by

THE GUEST

THE GUEST

Oleh:

Sinta Aulia

Aku Ashley Lilian. Panggil saja Ashe. Aku adalah seorang penulis freelancer berusia dua puluh dua tahun.

Well, seperti biasa, rutinitas yang kulakukan adalah duduk di hadapan layar laptop. Bertemankan dengan secangkir latte susu dan samar-samar alunan musik di café, jemariku bergerak untuk mengetik setiap kata.

Ada sebuah platform menulis yang akhir-akhir ini sedang santer dan naik daun. Dari segi performanya yang benar-benar dahsyat untuk platform menulis yang bisa digunakan kapan pun tersebut, serta cerita-cerita yang ditulis dengan apik tentunya mampu menjadi salah satu daya pikat aplikasi tersebut terhadap kaum muda. Terlebih untuk kaum perempuan.

Ribuan bahkan jutaan orang menggunakan aplikasi tersebut. Salah satunya adalah aku. Dengan nama akun @ashleylilian, aku mulai produktif menulis berbagai macam alur cerita menarik. Terhitung sudah hampir tiga tahun aku menginstall aplikasi itu di ponsel maupun laptop milikku.

Di sana, aku adalah seorang penulis genre mystery dan thriller. Di akun bernama Maple itu, aku sudah memiliki tiga buku tamat dan 115 ribu pengikut setia. Dua di antaranya sudah pernah diterbitkan, dan yang sedang kutulis sekarang adalah buku bergenre sama dengan alur pembunuhan ekstrem yang terinspirasi dari banyak karya penulis favoritku.

Ting!

Sebuah pesan masuk aplikasi Maple dari dalam laptopku sontak membuatku tersenyum melihatnya. Segera saja kutekan notifikasi tersebut seraya membaca deretan pesan chat yang tertera di sana.

@rrubyesterlita

Hei.

Aku punya kabar bagus buat kamu.

Kamu mau tahu nggak?

Mendengar itu, keningku mengerut bersama senyum yang terukir bersamaan. Pesan itu pun kubalas dengan:

Apa tuh?

Aku mau berkunjung ke rumah kamu minggu ini!

Asikkk

Beneran? Asikkkk!

Minggu, kan?

Iya! Nanti aku kabarin yah

Oke, see you di rumah aku ya, Ruby!!

Aku hampir memekik senang saat itu juga. Yeah, mari kuperkenalkan. Dia adalah Ruby Esterlita, sahabat daringku di aplikasi Maple. Dia dan aku sudah berteman dua tahun yang lalu. Kami sama-sama penulis cerita bergenre suspense. Awalnya aku tidak menyangka bahwa dia juga menyukai genre seperti pembunuhan. Ruby tinggal di Bandung, sementara aku di Jakarta. Ini adalah kali pertama dia akan berkunjung ke rumahku.

Kututup laptopku dan bergegas melangkah keluar café. Okay, Ashe. Ayo bersiap-siap untuk besok.


Ini adalah hari Minggu. Ruby bilang dia akan datang sebentar lagi. Di luar sedang hujan deras. Sementara malam sudah semakin larut. Pukul dua belas malam, tepat tiga menit sebelum hari Senin tiba, di saat aku hampir terhanyut dalam tidurku, sebuah ketukan terdengar dari luar.

Aku kontan terbangun. Kucingku pun ikut terjaga.

Siapa? Ruby?

Ting!

Sebuah pesan masuk ke ponselku.

@rrubyesterlita

Aku udah sampe.

Kedua bola mataku melebar. Segera saja aku beranjak dari sofa dan menghampiri pintu.

Baca Juga  Cerpen: Misteri Hutan Terlarang

Kreet…

Begitu pintu terbuka, sesosok tubuh basah kuyup dengan sebuah koper di samping tubuhnya berdiri. Air menetes dari ujung rambut hingga ujung kakinya, membuatku stagnan selama sesaat.

“Hai, Ashe.”

Aku tersadar dengan kikuk lalu menjawab, “H-hai, Ruby.”


Di sinilah kami. Duduk di sofa bersama dengan secangkir teh panas di tangan. Ruby telah mengganti bajunya. Dan kami hanya duduk dengan canggung di sana, tanpa ada satu pun percakapan yang terdeteksi di antara kami. Kuelus bulu kucing kesayanganku dengan lembut. Ya, itu efektif mengatasi kecanggungan itu.

Kuperhatikan sesekali sosok Ruby yang wajahnya tertutup rambut lurus tergerainya. Canggung, benar-benar canggung.

“Ehm, kamu pasti capek. Mending kamu istirahat dulu, ngobrolnya bisa besok aja,” ujarku.

Ruby mendongak, sorot matanya yang tertutup poni menatapku lebar. Tanpa diduga, ia pun mengangguk.

“Aku anter ke kamar kamu, ya?”

Aku pun berdiri, diikuti olehnya. Sampai di depan sebuah pintu, kubuka pintu itu dan mempersilakan Ruby untuk masuk ke dalam. Pintu tertutup dan menyisakanku di lorong dalam keheningan dan rintik hujan di luar.

Aneh ya, Ruby tidak seperti di chat. Maksudku, dia agak lebih pendiam di kenyataan. Apakah karena canggung? Barangkali, iya.


Pagi telah tiba. Sosok Ruby baru tiba di ruang tamu tatkala aku sudah selesai membuat sarapan cemilan sehat. Ia pun berjalan ke arahku.

Aku menegakkan tubuh canggung dan berkata, “Hai, pagi.”

“Pagi.”

“Hm… ngomong-ngomong soal naskah baru kamu yang dipublish kemarin, aku udah baca awalannya. Dan itu seru banget tahu! Aku suka saat teman pena si pemeran utama bunuh kucingnya. Gila, itu gore banget. Sampe merinding aku bacanya, haha.”

Ruby menatapku dengan sorot tertutup poninya, “Ahaha, iya.”

Singkat, padat dan jelas. Cukup mengakhiri percakapan kami pagi ini. Well, hari pun berlanjut. Tidak ada yang dibahas, seolah kami adalah orang asing.

Malam kembali tiba, hujan kembali turun. Dan ini resmi menjadi hari kedua Ruby di rumahku. Tanpa dialog berarti tentunya. Seolah dia adalah tamu yang hanya sekadar nebeng.

Krrssk!

Aku kontan menoleh ke belakang. Aktivitas mengetikku terhenti. Suara itu berasal dari kamar Ruby yang notabenenya berada di sebelah kamarku.

Sssssh!

Lagi, aku terdiam. Apa itu? Suaranya seperti desisan.

“Ruby?”

Aku bangkit dan memutuskan untuk membuka pintu, mengecek keadaan dari kamar Ruby. Sampai di depan pintu kamarnya, aku menguping. Selama sejenak, tidak ada lagi suara yang terdengar. Apa yang dilakukannya malam-malam begini?

“Ru—”

Pintu terbuka dan membuatku lantas terperanjat. Sosok Ruby berdiri di balik sana.

“Kamu… nggak apa-apa, kan?” tanyaku hati-hati.

“Heem. Nggak papa.”

Bruk. Pintu pun tertutup.

Aku kembali stagnan. Misterius sekali.


Ini hari ketiga Ruby di rumahku. Sekarang kami ada di sofa, tidak saling mengobrol. Aku fokus pada pekerjaanku, dan dia fokus pada pekerjaannya.

Baca Juga  Hello, Wendy!

“Kamu lagi nulis bagian tiga, ya?” tanyaku. Ruby menoleh.

“Hmm.”

Aku mengangguk paham.

“Tentang apa tuh?”

Ruby sejenak terdiam, ia pun menyahut, “Teman pena kubur mayat kucing pemeran utama.”

Aku bergidik. Dari sorotnya yang menatapku dingin, bulu kudukku kontan terangkat. Sial, aku merinding.

“O-oh, gitu.”

Dan aku pun beranjak masuk ke dalam kamar.


Aku kesepian malam ini. Aku kelaparan dan tidak bisa tidur. Jam menunjukkan pukul satu malam. Kedatangan Ruby bahkan tidak dapat menjadi penyembuh kesepianku. Oke, hanya Cici temanku satu-satunya.

“Cici… ck, ck, ck! Meong!” seruku menyusuri lorong. Ah ya, aku sadar. Cici tidak pulang sudah dua hari ini. Semenjak Ruby ada di rumahku.

Kutelusuri lorong seraya memanggil nama kucing kesayanganku itu. Tapi nihil, dia tidak ada. Sampai di dapur, aku pun membuka toples berisi cemilan tengah malamku, hingga pintu belakang yang terbuka membuat atensiku seketika teralih.

Penasaran akan itu, kudekati pintu itu dan mengeceknya. Tunggu, perasaan sudah kututup deh. Lalu…

Tanpa sadar, kaki terbalut sandalku melangkah ke luar dengan perlahan.

Kruk! Kruk!

Sebuah punggung yang sedang menggali-gali sesuatu menggunakan cangkul tertangkap mataku. Hei?

Sementara tangannya mengangkat sesuatu dan memasukkannya ke dalam lubang yang ia gali.

Tunggu, apa?

Itu… itu Cici!

Aku melotot.

“Haah!” kagetku refleks langsung membekap mulut. Sosok itu menoleh ke arahku.

Ruby. Dia Ruby.

Kupejamkan mataku sambil bersembunyi di balik pohon.

Apa… apa yang Ruby lakukan pada kucingku?!

Setelah dia kembali fokus mengubur kucingku, aku pun segera berlari masuk ke dalam rumah. Masih shock, aku pun segera menghambur masuk ke dalam kamar Ruby dan menggeledah kamarnya.

