by

The Antagonist

The Antagonist

Oleh: Titin A.P.R.

Saat ini aku berada di sebuah pesta di mana orang-orang mengenakan topeng sembari tertawa dan pura-pura bahagia. Berbicara tentang betapa warna-warninya dunia dan seisinya. Bersama pasangan suami istri yang tak lagi saling mencintai, aku datang ke sini dan mencicipi hidangan yang busuk pun tak sedap di mulut. Mereka tenggelam dalam tawa, padahal  jiwa mereka yang kelabu tak jauh dari nestapa dan rasa cemburu.

Aku menatap mereka dari ujung kepala sampai ujung kaki. Semua yang hadir di sini dibalut oleh gaun dan jas bertabur permata dan mutiara. Berupaya menunjukkan sisi terbaik dirinya melalui pakaian dan pernak-pernik lainnya. Seolah harga diri hanya dilihat dari gelimang harta dan kedudukan semata. Dengan segelas minuman di tangan, aku masih terdiam dan tak berniat menceburkan diri.

Hingga bisik-bisik yang menyerupai dengungan lebah di sisi kiri menyeretku untuk mendengarkan percakapan lebih saksama. Ada banyak topik yang bisa dipungut dengan berkumpulnya para orang terhormat di pesta kali ini. Mungkin sebuah pesta tak akan lengkap tanpa ada yang bergunjing di sana-sini. Ini sudah jadi kebiasaan yang menjelma jadi tradisi.

Kudapati para wanita yang tengah bergerombol tak sampai sepuluh orang. Dapat kusaksikan pantulan diriku yang dicela ateis dan melankolis melalui kata-kata mereka.

“Permisi, nyonya. Tidakkah kalian belajar bahwa membicarakan orang lain adalah suatu keburukan?”

“Lihatlah! Dia juga seorang alkoholis.”

“Apakah kau bicara sambil mabuk?”

“Tidak, nyonya. Aku bahkan cukup sadar untuk menuangkan alkohol murni guna membersihkanmu.” Aku mengangkat gelas seperti orang yang mengajak bersulang. “Tapi itu sepertinya tidak tersedia di sini. Mungkin lain kali.” Kataku dengan sopan sambil tersenyum di akhir.

“Tentu saja, kuharap kita bertemu lagi selain di sini. Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu, juga ibumu—terutama.” ucap perempuan yang paling dominan dengan tahi lalat di bawah bibir.

“Ibumu perempuan luar biasa, bukan? Yang kudengar ia kalah bertaruh dua kali. Dan sekarang… sepertinya dia memenangkan hadiah dari perjudian hidup di jari manisnya.”

“Tapi, aku suka dengannya. Yang menghalalkan segala cara untuk menjadi kaya. Sundal; begitulah orang-orang sekitar menyebutnya.”

Baca Juga  Mimpi dan Gadget

“Tidak kusangka dari bibirmu yang indah sesuatu yang keluar hanyalah sampah.”

Ibuku adalah seorang yang ambisius. Hidup adalah perjudian. Kau harus bertaruh untuk bisa menang. Dan itulah yang ibuku lakukan. Mempertaruhkan diri demi memenuhi mimpi untuk memiliki hidup yang lebih baik. Tapi, kekalahan memang selalu ada, bukan?

Pada usia muda, ibuku yang saat itu hidup miskin bertahan hidup dengan cara menjadi pembantu di rumah seorang saudagar kaya. Dengan mengandalkan popularitas sebagai kembang desa di kampungnya dan jerat rayu, laki-laki itu berakhir tunduk pada dirinya. Mereka menikah dan hidup bahagia di istana kecil yang mereka buat. Beberapa bulan setelah menikah, ibu dinyatakan tengah mengandung jabang bayi.

Kehadiranku adalah salah satu hal yang selalu dinanti demi melengkapi sepaket kebahagiaan. Kami bertiga bisa dibilang cukup bahagia. Hingga suatu ketika seperti air surut bisnis ayah bangkrut; tidak sanggup menghadapi persaingan yang kian ketat. Ayah yang punya menyukai minuman kini telah dinyatakan sebagai seorang pecandu. Menyerahkan diri pada minuman dan menangisi kerja kerasnya yang ia rintis sejak awal telah rata dengan tanah.

Di ingatanku saat itu (waktu usiaku 5 tahun), sosok ayah yang kerap minum-minuman di ruang tengah adalah hal yang paling sering kulihat. Aku melihatnya menenggak minuman botol demi botol dari pagi sampai malam seolah tanpa jeda. Hingga suatu ketika, minuman-minuman itu menelannya. Mungkin ayah dan minuman itu sudah saling mencintai, sampai tak sadar diri ia di bawa pergi. Pergi dan tidak kembali.

Lalu, aku yang dibawa pergi oleh ibu. Kami pergi tanpa membawa harta warisan karena hampir semua telah dipakai untuk membayar hutang, dan sisanya diperebutkan oleh saudara-saudara ayah tanpa belas kasihan. Itu adalah kekalahan ibu yang pertama.

Yang kedua adalah, setahun kemudian ibu menikahi seorang duda kaya yang ditinggal cerai istrinya. Tapi, tidak berlangsung lama. Dua tahun setelahnya, ia meninggal dunia. Kali ini, adalah sebuah keberuntungan. Beliau meninggalkan harta yang cukup untuk kami hidup, yang diperolehnya dari jabatan menjadi wakil bupati. Kami bisa bertahan hidup untuk beberapa tahun ke depan. Dan ibu cukup piawai mengurusku selama ini. Tentunya, lama-lama ia menyadari, warisan yang ditinggalkan suaminya lama kelamaan semakin menipis.

Baca Juga  Cerpen: Heal Me to be Myself

Ayah tiriku yang saat ini terpesona pada kecantikan ibu yang bergelar janda cantik. Dan bahagia bertamu pada hati kami sekali lagi. Tak lama kemudian menikahlah ia dengan ibuku setelah istrinya meninggal. Orang-orang mulai bergunjing di belakang dan memaki ibu dengan kata Sundal. Bertanya-tanya apakah seorang bangsawan sepertinya tidak memikirkan harga diri saat menikahi perempuan yang suka merayu ini.

Tapi ibu seolah menutup mata dan telinga untuk ke sekian kali. Sedangkan ayah tiriku tak punya pilihan lain. Ia seorang pria lemah yang memerlukan sosok pengganti istrinya setelah meninggal : yang akan bersolek untuknya di pagi hari, menyiapkan sarapan, baju, dan mengurus putrinya sekaligus menjadi teman di kala malam.

Setelah 5 tahun berjalan perasaan di hati masing-masing mulai pudar. Dan tidak ada jaminan asuransi untuk itu. Hal ini membuatku berpikir bahwa, kekasih sejati tiap insan adalah kematian.

Membawa potret keluarga harmonis kami datang ke pesta menipu para mata. Bersama orang tua yang lain mereka bertaruh dengan putri-putri kesayangan.

Pesta dansa ini diadakan untuk pangeran yang mencari cinta di antara jajaran gadis yang dibawa para orang tua. Ia adalah pembeli satu-satunya di sini yang mencari kualitas terbaik untuk dijadikan ratu.

Dan adik tiriku tengah menuruni tangga dengan anggunnya, menarik perhatian banyak tamu. Membuat mereka bertanya, gerangan apa yang mengakibatkan keterlambatannya?

“Apakah itu ulahmu, Nirmala?”

Tentu saja bukan! Aku bukan kakak tiri yang akan melarangnya pergi ke pesta dansa dan menguncinya di loteng. Namun, beberapa dari mereka memang menginginkan seseorang menjalani lakon sebagai penjahat di sini. Kakak tiri yang dengki dan iri hati atau ibu tiri yang suka menyakiti. Mereka ingin aku menjadi Nirmala yang busuk tentu saja.

Dan kukatakan, keterlambatannya memang sudah direncanakan adikku yang hebat dalam berpura-pura. Memastikan gaun dan riasannya sempurna memang membutuhkan waktu lama. Itu semua kerja keras penata rias di rumah, bukan ibu peri baik hati yang iba melihat gadis manis dan berbudi yang tersakiti. Sebelum berangkat dia berpesan padaku, jangan mendekati gusti pangeran jika tak ingin ibuku dan aku di depak dari kediamannya. Iblis memang bisa datang dengan wajah paling manis, kan.

Baca Juga  Cerpen: Janturan Kehidupan Manusia

Di lantai dansa sana dia berhasil mencuri hati dan berdansa dengan gusti pangeran impiannya. Ayah dan ibu pasti senang, karena putri mereka memenangkan taruhan.

“Kau seharusnya pandai berdandan dan memakai beragam aksesoris, bukannya berperilaku seperti rakyat jelata dan menebar tampang melankolis. Dengan begitu mungkin raja yang baru bersedia menjadikanmu salah satu gundiknya.” Perempuan dengan tahi lalat di bawah bibir itu meracau lagi dan tersenyum meremehkan.

Dan kali ini aku bertaruh, adikku tiriku itu tidak akan pulang karna di hantui jam dua belas malam. Tapi, aku yang akan keluar.

“Dan kau lebih baik diam saja, nyonya.”

Kulepaskan segelas minuman di tanganku untuk menghujani kepalanya. Setelah gelas pecah, sepasang pengawal datang menghampiri dan mengusirku keluar. Mereka takut kalau-kalau aku akan menyebabkan perang di tempat ini.

Hari ini, di depan pintu istana yang menjadi saksi dan para malaikat yang mendengar;

Kunyatakan diriku beriman.

Lalu aku merapal doa dengan angkara di dalamnya. Tuhan, jadikan aku karma yang diam-diam datang menusuk dari belakang dengan membabi buta—walau tidak seharusnya aku menyerang dari belakang  saat mereka lengah.

Tapi katanya, Tuhan tidak menerima doa untuk keburukan dan akan memberi karma paling busuk jika orang itu mengikhlaskan dan memaafkan.

Jadi, sekali lagi, aku berdoa dengan niat kotor.

“Aku maafkan mereka. Jadi, Tuhan, semoga mereka dan keturunannya hidup dalam bahagia.”

Jadi, selamat tinggal pesta dansa.

Selamat tinggal kalian semua.

Aku mencintai kalian dari lubuk terdalam hatiku yang busuk.

Tapi aku lebih mencintai diriku sendiri.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment