by

Tukang Sapu

Tukang Sapu

Oleh:

Gianluigi Fahrezi

Sekolah boleh cuti, guru-guru boleh berganti. Tapi tukang sapu, dia tetap abadi.

  1. Pengakuan Mardi atas kebaikan Bang Maman

Aku mengenal Bang Maman sejak pertama kali aku masuk SMA. Waktu itu SMA Bakti Husada dipadati oleh para siswa dan orang tua yang ingin mendaftar. Ramai sekali orang-orang berkerumun di meja pendaftaran dan di depan papan pengumuman. Sebagai sekolah unggulan, tiap pendaftaran dibuka sekolah Bakti Husada selalu dibanjiri oleh pendaftar yang berlomba-lomba ingin masuk ke sekolah itu.

Para orang tua percaya bahwa anaknya akan berhasil kalau bisa bersekolah di sini sebab di lobi depan sekolah terpajang berbagai profil alumninya yang sukses. Salah satu profil lulusan yang fotonya dicetak paling besar adalah foto Pemimpin Negara yang ternyata dulunya pernah bersekolah di SMA Bakti Husada (walaupun pada kenyataannya beliau sempat pindah sekolah tetapi tetap saja Pemimpin Negara pernah menjadi murid Bakti Husada).

Waktu itu aku ikut berkumpul di depan papan pengumuman. Aku berusaha mencari namaku dari ratusan nama pendaftar yang masuk dalam daftar seleksi sementara Bakti Husada. Dari atas, ke bawah, lalu ke samping lagi, sampai aku mencari-cari secara acak, akhirnya aku menemukan namaku berada di kertas pojok kanan bawah peringkat 10 terakhir daftar seleksi. Ekspresiku langsung kecut.

Aku meninggalkan kerumunan itu lalu duduk di sisi lapangan sambil menopang dagu. Orang tuaku tidak ikut ke sekolah tetapi mereka sangat menantikan “kabar baik” dariku. Aku bingung harus bilang apa ketika tahu namaku sudah berada di posisi bawah padahal seleksi masih berlangsung tujuh hari lagi.

“Kamu kenapa, Dek?” Seorang paruh baya berpakaian kemeja lusuh dan celana bahan datang bertanya dan menghampiriku. Dari kemejanya aku melihat nama “Maman”. Kurasa dia petugas di sekolah ini.

“Habis lihat seleksi, Pak. Sepertinya saya ga bakal lolos, nih.” Ucapku lesu

“Eh, memang kenapa?” Tanya Pak Maman

Wajah bapak itu sudah dipenuhi keriput. Kulitnya gelap karena terbakar matahari dan sorot matanya sayu. Badannya begitu kurus sampai lengan dan betisnya memiliki ketebalan yang sama dengan kulit yang sudah mengendur. Ia bicara padaku dengan jarak yang dekat sekali dengan wajahku tetapi itu karena memang suara bicaranya sangat pelan.

Awalnya aku ragu dengan penampilan bapak itu. Namun, setelah dia bercerita kalau dia adalah pegawai sekolah, kujelaskan padanya tentang peringkat seleksiku, juga soal orang tuaku yang berekspektasi. Jujur saat itu aku takut sekali mengecewakan orang tuaku karena mereka sudah susah payah membiayai segala keperluanku untuk bisa mendaftar di Bakti Husada. Ternyata bapak itu bisa menjadi pendengar yang baik. Ia takzim mendengarkan ceritaku sambil berkata “Panggil ‘bang’ saja, jangan pak, ya.”

Akhirnya, dia berkata agar besok aku membawa orang tuaku untuk datang ke sekolah. Bang Maman berjanji akan membantuku untuk bisa masuk ke SMA Bakti Husada. Saat kutanya bagaimana caranya, dia hanya menjawab, “Sudah, besok orang tuanya suruh bertemu abang saja, ya.”

Besoknya aku datang bersama ibuku. Ibu senang sekali saat tahu kalau aku bisa diterima di Bakti Husada. Kubawa ibu untuk menghadap ke Bang Maman yang saat itu sedang mengobrol dengan pedagang di kantin. Bang Maman ternyata ingat aku yang kemarin bicara dengannya, lalu mengobrol sedikit dengan ibuku. “Dek, Abang akan mengurus administrasi sama ibumu di kantor dulu, ya. Kamu tinggal di sini saja dulu, jajan.” Setelah mengatakan itu, Bang Maman bersama ibu berjalan menuju kantor sekolah.

Yang kutahu, setelah itu aku bisa bersekolah di SMA Bhakti Husada. Pada saat itu aku berpikir kalau Bang Maman ternyata adalah orang baik yang menolongku untuk masuk ke SMA.

  1. Cerita dari Sofran, teman nongkrong Bang Maman
Baca Juga  First Love

Kalau ingat Bang Maman, gue jadi inget masa-masa SMA dulu. Masa-masa SMA adalah masa yang paling menyenangkan menurut gue, karena waktu itu gue sering banget nongkrong sama teman-teman di warung selepas sekolah. Gue pikir itu wajar karena kita sudah lelah seharian di sekolah jadi perlu medium untuk melepas penat. Kadang, waktu kita lagi di warung kopi, Bang Maman ikut nimbrung bareng kita.

Dulu gue sempat berpikiran aneh sama Bang Maman. Waktu itu gue diam-diam pergi ke toilet sekolah di jam pelajaran, ingin merokok. Saat itu pikiran gue lagi kacau. Sudah di rumah dimarahi terus sama orang tua, di sekolah ditambah lagi karena lupa membawa tugas, pacar gue juga tiba-tiba minta putus karena alasan mau ujian. Pusing deh, pokoknya. Makanya waktu itu gue cabut kelas dan pergi ke toilet.

Sambil jongkok-jongkok, pelan-pelan gue mengisap rokok yang lama-kelamaan asapnya mulai mengepul memenuhi ruangan. Awalnya agak pahit, tetapi seterusnya enak juga. Pikiran gue menjadi lebih rileks saat merokok dan badan juga terasa lebih enteng. Gue tenang aja selama di toilet karena letak toilet ada di ujung koridor sekolah. Sekarang juga lagi jam pelajaran, harusnya tidak ada yang bakal memergoki gue yang lagi merokok.

Tiba-tiba gue mendengar langkah kaki seseorang masuk ke dalam toilet. Sial, kata gue. Pas banget lagi enak-enaknya malah ada orang masuk ke dalam! Gue tunggu orang itu keluar lagi dari kamar mandi tetapi dia malah masih tetap ada di dalam. Gue masih menutup pintu kamar mandi sementara rokok gue udah gue matiin. Habis itu, pintu gue dibuka sama orang yang masuk tadi.

Ternyata itu Bang Maman yang lagi mengepel kamar mandi. Dia mengenakan kemeja lusuhnya sambil membawa ember dan kain pel. Jujur awalnya gue takut banget karena ketahuan merokok di toilet sebab Bang Maman kan juga salah satu pegawai di sekolah. Bisa saja gue dilaporkan ke sekolah atau mungkin diadukan ke orang tua. Pokoknya nanti bakal sulit, deh.

“Sini, minta sebungkus.” Ucap Bang Maman meminta rokokku yang masih tersisa.

“Eh, gimana bang?” Balas gue kaget mendengar hal itu. Gue tanya lagi takutnya gue salah dengar.

“Minta.” Ucap Bang Maman singkat.

Akhirnya gue kasih sisa rokok gue ke Bang Maman. Setelah menerima rokok itu, dia lanjut mengepel kamar mandi sampai selesai lalu pergi. Besok-besoknya tidak ada laporan kalau gue pernah merokok di kamar mandi, malah setelah itu gue jadi deket sama Bang Maman. Bang Maman juga sering ngajak gue proyekan seperti kalau lagi bagi rapor gue sering diminta untuk bantu-bantu menjaga parkir sekolah.

Hasil pungutan parkir nantinya akan dibagi juga oleh dia buat gue dan temen-temen. Begitu juga kalau ada pentas seni atau acara-acara di sekolah Bang Maman sering meminta gue buat datang dan bantu-bantu, enaknya nanti akan dijatah. Seru banget bisa kenal dengan Bang Maman. Kira-kira gimana kabar dia sekarang, ya?

  1. Kesaksian Masjuki atas dedikasi yang diberikan oleh Pak Maman dalam pembangunan SMA Bakti Husada

Kalau ingat Pak Maman, beliau itu orang yang sabar. Saya sendiri adalah guru baru di SMA Bakti Husada. Waktu itu guru-guru angkatan lama sudah banyak yang diganti karena pensiun atau alasan lain. Yang saya tahu, Pak Maman ternyata seangkatan juga dengan guru-guru itu bahkan ada yang bilang kalau Pak Maman dulu juga bersekolah di Bakti Husada. Berarti kurang lebih sudah 30 tahun, ya, Pak Maman bekerja di sekolah. Dedikasinya tidak diragukan lagi.

Baca Juga  Cerpen: Menunggu Malaikat Maut

Tugas Pak Maman sebenarnya sebagaimana tercantum di struktur organisasi sekolah, dia adalah pegawai kebersihan. Terbukti Pak Maman memang sangat rajin. Beliau yang membukakan gerbang sekolah di pagi hari dan membersihkan daun-daun yang berguguran di lapangan.

Kita juga sering meminta bantuan Pak Maman saat sekolah ingin mengadakan berbagai kegiatan seperti seminar atau perlombaan dan syukurnya Pak Maman tidak pernah menolak. Terlebih Pak Maman juga dekat dengan siswa-siswi jadi beliau sangat tahu bagaimana kondisi peserta didik di lapangan.

Dulu sempat ada wacana dari kementerian untuk mengurangi gaji yang diterima oleh pegawai tidak tetap sekolah. Ini memang bukan hal yang mudah. Kepala sekolah juga sudah mati-matian menentang isu tersebut karena dia sudah menganggap para pegawai sekolah sebagai keluarga. Tetapi, bagaimana lagi, keputusan itu dengan berat hati tetap dijalankan. Waktu itu juga banyak pegawai sekolah seperti petugas tata usaha, satpam, pegawai dapur, dan tukang kebun yang memutuskan untuk mengakhiri kerjanya di SMA Bakti Husada sebab pendapatan mereka yang semakin berkurang.

Hal ini bisa dipahami karena mereka pun sama seperti Pak Maman termasuk ke dalam angkatan awal pegawai yang bekerja sejak sekolah ini baru berdiri. Untuk melepas kepergian mereka, saat itu diadakan syukuran kecil-kecilan di ruang guru untuk mendoakan kesuksesan mereka di masa datang.

Namun, dari semua pegawai yang hengkang, ternyata Pak Maman memutuskan untuk tetap mengabdikan dirinya di Bakti Husada. Otomatis Pak Maman menjadi orang terakhir dari angkatan awal karena formasi guru dan pegawai kini sudah kemasukkan orang-orang baru. Dalam pidato penyampaiannya, Pak Maman berujar bahwa ia sudah menganggap sekolah ini sebagai rumahnya jadi akan sayang apabila dia memutuskan untuk keluar dari “rumah”.

Beliau juga bercerita tentang perjalanan karirnya selama mengabdikan diri di Bakti Husada serta napak tilas perkembangan sekolah tersebut. Guru-guru saat itu terharu dengan dedikasi yang dimiliki Pak Maman.

  1. Cerita Masitoh yang membawa ucapan dari Pemimpin Negara

Maman? Oh iya, dia tinggal di sebelah rumahku, ternyata kami tetangga. Dulu kami bersekolah di Bakti Husada sama-sama sampai lulus. Saya ingat di angkatan kami dulu banyak sekali lulusannya yang jadi “orang”. Ada yang ke luar negeri, jadi jenderal, polisi, politikus, teknokrat, bahkan Pemimpin Negara juga dari angkatan kami, lho! Hehe.

Tapi sebenarnya saya tidak begitu ingat soal Maman karena dulu dia jarang ikut bersama kami waktu SMA. Kalau wajahnya sih, samar-samar ingat, lah. Saya juga jarang di rumah jadi tidak selalu sempat mengecek kabarnya. Kabar terakhir yang saya dengar sekarang dia sudah punya anak, bukan? Katanya anaknya sudah SMA, ya? Apa anaknya masuk ke Bakti Husada juga? Kalau iya, selamat deh!

Oh, mengenai reuni? Betul memang angkatan kami beberapa kali mengadakan reuni tetapi sifatnya tertutup. Maklum, sebab penjagaan acara yang dihadiri Pemimpin Negara pasti harus ketat sekali. Waktu itu Pemimpin sendiri datang ke acara reuni lalu kami ngobrol-ngobrol tentang kenangan sekolah dulu. Soal Maman, emm, terus terang saya lupa apakah dia datang atau tidak sebab sepertinya saya tidak melihat dia waktu reuni yang lalu.

Oh iya! Waktu itu di sela-sela obrolan ada kawan kami yang sempat menyinggung kabarnya Maman dan ditanggapi oleh Pemimpin Negara! Pemimpin bilang “Kalau Maman, saya tidak khawatir karena dia pasti jadi orang yang berhasil.” Pasti Maman bangga namanya diingat oleh Pemimpin Negara!

  1. Pengakuan Bang Maman dari atas tempat tidurnya
Baca Juga  Cerpen: Patah

Hidupku dihabiskan di sekolah Bakti Husada bahkan setelah aku lulus aku pun tetap bekerja di sana selama 50 tahun. Awalnya aku masuk sekolah secara tidak sengaja berkat bantuan saudara dan kehidupan sekolah berjalan pada umumnya. Namun, seiring waktu barulah ketahuan rupa sebenarnya dari Bakti Husada itu, sekolah yang diisi oleh anak dari orang-orang kaya yang berpangkat!

Tiap hari bahasan di antara anak mudanya hanya duit, duit, duit, dan duit, satu-satunya hal yang tidak kupunya. Akibatnya, aku menjadi terasing di lingkungan sekolah dan jarang diajak main karena dianggap kurang berada. Untungnya sampai sekarang soal kongkalikong masuknya aku ke sekolah itu tidak ada yang tahu.

Makanya jangan heran jika alumnus dari sekolah itu memiliki jabatan yang tinggi-tinggi, karena dari awal mereka memang sudah begitu! Tengoklah aku dan beberapa temanku, yang menghabiskan waktu sebagai pegawai di sekolah! Menjadi satpam, tukang sapu, pegawai TU. Kami tidak bisa kemana-mana setelah lulus karena kami memang tidak berada.

Sebenarnya aku tidak pernah mau bekerja lama-lama menjadi tukang sapu, bahkan saat keputusan mengenai pengurangan gaji pegawai informal itu keluar, aku pun sempat berpikir untuk menyudahi bekerja di sekolah ini. Akan tetapi, mau bagaimana lagi, aku yang cuma tamatan Bakti Husada, pria tua berumur lebih dari 60-an tahun dengan nol pengalaman kerja, bisa apa? Tidak akan ada yang mau menerimaku kerja apabila aku memutuskan untuk keluar dari sekolah sialan itu! Teman-temanku keluar semua dan jadilah aku ditinggal di sekolah sendirian!

Selama di sekolah aku melakukan segala hal yang kubisa buat menambah penghasilan. Bapaknya Si Masjuki itu, dulunya juga guru di Bakti Husada. Dia sering meminta aku untuk mencari siswa untuk “dibantu” masuk sekolah. Sialan! Pekerjaan di lapangan semua dia kasih ke aku sementara dia duduk-duduk saja dari dalam kantor. Untunglah aku tidak pernah kena getah dari sambilanku dulu itu tetapi meskipun sudah berbuat seperti itu, aku tetap saja susah!

Akan tetapi, orang-orang menganggapku sebagai seorang tua yang berdedikasi. Dalam senja usiaku, aku sudah tidak bisa lagi banyak bicara. Gerakku juga tidak selincah dulu yang bisa mengatur parkir di sana-sini. Sekarang aku cuma bisa bicara dengan perlahan dan suara yang lebih mirip rintihan, serta memberi arahan lewat acungan-acungan tangan.

Namun, malahan sekarang orang-orang lebih hormat kepadaku! Guru-guru yang baru itu jauh lebih tahu sopan-santun dibanding guru-guru angkatan lama. Tiap kali berjalan melewatiku, mereka menyapa sambil menganggukkan kepala. Anak-anak juga begitu meskipun tidak ada yang sampai mencium tanganku.

Dengan semua penghargaan itu, tetap saja dari mereka tidak ada yang memberiku makan.

Sayang aku tidak bisa datang ke reuni teman-teman seangkatan dulu. Kalau aku bisa datang, aku ingin meminta bantuan kepada teman-teman yang tentu lebih sukses dariku. Gaji seorang jenderal, polisi, politikus, teknokrat, bahkan Pemimpin Negara pasti bisa menghidupi seorang tukang sapu, kan? Tentu mereka akan masih ingat dengan kawan lama dari sekolah, kan?

Sialan, sekarang aku sakit-sakitan dan suaraku tidak mau keluar. Entah tulisanku yang bagai cakar ayam ini bisa terbaca atau tidak. Semoga anakku yang baru lulus sekolah cepat kembali ke rumah setelah bulan lalu ia bilang akan mencari pengobatan untukku.

Tetapi, Tuhan, apabila memang waktuku sampai di sini saja, apakah aku akan diingat hanya sebagai tukang sapu?

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment