by

Wanita yang Bermandikan Bara

Mama selalu marah padaku setiap kali aku melakukan sesuatu yang dianggapnya salah. Mama melarangku makan snack yang katanya mengandung banyak MSG. Kata Mama, snack seperti itu tidak baik untuk kesehatan. Mama juga melarangku membaca komik atau buku anak-anak. Kata Mama, lebih baik aku belajar daripada berkhayal karena membaca buku-buku semacam itu.

Jadi aku akan bersembunyi di sudut tempat tidur yang minim pencahayaan untuk membaca buku. Akibatnya, mataku minus karena membaca di tempat yang kurang terang. Kalau tidak begitu, aku akan meletakkan komik atau buku anak-anak di balik buku pelajaran. Tujuannya agar mama mengira kalau aku sedang belajar. Biar saja aku berbohong. Aku kan sudah belajar. Kenapa Mama selalu menyuruh aku belajar! Aku juga ingin membaca buku lainnya.

Mama selalu mengatur apa pun yang kulakuan. Kata Mama, aku harus beginilah, aku harus begitu. Aku kesal! Aku tak suka diatur-atur seperti itu, tapi aku tak bisa melawan. Aku hanyalah boneka Mama yang bisa dia mainkan sesuka hati. Aku tak ubahnya robot yang disetel pemiliknya untuk dikendalikan. Aku hanya bisa tertunduk dan mengiakan keinginan Mama.

Selain suka mendikte, Mama hobi marah-marah. Dalam sehari Mama bisa marah lebih dari tiga kali. Kalau diibaratkan minum obat, mungkin Mama sudah overdosis. Pagi hariku selalu dibuka dengan omelannya. Entah karena aku yang dibilangnya leletlah, selalu merepotkanlah, dan hal-hal buruk lainnya.

Aku memang lamban dalam mengerjakan sesuatu. Itu karena Mama selalu mendesakku untuk melakukan apapun dengan cepat. Namun, bukannya bergerak lebih cepat, aku justru semakin lama mengerjakannya. Aku gugup dan takut pada Mama. Kalau aku bergerak lamban, Mama akan mengata-ngataiku kura-kura.

Baca Juga  Cerpen: Patah

Membuatku berpikir bahwa aku memang lambat seperti kura-kura.
Mama juga selalu marah setiap kali aku buang air ke kamar mandi. Mama menggerutu capek karena harus membersihkan kotoranku berkali-kali. Kalau saja aku bisa membersihkannya sendiri, tentu aku akan melakukannya. Aku tak mau merepotkan Mama. Namun, Mama tak pernah memberitahuku dan aku tak berani bertanya.

Jadi, aku harus menahan sesak yang menghimpit dadaku setiap kali pergi ke kamar mandi. Dinding-dinding kamar mandi berubah menjadi sempit dan suram ketika aku menerima bentakan dan makian Mama.

Di sekolah, aku tidak punya teman dan selalu menyendiri. Ke mana pun aku selalu sendiri, entah saat beli snack ke kantin atau melakukan aktivitas lainnya di sekolah. Aku merasa asing dan tidak nyaman saat berada di antara banyak orang. Jantungku akan berdebar-debar tak beraturan dan telapak tanganku akan berkeringat dingin. Aku tak ubahnya kura-kura kecil yang langsung bersembunyi di dalam rumahnya saat merasa tidak aman.

Saking seringnya dimarahi Mama, nyaliku jadi ciut saat berhadapan dengan seseorang. Aku tak berani mengungkapkan apa yang ada dalam hatiku. Seperti di suatu pagi yang mendung, kandung kemihku terasa penuh. Aku ingin pergi ke toilet. Namun, aku tak berani meminta izin.

Guruku masih menerangkan pelajaran di depan kelas. Seluruh pasang mata murid-murid tertuju padanya. Aku hendak meminta izin tapi kekhawatiran mendekapku erat. Lidahku mendadak kelu. Tubuhku mematung kaku. Kedua kakiku kulipat untuk menahan agar cairan itu tidak bocor. Kakiku bergoyang-goyang resah seiring dengan debaran jantungku yang gelisah.

Lima menit berlalu lambat. Pada akhirnya, pertahananku jebol. Cairan itu mengalir dari sela-sela kakiku. Aku berusaha menyembunyikan rokku yang basah karena terkena air seni. Seorang teman yang duduk di sebelahku kemudian menyadari apa yang terjadi padaku. Hidungnya mencium bau yang tak biasa. Dia pun melapor pada guru dan seisi kelas tahu.

Baca Juga  Ruai-Ruai Mencari Sunyi

Ingin rasanya aku menghilang saat itu juga. Wajahku pasti sudah semerah kepiting rebus. Aku benar-benar malu. Bu guru memintaku untuk membersihkan diri di toilet dan memberikan rok ganti. Beberapa teman sekelas mengejekku dan melontarkan celetukan yang membuat hariku muram.

Saat kembali ke kelas, tempat dudukku dan lantai di bawahnya sudah bersih. Namun, aku tak bisa lagi fokus mengikuti pelajaran di kelas. Rasa malu seolah menghimpitku dalam ruang sempit. Dadaku sesak menahan sakit yang merajam kalbu. Hujan turun deras dari kedua pelupuk mataku. Aku pun berlari keluar kelas.

**

Tangan kanan Mama melayang keras di pahaku. Meninggalkan rasa sakit yang berdenyut-denyut dan bekas merah di sana. Kulihat api di matanya menyala-nyala. Mama meraih baju tanpa lengan bergaris-garis yang kupakai. Mama seperti kerasukan setan saat merobek-robek baju kesayanganku itu. Air mataku menitik dalam diam. Aku berusaha menahan agar tangisku tak bersuara. Takut kemarahan Mama semakin menjadi-jadi.

Hanya karena aku menggunting selembar uang, Mama mengamuk hebat. Memaki-makiku dalam kosakata penghuni kebun binatang. Aku merasakan godam yang bertalu-talu di hatiku. Nyeri merambat pelan tapi mematikan.

“Ampun, Ma … Ampun ….” Aku menutup kepalaku dengan kedua tangan. Tubuhku membungkuk seraya bersimpuh memohon.
Akan tetapi, Mama malah semakin meledak. Tangannya masih belum puas melayangkan cubitan dan pukulan ke beberapa bagian tubuhku. Aku tak kuat lagi menahan tangis. Air mataku bercucuran deras. Mulutku meraung-raung meminta tolong. Ya Allah, tolong aku… Papa… Siapa saja.

Keajaiban terjadi. Allah menghadirkan penolong sebelum nyawaku terlepas dari jasad. Papa yang biasanya pulang sore, hari itu pulang lebih awal. Wajahnya terlihat kaget bercampur geram.
Mama yang mendapati Papa ada di sini abai. Selama ini, Mama memang penguasa di rumah ini. Tidak hanya aku yang selalu dimarahi, tapi Papa juga. Mama adalah ratu semut dan Papa hanyalah semut pekerja. Mama tidak hanya mengatur apa yang harus kukerjakan dan tidak boleh kulakukan. Mama juga menyetir Papa seolah Papa adalah mobil yang dikendarainya.

Baca Juga  Obrolan Orang Dewasa di Kepala Anak Kecil

Selama ini, Papa diam. Papa memang pendiam dan penyabar. Papa selalu mengalah dan melakukan apa yang Mama minta. Aku tak tahu apa itu karena Papa bodoh atau tak mau ribut. Saat Mama marah-marah, Papa selalu bergeming seolah tak terjadi apa-apa. Membiarkan Mama bermandikan bara seorang diri.

Akan tetapi, di suatu sore yang kusam, aku membaca kebencian di matanya. Dada Papa naik turun setiap kali Mama mengomelinya dalam kalimat-kalimat panjang yang penuh lengkingan. Kedua tangan Papa mengepal. Kulihat otot-otot lehernya menegang.
Kenapa Papa diam saja? Aku heran kenapa Papa tidak melawan atau mengajari Mama agar bersikap lebih baik. Aku saja merasa kepalaku seperti mau pecah setiap kali Mama meledak.

Dan siang itu, saat Papa mendapati Mama membuat tubuhku babak belur, kebencian Papa tumpah. Kedua bola mata lelaki itu melotot lebar. Tangan kanannya hendak mendaratkan tamparan di wajah Mama. Mama spontan menunduk. Papa berusaha menguasai diri. Tamparan itu tertahan di udara. Aku menahan napas. Lalu, terlontarlah satu kata cerai dari mulut Papa. []

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *