by

Tilikan Rindu

Tilikan Risau

Oleh:

Alda Imroatul Istifaiyah

Pensil dengan warna biru tua tersebut terlihat menari-nari di atas kertas ulangan. Netra cokelat tua dengan bulu mata lentik menatap pertanyaan yang bisa disebut memusingkan. Kepala perempuan ini terangkat, sejenak melihat ke sekitar. Ia bisa lihat teman-temannya sedang berusaha memecahkan pertanyaan sulit terkait.

Ulangan harian mata pelajaran Matematika kali ini diadakan secara mendadak. Awalnya para murid menolak, tapi Guru Matematikanya—Bu Ani—menolak dengan alasan, ‘Ini akan berguna untuk kesiapan kalian’. Mau tak mau semuanya menurut. Terlihat jelas Bu Ani masih memandangi murid- murid kelas 12 IPA 2 ini dengan tatapan nyalang.

Perempuan dengan rambut lurus berwarna hitam sebahu tersebut lantas menundukkan kepalanya kembali. Tatapannya melekat pada satu pertanyaan terakhir yang sulit untuk ia jawab. Sebenarnya ia tidak payah juga dalam pelajaran ini, tapi kadang otaknya sulit untuk diajak bekerja sama. Seperti saat ini, ia lupa dengan rumus yang harus digunakan, padahal semalam ia belajar hingga pukul sebelas malam.

“Lima menit lagi.” Suara dari Bu Ani yang begitu tiba-tiba membuat para murid mengembuskan napas.

Sana. Perempuan ini kelabakan, ia belum menyelesaikan pertanyaan terakhir. Suasana di kelas yang hening, hanya terdengar suara pensil, detik jarum jam, dan penghapus karet yang bergesek dengan kertas ulangan, menambah kecepatan detak jantungnya.

Mana ada waktu untuk menyontek, bahkan menoleh ke kanan atau kiri pun sudah mendapat pelototan oleh Bu Ani. Hingga pada akhirnya, sebuah keajaiban datang.

Ia ingat. Sana mengingat rumus yang harus ia gunakan. Sungguh, inilah yang dinamakan otak akan bekerja di saat-saat mendesak.

“Ayo, segera dikumpulkan.”

Andai kata waktu ulangan bisa diperpanjang, teman-teman Sana ingin sekali mengisi pertanyaan yang belum sempat mereka jawab. Namun, ulangan tetap ulangan, tiada kata telat bagi Bu Ani.

Semuanya berdiri, melangkah satu per satu menuju ke depan meja guru, meletakkan kertas ulangan dengan hati-hati serta senyum di wajah mereka—berharap Bu Ani berbaik hati memberikan nilai bagus—yang sayangnya tidak akan membuat dampak apapun.

“Terima kasih, ya, semuanya. Selamat istirahat!”

Tiga detik setelah Bu Ani keluar dari kelas, ricuhlah seluruh manusia di dalamnya. Sana menghela napas lantas mengembuskannya. Kepala ia sokong dengan tangan kanan selagi netra menatap ke arah kiri—tepat ke tembok berwarna putih. Ia merasa lelah dengan segala pertanyaan tadi, apalagi ia harus memforsir otaknya untuk menjawab dengan cepat pertanyaan terakhir.

“Sana! Dicariin Ayang!” Teriakan dari Iva, salah satu teman Sana, mengudara. Dengan gerakan cepat ia menegakkanbadannya, perlahan indra penglihatannya bertemu dengan manik hitam laki-laki yang tengah memandanginya di samping pintu kelas.

Kepalanya beralih pada mejanya lantas tangan mulai memasukkan pensil dan penghapus karet ke dalam tas serut kecil untuk wadah. Selesai, Sana mulai melangkah keluar bangkunya. Ia bertatap muka dengan Iva sebelum berjalan keluar kelas. “By the way, dia bukan pacar gue, Va.”

Baca Juga  Cerpen: Bersamamu Aku Bahagia

Iva hanya diam. Otaknya masih memproses apa yang baru saja Sana ucapkan. Ketika ia hendak bersuara, perempuan dengan nama lengkap Sana Lembayung tersebut sudah keluar dengan laki-laki yang Iva yakini adalah pacar Sana.

“Lah?! Sana sama Avan tuh nggak pacaran?!” teriaknya pada seluruh isi kelas.

Laki-laki dengan tinggi 178 sentimeter terkait langsung menatap perempuan yang memiliki tinggi badan tak jauh darinya sembari tertawa. “Hahaha, ditanyain, tuh.”

Sana hanya memutar bola matanya. Mereka bahkan tidak tahu hubungan apa yang sedang mereka jalani. Pacar juga bukan, dibilang teman, mungkin lebih dari teman. Mungkin, hubungan tanpa status? Entahlah, Sana dan Avan juga tidak yakin.

Semuanya berawal dari Avan Panguripan, si ranking pararel satu IPS yang menyatakan rasa sukanya pada Sana di lapangan sekolah saat jam olahraga mereka bersama. Sana yang notabene seorang siswi biasa, hanya bisa melongo kala itu.

Bahkan tidak pernah terpikirkan sekalipun akan disukai oleh orang yang menurutnya terlalu sulit untuk digapai.

Keduanya berjalan ke arah kantin dengan raut wajah Sana yang agak masam. Dahinya mengerut serta tatapan matanya menajam. Tanpa diberitahu pun, Avan yakin, perempuan di sampingnya ini sedang dalam suasana hati yang buruk.

“Hei, kamu kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa,” jawab Sana sekenanya.

Mereka lantas duduk di satu bangku panjang yang hanya berisi tiga orang dari kelas lain, total lima dengan Sana dan Avan. “Tadi ada ulangan, ya?”

Sana hanya mengangguk, matanya menatap Avan agak bingung karena bagaimana ia bisa tahu kalau Sana ulangan hari ini? Secara mendadak pula. “Kok kamu tahu?” Giliran Sana bertanya pada Avan.

Avan yang hendak berdiri dari kursi panjangnya hanya menatap Sana sekilas dan berkata, “Tadi lihat Bu Ani dari kelas kamu, terus kamu bad mood gini, pasti ulangan.”

“Kamu pekanya keterlaluan, sih.” Sana membuang muka ke arah lain. Netranya memperhatikan sekeliling. Bisa ia lihat beberapa murid sedang berdesakan ingin membeli bakso, mi ayam, nasi goreng, dan lainnya. Berpindah ke arah lain, ia melihat gerombolan adik kelas yang ke arah kantin kelas dua belas. Mungkin mereka bosan dengan makanan kantin kelas sebelas? Sana tak memikirkan pusing itu.

“Nah, udah dipekain gini, cepet dijawab, dong. Jangan digantungin mulu akunya.” Avan menjawab sembari tertawa, kemudian beranjak meninggalkan Sana sendirian. Ternyata ketika ia mengamati sekitar, ketiga murid dari kelas lain itu sudah bubar entah ke mana.

Baca Juga  Belum Tentu Ada Pelangi Setelah Hujan

“Kapan-kapan aku jawab,” Sana menanggapi kemudian melanjutkan, “kalo inget.” Tentu saja tidak didengar oleh Avan.

Pikirannya kembali mengingat pesan Ibunya kemarin. Beliau meminta Sana untuk mengambil universitas dekat dengan rumahnya agar bisa memantau anaknya. Belum lagi tekanan dari sang ayah yang meminta Sana untuk mengambil jurusan arsitektur, membuat kepala Sana pening. Inilah sebab kenapa ia terlihat kurang bersemangat dan memiliki suasana hati kurang bagus.

Sejak kecil Sana memang diharuskan untuk sempurna dalam berbagai hal. Hal ini diajarkan oleh kedua orang tuanya, namun bagi Sana, meskipun ia melakukan hal sempurna baginya, belum tentu orang tuanya senang dengan pencapaiannya. “Bakso dua, es teh dua.”

Kedatangan Avan membuat pikiran Sana buyar. Indra penglihatan menatap laki-laki yang sedang meletakkan kedua mangkuk berisi bakso tersebut. “Kamu boleh, loh, cerita.”

“Cerita apa?”

“Kalo bad mood, biasanya butuh temen cerita. Aku siap, nih.”

Sana mengembuskan napas. Tangannya beralih ke mangkuk bakso lantas memberikan tiga sendok makan sambal di dekatnya. Penglihatan Avan masih setia mengamati sang gadis ini. Entah jimat apa yang Sana pakai hingga Avan jatuh hati padanya.

“Kamu tahu,” Sana menggantung ucapannya, “kenapa aku bingung mau jawab apa, soal perasaan kamu?”

Hal yang sama sekali tidak Avan duga. Sana mengungkit pernyataan perasaannya pada perempuan ini satu bulan lalu. “Nggak tahu, tuh. Kenapa memangnya? Kamu mau nerima aku, ya?”

“Jangan kepedean, Pak.”

Senyum Avan masih setia bertengger di sana, walaupun hatinya porak poranda. Susah sekali menggapai hati Sana ini. Apa daya, mau tidak jadi menyukai Sana juga, Avan sudah jatuh terlalu dalam.

“Orang tuaku strict.” Sana memandang Avan yang baru saja akan memakan bulatan daging itu lantas berhenti. “Sebenernya dari dua bulan lalu, Ayah pingin aku SNMPTN ambil arsitektur. Tapi aku ngga mau. Ibu juga gitu, she wants me to choose, either architecture or management.

Ya, aku tahu, semua orang tua pasti punya rencana buat anaknya. Mereka mau anaknya sukses ke depannya. Tapi enggak dengan cara maksain gini.” Sana mengaduk-aduk baksonya. Tak ada nafsu makan lagi di sana. Rasa lapar sehabis ulangan harian tadi, entah menguap ke mana.

Laki-laki di hadapan Sana ini berkedip sebentar, lantas memakan satu bulatan penuh bakso. Mengunyah cepat kemudian menelannya. Maaf, tapi Avan benar-benar kelaparan saat ini. Kepalanya lantas mendongak, menatap netra cokelat tua yang sedang mengamatinya. “Aku tahu, aku ganteng.”

Sana memutar bola matanya. “Kalo menurutku, kenapa nggak kamu bicarain sama mereka dulu? Komunikasiin dulu, San. Mereka pasti ngerti, kok. Misal mereka masih keras pingin kamu masuk arsi atau manajemen, buat mereka sadar kalo kamu bisa lebih seneng di bidang yang kamu minati.”

Baca Juga  Cerpen: Menjadi Apapun

“Aku udah bicarain, Van. Tapi tetep.”

Then prove it with your achievements,” ucap Avan serius. “Kamu pinter di musik, ‘kan? Dan SNMPTN, kamu mau ambil seni musik?”

Manik Sana membola. Bagaimana Avan bisa tahu jika ia ingin mengambil jurusan seni musik pada SNMPTN nanti?

“Dari mana kamu tahu?” Sana benar-benar penasaran, seberapa tahu Avan tentang dirinya. Pikirannya mendadak dipenuhi beragam pertanyaan. Apakah Alvan menguntitnya? Apakah ia memakai dukun untuk memantaunya? Atau, apakah ia mempunyai mata-mata di sekitar Sana?

“Aku sering lihat kamu latihan di ruang musik. Main gitar, sih. Tapi aku juga lihat di YouTube kamu kalo kamu bisa main piano sama biola juga. Keren, sih.”

Sana tersenyum tipis kala mendengar pujian itu. Lama sekali tidak ada yang memujinya dengan tulus seperti ini. Bahkan orang tuanya tidak pernah peduli dengan kegiatan bermusiknya, mereka hanya peduli dengan nilai, nilai, dan nilai.

“Makasih.”

“Masama. Makan dulu baksonya,” perintah Avan yang melihat Sana sama sekali belum memakan baksonya. “Kalo kamu butuh bantuan, bilang aja, bakal aku bantuin.”

Thanks.” Entah kenapa, mendengar kalimat yang diucapkan Avan tadi membuat pipinya sedikit memanas. “Ini juga alasan, kenapa aku bingung mau kasih kamu jawaban apa.”

“Apanya?”

“Kamu juara pararel, ikut lomba juga sering, piala kamu dah satu lemari mungkin, masa depan kamu udah pasti cemerlang. Kenapa kamu mau sama aku yang biasa aja gini? Aneh tahu.”

Avan mengangkat sebelah alisnya. “Emang ada alasan buat aku nggak suka sama kamu?” tanyanya. “Kamu itu spesial.”

“Buaya.”

“Buaya tuh setia tahu!” Avan menyangkal kala dirinya disebut sebagai ‘Buaya’.

Mungkin ini yang dinamakan dukungan emosional, secara tidak langsung Avan baru saja memberikan apresiasi pada Sana atas hal yang perempuan tersebut senangi. Tangan Sana mulai mengambil saos dan kecap di samping, ia kurang suka pedas karena penyakit lambungnya, jadilah saos kecap sebagai pelengkap.

“Bulan depan aku ada lomba, kamu mau nonton?” tanya Sana pada Avan.

Tak perlu banyak waktu, Avan langsung menyanggupinya. “Ya, kali ditolak. Gas, lah!”

Keduanya lantas tertawa, menikmati hidangan tersaji. Kursi panjang, meja kayu, serta celotehan dari siswa yang mengantre menjadi saksi bahwa mereka baru saja memberi dukungan yang terbaik. Perihal hubungan atau keadaan mereka nanti, pikir belakangan saja, itulah setidaknya pemikiran dari Sana.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment