by

The world

The world.

Oleh:

Jeanette Cesilia Toar

Vonby akan selalu sama seperti yang ia ingat.

Alunan musik menyapa setiap langkah yang tiba di pelabuhan, ratusan identitas dari berbagai pelosok bumi berkumpul di tempat ini dengan wajah berseri, sorak terdengar: “Hey!” bunyinya,

“di kota ini ,siapa pun bisa menjadi apa pun.”

Sebuah moto kebebasan, terpampang nyata di wajah Clay ketika dia pertama kali di tiba di kerajaan ini.

Musik di tengah alun kota itu memang terdengar menyenangkan, namun jarang Clay akan menghampirinya. Kerajaan ini kecil, tetapi Clay akui dia mempunyai banyak pesona. Jika memiliki banyak waktu dia akan mengunjungi satu-persatu, favoritnya adalah toko roti di bawah perbukitan dekat dengan parkiran kapal.

Bel terdengar ketik pintu di dorong oleh Clay, secara perlahan Veryl sang pemilik toko berbalik dan bersinar menatapnya, senyum sang tukang roti selalu setia menyapa Clay ketika dia datang berkunjung, dengan cekatan Veryl mengambil sebuah kertas dan menulis kata-kata.

“Clay! Pesan yang biasanya lagi, er?”

Dengan seksama Clay membacanya, Veryl yang sudah paham betul dengan pelanggannya ini menerima sebuah tawa kecil ketika Clay mengangguk dan mengeluarkan beberapa koin, “kau sudah hafal betul Veryl”

Veryl mendengus dengan bangga mendengarnya menunjukkan sebangga itu dia dengan ciptaan tangannya, bahkan dari perbukitan fhur aroma panggangan roti yang bisa kamu hirup bisa menjamin kualitas dan rasa dari toko Veryl, kira-kira itu yang Clay sukai ketika mendapatkan pesanannya. Dengan ramah setelah roti dibungkus oleh Veryl beberapa koin hasil kerja Clay di taruh di atas etalase. Tampak Veryl yang kembali menulis di atas catatan ketika Clay hendak pergi,

“Menemui tuan putri lagi, benar?” semburat merah tampak di pipi ketika Clay membaca dengan suara sedang. Gerak pemuda itu kacau di hadapan Veryl sesuai dengan kalimat penolakannya,

“ti-tidak! Kau salah sangka, i-ini tidak seperti yang kau lihat!”

Veryl menulis lagi,

“Aku hanya bercanda dengan kau, Sana temui dia Clay”

Napas dari pemuda itu hampir terputus demi mempertahankan ketenangannya agar tidak mengacau, bahu Clay terangkat dan melambaikan tangan, terdengar sentakan langkah ketika pergi, “Sialan kau veryl” dalam perkataannya Clay memang meracau, “Clay sudah selesai?”

Namun tidak bisa dipungkiri, yang dikatakan Veryl memang benar.

“ya…”

Agenda harian di kala sore Clay adalah menuntun putri kerajaan ini,

“Ayo!”

Georgia adalah namanya. Dengan semangat dan cerita yang dia bawa, dunia tanpa cahaya yang dia lihat adalah alasan kenapa Clay mempunyai agenda harian bertemu dengan putri ini, selain sebagai penghantar surat, Clay adalah seorang pemandu terpercaya kerajaan untuk menjaga sang Putri mengekspor kerajaan,

“ada banyak tempat yang bisa kita kunjungi hari ini jika, berkenan kita bisa ke sana” Ucap Clay, langsung ditanggapi dengan sikut Georgia, “Clay, sudah aku bilang untuk memanggil namaku saja, tidak usah formal”

Clay meringis, sambil mengelus perutnya, dia mengangguk paham mendengar setiap kata yang dikeluarkan Georgia, tangan yang awalnya menyikut kini diberikan pada Clay untuk digenggamnya sebagai seorang penuntun jalan, di tengah perjalanan yang lumayan ramai Georgia bisa mendengar gumaman Clay yang mengatakan tujuan mereka,

Baca Juga  Blind Love

“alun-alun kota?”

Clay mengangguk mengiyakan, “sebelumnya Georgia pernah bilang menyukai musik,”

“Kau mengingatnya? Kapan itu?”

“Di surat, aku pernah membacakannya untuk Georgia.”

“Ah!”

Tanggapan dari sang putri menerima sebuah rasa syukur dari Clay tanda dia mengingatnya. Seorang penghantar surat, penuntun jalan dan pendongeng sang putri, Clay tidak dibayar cukup untuk menjadi buku album sang putri untuk menceritakan kenangannya. Langkah kaki yang dibawa Clay semakin lama semakin melambat ketika lantunan musik semakin lama semakin terdengar mendekat.

Georgia tau dari bahunya yang terus bergeseran dengan bahu lain dia sudah sampai pada tujuannya, alun-alun kota yang berseri, jantung dan hati kerajaan Vonby sudah di depan namun tidak dengan tatapannya.

Secara perlahan Clay menoleh untuk melihat wajah berseri sang putri, pertanda dia mengerjakan tugasnya sebagai seorang pemandu yang baik.

“Georgia bisa merasakannya?” mendengar itu sang putri mengangguk, “getarannya, apa rakyat sedang menari?” Clay tersenyum mengiyakan.

Sang putri terlihat antusias, walaupun dunianya gelap gulita. Dia tidak akan pernah mengetahui tentang Clay yang merendahkan diri di hadapannya meminta restu dari genggaman tangan yang mereka bawa, “yang mulia…” namun dia tau dari kecupan yang dia rasa di telapak tangan itu sebuah ajakan dansa.

“Aku yang akan menuntun” ujar Clay dengan bangga, menarik sang putri dari keramaian yang mengepung.

Clay menyusup di ruang kosong di tengah para rakyat yang menari, dengan Georgia yang masih bersamanya, lantunan dari violin terasa melambat, ritme dan sentakan kaki di situ berubah membawa melankolis amat terasa.

“Aku tau musik ini…” dengan perlahan Clay mencoba mengiramakan langkahnya, berjaga-jaga sambil mendengarkan, “dulu di istana, lagu ini menghantarkan kami berdansa.”

“Kami?”

“Ya! Aku dan ayah,”

Itu masuk akal, Clay pikir. “Kamu tau Clay, cahaya di malam itu masih aku ingat. Bintang di langit benar-benar bersinar seperti berlian.”

Genggaman tangan mereka diangkat, Clay yang berhenti membawanya menjadikan ini kode untuk Georgia. Sang putri terkikik ketika dia  mengitari penuntun jalannya kemudian pinggang dan tangannya terasa ditarik mendekat lagi. Sejauh yang Georgia ingat, ini adalah langkah terakhir yang akan mereka ambil sebelum musik berakhir.

Ruangan dengan penuh gemerlap itu,  akan selalu mengisi dunianya yang kosong saat ini.

Tepuk tangan dan sorakan terdengar menggantikan musik Violin, Clay mencuri pandang pada Georgia yang tersenyum dan ikut ke dalam tepuk tangan itu.

Gadis itu bersinar, Clay akui.

“Bagaimana dengan mendengar surat dari yang mulia, Georgia?”

Dan Georgia tersentak, dia mengangguk.

Kerumunan sudah mulai membubarkan diri dari alun-alun kota, suara musik violin masih menemani Clay dan Georgia ketika mereka duduk di pinggir air mancur.  Sambil mengeluarkan sebuah kantong lusuh berisi surat, Clay memberikan roti yang dia beli tadi pada Georgia. Roti itu ketika di tangan dia dibagi menjadi dua, setengah untuk Clay dan setengah untuk Georgia.

Surat dengan cap dari berbagai tempat di buka, dan Clay mengeluarkan secarik surat.

“Baik, apa kamu sudah siap?” Georgia mengangguk.

Surat mulai dibacakan.

“Putriku Georgia,  tidak bisa aku sampaikan lewat kata-kata seberapa aku merindukanmu, jauh dari Derlpangen aku mengabarkan bahwa bunga Daisy sudah bertumbuh, musim panas disini terasa sepi tanpamu,

Baca Juga  Cerpen: Sebab Kamu Hanya Mencintainya

Tertanda,

George Eirikur.”

Batuk terdengar. Clay membersihkan tenggorokan dan menerima roti dari Georgia, “surat ketiga puluh. Yang mulia tampaknya menyangyangi Anda tulus.” Ucapan Clay membuat sesuatu terasa menggelitik di telinga Georgia.

“Terima kasih, Clay..”

Hembusan angin terasa merengut napas dengan suara Georgia. Dengus terdengar dengan Clay yang mengalihkan pandangan ke samping, “penjaga Anda datang menjemput, sebaiknya tidak memperlihatkan roti di tangan Anda jika mau, menjaganya yang mulia.”

Hari semakin gelap ketika beberapa prajurit tertangkap di mata Clay, “benar” Georgia yang menyadarinya berdasarkan getaran sentakan kaki menuruti ucapan Clay. Mereka berdua bangkit menemui salah satu dari prajurit itu yang merendahkan diri pada Georgia,

“Yang mulia..” begitu sebutan Georgia.

Pandangan ke depan, bahu dinaikkan. Di hadapan orang itu, Georgia menanggapi sebutannya dengan serius.

Sang putri dibantu menaiki kuda kerajaan, diikuti oleh penjaga tadi di belakang menjalankan kewajiban yang dia tanggung.

Clay menatap dari belakang punggung mereka yang menjauh, hari semakin malam ketika dia masih terjaga di tempat itu menggenggam surat dan roti dari jantung dan hati kerajaan Vonby. Setelah kepergian mereka, matanya kembali tertuju pada baris kalimat yang disusun.

“Teruntuk Clay sobatku. Derlpangen tidak bisa menahan lebih lama lagi untuk membebaskan Vonby kesayangan.

Tertanda,

Raja George II.”

Isi surat ini, akan selalu berbeda dengan apa yang Clay sampaikan.  Dan dia tidak akan mengakui ini, semenjak ini pekerjaannya. Pendongeng, Clay tidak menelan ludahnya untuk kalimat yang dia ucapkan.

Siapa pun kamu di kota ini

Adalah contoh dari kebalikannya.

Vonby yang dengan kebebasannya akan selalu menjadi cerita lain di hadapan Clay. Meninggalkan alun-alun kota, Clay menemukan seorang pemusik yang bisu, dan seorang pedagang yang tidak bisa mencium. Semakin jauh dia berjalan, semakin banyak yang dia temukan. Pemulung dengan luka,  Putri tanpa penglihatan, raja yang tidak bisa mendengarkan.

Sesuatu terjadi di kerajaan ini berdasarkan hati besar sang ratu setelah kedatangannya,

Tidak ada yang akan menyadari ini, namun Vonby adalah teater permainan dramanya.

“Untuk tetap hidup, sang ratu perlu korban dalam kontraknya…” bisik Clay dan menoleh ke belakang.

“Wah, kamu menyadarinya…”

Pemain violin yang di tengah alun kota menepuk tangan dan mengusap wajahnya, seketika penampakan muka yang lugu berubah menjadi yang disebutkan, sang ratu kerajaan Vonby dalam kutukan di tangannya tertawa mengisi kekosongan, “HAHAHA, INI MENARIK, INI MENARIK. KAMU MENYADARINYA!!”

Raut wajah Clay berubah, tangan yang lembut berubah meluntur di setiap detik ketika mencoba meraih Clay, “MATI!” sesuai dengan kata itu, Clay hampir menemui sang ilahi ketika capaian tangan itu berubah mencekat, berwarna pekat, bertambah besar dengan sentakan pada pijakan menjadikan tanah itu jurang. Iris biru Clay membesar jatuh ke dalamnya. Ketika menyadari itu, sebuah tali cahaya dengan warna biru lantas meluncur mengaitkan diri menyelamatkan Clay. Seperti terbang, tali itu membawa Clay ke atas bermandikan cahaya menerangi  Clay mengeluarkan sebilah pisau dan mengubahnya menjadi pedang.

Baca Juga  Cerpen: Pengelana

Cahaya rembulan di malam itu menunjukkan senyuman sang Ratu yang hampir merobek wajahnya, Clay menyesal melihat itu ketika tangannya kembali menyerang.  “AGHHHHH”

Teriakan Clay terdengar nyaring di tengah hari yang menggelap di setiap menitnya. Sang ratu tampak menyukai teriakan itu dengan tangannya yang mencabik Clay setiap kali menyerang. Tak terdengar lagi dengusan dan hembusan napas setiap kali tangan hitam itu menyentuh Clay, menggebu-gebu serangan itu terasa menganiaya,

“PERGILAH KE NERAKA!!!”

Clay menutup mata. Tangan itu mengunci dia dalam genggaman, gelap amat terasa, dan cahaya dari sela yang ada muncul menerangi penglihatan.  Sang ratu terbungkam setelah sebelumnya merasakan kemenangan, sebelum dia berbicara, cahaya itu membuat sentakan yang membutakan sehingga dia berteriak.

Terlalu cepat ketika dia menyadari, iris biru yang meredup tadi kini menatapnya lekat. Waktu berjalan lambat ketika bercak darah keluar dari mulutnya. Clay memperhatikan detik-detik yang dihabiskan sang Ratu ketika pedangnya menembus jantungnya.

“Sampaikan salam ku terhadap iblis.”

Kilatan cahaya melewati keduanya. “TIDAKKKKK”

Teriakan itu termakan waktu, tenggelam membawa sang ratu ke dalam kegelapan, mengembalikan cahaya pada setiap rumah yang kehilangannya. Suara dari jam di saku Clay menjadi musik sekarang. Detik berubah menjadi menit dan berubah menjadi jam. Suara bel gereja terdengar, bulan mengitari kepala Clay ketika matahari mulai mengintip dan rakyat kerajaan Vonby diingatkan doa Angelus mengisi waktu yang membakar tubuh ratu. Suara kehidupan Vonby selalu sama sejauh yang Clay ingat. Dia terduduk merasakan sesak di dada menyambut pagi-pagi,

“Selamat pagi..” Sebutnya gembira.

Akan tetapi, air mata yang selalu dia tahan tidak bisa sia sembunyikan, Kerajaan Vonby  adalah saksi biksu, menyadarkan Clay dunianya tidak akan pernah sama.

Dunianya…

Kehidupan yang dari dulu dibangun di atas tulisan dan di dalam kertas berakhir dengan hembusan angin yang dia rasakan di tengah kerajaan Vonby yang damai.

Saat ini Clay berjalan kembali menuju kota, sebuah lokasi, jantung dan hati yang terus berjalan dengan waktu. Tujuan pertamanya adalah, kotak surat kerajaan Vonby.


“Kamu adalah duniaku, Georgia.”

Pada musim panas, seperti biasanya. Sekolah-sekolah yang ada di kerajaan Vonby mendapatkan kunjungan dari putri tercinta mereka, kelopak mata sang putri yang tertutup menemani dirinya menyelami ingatan kini tampak.

“Begitu isi suratnya, setelah dia tidak pernah menampakkan diri lagi.”

Gumam penuh rasa kagum mewarnai ruangan, Georgia tersenyum menatap semua mata yang penuh binar anak-anak dengan bangga, “apa ceritaku mengagumkan lagi?” tanya Georgia mendapat anggukan dan seruan. Setelah mendapatkan penglihatannya kembali, Georgia akui dunia berubah, “hanya saja sekarang terasa lebih sepi…”

Dia mengatakannya lagi dan lagi.

Georgia menyaksikan anak-anak ini, mereka bermain dan bercanda, ketika Georgia menyadari dia sendiri, tatapannya beralih keluar jendela melihat alun kota.

Sebuah senyum disunggingkan, “terima kasih, Clay..”

Dia menutup mata, ingatan tentang mereka di tengah alun kota selalu hidup mengisi kegelapannya.

FIN.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment