by

Susahnya Hidup di Perantauan

Susahnya Hidup di Perantauan

Oleh:

Adilah Larasati

Teringat olehku terakhir kali kulambaikan tangan pada kedua orang tua dan adik-adikku— tepat sebelum aku bertolak menuju pesawat dan lepas landas menuju kota Malang.

“Hati-hati disana ya, mas,” ibuku mengingatkan seraya memeluk erat. “Jaga diri baik-baik. Jaga makan dan jaga sholatnya.”

“Kakak jangan lupa telepon adek ya!” Adikku ikut memelukku. Wajahnya yang bulat menggembung karena cemberut. “Awas kalau lupa! Nanti adek marah!”

Aku hanya tertawa seraya mengacak-acak rambut adik perempuanku. Padahal usianya belum lagi 3 tahun, namun ia sudah begitu cerewet dan banyak mau. Bukan berarti aku komplain, tapi terkadang sifatnya yang seperti itu membuat orang-orang kesusahan sekaligus gemas akan tingkahnya.

Ayah hanya menepuk-nepuk pundakku seraya mengangguk. “Ingat-ingat pesan ibumu,” katanya. “Ayah juga tidak lupa mengingatkan kamu untuk hati-hati. Di sana kota orang, kamu harus pinter-pinter melihat situasi dan menjauhi apa saja yang sekiranya tampak mencurigakan.”

Aku mengiyakan pesan ayah sebelum pamit untuk kedua kalinya dan masuk ke ruang tunggu bandara.

Tidak peduli sudah berapa kali aku menguatkan diri, tidak peduli sudah seberapa matang persiapanku meninggalkan keluarga, rasanya kekhawatiran ini tetap tidak bisa hilang.

Entah sudah berapa minggu berlalu sejak kuinjakkan kaki di kosan ini. Padahal sudah besar harapan untuk kuliah tatap muka dan bertemu dengan teman-teman, sayangnya surat edaran rektor berkata lain.

Berdasarkan surat, kuliah dilaksanakan secara daring, lagi, entah sampai kapan. Surat pemberitahuan yang teramat mendadak itu jelas menggemparkan seisi fakultas. Banyak anak rantau yang datang dari luar kota mengeluh karena kebijakan terlalu mendadak tanpa ada isu-isu terlebih dahulu.

Uang menipis, untuk makan sehari-hari pun tersiksa. Mau pulang meninggalkan kosan juga tidak mungkin, sudah telanjur membayar biaya kosan untuk 3 bulan, masa’ mau langsung balik?

Baca Juga  Cerpen: Akhirnya Ke Turkey Juga

Keresahan ini tentunya bukan hanya aku saja yang mengalami, anak-anak kos lain di luar sana juga merasakannya. Mereka juga memiliki dilema yang sama— balik ke rumah atau menetap di kos, berpikir harus makan apa di akhir bulan, membeli kuota untuk meeting virtual lewat laptop, macam-macam lah pokoknya.

Karena kebutuhan uang bulanan yang bisa dibilang tidak ada habis-habisnya, akhirnya aku memutar otak mencari alternatif lain penambah duit. Di sela-sela kesibukan kuliah, kuputuskan untuk membuka jasa les online bagi anak-anak SMA yang sedang mempersiapkan diri masuk kuliah.

Pendapatan dari tutor les tentu tidak seberapa, namun setidaknya uang yang kudapatkan cukup untuk jajan atau ditabung untuk keperluan mendadak.

Aku bersandar pada kursi seraya menatap jadwal di kalender. Seharusnya minggu ini dilaksanakan tatap muka, tetapi berhubung dengan naik-naiknya kasus omicron, dengan terpaksa kampus ditutup lagi. Apes nian deh.

Karena sumpek, kuputuskan untuk jalan-jalan keluar sebentar. Tepat di lorong kosan, aku berpapasan dengan teman sekampus yang juga merupakan anak rantau sepertiku.

“Hei!” Sapanya. Kami berbincang-bincang sejenak sebelum memutuskan untuk keluar dan duduk-duduk di pinggir jalan, lanjut membicarakan persoalan kuliah daring di kos-kosan.

“Online lagi online lagi,” keluhku pada temanku. Kami duduk di pinggir trotoar sambil menatap kendaraan lewat. Maklum, sudah akhir bulan, sudah tidak ada lagi uang tersisa untuk nongkrong di warkop. “Kebijakan labil, gak ada kepastian sama sekali pula.”

“Betul,” kawanku yang bernama Ridho itu mengangguk-angguk. “Begini sih kayak diping-pong jadinya. Kejelasan nihil, mau balik duit gaada, mau menetap pun susah karena kuliah masih online.”

“Apa kampus gak mikirin nasib anak-anak dari luar kota ya?” Kugelengkan kepala prihatin. Padahal kalau di rumah, pengeluaran pasti tidak akan sebanyak ini. Ada ibu yang memasak makanan, juga tidak perlu susah-susah bayar kos karena tinggal di rumah sendiri. Selain itu, di rumah juga ada motor yang memudahkan transportasi kemana-mana, berbeda dengan disini yang mengharuskanku untuk berjalan kaki atau naik ojek.

Baca Juga  Tilikan Rindu

“Bah, mana ada mereka pikirkan nasib mahasiswa rantau,” Ridho tertawa pahit seraya mengibas-ngibaskan tangannya di udara. “Kalau sudah ada surat ya edarkan saja, protes enggaknya mahasiswa itu urusan belakangan.”

Lagi-lagi kampus melupakan fakta bahwa tidak semua orang sekaya itu. Tidak gampang bolak-balik rumah-kampus, apalagi yang rumahnya berada di luar provinsi. Tiket pesawat mahal, belum lagi tes antigen dan lain-lain.

“Susah juga hidup jadi orang susah,” kata Ridho. “Apalagi jadi anak rantau di kota orang.”

Yah, mau tidak mau harus tetap kujalani. Sudah jalan sejauh ini, masa’ mau berhenti? Tapi ada-ada saja masalah yang hadir di kehidupan si anak rantau ini. Kali terakhir, aku terbaring di kasur karena demam. Sempat cemas juga kalau-kalau ternyata kena covid. Sudah kesulitan biaya kena sakit pula.

Ada beberapa teman yang datang untuk membantu membawakan makanan atau obat.

“Tetap berjuang bos, kita sama-sama dalam masa sulit nih,” tawa teman seperjuanganku. Biasa, anak-anak kos yang menempuh pahit dan manisnya kehidupan. Masih beruntung aku dikelilingi orang-orang baik seperti mereka.

Untuk sekarang, yang bisa dilakukan hanyalah saling menyemangati dan menguatkan. Kalaupun sampai hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, setidaknya ada teman atau ibu kos yang datang untuk mengecek keadaan. Ah, begini ternyata rasanya hidup sebagai anak kos.

Aku cuma bisa menatap keluar jendela. Terik matahari yang masuk sedikit menyakitkan mata, tetapi setidaknya bisa mengingatkanku bahwa hari ini adalah hari baru untuk dijalani. Setidaknya hanya berharap pandemi segera berakhir dan kebijakan kampus memberi keadilan bagi hidup anak-anak rantau.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment