by

Cerpen V I R T U A L

Pada saat itu aku dan temanku sedang membicarakan sebuah aplikasi bernama Telegram. Aku pada saat itu tidak tahu dan tidak tertarik untuk mencobanya. Namun saat banyak orang pakai aku jadi penasaran dan ingin mencobanya. Aku tidak mikir sejauh itu yang aku tahu hanya aplikasi untuk berkenalan dan memperluas networking.

Oktober 2020 aku bertemu dengannya. Kenalin namaku Kinanti Rahma. Pada saat itu sedang trend sebuah aplikasi bernama Telegram. Aku saat itu tertarik untuk mencobanya, akhirnya aku memainkan salah satu bot di Telegram. Minggu siang aku main dan bertemu dengan salah satu pria asal Jakarta. Sebut saja dia Dara Saputra Saat itu aku menemukan banyak kesamaan antara aku dan dia, salah satunya humor kita hampir sama dan aku rasa kita juga satu frekuensi. Orangnya juga asik ga neko neko.

Kami selalu bercerita hal random sampai deeptalk sekali pun. Cerita ini itu sangat asik pada saat itu.  Satu bulan lebih kami chatingan tanpa skip sekali pun, posisinya kami masih di bot. Ya walaupun kami sudah saling tukar id tapi kami sama-sama tak mau skip bot tersebut. Kami selalu bercanda dan tukar cerita tentang dunia real kami dan pada saat itu semuanya nampak asik.

Setelah dua bulan chatingan tanpa skip sehari pun kami makin nyaman satu sama lain. Ya, aku menaruh perasaan padanya padahal kami belum pernah bertemu. Melihat wajahnya saja aku tidak pernah. Hanya ketikan dan suara serta perhatian kecil yang ia beri padaku tapi aku langsung baper gitu saja. Aku juga tidak mengerti ini kali pertama aku jatuh cinta secara virtual. Aku hanya terbayang dan dibesarkan oleh ekspetasiku sendiri. Seolah-olah aku menjadi pembaca cerita novel dan sebagai tokoh utamanya.

Baca Juga  Cerpen: Panji Si Tukang Bolos

Kami pun semakin dengan namun tidak ada status sama sekali dihubungan kami, aku merasa kami pacaran namun seperti digantung tanpa kejelasan. Desember adalah puncaknya, aku dan dia  semakin kenal satu sama lain, mabar game bareng, sering telfonan dan kirim pap random.

Tepat pada pergantian tahun aku pun menyaksikannya secara virtual dengannya kami janji satu sama lain untuk selalu bersama sampai nanti bergantinya tahun kita pun berniat untuk saling ketemu. “Dara, ga nyangka ya sudah tiga bulan kita chatingan trss tanpa skip, kamu bosen ya sama aku?” Ucapku kala itu.

“Aku masih tidak menyangka Tuhan temuin aku sama kamu di 2020 ini dan besok sudah 2021 saja.” Ucapku.

‘Ngga ti, klo aku bosen ga mungkin aku masih chat kamu sekarang, bercanda bareng sama kamu.”  Ucap Dara dengan sebuah keyakinan.

“Kamu kali yang bosen sama aku, apa kamu udh punya cowo lain ya?” Ucap Dara berbalik padaku.

Kami selalu berdebat seperti itu jika salah satu dari kami mulai senggang. Kami pun sempat lost contact dua hari karena kami sibuk sekolah masing-masing.

“Mungkin kalo tidak ada covid dan 2020 kita tidak bisa ketemu ya, aku bersyukur kenal kamu ti.” Ucap Dara

“Ngga, Ra aku ngga bosen sumpah.” Ucapku dengan penuh peyakinan.

Pagi di awal 2021 ia memberikan ucapan selamat pagi yang menurutku lucu, karna ia tak pernah melakukan ini sebelumnya. “Pagiiiiii, tidur terussssss ayooo bangunnnn dasar kebo.” Ucap Dara melalui pesan singkatnya.

“Balaaaa tau gaaa!!!!” Ucapku dengan sedikit kesal.

“Ini kan hari Minggu aku mau puas-puasin rebahan.” Sautku lagi.

“Jangan tidur terusss aku kangen maballl, ayoo maballl.” Ucap Dara dengan sedikit kemanjaannya.

Baca Juga  Resep Manisan Kolang-kaling dengan Pewarna Alami

Aku tidak membalas pesannya karena aku lagi kesal padanya. Akhirnya sorenya kami mabar game online bareng. Sama Dara tu kadang dibuat seneng, sedih, salting, kesel, ketawa gajelas. Pokoknya campur aduk rasanya. Aku tidak pernah menemukan sosok pria seperti Dara. Karena perbedaan Dara dengan pria lain lah yang membuatku jatuh cinta. Dan karena kedewasaannya aku jatuh cinta padanya.

Aku selalu nyaman kalo sama Dara, bahkan bisa dibilang Dara adalah rumahku kala itu. Namun keadaan berubah. Dara berubah tidak seperti Dara yang aku kenal. Sifatnya sangat aneh belakangan ini. Obrolan kami pun sangat tidak satu frekuensi lagi. Aku merasakan kejanggalan. Januari awal hubungan kami renggang dia mulai slow respon bahkan balas chatku saja berhari-hari dan waktu itu dia pasang foto profil WA foto seorang wanita. Aku curiga itu pacarnya. Namun beberapa menit sudah diganti. “ Halah itu tu mancing kamu saja biar kamu cemburu ti.” Ucap temanku.

Dia datang lagi setelah beberapa minggu lost contact. Dia mereply status Whatsapp ku dengan kata singkat lalu ditambah kalimat seperti ini “Sombong sekarang mah” Ucapnnya. Padahal ia yang tidak balas pesanku sebelum nya. “Gabut ya? Tumben chat aku.” Ucapku dengan sedikit menyindir.

“Ga lah, brengsek banget gua jatohnya.” Ucap Dara.

“Kemarin kemana saja kamu?” Ucapku dengan sedikit kesal.

Dara tak menjawab pesanku lagi. Perasaanku sangat kesal rasanya mau ku block saja nomernya Dara. “Lihat saja aku tak mau lagi balas chatmu lagi, aku janjiii gaakan chat Dara lagiiii, lihat saja nanti.” Batinku.

Kami makin renggang bahkan hanya chatingan satu bulan sekali itu pun jika sempat. Tak selang lama ia mengunggah sebuah foto bersama wanita dengan menulis bio Whatsappnya dengan nama wanita tersebut. Perasaanku saat itu tak karuan lagi.

Baca Juga  Cerpen: Menunggu Malaikat Maut

Di sisi lain aku juga sudah feeling peristiwa ini bakal terjadi dan lagi-lagi ia hanya memasang bio nama tersebut kurang dari 24 jam. Aku bingung maksud ini semua apa. Mulai hubungan kami renggang tanpa sebab, bio Whatsapp dia nama wanita lain yang saat itu menyuruhku perlahan mundur.

Perasaanku begitu digantung. Kami sudah lost contact selama hampir satu tahun. Kami sama-sama menunggu kabar dan menunggu pesan namun gengsi kami begitu tinggi. Alhasil kami sama-sama menanti satu sama lain. Saat ini aku juga belum tahu penyebab ini semua apa.

Tiap malam selalu teringat kenangannya ya walaupun hanya sebatas virtual. Kami sama-sama online namun tidak chatingan. Ntahlah apa yang membuat kami seperti ini. Aku tetap berterima kasih ko sama Tuhan. Tuhan kirim orang sebaik Dara. Aku yakin Dara orang baik. Dan aku yakin Tuhan kirim Dara dihidupku untuk memberikan pesan dan kesan dan juga pengalaman.

Tapi sepertinya kesalahan paham dan ego serta gengsi kita yang tinggi. Akhirnya pun kami hanya sebatas penonton story dan sekarang sepertinya dia block nomerku. Pesan terakhir berenti di aku. Sampai sekarang aku tidak tau apa salahku dan mungkin ini hukum alam kami harus berpisah. Aku berharap suatu saat nanti kita bisa bertemu di waktu yang pas menurut Tuhan. Saat ini aku belum bisa menemukan sosok pria seperti Dara.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment

Artikel Terkait