinya seorang pemuda pejuang. Mereka membawa jasadnya untuk dikebumikan di sini, di kompleks pemakaman ini. Pada nisannya tak ada nama dan hanya tertulis ‘Tak Dikenal’.

Demikianlah kisah yang Kakek dengar.

Kakek bukanlah pejuang. Kakek bahkan belum lahir ketika Bung Karno dan Bung Hatta, atas nama Bangsa Indonesia, memproklamirkan kemerdekaan.”

Kakek mengambil jeda sehingga Dimas menoleh kepadanya.

Kakek berkata lagi, “Dimas, setiap pejuang yang terbaring di sini memiliki kisahnya sendiri. Satu benang merah yang merangkum kisah mereka adalah keinginan untuk mengusir penjajah walaupun nyawa mereka menjadi taruhannya.

Menurut hemat Kakek, seorang tentara yang gugur saat menjalankan tugas, patutlah kita namakan ia pejuang, selayaknya pula ia kita sebut ia pahlaman. Karena itu…”

Kakek tak meneruskan ucapannya. Ia mengajak Dimas pulang dengan tiba-tiba.

Dimas menurut. Ia sudah mengerti Kakek.

Sejak Paman Surya tiada, Kakek kerap tenggelam dalam alam pikirannya sendiri. Saat sedang ‘tenggelam’, Kakek seolah tak sadar apa yang sedang ia lakukan.

Walaupun Kakek tak pernah mengakui, Paman Surya adalah putra kesayangannya. Paman Surya adalah satu-satunya anak Kakek yang mampu mewujudkan impian—dalam angan-angannya, untuk menjadi seorang tentara.

Baca Juga  Cerpen: Kenapa Mereka bercerai?!

Kepergian selamanya Paman Surya saat bertugas, membuat Kakek sedih. Kesedihannya semakin mendalam karena hanya kabar duka yang ia terima, sementara jasad putra bungsu Kakek tetap terkubur dalam birunya lautan.

Sejak itu Kakek rutin berziarah ke makam ‘Pahlawan Tak Dikenal’. Dimas berpendapat barangkali Kakek membutuhkan satu pusara untuk dikunjungi, satu pusara tempat ia menaburkan bunga dan melarungkan doa.

Ayah Dimas serta anak-anak Kakek yang lain, melarangnya pergi sendirian. Suatu ketika, keluarga kecolongan. Kakek pergi mengendarai sepeda motor tanpa seorang pun tahu. Di tengah perjalanan menuju–entah kemana, pikiran Kakek tiba-tiba ‘tenggelam’.

Terjadilah kecelakaan tunggal itu. Kakek tidak dapat berjalan seperti sedia kala.

Matahari sudah condong ke barat. Ayah masih menunggu di dalam kijang tua miliknya. Ketika baru tiba tadi, Kakek meminta ayah Dimas untuk tetap duduk di belakang kemudi.

**

Dimas dan Hendry berdiri di tengah lapangan. Mereka berdiri dengan sikap hormat bendera.

Murid-murid kelas IX – 3 lainnya kasak-kusuk sambil mengamati dari kaca jendela. Ada yang merasa iba, ada pula yang merasa hukuman tersebut memang pantas untuk keduanya dapatkan. Berkelahi pada saat upacara berlansung. Sungguh keterlaluan!

Pagi itu Hendry lagi-lagi berulah saat mengheningkan cipta. Ia sengaja menjatuhkan sekeping uang logam ke dekat sepatunya. Suasana hening seketika pecah oleh denting koin yang membentur lantai lapangan. Anak-anak yang berdiri di sekitarnya tersedak menahan tawa. Mengheningkan cipta kehilangan suasana hikmat.

Dimas tak mampu menahan geram. ”Keterlaluan!” tukasnya.

Woles, woi. Ini cuma buat lucu-lucuan,” ucap Hendry membela diri.

”Tapi itu enggak lucu,” kata Dimas berkeras.

”Terus masalahmu apa?” Hendry mendorong bahu Dimas dengan kasar.

Sedetik kemudian timbullah kekacauan. Dimas dan Hendry saling pukul dan bergumul. Murid-murid perempuan memekik ngeri.  Barisan berantakan.

Baca Juga  Cerbung: Nur Jannah (Part 5)

Seorang guru menarik Dimas dan Hendry ke tepi lapangan. Guru-guru lain mengatur kembali barisan. Upacara pun dilanjutkan.

Setelah upacara selesai, keduanya mendapat tambahan waktu sepuluh menit untuk melanjutkan upacara bendera. Setelah itu, mereka menemui Ibu Kepala Sekolah.

Dimas tak ingin menjadi pengadu. Hendry-lah yang mengakui bahwa dia yang menjadi biang keladi perkelahian tadi. Setelah keduanya bermaafan, Hendry berjanji untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya.

Ibu Kepala Sekolah rupanya tak ingin menganggap remeh kejadian tersebut. Setelah memberikan nasihat panjang untuk Dimas dan Hendry, ia menitipkan sepucuk surat untuk orang tua masing-masing. Isinya sama, meminta ayah dan ibu kedua murid itu untuk datang menemuinya keesokan hari.

**

Matahari sudah tenggelam. Bola api itu telah menelusup seutuhnya ke balik cakrawala. Tersisa sedikit pendarnya berupa guratan jingga kemerahan di barat kaki langit.

Petang itu Kakek belum ingin pulang. Ia meminta agar Ayah mengantarnya pergi ke tepi lautan.

Angin berembus. Ombak berdeburan. Ingatan Dimas terputar ulang pada kejadian Senin lalu. Ia berkelahi dengan Hendry ketika upacara sedang berlangsung. Ayah dan Ibu memahami apa yang ia lakukan, namun mereka menekankan bahwa itu bukanlah tindakan yang benar.

Walaupun sudah bermaafan, Dimas masih enggan bertegur sapa dengan Hendry. Mungkin esok atau lusa, ia akan berbicara empat mata dengannya. Dimas ingin Hendry tahu bahwa ‘mengheningkan cipta’ bukan sekadar urutan acara dalam  upacara bendera. Ada kisah di balik tindakan spontan Dimas.

Ombak menyentuh ujung-ujung jari kaki Dimas, menyentuh pula kesadarannya. Ia memandang ke sekeliling. Ayah sedang berdiri di bawah pohon nyiur, sementara Kakek sedang duduk termenung sembari menatap lautan lepas.

Dimas tahu bahwa Kakek sedang ’tenggelam’. Pikirannya sedang menziarahi kenangan tentang Paman Surya hingga jauh ke dasar lautan.

Di sinilah, di lautan luas, di pusara tanpa nisan, Paman Surya beristirahat dengan tenang. ***

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.