Tidak. Tepatnya koper miliknya!

Kreettt!

Begitu koper itu terbuka, seketika itu juga terpampang banyak sekali pisau dan benda tajam lainnya serta bangkai anjing di sana.

Aku membekap mulutku dengan kaget.

Shock berat. Ruby, siapa dia…?

Selama beberapa menit shock, aku pun mencoba untuk keluar dari kamar itu. Busuk sekali baunya!!!

Sial, aku jadi teringat cerita yang ditulis Ruby. Teman pena membunuh kucing pemeran utama, dan siang tadi Ruby bercerita bahkan teman penanya mengubur kucing tersebut.

Shit.

Aku bangkit dan mencoba berlari keluar.

Namun…

Aku termundur. Ruby ada di sana bersama pisau berlumur darah di tangannya yang tersayat banyak luka sayatan. Self injury?

“R-Ruby…”

Mata Ruby melihat ke arah kopernya yang berantakan. Senyum janggalnya tersungging.

“Jadi kamu udah lihat?”

Ruby bertanya. Aku terpaku, shock masih melandaku.

“Kenapa? Kenapa kamu lakukan itu?”

Senyum misteriusnya semakin melebar, “Kisah nyata. Kamu karakter utamaku.”

Aku terpana. Shit.

“Psikopat,” umpatku.

Baca Juga  Sebelum Tujuh Hari

Dan setelahnya, aku pun berancang-ancang untuk segera berlari dan mendorongnya. Masuk ke kamar, kukunci pintu kamarku dengan segera. BRUK BRUK BRUK!

Ruby mendobrak-dobraknya dengan brutal. Aku yang bersandar di belakangnya memejamkan mata ketakutan. BRUK BRUK BRUK!

Dalam sepersekian detik, Ruby berhenti. Aku mengatur napas sejenak. Dia sudah berhenti?

Aku merosot sambil membekap mulutku dan menangis. Apa dia akan membunuhku?

Oh, Tuhan…

BUGH! BUGH!

Aku terperanjat. Punggungku bergerak. Tak lama, berkat pukulan brutal itu, tubuhku terdorong dan pintu pun terbuka dengan sosok Ruby serta palu di tangannya.

Damn it.

Aku termundur.

“Kenapa kamu lakukan itu? Ruby, aku mohon jangan bunuh aku!” mohonku. Tapi Ruby terus maju tanpa kata-lata.

Sial, sial, sial.

Dan sekarang Ruby sudah di depanku.

“Ruby, aku mohon—”

Rambutku ditarik. Bugh! Bugh! Bugh!

Palu itu ia pukulkan ke arahku. Aku menjerit hebat. Dan ya, malam yang panjang kulalui dengan kebrutalan seorang penulis psikopat.


Aku membuka pintu rumahku dan berlari dengan langkah terseok-seok. Ruby mengejar di belakangku. Wajaku sudah babak belur. Dan dia serius ingin membunuhku!

Aku menoleh ke belakang. Sial, Ruby!

Perlu diketahui, bahwa rumahku ini terisolasi dari rumah-rumah lainnya. Butuh lima ratus meter agar bisa meminta bantuan kepada orang-orang!

Rambutku ditarik dan aku hampir terjungkal. Aku menangis.

“Ruby, aku mohon…” ujarku memohon dengan menyedihkan. “Aku janji. Aku janji bakal lepasin kamu. Ya?”

Ia tersenyum miring. Palunya terangkat, dan…

BUGH!


Aku melangkah dengan sorot tidak bertenaga. Malam yang sangat panjang. Berat dan menyakitkan. Lampu jalan yang redup menemani langkahku bersama sosok Ruby yang mengikuti langkahku dengan wajah hancurnya. Terus kuseret tubuhnya hingga kami sampai di danau.

Tanpa aba-aba, segera saja kucemplungkan kakiku masuk ke dalam air, berjalan ke tengah danau dengan sosok Ruby yang sudah mati. Setelah tubuh Ruby telah sepenuhnya tenggelam, aku berdiam sejenak.


Kukunci pintu rumahku. Aku pun masuk ke kamar, membuka laptopku dengan tangan yang masih bersimbah darah. Jariku mulai mengetik di sana.

Bukankah tadi dia sudah kuberikan kesempatan? Lalu kenapa dia mengabaikanku? Dan ya, itulah akibatnya.

Hingga kalimat terakhir berhasil kuketik:

Sampai jumpa lagi, Tamu.

TAMAT.

BIODATA

Cewek kelahiran 2002 bernama Sinta Aulia yang punya cita-cita menjadi seorang produser dan screenwriter sukses di masa depan. Memiliki hobi menulis berbagai genre cerita, dan berharap suatu hari dapat diangkat ke layar lebar. Suka dengan hal-hal menyenangkan serta keramaian. Dan juga berharap suatu hari bisa mempunyai karya yang dikenal oleh banyak orang.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment