oleh

Tentang Bandot-bandot Tua yang Gemar Menindas Warga

“Tadi Pak Delman bilang sama Mas Joyo, itu, saudaramu pacaran lagi,” ucap Mar dengan nada bercanda, takut kalau-kalau Tina marah lagi.

Tina melotot. “Astaghfirullahaladzim, kenapa para bandot itu mulutnya pada nggak punya rem, ya? Kemarin Pak Ekor, sekarang Pak Delman. Memang mereka lihat apa? Aku ciuman, atau pelukan? Cukup. Ini udah nggak bisa didiemin!”

Tina bangkit dari lantai, hendak menghampiri dua dari tujuh bandot yang gemar menindas kaum marjinal di gang Melati—mereka berdua adalah bandot tertua di antara tujuh pria penggosip berkedok ahli agama.

Mar menahan tangan Tina, kakak perempuan yang telah setahun ditinggalkan oleh suaminya. Dia adalah kaum mapan termuda yang tinggal di perkampungan kecil penuh intrik berkat sumbu pendek yang sering menyala berkat api yang dilemparkan satu sama lain.

“Mau ngapain? Udah diemin aja, Mbak. Kasihan Mas Joyo. Nanti dia yang kena.” Mar memelas demi sang suami.

“Ya terus, kamu lebih suka kalau aku dihina terus sama bandot-bandot tukang gosip itu? Kebiasaan nantinya. Jangan mentang-mentang aku ngontrak di sini, terus mereka yang merasa mapan berhak nginjak-injak harga diriku!” Gigi Tina gemeretak menahan emosi.

“Ya, kamu, kan, tahu sendiri orang-orang itu. Udahlah, nggak usah diladenin,” pinta Mar. Wajahnya semakin memelas.

“Ya nggak bisa gitu, nanti mereka terus ngebacot kalau aku nggak rem dari sekarang. Kayak Pak Ekor kemarin, pakai bawa-bawa warga. Memangnya aku bawa cowok malam-malam, atau nginep, atau pintunya ditutup saat dia datang? Kan, kamu tahu internet aku bermasalah, kan, pasangnya lewat dia. Kalau nggak tahu mbok ya nanya, bukan bergosip. Lagian, kenapa Joyo nggak jelasin aku lagi dalam proses perceraian?”

“Joyo juga takut kesalahan, Mbak, takut salah ngomong. Kan, kamu sendiri yang bilang nggak usah banyak bicara sebelum surat keluar.” Mar memijit-mijit pelipisnya. Berdebat dengan kakaknya memang hanya akan menghabiskan energi, karena dia dan Joyo sama-sama tak pandai bicara.

Tina kembali duduk, menyesali mulut tajam Delman yang bernama asli Sumarno. Orang yang bahkan kalau berpapasan selalu menundukkan mata, juga kakek bernama Eko Raharjo yang sudah lama dipanggil Pak Ekor.K

“Ya tapi nggak bisa juga, dong, bandot itu main bawa-bawa warga. Kapasitas warga itu ada batasannya, nggak bisa main gerebek tanpa bukti dan saksi, cuma modal asumsi. Yan itu datang pakai seragam, lho. Nih orang dua mending kupolisikan aja, lah, 310 sama 335. Biar jadi pelajaran, nggak mentang-mentang lebih tua lantas bisa njeplak seenak jidat.”

Baca Juga  Cerpen: Buku Diary Dinda

“Nggak sekalian pasal pelecehan, tuh, Pak Ekor?” goda Mar.

“Nggak ada bukti. Lagipula udah lama kejadian,” kenang Tina pada peristiwa dua tahun silam, di mana Eko Raharjo menampar bokongnya sambil meledek karena suami Tina tak pulang-pulang.

Tina memang tak seberuntung Mar yang suaminya begitu penyayang dan rajin bekerja, sehingga Mar tak perlu pontang-panting untuk menghidupi kedua anaknya. Tak seperti dirinya yang punya segudang mata pencaharian demi menafkahi putra semata wayangnya yang baru berusia tiga tahun.

“Lucu aja. Pakai bawa-bawa warga. Giliran warganya nggak dapat bansos mereka diam aja. Tua doang, otak nggak ikut di-upgrade.” Tina geleng-geleng kepala.

“Ya udah, makanya cepetan selesaikan, habis itu langsung nikah sama Mas Yan. Nggak usah kebanyakan mikir. Yang penting Mamah sama saudara-saudara yang lain setuju. Mereka juga udah capek sama kelakuan Darwin.” Mar menyodorkan satu stoples kaca berisi peyek kacang.

Tina terdiam. Delapan tahun berumah tangga, isinya hanya pertengkaran. Darwin enggan bekerja, sementara Tina memilih resign dari kantornya setelah menikah karena merasa Darwin akan menafkahinya. Nyatanya hobi “kabur-kaburan” Darwin kali itu berdurasi cukup panjang.

Lydia, putri semata wayangnya yang baru berusia tiga tahun tak henti meratap di setiap malamnya, mencari keberadaan Darwin yang entah di mana, sebab semua akses Tina diblokir oleh pria pengangguran itu. Terakhir, Darwin membuka blokiran hanya untuk mengucap kata “cerai” dan akan membawa Lydia pergi.

Adalah Yan, teman semasa kecil Tina yang tiba-tiba hadir dengan statusnya sebagai duda anak tiga. Mulanya Tina tak peduli, tetapi keadaan bergeser setelah Yan mampu mengobati kerinduan Lydia akan sosok ayah. Bahkan dalam tempo sekejap Lydia sudah memanggil Yan dengan sebutan “Papa”. Padahal anak itu sangat sulit beradaptasi dengan orang asing, dan mereka masih bicara melalui telepon video.

Hanya dalam sekali pertemuan, Yan langsung diterima dengan baik oleh keluarga Tina. Ibu dan ketiga adik Tina menganggap Yan adalah oase di padang pasir yang memberikan kesejukan bagi Tina dan Lydia yang haus kasih sayang dan perhatian.

Baca Juga  Perempuan yang Menyulam Cahaya

“Aku cuma nggak mau gagal lagi. Makanya, biar aja semua mengalir ke tempat yang semestinya. Yang penting aku nggak berbuat neko-neko.”

Mar menghela napas. Terngiang ucapan orang tua mereka yang tinggal ibu untuk bisa menyaksikan pernikahan Tina dengan Yan, calon menantu kesayangan.

**

Tina pulang dari rumah Mar sambil menggendong Lydia. Ada jarak sekitar seratus meter yang harus Tina tempuh untuk bisa sampai di rumah kontrakannya. Ada beberapa rumah petak yang penghuninya telah hengkang dari sana. Semuanya berkat keusilan mulut Pak Ekor dan Pak Delman.

Mereka terusir dengan berbagai alasan. Ada yang dianggap terlalu berisik karena anaknya kerap menangis, ada yang gerobaknya dibilang mengganggu pemandangan, ada yang dilarang membuat tali jemuran di teras karena terlihat kumuh, ada juga yang jemurannya ditendang karena menutupi badan jalan, padahal tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan mobil beberapa dari mereka yang memblokade dua pertiga jalanan.

Langkah Tina mendadak gontai ketika mendengar tawa lepas dari suara-suara licik dan konyol yang empat tahun belakangan mengusik damainya. Dia mengatur napas, mengupayakan hatinya agar tak bergolak di sore menjelang magrib itu.

“Satu, dua, tiga …,” gumamnya pelan.

“Kenapa, Ma?” tanya bocah dalam gendongan.

“Nggak apa-apa, Sayang. Kita pulang, ya, besok main lagi ke tempat Dedek Key,” ucap Tina di tengah suara yang semakin kencang terdengar.

Tepat ketika Tina melintas—dia mengira jantan-jantan itu akan diam sebagaimana kaum wanita saat si korban gosip sedang mendekat—mereka menoleh. Satu jari menjawil lengan lainnya. Akhirnya, formasi lengkap bandot penggosip pun memasang mata ke kepala hingga ujung kaki Tina.

Rasa risih menghinggapi otak Tina yang bulan-bulan belakangan tampak bersinar lagi karena kebahagiaan yang diciptakan oleh Yan, pria pertengahan kepala tiga, teman Sekolah Dasar Tina yang adalah kepala cabang dari sebuah provider yang menyediakan jasa sambungan internet.

Tina yang kecantikannya serupa almarhumah Nike Ardilla itu, tak ayal memancing tatapan liar bandot-bandot yang sedang berkumpul di rumah seorang juragan besi bernama Ginanjar, satu dari tujuh pria penggosip di gang Melati yang sempit dan panjang.

Baca Juga  Tumbal

“Pacaran aja terus, nanti suaminya datang tinggal warga yang disalahin,” celetuk Pak Ekor.

“Lha piye meneh wong enak, kok,” sahut Pak Delman.

“Ada apa, ada apa? Ada berita apa? Kok, saya ndak tahu, sih?” timpal Ginanjar.

Riuh rendah terdengar di telinga Tina dan membakar dadanya yang naik turun, menahan rasa ingin menumbuk kepala mereka yang tertawa tanpa rikuh memperlakukan Tina bak seonggok sampah.

Pria-pria itu memang terbiasa njeplak seenak jidat. Tak ada yang berani membantah, bahkan perangkat desa, sebab mereka sangat mendominasi di tiap moment dan event. Pendapat mereka begitu kuat dan tak terbantahkan. Lagipula finansial mereka mendukung, contohnya rantai di ujung gang yang sebenarnya mempersulit para pedagang yang notabene keluar atau pulang dini hari.

Tina menoleh, berharap mulut mereka terjatuh, tetapi mereka justru semakin beringas menghajar mental Tina. Pak Ekor dan pak Delman seperti sengaja keluar dengan membawa tangga lipat, seolah-olah hendak memetik jambu air untuk rujakan, padahal mulut mereka tak henti menyakiti.

“Lha itu ada orangnya. Panggil saja kalau berani,” ucap Pak Ekor yang diamini oleh Pak Delman.

Ingin Tina melabrak mereka, atau setidaknya memberikan sanggahan dan penjelasan mengenai Yan, yang baru dua kali dia mendatangi rumah Tina demi kepentingan pemasangan dan pembetulan jaringan internet, juga mengenai Darwin yang sudah menceraikan dirinya di awal tahun dan tidak tahu menafkahi.

Tina memalingkan wajahnya yang merah padam. Sakit sekali yang dia rasakan pegang itu, jauh lebih sakit ketimbang ditinggal pergi tanpa dinafkahi oleh Darwin. Dia bergegas pergi. Kedewasaannya memang lagi.

Tina telah melewati tiga rumah ketika tiba-tiba terdengar bunyi benda jatuh, disusul teriakan histeris dari para pejantan. Tina menoleh. Yang dia lihat hanyalah dua orang rebah di jalan dengan kepala bersimbah darah. Satu terhimpit tangga, dan yang lain menindihnya.

Tina terkejut. Sesaat kemudian dia menutup mulutnya karena ingat bahwa Pak Ekor sedang menaiki pohon jambu dan Pak Delman memegangi tangganya. Hal pertama yang Tina lakukan setelah itu adalah merogoh ponsel dan menelepon Yan.

“Tuhan sudah menunjukkan keadilannya,” katanya di ujung telepon.

Bekasi, 17 Desember 2022

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *