by

THE FUNERAL

THE FUNERAL

Oleh:

Sinta Aulia

Hujan turun siang itu. Namun eksistensinya tak sama sekali mampu membuat barisan orang-orang itu bubar. Sebuah makam yang telah ditabur bunga, batu nisan tersebut bertuliskan: GINA SEPTIA, LAHIR: 12-07-2001, WAFAT: 10-04-2020.

Runa, gadis berkerudung hitam itu menjadi salah satu orang yang berhadir di sana. Fokusnya tidak terpaku pada kesedihan itu. Melainkan pada sesosok figur laki-laki yang sedang berdiri di dekat kerumunan yang tidak jauh dari tempatnya berada. Laki-laki itu menoleh tanpa diduga. Tepat ke arahnya. Tapi Runa tidak sama sekali ingin menghindari tatapan itu, hasilnya mereka bertatapan selama sejenak. Senyumnya merekah. Seusai acara pemakaman berakhir, Runa ikut bubar. Runa sengaja memperlambat langkahnya sehingga…

Bruk!

“Eh, maaf!” seru seorang gadis kepadanya.

“Iya, nggak apa-apa.” Runa tersenyum. Gadis itu adalah Yura. Yura Geraldion. Anak dari keluarga terpandang di kota ini.

“Eh, bentar,” ujar Yura. “Aku rasa kamu yang tadi deh.”

“Yang?”

“Yang natepin kakak aku selama pemakaman berlangsung. Iya, kan?”

Runa tersenyum aneh. “Kamu lihat?”

“Iyalah!” jawab Yura setengah berseru senang. “Keith,” lanjut gadis itu. “Gina, itu pacarnya Keith. Meninggal karena jatuh dari tangga.”

“Oh, ya?”

“Iya. Btw, kamu cantik deh.”

Runa tersenyum, “Makasih.” Ada jeda selama beberapa saat. Tatapannya terpaku pada satu sosok Keith yang mulai melangkah keluar pemakaman. “Kayaknya kita bisa temenan…”

“Yura.”

“Ya, Yura.”

Runa tersenyum lebar. Sosok Keith sudah menghilang dari pandangannya.


Satu minggu kemudian…

Malam itu langit sunyi tanpa bintang. Mendung pertanda akan turun hujan sebentar lagi. Seorang gadis berjalan di jalanan sunyi pada pukul sebelas malam. Tampak sebuah tudung hoodie membalut kepalanya. Entah kegiatan apa yang dilakukannya sehingga membuatnya harus berjalan di tempat sepi itu malam ini.

Di kejauhan, seorang gadis tampak berdiri di pinggir jalanan sepi penduduk tersebut. Ponsel di tangannya terus ia tatap. Layarnya bahkan tak pernah mati sejak tadi. Perasaanya tidak enak. Tiba-tiba saja temannya itu mengajaknya bertemu di tengah malam. Tapi ia tetap datang, tentu saja karena yang mengajaknya bertemu adalah temannya yang bernama Runa.

Sreek.

Langkah yang terhenti membuat gadis itu menoleh dengan cepat ke belakang. Sosok gadis yang pesan teksnya tertera di layar telah berdiri dua meter di belakangnya. Senyumnya mengembang. Perasaan lega seketika terpancar dari wajahnya yang terpahat risau sejak tadi.

Baca Juga  Pak Kades, Rumi, dan Halusinasi Mak Narti

“Eh, Runa. Akhirnya kamu dateng.” Gadis berhoodie itu, Runa, mengangkat salah satu sudut bibirnya, membentuk senyum miring.

“Iya dong.” Dan ekspresi itu berganti menjadi senyum ceria.

“Kamu…” Sejenak gadis itu ragu. “Mau ngomongin apa emang sama aku malem-malem begini?” Runa sejenak terdiam. Senyum lebarnya perlahan-lahan lenyap. Langkahnya maju perlahan. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, hingga langkah ke sepuluh membuat jaraknya dan gadis itu tersisa kurang dari satu meter.

“Aku…”

Lagi, Runa melangkah. Kali ini kegugupan jelas membuat gadis itu seketika gentar dalam hitungan sekon. Auranya tidak enak, begitu pikir gadis yang tidak diketahui namanya tersebut. Runa terus melangkah, membuat gadis itu lantas memundurkan langkahnya ke belakang.

“Mau…”

“Eh, Run—

Detik-detik yang mengganjal, membuat gadis itu hampir memekik. Langkah Runa yang terus mendekatinya, wajah yang tidak terbaca, keheningan tiada akhir. Gadis itu merasa bahkan situasi ini tidak sama sekali menguntungkannya!

“Runa, stop!”

Runa refleks berhenti melangkah.

“A-apa? Jangan kayak gitu dong. Kamu nakutin…”

Tanpa diduga, Runa tiba-tiba tertawa. Tawa renyah yang seketika membuat gadis itu sukses mengerutkan alis.

“Kenapa? Aku cuma mau kasih ini, kok,” kikik Runa sembari mengeluarkan sebuah kotak dan menyodorkannya pada gadis itu. Dengan ragu, gadis itu pun menyambutnya. Membuat senyum Runa langsung melebar senyum pada saat itu juga.

“Dari Leo,” beritahunya dengan ceria.

“Eh?”

“Iya, Leo.”

“Kok Leo kasih ini ke kamu, sih?”

“Tadi ketemu aku, jadi nitip.”

“Oh, okay. Makasih, Run.”

Sejenak, gadis itu terpaku.

“Eh, udah ya. Gue mau balik, tadi ambil jam istirahat di kerjaan. Nanti dicariin sama pemiliknya lagi, hahaha,” pamit Runa. Setelahnya, gadis itu pun berbalik dan melangkah dengan santai. Meninggalkan gadis cantik itu di sana. Setelah tubuh temannya—Runa—itu sudah berada sepuluh meter di depannya, gadis itu putuskan untuk membuka kotak tersebut. Sebuah teddy bear ada di sana. Senyumnya melebar.

Dari balik saku Runa, gadis itu keluarkan sebuah detonator. Ia tersenyum bengis.

Baca Juga  Rahasia Penarik Jodoh

“Goodbye, Yura.” Dan ia pun menekannya.

DUAARRR!

Tubuh gadis cantik itu meledak. Tanpa ia sadari ternyata di balik tubuh boneka tersebut terdapat sebuah bom yang sebelumnya sudah ditanam oleh Runa di dalam sana. Runa berhenti dan berbalik. Tawanya melebar.

“Itu hadiah paling manis, kan?” teriaknya dari kejauhan. “Bukannya kamu suka hal-hal yang manis? Jadi Leo kasih itu ke kamu. Semangat Yura!!!”


Hari ini pemakaman penuh akan para pelayat yang berkunjung pada salah satu makam yang masih baru. Pakaian hitam tampak menghiasi tubuh-tubuh yang berdiri penuh haru di sana. Salah satunya adalah Runa.

Kematian Yura, putri dari salah satu orang terkaya di kota ini jelas saja mampu menggegerkan seluruh kota. Ia meninggal dengan mengenaskan, tubuhnya hancur.

Runa tersenyum. Di kejauhan, Keith tampak berdiri di sana. Dengan pakaian yang sama ketika pertama kali Runa lihat.

Tanpa sadar Runa menatapnya lama. Dan bagai déjà vu, Keith kembali menoleh ke arahnya seperti pertama kali. Dan untuk kali kedua juga Runa melebarkan sedikit senyumnya.

Pemakaman telah usai. Runa berniat melangkah pergi, namun sebuah tangan menahannya. Runa berhenti, sosok Keith berdiri di dekatnya.

“Kita bertemu dua kali,” ujar Keith.

“Kebetulan yang… ehm… agak aneh?”

Keith diam. Sorot intensnya menembak Runa dengan telak.

“Ayo bertemu di villa keluarga Geraldion. Pukul 19.04.”

Runa tersenyum, “Okay.”


Sreet…

Runa terdiam ketika pintu villa terbuka. Ruangan yang gelap tanpa lampu membuat siluet itu tampak samar. Ia tampak menyeret sesuatu mendekat ke arahnya. Semakin dekat maka semakin jelas di pandangannya. Yang meyakinkannya bahwa sosok yang diseret itu adalah manusia.

Siluet itu sampai di depannya. Sosok dengan keringat menetes di pakaian serba hitamnya itu berhenti. Bruk! Tubuh berlumur darah itu tergeletak begitu tangan Keith melepasnya. Mayat itu adalah Leo.

Runa tersenyum. “19.04.”

“Dia nguntit kamu. Jadi aku bunuh dia.”

“Sudah aku duga,” jawab Runa dengan senyum lebar. “Kamu Mine, si pembunuh berantai.”

“Kamu Yours,” timpal Keith.

“Yura suka kamu. Aku benci dia,” cetus Runa.

Keith terdiam sejenak.

“Aku tahu kamu yang bunuh Gina. Aconite, kan?” terka Runa.

“Aku lakukan itu supaya bisa ketemu kamu.”

Baca Juga  Cerpen: Perawan Berawan

Lagi, Runa tersenyum lebar, “Aku juga. Tiga kali. Kita harus ketemu tiga kali.”

“Ya, ini kali ketiga.”

“Tapi,” ujar Runa. “Bukankah kita nggak bisa bersama? Mine dan Yours adalah sebuah keegoisan ketika bersama,” lanjut gadis itu. “Jadi mereka harus saling melenyapkan.”

“Ya,” jawab Keith. “Bitch.”

Dan sebuah suntikan laki-laki itu keluarkan dari saku celananya, begitu pula dengan Runa, sebuah suntikan yang sama berisikan aconite juga ia keluarkan dari jaketnya.

Dalam detik yang mengheningkan itu, keduanya tiba-tiba saling terjang dengan ujung jarum yang saling beradu untuk ditusukkan ke masing-masing tubuh lawan. Mereka bergulat dan berguling ke lantai dan jatuh mengempas tumpukan kardus.

Keith ada di bawah, dan Runa berada di atasnya.

Crash!

Ujung jarum itu menancap di pundak Keith, dan ujung jarum Keith menancap di pundak Runa. Keduanya berdiam pada posisi saling tahan. Bertatapan intens.

“Aku benci Kakak.”

Keith tercekat, dengan cepat racun itu menyebar di tubuhnya. Juga Runa.

“Dan aku benci kamu adalah adikku.”

Masing-masing racun itu sudah sepenuhnya menyebar ke seluruh tubuh. Tubuh keduanya mulai kaku.

Brugh!

Tubuh Runa jatuh ke pundak Keith. Sementara tangan laki-laki itu terkulai ke samping kepala, suntikannya jatuh ke lantai. Keduanya tewas.


Pagi itu pemakaman dilangsungkan. Teriknya matahari menyinari tubuh-tubuh terbalut pakaian hitam itu.

Dua makam dihadiri bersamaan. Dua makam yang bersisian. Tentang waktu yang menghukum kedua kakak beradik untuk berpisah pada awalnya, dan diakhiri juga dengan sebuah perpisahan. Dan batu nisan itu betuliskan:

KEITH GERALDION, LAHIR 19-04-2001, WAFAT: 19-04-2020

RUNA PUTRI, LAHIR 19-04-2001, WAFAT: 19-04-2020

Tamat.

BIODATA

Cewek kelahiran 2002 bernama Sinta yang punya cita-cita menjadi seorang produser dan screenwriter sukses di masa depan. Memiliki hobi menulis berbagai genre cerita, dan berharap suatu hari dapat diangkat ke layar lebar. Suka dengan hal-hal menyenangkan serta keramaian. Dan juga berharap suatu hari bisa mempunyai karya yang dikenal oleh banyak orang.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment