by

SUDUT PANDANG BAHAGIA

SUDUT PANDANG BAHAGIA 

Oleh:

Eva Affiananda

Setelah lulus SMA Nico memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri. Ia berkeinginan melanjutkan kuliah di kotanya sendiri agar tidak jauh dari sang kekasih Aida. Sebelum lulus sekolah dan melanjutkan sebagai seorang mahasiswa, Nico rajin serta tekun dalam belajar. Ia sangat berharap dapat melanjutkan kuliah di Universitas Negeri terbaik sekitar kotanya. Namun, memang takdir Tuhan berkata lain.

Suatu ketika kerabat Ayah Nico dari luar negeri datang berkunjung. Kerabatnya menawarkan dan mengiming-imingi betapa enaknya bekerja dan kuliah di sana. Tanpa banyak pilihan, Ayah Nico langsung memberikan perintah untuk berkuliah di negeri orang tersebut, tepatnya di Kota Hamburg sebagai kota terbesar kedua di Jerman.

Memang pada dasarnya Nico adalah anak yang penurut kepada orang tuanya. Dia sempat tidak memedulikan perkataan orang tua dan berakhir kecewa. Namun, sekarang Nico sudah berbeda dan menjadi lebih dewasa sehingga ia mampu memahami maksud orang tuanya. Biarpun demikian, ia tampak sedih ketika menuju rumah kekasihnya untuk memberikan kabar baik dan buruk bagi mereka berdua.

Kabar baiknya, Nico dapat melanjutkan sekolah di perguruan tinggi luar negeri dan bisa menjadi kebanggaan keluarga beserta sang kekasih Aida. Akan tetapi, sebelum kabar buruknya terucap seolah-olah Aida telah mengetahui apa yang akan terjadi. Tak dipungkiri tetesan air mata pun membasahi kedua pipi mereka.

Mungkin ini memang bukan perpisahan untuk Nico dan Aida, hanya saja ada jarak yang menghalangi mereka untuk bersama. Kesedihan yang mereka rasakan tidak mengubah keputusan Ayah Nico. Mereka tetap tegar dalam menghadapi ini dan membuat janji dengan saling melingkarkan jari kelingking satu sama lain agar tetap setia.

Singkat cerita Nico kuliah di Jerman mengambil jurusan Arsitektur, sedangkan Aida masih menjadi seorang siswi SMA. Aida belajar dengan giat untuk menjadi seorang dokter. Keinginan Aida menjadi dokter muncul ketika ia melihat ibunya ditolak menjadi pasien gawat darurat karena alasan biaya. Rumah sakit atau dokter tidak bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, padahal penolakan pasien dalam kondisi gawat darurat dapat menyebabkan hukuman pidana.

Waktu itu, Aida melihat dokter muda berparas cantik datang berlari menolong Ibunya. Perempuan cantik itu bernama dokter Ayu. Beliau tidak peduli apakah itu pasien BPJS atau tidak. Hal terpenting dia harus menolong pasien apalagi dalam keadaan gawat darurat, untuk menyelamatkan nyawa. Itulah yang mendasari alasan Aida menjadi seorang dokter. Dia ingin menjadi dokter dengan sepenuh hati dan profesional seperti dokter Ayu.

Di lain sisi, Nico tinggal bersama kerabat ayahnya atau bisa disebut sebagai paman di Jerman. Nico memiliki harapan lebih kepada pamannya yang sukses dalam bekerja. Akan tetapi, tak seperti yang dibayangkan dari cerita beliau. Ternyata Nico harus benar-benar berjuang di sana untuk mengurus hidupnya sendiri, meski tinggal satu atap.

Baca Juga  Cerpen: Janturan Kehidupan Manusia

Sementara waktu memang Nico dianggap seperti anak dari paman. Akan tetapi, selang beberapa waktu seolah-olah paman meminta imbal balik dari apa yang telah ia berikan. Hal ini pun membuat Nico merasa seperti orang asing bukan lagi sebagai keponakan.

Nico merasa sedih dan kecewa dengan pamannya. Ia telah rela jauh dari keluarga dan sang kekasih. Keadaan ini membuat Nico ingin menyerah dan pulang. Ia benar-benar merasa sedih dan rindu pada sang kekasih yang lagi-lagi membuatnya meneteskan air mata. Namun, semua kejadian yang ia alami selalu diceritakan kepada Aida. Aida sangat memahami keadaannya, ia berusaha menguatkan walaupun sebenarnya juga merasakan sedih. Meskipun demikian, mereka berdua sama-sama terpuruk oleh jarak, waktu, dan impian yang harus digapai.

Di samping itu, Nico tersadar oleh perkataan sang kekasih akan dorongan semangat yang ia berikan untuk bisa melewati keadaan. Ia kembali bangkit dan melawan rasa keraguannya. Beruntung Nico adalah sosok pribadi yang pandai dan berprestasi di kampusnya, sehingga ia mampu menjadi anggota Hilfwissenschaftler (Hiwi) yaitu asisten dosen yang membantu dalam pengerjaan suatu proyek.

Menjadi anggota Hiwi adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi Nico. Ia mampu mendapat uang dan lupa akan masalah yang dihadapi sehingga tidak membuatnya larut dalam kesedihan. Tidak hanya itu, Nico juga mendapat kesempatan untuk menambah pengetahuan, pengalaman, serta relasi dengan teman untuk bertukar informasi dan yang terpenting sebagai sumber bantuan saat ia mengalami kesulitan.

Nico mencari sebuah apartemen sesuai dengan keuangan yang ada. Ia tidak ingin tinggal bersama paman dan merepotkannya lebih lama. Lagi pula, ada beberapa teman Nico yang menawarkan untuk tinggal di apartemen miliknya dan share accommodation, alias patungan untuk menghemat biaya sewa.

Rasa syukur yang ia panjatkan adalah ketika, para teman-temannya tidak memandang remeh dan menghargai Nico meski ia bukan asli orang Jerman. Stereotip yang melekat pada orang Jerman adalah ketika kita berhasil berteman dengan orang Jerman, maka mereka akan setia dan selalu dapat diandalkan.

Berbicara soal Nico pun tak lekang dari ketampanannya sebagai orang Asia. Kepandaiannya dalam berbicara menggunakan bahasa Jerman pun turut meningkatkan ketampanannya, mengingat Nico bukan asli orang Jerman. Ada beberapa perempuan selalu mendekati Nico, meski ia hanya menganggapnya sebagai seorang teman. Dia selalu menjaga jarak dengan para teman wanitanya. Hal demikian dilakukan untuk menjaga perasaan Aida walaupun jarak tak memperlihatkan keadaan.

Di lain pihak, Aida masih berjuang menjadi seorang siswa tingkat akhir. Ia berusaha memperoleh gelar lulusan terbaik di sekolahnya dengan prestasi akademik maupun non akademik yang dimiliki. Segala daya upaya dilakukan untuk mendapat beasiswa kedokteran sebab ia tahu biaya jurusan kuliah satu ini dikenal sangat mahal.

Baca Juga  Cerpen V I R T U A L

Tak tanggung-tanggung, ternyata Aida memiliki kesempatan emas untuk mendapatkan beasiswa tersebut dengan prestasi yang dimiliki. Alhasil, Aida terpilih menjadi mahasiswa kedokteran melalui dana beasiswa mahasiswa berpotensi dengan latar belakang ekonomi yang kurang. Beasiswa tersebut tidak hanya membantu biaya pendidikan, tetapi juga biaya hidup dan fasilitas akademik. Nico turut bahagia sebab kini Aida mampu meraih impiannya.

Sementara itu, empat tahun berjalan Bachelor of Arts (BA) berhasil Nico dapatkan. Gelar B. Arch mampu membuatnya diterima bekerja pada salah satu perusahaan arsitektur terbesar di Indonesia. Sebenarnya ada beberapa perusahaan di Jerman yang menawarkan kerja sama dengan Nico. Akan tetapi, ia menolaknya. Hal tersebut tidak mengalahkan rasa rindunya pada orang-orang yang dicintai yaitu keluarga dan kekasihnya. Niko pernah berjanji akan selalu bersama Aida setelah ia berhasil menyelesaikan studinya di Jerman.  Bertemu kembali dengan Aida bak hadiah berharga bagi Nico yang selama empat tahun ia tunggu.

Dilain sisi Aida masih menjadi mahasiswa di Fakultas Kedokteran. Mengingat jarak umur Nico dan Aida selisih satu tahun. Sama halnya dengan Nico, Aida pun juga mengikuti organisasi di kampusnya. Organisasi yang Aida ikuti seperti Medical Science Club (MCS) yaitu lembaga yang mewadahi kegiatan-kegiatan ilmiah mahasiswa, Medisina yaitu lembaga jurnalistik yang melatih mahasiswa kedokteran untuk kritis dan memiliki budaya menulis, dan Tim Bantuan Medis Mahasiswa (TBMM) yaitu tim yang selalu siap memberikan bantuan medis kepada siapa pun yang membutuhkan.

Menjadi mahasiswa pendanaan membuat Aida serius dalam menempuh pendidikan. Jangan sampai Aida mengulang mata kuliah apalagi penurunan nilai karena mampu menjadikannya terhenti status pendanaan. Walaupun berasal dari keluarga kurang mampu teman-teman Aida tidak memandang remeh meskipun mereka berasal dari keluarga berada.

Bila digambarkan Aida adalah sosok wanita yang memiliki wajah cantik rupawan yang identik dengan rambut ikalnya. Apalagi ketika ia sedang menyeminarkan materi kesehatan seolah-olah auranya terpancar melalui kata-kata yang diucapkan. Sungguhpun demikian, banyak mahasiswa menjadikannya primadona di kampus. Terlebih ia aktif dalam berbagai organisasi yang tentu membuatnya tambah dikenal banyak orang. Sering kali ia menjadi bahan perbincangan kaum lelaki yang ingin memilikinya. Sehubungan dengan hal itu, Aida sadar dan tetap menjaga diri untuk memegang teguh janji yang telah ia sepakati dengan Nico agar tetap setia.

Pendidikan selama empat tahun yang sudah ditempuh kini telah mencapai tahap akhir di mana Aida akan diuji dalam sidang skripsi. Dengan menghadiri sidang terbuka dan memulai melakukan presentasi hingga proses tanya jawab, Ia berhasil memperoleh gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked.).

Baca Juga  Cerpen: "Dunia Lena"

Namun, bagi seorang lulusan kedokteran wajib melakukan studi ke jenjang profesi, untuk memperoleh gelar profesi Dokter dan menjadi Dokter Muda atau istilah populernya disebut KOAS. Rezeki tidak akan tertukar, semuanya sudah ada yang mengatur itulah yang Aida dapatkan. Kini Aida bisa melanjutkan studi profesinya berkat bantuan Nico. Masa KOAS ini membutuhkan waktu 1,5 tahun. Berkat kegigihan, kemampuan, dan sikap disiplin Aida, kini ia mampu mengikuti wisuda profesi dan mengikrarkan Sumpah Dokter.

Rasa bahagia yang Aida rasakan sangat tak terkira. Sekarang ia telah menjadi seorang dokter muda seperti dokter Ayu kala itu. Di leher Aida kini telah tergantung tulisan dr. Aida Puspita Sari sebagai kartu pengenal salah satu dokter rumah sakit swasta terbesar di Jakarta. Niat Aida menjadi seorang dokter semata-mata untuk mengabdi dan mencari keberkahan dengan menolong dan membantu pasien dalam keadaan apa pun.

Niko dan Aida kini bekerja dalam satu wilayah. Tentu, hal tersebut tidak menjadi halangan bagi mereka untuk kembali bersama. Impian pun telah berhasil dicapai. Mereka pernah menangis karena cinta, luka yang ada menjadi salah satu alasan untuk memaknai cinta yang sebenarnya. Ini pun menjadi ujian mereka berdua dalam mengukur kesetiaan dan keseriusan setelah sekian lama terpisah oleh jarak dan waktu.

Jarak dan waktu adalah penguji hubungan yang paling setia. Kepercayaan dan keinginan untuk terus menjunjung komitmen memang menjadi kunci yang selalu mereka pegang dalam menjalani hubungan. Unsur penguat dalam hubungan ini pun adalah komunikasi.

Hari ini, 14 November 2016, sepasang kekasih telah berhasil menatap satu sama lain dengan kebahagiaan yang tak terkira. Selama kurang lebih 5 tahun terpisah, Niko dengan segala kemandiriannya di Jerman dan Aida dengan segala impian yang dibangun, mereka menjalaninya dengan suka cita bersama.

Kini sudah tidak ada lagi beban, semua seolah-olah mengalir saja dan mereka setia mengikuti alurnya. Riak-riak kecil tentu ada, namun keyakinan memaksa untuk terus maju menerobos gumpalan awan pekat untuk menjemput sang matahari yang tak pernah berhenti bersinar.

Seketika itu Niko berbisik dari kejauhan melihat tubuh Aida yang sedang menunggunya di sudut taman, “Aida, aku ingin memelukmu”. Aida pun melihat Niko yang sedang berlari tuk menghampirinya dan ia berbisik dalam hati “Aku rindu kamu Niko, aku sungguh mencintaimu kemarin, hari ini, esok, dan bahkan selamanya”.

Selesai…..

Identitas Penulis:

Nama               : Eva Affiananda Permata Sari

Umur               : 20 tahun

Status              : Mahasiswa

Email               : evaaffiananda07@gmail.com

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment