by

The Promises

The Promises

Oleh:

Mins Arigawa

Setetes air mata jatuh begitu saja mengaliri pipi mulus gadis berusia nyaris 32 tahun itu. Paras manisnya mengerut bersamaan dengan bibirnya yang kini mengatup rapat, akibat tak lagi mampu mengeluarkan kata-kata untuk memberi tanggapan atas kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh sang Ibunda. Kalimat-kalimat yang baginya terdengar bagaikan perintah mutlak yang tak menerima penolakan.

“Mau tunggu sampai kapan? Umurmu yang sekarang sudah tidak dapat dikatakan muda lagi. Kau sudah tidak bisa memilih!”

“Rio itu anak yang baik, sopan, ramah, terlebih lagi ibadahnya juga bagus. Dan yang paling penting lagi, dia mau datang jauh-jauh dari ujung pulau, berhari-hari dalam perjalanan, hanya karena ingin bertemu denganmu!”

“Kau tahu bukan? Itu sudah membuktikan keseriusannya untuk mengajakmu menikah dan menjadikanmu istrinya! Tidak ada lagi alasanmu untuk menolak!”

“Dan ingat! Setelah sampai dirumah kita, kau harus memperlakukan Rio dengan baik selama apapun dia berada disini nanti!”

ooooOOOO00000OOOOoooo

Septya Hafnadi, gadis berlesung pipi itu kembali mengusap kasar pipinya yang makin basah. Entah mengapa kata-kata Mama, yang notabene adalah sebuah nasehat, terasa menyakitkan. Tak ubahnya seperti sebuah belati yang mengiris-iris hatinya. Terlebih lagi ketika menyadari jika wanita yang rambutnya telah memutih itu menginginkannya berjodoh dengan Rio, lelaki yang belum pernah ditemuinya.

Septya bukannya tidak tahu menahu tentang permasalahan ini. Gadis itu pernah menolak. Bagaimanapun juga ia tidak dapat menaruh perasaan pada Rio, meski sudah berkomunikasi jarak jauh dalam jangka waktu yang cukup lama. Septya tidak menemukan sedikitpun chemistry pada sosok lelaki itu. Dia sudah mengutarakan keberatannya dan memberikan penjelasan panjang lebar, berharap Mama dan Papanya mengerti. Namun entah apa alasannya, kedua orang tua bahkan kedua adiknya pun seolah tak berniat mendengarkan keluh kesahnya itu. Dan hal yang lebih dimengerti lagi, Mama dan Papanya dengan suka cita mau menampung ‘orang asing’ itu untuk menetap di rumah sampai dengan waktu yang tidak ditentukan. Bukankah itu pemaksaan namanya? Memaksa agar Septya jatuh hati pada laki-laki yang bukan pilihannya. Memaksa gadis baik hati itu menelan lebih banyak lagi kepedihan.

Seperti saat ini. Untuk kesekian kalinya, air mata Septya kembali berderai turun ketika mendengar suara Rio yang baru tiba. Sebuah suara yang paling tidak ingin didengarnya pada saat tengah malam itu. Sebuah suara yang mengundang kekhawatiran dan kesedihan, sampai-sampai menyita waktu tidurnya hingga pagi menjelang.

ooooOOOO00000OOOOoooo

“Nanti jangan lupa salaman dengan Rio!”

Kening Septya mengerut ketika mendengar kata-kata pagi yang diucapkan oleh Papa, kata-kata yang lebih pantas disebut sebagai sebuah peringatan. Jelas saja mood gadis itu down seketika. Bagaimanapun juga ia bukanlah anak kecil kehabisan akal yang tidak mengerti tata krama dan sopan santun. Tanpa diberitahupun Septya pasti akan memulai tegur sapa dengan sang tamu. Tak ingin memercik masalah, Septyapun kemudian menjawab pelan, mengangguk, berusaha menyembunyikan tarikan nafasnya, menelan bulat-bulat kekesalannya. Hingga lupa bagaimana cara menikmati sarapan paginya.

Setelahnya, sebisa mungkin Septya menahan perasaan. Mengulurkan tangan, bersalaman dengan seseorang yang tidak diharapkannya untuk datang. Sebelum akhirnya mengambil langkah untuk berangkat bekerja di sebuah kantor pemerintahan. Tempat dimana dirinya mencari rezeki. Tempat dimana dirinya mendapatkan pundi-pundi rupiah. Dan juga tempat dimana Septya harus rela menghabiskan hampir seluruh waktunya karena terkurung di sana, sampai-sampai gadis itu tidak memiliki cukup waktu untuk bertemu ataupun berkenalan dengan orang-orang baru.

Baca Juga  First Love

ooooOOOO00000OOOOoooo

“HEH?!”

“Bagaimana mungkin? Bukankah kalian sudah tidak lagi berhubungan sebulan terakhir ini? Kenapa tiba-tiba dia datang dan sekarang tinggal di rumahmu?”

Susan nyaris berteriak histeris. Rekan kerja Septya itu tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya, setelah mendengar cerita gadis yang kini tertunduk dalam di sudut ruangan itu. Rasa iba pun segera melingkupi perempuan berkacamata itu, tidak tahu harus mengatakan apa untuk menghibur salah satu temannya itu.

“Sebenarnya aku tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi sekarang. Semuanya terasa begitu cepat. Aku tidak menduga jika dia benar-benar datang, walaupun kami sudah lost contact cukup lama. Aku tidak menyangka jika dia tetap nekad ingin bertemu, bahkan setelah semua penolakan yang aku utarakan!”

“Dan yang lebih menyedihkan lagi… Kedua orangtuaku seakan-akan tidak membutuhkan pendapatku tentang ini. Susan… Aku merasa tidak dihargai! Aku merasa keberadaanku tidak diperhitungkan oleh mereka! Bukankah aku yang memiliki peran penting dalam masalah ini? Bagaimanapun juga ini menyangkut kehidupanku, tetapi mengapa…”

“Septya, yang sabar ya…”

Terdengar Susan berujar sembari mengelus-elus punggung temannya itu. Jika saja saat ini mereka sedang tidak berada dilingkungan kantor, sudah dapat dipastikan jika Septya akan menangis keras menuangkan segala kesedihannya.

“Apa sebaiknya aku kabur saja ya? Toh tidak ada juga yang mau mendengarkanku…” ujar Septya kemudian, mengutarakan keputusasaannya.

“Heh? Jangan! Ingat Septya, mereka adalah orangtuamu. Bagaimanapun juga kau harus menuruti kata-kata mereka. Kau harus menyenangkan hati mereka selagi mereka masih hidup!” panik Susan.

“Tapi… Apakah harus seperti ini caranya?”

ooooOOOO00000OOOOoooo

TOK! TOK! TOK!

Dengan tergesa Rio membuka pintu kamar ketika mendengar suara ketukan. Sedikit terkejut lelaki itu ketika mendapati Septya yang kini sudah berada dihadapannya.

“Ada apa?” tanya Rio singkat.

“Bukankah tadi siang kau ingin berbicara denganku? Katakanlah, aku akan mendengarkannya sekarang…” kata Septya balik bertanya.

“Oh yia ya…” tanggap Rio kemudian setelah terlihat berpikir sejenak.

Lelaki itu kemudian menutup pintu kamar sebelum menghampiri Septya yang sudah duduk menunggu di meja makan.

“Jadi… Apa yang mau kau bicarakan?” ujar Septya bertanya. Memulai percakapan setelah jengah duduk diam cukup lama.

“Hhhmmm… Mungkin kau sudah tahu, tujuanku datang jauh-jauh ke sini hanya untuk menemuimu. Aku merasa penasaran. Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu, termasuk ingin tahu bagaimana perasaanmu untukku…”

Tanpa sadar Septya menghela nafas panjang demi mendengar kalimat-kalimat yang memang sudah diduganya akan terucap. Kalimat-kalimat yang baginya terdengar menakutkan. Kalimat-kalimat yang seharusnya tidak perlu dipertanyakan lagi, karena Septya yakin bahwa Rio telah mengetahui jawabannya. Meskipun begitu, gadis itu berusaha sekuat tenaga menyembunyikan perasaannya dan bersikap biasa saja. Bagaimanapun juga dia tidak ingin membuat lawan bicaranya itu merasa tidak nyaman.

“Ma’af…”

“Sebelumnya aku benar-benar memohon ma’af… Seperti yang sudah kau tahu, aku tidak memiliki perasaan apapun padamu. Selama ini aku hanya menganggapmu sebagai saudaraku sendiri. Dan tidak mungkin rasanya untuk melanjutkan hubungan lebih dari ini…” tanggap Septya tak enak hati. Gadis itu jelas merasa bersalah karena tahu benar jika dirinya telah membuat Rio sakit hati.

Hening. Namun tak lama kemudian, Riopun mengangguk. Tampaknya lelaki itu paham akan apa yang dimaksudkan oleh gadis yang kini tertunduk dihadapannya itu. Meski ini bukanlah kali pertama Rio mendengar pernyataan itu, tetap saja lelaki bertubuh kurus tinggi itu merasa kecewa. Tatkala menyadari bahwa semua usahanya akan sia-sia.

Baca Juga  Ayah

“Yaa… Aku mengerti… Aku juga tidak mampu berbuat apa-apa jika perasaanmu memang seperti itu. Aku juga tidak mungkin menjanjikanmu sesuatu yang lebih baik atau semacamnya, hanya untuk membuatmu mengubah keputusan. Aku sadar, tidak mudah mengubah perasaan orang lain, apalagi sampai harus memaksanya. Ibaratkan sebuah karet. Apabila ditarik terus dipaksakan lurus, lama-lama karet itu pasti akan putus. Begitupun juga sebuah hubungan…” tanggap Rio panjang lebar. Cukup membuat Septya terkagum dengan jalan pikirannya yang dewasa.

“Dan kau juga harus tahu… Sebenarnya aku juga tidak memiliki perasaan kepadamu. Aku datang menemuimu, hanya karena permintaan orangtuaku. Aku hanya ingin menyenangkan hati mereka…”

“Aku juga mengerti bagaimana perasaanmu dan posisimu saat ini. Kau tidak mampu membantah mereka bukan? Karena itu, biarkan aku yang menjelaskan hal ini pada orangtuamu, agar tidak ada permasalahan lagi di masa yang akan datang…” tambah Rio lagi yang diakhiri dengan senyum. Senyum yang sedikit banyak mampu mengurangi rasa bersalah pada Septya.

ooooOOOO00000OOOOoooo

Tanpa terasa waktu berlalu dengan begitu cepat. Sudah seminggu lamanya Rio berada di kediaman Septya dan selama itu pula Septya harus bersusah payah menyembunyikan rasa sesak di dadanya. Bagaimanapun juga berada dalam satu rumah dengan lelaki yang tidak disukai, bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi gadis itu harus lebih menjaga sikap agar tidak menimbulkan kesalahpahaman lain di mata kedua orangtuanya. Hingga pada suatu hari, dengan terpaksa Septya menjawab panggilan telepon dari Rio, disela-sela kesibukan kerjanya siang hari itu.

“Septya, apa yang sudah kau ceritakan pada orangtuamu? Bukankah aku sudah peringatkan, jangan katakan pada Mama mu tentang kepulanganku. Lihatlah, apa yang terjadi sekarang. Dia melarangku pulang! Astaga… Jika sudah menyangkut permintaan orangtua seperti ini, aku tidak dapat berbuat apa-apa!”

Septya terperanjat kaget demi mendengar kalimat-kalimat dari lelaki diseberang sambungan. Namun yang lebih mengejutkannya lagi adalah perkataannya tentang Mama yang melarang Rio untuk pulang ke kampung halamannya. Gadis itu tidak habis pikir. Mengapa Mama melakukan hal itu? Bukankah tidak baik membiarkan seorang lelaki ‘asing’ tinggal dalam satu rumah bersama anak gadisnya terlalu lama?

“Ma’afkan aku… Aku hanya bertanya pada Mama, agar kau mudah mendapatkan bus untuk pulang nanti… Sulit loh, mencari bus antar provinsi di desa ini…” tanggap Septya mengutarakan alasannya yang langsung ditanggapi Rio dengan tarikan nafas kesal.

“Ma’afkan aku… Aku tidak tahu kalau Mama akan bersikap seperti itu… Mohon ma’af sekali, tetapi izinkan aku bertanya, benarkah kau tidak ada perasaan untukku?” tanya Septya takut-takut, sekedar memastikan.

“Bukankah aku sudah mengatakannya padamu? Aku tidak menyimpan perasaan apapun untukmu! Mungkin jika kau belah dadaku ini, kau baru paham. Tidak ada sedikitpun getaran-getaran rasa sukaku untukmu!” tegas Rio yang langsung membuat Septya menarik nafas lega.

“Ma’afkan aku… Aku hanya ingin memastikan, agar…”

“Kau tidak perlu khawatir… Aku yang akan menjelaskan kepada kedua orangtuamu tentang perasaan kita masing-masing. Nantinya, kau hanya perlu mengangguk setuju…”

“Baiklah, aku mengerti…” tutup Septya. Sedikit banyak apa yang didengarnya tadi cukup memberikannya ketenangan.

Namun ternyata ketenangan itu tidak berlangsung lama. Sore harinya Rio kembali menghubungi Septya dan mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak pernah diduga oleh gadis itu. Rio menyatakan cinta dan memaksanya bertemu sore hari itu juga!

Baca Juga  Cerpen: Panji Si Tukang Bolos

Sungguh Septya merasa kelimpungan dan merasa dipermainkan! Perasaan bingung, sedih, kecewa dan marah bercampur aduk dalam hati dan pikirannya. Gadis itu tidak mampu berbuat apa-apa dan hanya dapat menangis sesenggukan dihadapan Susan demi meredakan amarahnya. Namun tak urung gadis itu menyetujui ajakan untuk bertemu dengan Rio di tepian danau sepulang kerjanya nanti. Bagaimanapun juga Septya tidak mungkin membiarkan lelaki itu seorang diri di daerah yang tidak dikenalnya ini.

ooooOOOO00000OOOOoooo

Kini keduanyapun duduk ditepian danau, saling berhadapan, sebuah meja berisikan es kelapa muda menjadi pemisah di antara mereka. Septya duduk tak nyaman, gadis itu merasa bergetar risih ketika menyadari Rio yang terus menatapnya sejak mereka duduk tadi.

“Jadi apalagi sekarang? Apa maksud perkataanmu di telepon tadi? Mengapa kau bisa berubah pikiran secepat itu? Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiranmu!” ujar Septya bertubi-tubi tanpa basa-basi.

“Tentu saja kau tidak mengerti jalan pikiranku. Kau ‘kan belum mengenalku, Septya… Sejak peristiwa tadi pagi, hatiku merasa gelisah tanpa sebab dan aku baru menyadari jika aku sangat mencintaimu Septya! Aku takut kehilanganmu!” tanggap Rio dengan tatapan serius.

“Tetapi tetap saja, aku tidak memiliki perasaan apapun untukmu. Aku hanya menganggapmu sebagai saudaraku, sebagai abang kandungku sendiri, tidak lebih! Bukankah kau juga mengatakan hal itu semalam? Tetapi, mengapa kau dapat berubah secepat ini?!” tanggap Septya yang langsung membuat Rio terdiam.

“Baiklah… Berikan aku waktu 3 hari. Jika dalam waktu 3 hari aku masih belum dapat mengubah perasaanmu kepadaku, maka aku akan menyerah. Aku akan melepaskanmu. Aku juga akan bertanggung jawab kepada orangtuamu dan juga kepada orangtuaku. Aku akan mengajakmu duduk berhadapan dengan orangtuamu dan mencerikan tentang perasaan kita masing-masing. Kau tidak perlu berkata sepatah katapun, kau hanya harus mengangguk setuju!”

Septya terhenyak. Untuk beberapa saat gadis itu tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Bagaimana tidak? Dirinya mendapati jika keadaan yang dialaminya sekarang sama persis seperti adegan sinetron romance yang pernah ditontonnya. Penuh kebohongan! Namun Septya tidak memiliki pilihan lain selain berharap pada kata-kata Rio yang berjanji akan memberi penjelasan kepada orangtuanya. Berharap agar masalah perjodohan ini selesai cukup sampai disini.

ooooOOOO00000OOOOoooo

Namun nyatanya harapan tinggallah harapan. Mau tidak mau, Septya harus menelan pil pahit tatkala menyadari tingkah Rio yang sama sekali tidak bertanggung jawab. Tanpa berbicara apapun, lelaki itu tiba-tiba saja memutuskan untuk pulang 3 hari setelah pertemuan yang terjadi ditepian danau. Rio pamit pada kedua orangtua Septya tanpa berkata sepatah katapun padanya.

Yaa, Rio pergi tanpa menunaikan janjinya terlebih dahulu. Sepertinya lelaki itu sama sekali tidak berniat memberi penjelasan kepada orangtua Septya. Seakan-akan sengaja menumpahkan kesalahan pada gadis itu hingga meninggalkan kesan bahwa Septya menolak perasaan Rio, meski pada kenyataannya lelaki itupun tidak menyimpan perasaan khusus pada Septya. Rio sengaja melabeli Septya sebagai sosok gadis yang ‘sok jual mahal’ yang tentu saja memancing permasalahan baru, sampai-sampai membuat sang Mama tidak berbicara padanya hingga beberapa hari lamanya.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis puisi yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak naskah yang masuk.

Comment