by

Ujung Tanduk

Ujung Tanduk

Oleh :

Muhammad Fikram Pratama

Akselerasi terjaga konsisten, tak berpaling sejak detik pertama mesin menjamah tadinya. Olah tangan dan kaki memainkan ritme, ia tengah berada di balik kemudi. Bernama Anto, dan ia masih cukup tenang dalam berkendara. Menyelami jauh rapinya lalu lintas di hari libur, di saat sosok wanita tengah bertumpu padanya.

Wanita yang kini juga ada di dalam mobil, menempati kursi belakang dengan limang gelisah yang tak kunjung padam. Ratna, bersama jabang bayi dalam kandungan yang sebentar lagi memasuki enam bulan. Perutnya sudah tampak cukup besar namun belum signifikan. Ratna menyadarinya, namun bukan itu yang kini bertahta dalam benak. Sesuatu yang dirasa perlu, untuk segera dipertegas pada sang suami yang masih mengemudi dengan sejuk.

“Cepetan, Bang! Udah diujung tanduk nih!!”

“Yaelah, Neng! Loe ngidam apa maen rodeo sih? Pakek diujung tanduk segala. Emang tanduk apaan? Tindak-tanduk gitu?”

“Lah, Bang! Lu sempet-sempetnya becanda di situasi gini? Udah buruan, cepetin mobilnya!”

“Ngggak bisa, Neng! Ngeyel banget lu. Entar kalo gue ngebut terus lu kenapa-napa gimana? Kan gue juga yang repot.”

“Nggak usah pikirin gue, Bang. Gue ini Ibu hamil profesional. Gue ngerti cara jaga kandungan, jadi loe nggak usah ngeremehin gue. Udah, cepetin mobilnya!” Ratna masih bersikukuh

“Lu mah dibilangin tambeng ye! Lagian tokoh barang antik itu masih jauh, dan cuma itu tokoh barang antik di kota ini. Gue nggak mau buru-buru, santai aja.”

Namun Ratna tetap tak peroleh kepuasan, atas penjabaran Anto akan kondisi yang ada. Ia terus saja menggerutu, mengantar Anto pada tingkat mahligai pasrah paling tinggi dari balik kemudi. Ia hanya bisa sabar, dan terus berupaya untuk fokus hanya pada jalan raya. Sampai sekian waktu berlalu, Anto pun menemukan toko barang antik itu. Ia sangat mengenalinya, dan segera memarkirkan mobil tepat di depan toko.

Baca Juga  Cerpen: NEPTUNUS COUNTRY

Anto keluar dari mobil lebih dulu, lalu membantu sang istri untuk keluar mobil secara perlahan. Setelah mereka keluar dari mobil, sepasang mata mereka sejenak menangkap wujud dari toko ini. Tampak tak begitu besar, bahkan masih kalah besar dibanding ruko yang persis di sebelahnya. Lalu Anto dan Ratna, perlahan melangkah memasuki toko. Hingga mereka temukan, ragam wujud barang antik yang tersedia di dalam toko.

Mulai dari lampu, piring, guci, juga lemari dengan gaya klasik berpadu motif tradisional yang khas. Namun mereka tak menemukan sosok satu pun yang berada di dalam toko. Ratna berupaya melihat ke sekeliling, namun tak juga menemukan yang di damba. Cara agresif Ratna dalam mencari sesuatu, bahkan membuat Anto kian khawatir.

“Pelan-pelan aja, jangan buru-buru ke sana kemari. Inget anak dalam kandungan lu!” Anto mewanti.

“Cih, dien lu! Kalo nyarinya pelan nggak ketemu.”

Kesibukan yang akhirnya terjamah oleh penglihatan Yono, sang pria parubaya empunya toko yang baru saja pulang. Setelah membeli dan membawa segelas plastik berisi minuman tebu, berbungkus kantong plastik trasnparan di tangannya.

“Maaf, Mas. Ada yang bisa saya bantu?”

Tanya Yoni dari arah tak terduga, membuat Anto menoleh padanya.

“Bapak siapa ya?” Anto bertanya balik.

“Saya Yono, yang punya toko antik ini, tadi saya keluar bentar nyari minuman. Soalnya hari ini bener. Hehe..” Konfirmasi Yono dengan santai.

“Oh, iya Pak Yono. Jadi gini, Pak. Kebetulan istri saya yang lagi mondar-mandir itu, lagi nyari barang antik. Katanya bawaan ngidam. Cuma dari tadi istri saya lihat-lihat, dia nggak ketemu juga sama barang yang di cari.”

Pak Yono berupaya menghampiri Anto lebih dekat, lalu meminta kepastian.

Baca Juga  Tuhan Ikut Menepis Ragu

“Emangnya, lagi cari barang apa?”

“Saya juga kurang paham, Pak. Soalnya sejak dari rumah, dia nggak bilang secara spesifik barangnya itu kayak apa. Mending Bapak tanya langsung aja ke istri saya.”

Mendengar arahan Anto, Pak Yono bergegas menghampiri Ratna yang masih sibuk telusuri seluk beluk toko antik ini.

“Permisi, Mbak. Maaf, mau cari apa ya? Ketebulan, saya yang punya toko.”

“Oh, ini Pak. Saya mau cari perangko gambar burung kakatua, kira-kira tahun enam puluhan gitu. Ada nggak, Pak?”

“Oh, perangko! Ya nggak bakal ketemu kalo nyari di situ, haha! Iya, saya ada. Saya taruh tas khusus, isinya perangko antik semua.”

“Oh, gitu. Hehe! Maaf, Pak. Soalnya saya nggak tahu, baru kali ini saya ke sini.” Pengakuan Ratna.

“Ya udah, nggak apa-apa. Eh, Mbak mau lihat-lihat dulu perangkonya? Kali aja ketemu perangko kakatuanya.”

“Boleh, Pak! Saya mau lihat.”

“Bentar, saya ambil dulu tasnya.”

Pak Yono lantas beranjak ke sisi lain toko, mencari tas perangko yang ia maksud. Kini Ratna bisa lebih tenang, dan bersedia menunggu, sembari memegangi perutnya. Anto pun menunjukan kelegaan di raut wajah akan kondisi ini. Hingga Pak Yono kembali, membawa tas yang ia maksud.

Tas pun diletakkan di atas sebuah meja, yang juga merupakan barang antik. Pak Yono membuka tasnya, dan menujukan semua koleksi perangko yang dibungkus plastik klip. Dengan masing-masing tercantun keterangan berbeda.

“Nih, Mas dan Mbaknya bisa lihat-lihat dulu. Ada yang tahun lima puluh, sampai yang delapan puluh.”

“Tuh, loe lihatin semuanya! Pelan-pelan aja, jangan buru-buru entar ngelengos. Anto mengingatkan.

“Iya, suamiku yang kalo ngomel keras banget kayak batu karang. Mata gue bukan mobil balap, jadi nggak mungkin buru-buru.”

Baca Juga  VERSI TERBAIK DARI MASA LALU

Setiap jengkal perangko, disimak dengan saksama oleh Ratna. Fokus utamanya langsung tertuju, pada perangko tahun 60-an. Ratna ingin melihat lebih jelas, Pak Yono mengizinkan. Kumpulan perangko tahun 60-an dibuka dari plastik, Ratna lantas memeriksanya satu per satu. Sampai sebuah perangko mencuri perhatiannya.

“Nah! Ini dia ketemu!” pekik Ratna, senang bukan kepalang.

Wujud sebuah perangko dengan burung kakatua, sesuai dengan kriteria yang Ratna inginkan. Ia begitu riang, keriangan yang luar biasa. Membuat Anto begitu keheranan.

“Nah, girang banget lu! Emang sebegitu bagusnya ya tuh perangko?”

“Bukan cuma bagus, Bang! Nih perangko ini bersejarah banget.  Dulu ada satu yang kayak gini dirumah Emak, tapi udah ilang nggak tahu kemana.” Jelas Ratna dengan masih amat antusias.

“Bersejarah kayak gimana sih? Penasaran gue, loe nggak pernah cerita soalnya.”

“Iya, Bang. Ini perangko kegemaraan gue waktu SMA. Gambarnya bagus, warnanya cakep! Neng inget sama temen-temen, main adu-aduan perangko mana yang paling cantik! Hihi!”

“Yah, aneh bener mainan lu!” Anto kembali heran.”

“Sirik aja loe, gagang raket! Eh…, lagian gue punya ini bukan cuma buat main, tapi juga ngebales surat. Sering banget gue ngebales surat waktu SMA.” Ratna semakin girang.

“Emang lu ngebales surat sama siapa?”

“Sama Abang Yanto, mantan gue. Hehe!”

“Hah!! Mantan loe?!!”

“Eh?!”


Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment