by

Tak Searah

Tak Searah

Oleh: Dlsbrn

Ratusan kilometer membatasi gerakku menggapaimu. Dengan menyapu batas itu, pikirku sudah cukup dan masa bodoh terhadap hal-hal meragu. Maka, demikian dari kita yang searah, pilihan arahku menuju padamu.

“Aku tidak menyangka pertemuan perdana kita terjadi di tahun ketiga perkenalan. Bukan begitu, manis?”

Dialah gerak yang ingin aku gapai. Seorang perempuan yang amat memabukkan saat sabit di bibirnya terbit, tatkala rona pipinya memancarkan cahaya.

“Tatapmu membuatku gugup,” katamu yang sukses melebarkan tawaku.

Semua dirimu kumau. Keistimewaanmu menjadi candu yang tak butuh sembuh. Dan, itu cukup untuk menyatakan bahwa kamu satu-satunya milikku.

Kelak kita bersatu, janjiku kini.


Menyapa hari pasca satu tahunku menyandang sarjana, sekaligus tahun pertama tak beranjak dari rumah. Di awal perjalanan terasa wajar, namun ketika itu menjadi hari berlapis dan menyulam tahun, rasanya tak lagi layak disebut demikian.

Banyak hal terjadi usai kelulusan disahkan. Mulai rutin memasukkan riwayat hidup dan teori keterampilanku ke media industri incaran tunakarya, hingga mencoba bekerja di luar pengawasan.

Berbanding terbalik dari bayanganku semasa mahasiswa.

“Sini, bantu bapak tangkap ayam.”

“Mau dijual, pak?”

“Ya iya, memangnya kamu mau makan ayam hidup?”

Helaan napasku membuat bapak menoleh, ia berdeham tanpa menanggapi lebih.

“Maaf, pak.” Aku menunduk usai mengatakannya. Tak lama, sebuah tepukan mendarat di bahu.

“Tak apa.”

Hari yang menjadi satu dari banyak sejarah dalam perjalananku. Hari di mana keseharianku cukup rumit, membuatku harus lebih keras membanting nalar.

Dan, hari-hari berikutnya kian terasa berat dihadapi.

“Istirahat, rezekimu tidak mungkin berpaling.”

Malam itu bapak mendapati pintu kamarku terbuka. Aku menatap jam yang menunjukkan angka sebelas, mengangguk dalam senyuman hampa.

“Ibu bagaimana, pak?”

“Mudah-mudahan besok sudah masak. Berdo’a saja.” Tersirat harapan yang sama untuk kesehatan Ibu, namun tersimpan pula rasa takut terhadap hal buruk jika tidak segera mendapatkan kerja.

Bapak berbalik menuju pintu. Sebelum pergi, ia berucap sesuatu yang membuat alisku bertaut.

“Sabar saja, nikmati pencarianmu.”

Menikmati derita?


“Hei, bung! Masih minat makan prasmanan sepuasnya?”

Aku tersenyum kecil, inilah bagian positif dari pekerja lepas tekanan. Dengan jam kerja kapan saja, sembari menunggu dan berharap dipesan. Pekerjaan yang menemaniku sejak tak lagi mahasiswa.

Tidak buruk selama prosedurnya bertautan dengan norma.

“Besok sehari penuh jadwalnya hajat Pak RT. Lusa siang kampanye pemilihan Lurah. Siapkan dirimu.”

Aku mengangguk menyetujui, “sip!”

Sebagai lulusan teknik, pasang dan bongkar peralatan elektronik merupakan ranah dari keahlian yang menghabiskan waktuku bertahun-tahun. Meskipun tidak sama dengan sasaran judul, pemanfaatan isi layak difungsikan.

Konon disebut batu loncatan dari penyetaraan teori dan implementasi.

Pemuda itu berlalu. Langkahku pun kembali menapak. Mie ayam memang dalam genggaman, namun apakah sensasinya masih sama seperti lima tahun yang dihabiskan? Bak dalam antrean, lulus dari vak yang konon terbaik pun masih jauh untuk mengamankan satu posisi pekerjaan dengan profesi yang diinginkan.

Sementara di antaranya nomorku telah kadaluwarsa.

Tatapanku hampa menyusuri ingatan lampau. Saat mengembuskan napas, sebuah garis tipis terukir picik, “bagaimana jika yang terjadi karena aku?”


Selesai persiapan besok, akan lebih baik jika waktu luang yang ada digunakan untuk merebahkan diri dan terlelap. Namun, dering ponsel yang terus bergetar di meja lebih dulu menerbangkan kebutuhan rehatku.

Aku membuka pesan yang terus berdatangan. Seperti biasa, pelakunya orang-orang sepertiku yang melempar keluh kesal karena tak kunjung mendapat kabar wawancara. Sementara orang lainnya berkisah keberuntungan mereka yang konon berlebih.

Ponsel akan dimatikan saat sebuah pemberitahuan lain menghiasi layarnya. Aku mengamati topik yang dibicarakan tanpa reaksi. Adalah salah satu ruang obrolan yang memang ditujukan membahas persoalan hidup dari sisi komedi. Ia sesuatu yang menetralkan kekosonganku sejak memutuskan bergabung dua tahun lalu.

Sesuatu yang kemudian aku sebut berkat. Mengawali perjalananku yang semula nikmat menjadi berat.


Ah, Tuhan. Hingga aku bertemu pencarianku, dapatkah harsanya mengikis penuh nestapa di mula?

Baca Juga  Ruai-Ruai Mencari Sunyi

Ah, Sang Kuasa. Ucaplah takluk kepada jiwa berdosa. Aku hanya ingin bekerja. Seharusnya begitu.

Pada siapa sebaiknya peran ini diambil alih?

“Hanya padamu.” Aku mengeluh mendengar jawabannya. Terlihat selayak apa diriku membawa, katakanlah, kepercayaan atau sarkasnya harapan yang tak habis dari Tuan-Puan dan Nona keraton?

“Amat layak padamu. Karena kamu.” Tidak ada yang kusukai dari pendapatnya. Sok tahu! Bagaimana mungkin kalimat itu lolos dari seorang remaja? Dia hanya bocah ingusan, mana tahu pengalaman dicampakkan berulang. Dicerca oleh tanya dan tuntuan yang tak henti bersenandung menjadikan telingaku kebas, batinku berjengit hebat.

Ah, persetan dia perempuan!

Jemariku menari dengan ritme cepat. Tangga nadanya menghasilkan kata berangkai atas kepicikan nalar. Otakku tanggap terhadap makhluk perasa.

“Terima kasih, ya. Kamu satu-satunya yang mengetahui bahkan saat aduan terus dipanjatkan hari demi hari.”

“Pandanganmu tidak seperti remaja seharusnya. Aku terkesiap.”

Aku menutup ponsel. Cukup hari ini. Tinggal menunggu waktu berputar searah atau ia berjalan ke arahku. Lihat saja!


“Lalu, apa keputusanmu?”

Waktu berubah cepat. Sejak kali terakhir berkas-berkas identitas dikirimkan, mengikuti serangkaian tahap yang merepotkan, hingga dihadapkan pada gundah yang bersatu menerkam fungsi hati dan otak. Tidak terhitung berapa kali helaan napas mengisi keheningan. Jawaban untuk pertanyaan bapak hanya sampai tenggorokan. Lidahku kelu saat usapan tangan ibu membuatku gemetar bimbang. Hanya menatap mereka bergantian dengan pikir berkecamuk.

“Aku mungkin aku mendapat—”

“Pertimbanganmu adalah kami?” Aku diam. Gumpalan itu mulai melebar.

Tatapanku kembali ke layar. Kumpulan kalimat yang memuat konfimasi bahwa namaku sebagai pelamar, telah diakui sebagai pegawai kontrak di perusahaan yang beberapa waktu lalu kudatangi.

“Maka, lakukanlah. Ibu yakin jawaban itu sudah ada sedari pertama kamu mendapatkannya.” Jemari ibu beralih menggenggam tanganku, menjadikan gumpalan di kepala mengerucut.

“Bukankah kabar baik seharusnya tidak dipersulit?”

Aku masih diam. Kehangatan telah menjalar ke relung terdalam, tetapi penggalan seakan tinggal separuh.

“Kamu mencarinya bertahun, apakah sepadan membuang begitu saja kepercayaan Tuhan?”

Dan aku tetap bungkam. Bukan tidak setuju atau enggan menanggapi perkataan ibu, batinku hanya tak siap jika sewaktu-waktu wajah itu kudapati dengan senyum melindap.

“Atau kamu menunggu bapak angkat bicara? Apakah tidak cukup ungkapan lembut ibumu saja? Bapak tidak akan mengatakan sesuatu seperti ibumu, jadi putuskan saja jawabanmu sekarang.”

Aku memandang mereka bergantian, menyelisik arti dari tatapan hangat dengan senyum terpancar. Ibu mengangguk pelan, memberikan izin. Sementara bapak, ia sesaat menatapku lalu beralih pada ponsel jadul yang enggan diganti. Namun, semua pemandangan itu justru menggelapkan mata, ada kelu pada lidah yang tak mampu dijabarkan.

Helaan napasku terdengar berat, tanpa aku sadari perkataanku membuat mereka lemas, “aku … tidak tahu.”


Hari-hari berikutnya menjadi lebih menarik. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan intuisiku berputar arah, namun rasanya lebih ringan dan bebas. Jauh berbeda bila dibandingkan hari-hari lampau.

“Kau akan ke Jakarta?” Aku tersenyum kecil menatap layar ponsel. Pesan dari seorang yang sebelumnya kusebut pengacau, namun kini menjadi salah satu penantian saat merasa hampa.

“Aku mendapat kesempatan kerja di sana. Pekerjaan pertama yang benar-benar kerja,” balasku pada papan ketik dan mengakhiri obrolan.

Setelah menimbang-nimbang keraguan dan melewati serangkaian dilema sebagai tuna karya, atas berkat sepasang manusia yang memberi teguhnya padaku, juga kehadiran yang di bulan-bulan terakhir membuatku lebih nyata, aku memutuskan menempati posisi pada satu perusahaan yang menerimaku sesuai informasi dua pekan lalu.

Drrttt….

Aku menatap layar ponsel yang memunculkan satu notifikasi lain darinya.

“Selamat, akhirnya kau memperoleh buah penantianmu. Hati-hati di sana, aku bahagia untukmu!”


Lima belas menit berlalu sejak aku meninggalkan kedai makan bersamanya. Dia tidak bicara banyak, persis bayanganku sebelum bertemu. Perempuan yang taat kerapian dan anggunnya, juga cukup pemalu. Aku beruntung ditemukan dengan dia yang menatapku tanpa alibi, membersihkan persepsiku terhadap pasang mata sebagian. Penilaian pelak tentangnya yang pernah terucap patuh dicemooh. Dan, aku telah menerima tulah dari keliruku.

Baca Juga  Cerpen: Perjalanan Hidupku

Dia adalah perempuan dengan keindahan yang melebihi kriteria harapanku.

“Ke mana kita akan pergi?” Aku terperanjat, segera mengulas senyum. Namun, saat sadar dirinya tak kunjung mendapat jawaban, perempuanku menoleh dengan tanda tanya. Aku melebarkan senyum, “cantik sekali,” ucapku yang kemudian terkekeh pelan. Dia buru-buru memalingkan wajah dan berjalan cepat meninggalkanku yang senang membuatnya bersemu merah.

“Maaf.”

“Maaf?” Aku berpikir sesaat akan mengatakannya atau tidak. Namun, melihat tatapannya yang menunggu, aku mencoba berbicara.

“Aku hanya mampu membawamu dengan roda dua. Tidak ada jaminan kau tidak terpapar panas atau diguyur hujan.”

Setelah berhasil mengungkapkannya, suara tawa terdengar seketika. Dia bahkan tidak terganggu dengan pernyataanku.

“Aku sungguh-sungguh. Katakan saja jika kau segan.” Dia langsung memasang pengaman kepala usai merenggutnya dariku tanpa bereaksi lebih.

“Tenang saja. Lagi pula aku bisa teler jika berlama-lama di mobil dengan AC menyala.”

Suaraku pun menyusul tawanya yang reda.


Di perjalanan, dia melunak. Beberapa kali suaraku membuatnya senyum hingga melempar tawa. Diamnya perlahan menjadi gurauan yang menyenangkan. Meskipun dengan dipancing lebih dulu, tidak mengurangi jalinan kasih yang terangkai di sela suara mesin bersahutan sepanjang jalan.

Dia hanya perlu waktu untuk melebur diri.

“Bagaimana mungkin kau melakukannya?” Dia bertanya tentang rutinitas pekerjaan. Singkatnya, di hari saat suasana hariku sedang mendung, lalu seseorang datang dengan  umpatan.

“Mengapa tidak? Aku terlanjur kesal dan tak dapat menahan diri lebih lama.”

“Lantas, apa yang terjadi padanya setelah itu dan … kursimu?” Aku mengetahui makna dari kata terakhir yang diucapkan, namun mengingat hari itu sesungguhnya pertahanan diriku kini lebih kokoh.

“Aman. Aku hanya mengetahui dia terkejut dan berlalu. Oh iya, dengan menyelipkan tatapan sinis sebelum berpaling.”

Perempuanku kembali menyuarakan tawa. Kali ini terdengar lepas dan renyah, membuatku ikut menarik kedua bibir. Jika selama tiga tahun hanya mendengarnya melalui perantara, hari ini tepat di balik punggungku, aku mendengar dan melihatnya nyata bersamaku.

“Bagaimana pendidikanmu? Apa terjadi kendala?” Aku beralih pada pembahasan baru. Kali ini rutinitas yang akan memakan hitungan tahun untuknya.

“Sedikit terkendala, tapi akan selalu lancar. Bukankah sama denganmu? Menyenangkan karena telah menghasilkan uang.”

Aku tersenyum singkat, “biasa saja.”

“Biasa saja bagaimana!” Dia bertanya dengan nada tidak biasa. Jawabanku sebelumnya tentu memancing kekesalan tak terduga.

“Semua hari sebelum hari ini mendapat predikat biasa saja. Saat bertemu denganmu menjadi amat luar biasa.”

Aku menunggunya memberi tanggapan, tetapi yang dia lakukan hanya menahan agar senyum tidak mengembang. Menatap itu dari spion yang sengaja terarah padanya membuatku ikut mengulum senyum.

“Apakah tempat yang kau tuju masih jauh? Bagaimana jika singgah sejenak di salah satu langgar?”

Aku mengangguk cepat, “hanya beberapa kilo lagi. Tapi, akan lebih baik melakukan ibadah terlebih dahulu. Lagi pula, tidak baik melakukan perjalanan saat azan magrib berkumandang, bukan?”

Beruntung, tak jauh dari posisi saat ini terlihat bangunan murni. Meskipun tampak sederhana, namun tak mengurangi kekhusyu’an dalam menghadap Tuhan. Aku pun menepi dengan awas.

“Kau masuk saja, aku menyusul setelah mendapat tempat parkir,” kataku sesaat dia turun dan berdiri menunggu.

“Baiklah, segera ya!” Aku mengangguk singkat.

Tatapanku beralih pada bangunan yang terlihat kokoh meski warnanya kian memudar. Suara adzan masih terdengar ketika mataku terpejam sesaat. Tempat parkir berhasil didapatkan, akan tetapi kemenangan, menjadi selaras dengan cat dinding pada langgar.


“Menakjubkan! Bagaimana kau tahu tempat ini? Padahal asalmu dari kota berbeda.” Aku memperlambat langkahku saat dia fokus meneliti setiap sisi, tak ingin melewatkan secuil.

Destinasi terakhir di perjumpaan pertama. Aku menyebutnya sebagai bagian dari kenangan istimewa, untuk itu tempat ini menjadi pilihan yang enggan kusesalkan.

Baca Juga  Cerpen: Foto Usang

“Bahkan tanpa aku menjawabnya, kau tahu bahwa itu mudah.”

“Tapi ini terlalu cantik. Sinar pergantian mentari ke bulan menyejukkan pandang, juga kerlip bintang yang mulai muncul di langit terang.” Lagi dan lagi senyumku terbit, timbul hasrat mendekapnya di detik serupa.

“Kau suka?” Dia menoleh, menghampiriku yang tengah menatapnya kagum.

“Suka. Tapi, mengapa kau membawaku kemari? Dari yang aku tahu, tempat dengan hal menakjubkan ini hanya bisa ditukar dengan nominal cukup besar. Itu pasti menghabiskan separuh bekalmu.”

Aku mendekat satu langkah, menatap intim tiap inci wajah cantik perempuanku.

“Apa yang salah? Aku hanya menghabiskan separuh, tetapi mendapatkan seluruh hal menakjubkan lebih dari pemandangan ini, yaitu senyum dan bahagiamu.” Aku menatap lekat wajah tenang itu, menggerakkan kepala saat dirinya juga bereaksi. Alhasil, sapuan hangat dari sisi kanan kerudung yang dia kenakan menyentuhku lembut.

“Karena kau lebih mahal dari sebuah nominal,” bisikku lirih dan berat.

Setelah itu, aku menarik diriku mundur beberapa langkah. Membebaskan udara yang sempat terperangkap.

“Katakan, apa kau bahagia? Jika tidak, maka harus ada pertemuan kedua agar misiku sukses dan sempurna.”

Aku menatap dirinya yang mematung di tempat. Tatapan itu tertuju padaku, tapi wajahnya melenyapkan tenang.

Saat hendak bertanya, dia kembali hangat. Tak lagi hambar.

“Aku bahagia,” jawabnya kemudian. Dia berbalik dan berdiri di tempat semula. Tidak terdengar pujian atau sanjungan, paling tidak perihal yang dia tatap. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan dalam bungkamnya, hanya menunggu dirinya kembali bersuara.

Lima menit dan tetap sunyi yang menyapa.

Perlahan kupandu langkah ke arahnya. Terlihat beberapa kali bahu perempuanku naik turun dan kedua tangan terangkat mengusap wajah.

Aku hendak bicara saat suaranya lebih dulu menyumpal keheningan.

“Bagaimana denganmu, apakah sudah bahagia?” Aku tersenyum hampa, “kau saja dulu. Aku bahagia saat kau bahagia.”

“Bahagialah ….” Dia menoleh, berhadapan denganku. Wajah tenang itu tidak lenyap, namun tersirat sesuatu yang boleh jadi adalah kekalahanku.

“Aku selalu meminta agar kau segera menemukan pendamping. Dia yang layak dan searah denganmu sedari awal.”

Tatapanku meredup, ketenangan menjadi sulit direngkuh. Meski begitu, aku enggan membiarkan semua terurai.

“Aku tidak ingin mengungkapnya di sini, tapi biarlah yang terjadi adalah keputusanku. Ini memerlukan waktu, namun yang perlu kau tahu, kita akan searah. Aku sepertimu.”

Aku memasang senyum terbaik, menanti tanggapan terbaik.

“Mengapa?” Dia mendekat, tatapannya sulit dimaknai. Aku hanya tahu bahwa dirinya tengah menahan diri.

Dia menghela napas, “ketahuilah bahwa itu tidak sepadan. Searah bagimu adalah memaksa kita bersama. Bagaimana pun, sesuatu yang benar-benar berarti itu sudah lama kau lepaskan. Dan, bagiku tidak ada pertama saat mengingatmu.”

Alisku bertaut membentuk kerutan berlapis. Bagaimana mungkin ketenangan di wajahnya terjaga sementara nalarku masih memproses penyampaian di luar duga.

“Apakah kau yakin aku pertama dan terakhirmu?” Detik itu bibirku terkatup rapat, tatapan redup menjadi gelap, kekalahan semakin nyata, dan aku kehilangan penyanggah.

Dia selalu mengagumkan. Bahkan di saat-saat terakhir kebersamaan terjamah, keindahannya merasuk sadarku. Aku selalu mengingatnya, tapi bagaimana bisa menghapus kenangan yang membawaku pulang.

Seharusnya aku menjaga kepatuhan, bahwa bukan searah yang menempati keterikatan dua insan—meski satu tatapan. Bukan searah yang memastikan dapat terangkai kesenangan. Kehendak Pencipta yang membiarkanku melampaui batas adalah takdir, tetapi asalnya dari ketamakan sir.

“Aku hanya tahu bahwa sampai kapan pun tidak pernah bisa memastikan akhir, saat pertama tidak menjadi milikmu.”

Untuk kali sekian, aku keliru menyimpannya sebagai perempuanku. Tidak memperhatikan seluk-beluk dari hidup yang pernah kulalui. Karena itu, segala rekaan adalah bentuk penebusan diri usai dibasuh lumpur berkarat.

 TAMAT

Semarang, 9 Juni 2022.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment