by

Sesuatu yang Tidak Kuketahui Tentang Ibu

Sesuatu yang Tidak Kuketahui Tentang Ibu

Mega Anindyawati

Ibu nggak pernah sayang aku. Dia lebih sayang adik. Katanya, aku hitam dan gendut. Aku cuma bisa makan dan tidur. Kalau aku pengen sesuatu, selalu adik dulu yang dikasih. Aku sedih. Kenapa, ya, ibu pilih kasih?

Tulisan di balik pintu dengan huruf berbentuk kotak-kotak itu menyapaku saat aku menutup pintu kamar. Diary nyasar yang kutulis saat masih sekolah dasar. Coretan setinggi pinggang itu masih ada di sana meski warnanya sudah pudar. Entah apa ibu pernah membacanya atau belum. Bodo amat! Kalau pun ibu membacanya, itu lebih baik. Biar dia tahu bagaimana perasaanku.

Sejak kelahiran adik, ibu yang dulunya begitu sayang padaku jadi berat sebelah. Kalau ada kue cokelat kesukaanku, ibu akan memberikannya pada adik padahal dia tahu aku sangat suka kue cokelat. Saat ibu membeli dua gaun cantik, dia mengizinkan adik memilih lebih dulu dibanding aku. Tentu saja adik akhirnya mendapat gaun yang lebih cantik.

Ibu selalu berdalih kalau adik masih kecil dan memintaku mengalah. Tapi, bertahun-tahun kemudian aku menemukan fakta sebenarnya ketika aku hampir lulus SMA. Saat itu, wali kelas meminta akta kelahiranku. Ayah yang sedang sibuk menelepon menyuruhku untuk mencarinya di kamar. Aku pun membongkar lemari dan menemukan lembaran penting itu di dalam map berwarna biru.

Iseng, kubaca akta itu. Retinaku menangkap nama ayah dan—tunggu, bukan ibu yang di sana. Aku menutup mulut. Jadi, bukan ibu yang melahirkanku? Orang yang selama ini kuanggap ibu ternyata bukan ibu kandungku. Pantas saja dia sering berlaku tidak adil padaku. Aku cuma anak tirinya.

Baca Juga  Ramadhan Terakhir Bersama Kakak

Maka, saat aku kuliah, aku memilih universitas negeri yang ada di luar kota supaya aku bisa jauh dari rumah.

“Kenapa nggak kuliah di sini aja, Ras. Banyak universitas yang bagus di sini,” cegah ibu.

“Laras dapat undangan lewat jalur prestasi di universitas pilihan Laras,” dalihku.

“Alhamdulillah kalau gitu. Ibu ikut seneng. Tapi, kalau nanti Ibu kangen gimana, Nduk… Kamu sering-sering pulang, ya.” Ibu hendak menarikku ke dalam dekapannya tapi aku menghindar.

Cih, pandai sekali dia berakting! Aku menyesal sudah bersikap manis padanya selama ini.


Kubuka paket yang diantarkan kurir barusan. Satu dus kecil berisi lauk kering seperti abon, dendeng, dan kering tempe tersaji di hadapanku. Ibu yang mengirimiku. Saat menelepon, dia bilang supaya aku tidak repot mencari makanan untuk sahur dan buka puasa. Padahal aku bisa dengan mudah mendapatkan makanan itu di sekitar kos.

Sudah dua tahun aku sengaja tidak pulang dengan alasan pandemi COVID-19. Nyatanya, aku malas pulang. Aku muak bertemu ibu. Tapi, selama itu pula ibu masih sering video call. Aku mengabaikan panggilannya sehingga dia meminta ayah yang menelepon. Terakhir kali video call, hanya ayah yang menelepon.

“Pulanglah saat libur, Ras,” ujar Ayah.

“Laras masih banyak tugas, Yah.”

“Ibumu lagi sakit.”

Aku bergeming.

“Ayah tahu kamu sedang menghindari ibu. Apa karena akta kelahiran itu?” tebak Ayah.

Aku menggeleng.

“Maafkan Ayah yang tidak memberitahumu dari dulu. Ayah bermaksud memberitahumu saat kau sudah cukup dewasa dan siap menerima semuanya. Tapi, kau sudah tahu lebih dulu.”

Hening diisi suara helaan napas Ayah yang berat.

“Ibu kandungmu meninggal dunia saat melahirkanmu. Ibumu yang sekarang merawatmu sejak kecil. Dia menyayangimu seperti anaknya sendiri,” ungkap Ayah.

Baca Juga  Cerpen: Patah

“Tidak, dia tidak pernah sayang padaku. Dia hanya sayang pada anak kandungnya,” seruku kesal. Dadaku bergemuruh. Ombak bergulung-gulung di sana.

“Kau sendiri yang bisa merasakan apa ibu benar-benar tulus menyayangimu atau tidak. Perlu kau tahu, saat kau kecil, kau pernah jatuh dan kehilangan banyak darah. Kondisimu kritis. Kau tak sadarkan diri dan ibulah yang mendonorkan darahnya untukmu.”

Aku baru tahu fakta mencengangkan barusan. Benarkah ibu memang menyayangiku?


Kenangan bersama ibu menyeruak bersamaan dengan teriakan anak-anak patrol. Suasana sahur selalu ramai dengan anak-anak yang berkeliling membawa kentongan, bedug, jerigen bekas, dan drum bekas seraya berteriak untuk membangunkan sahur. Ibu selalu menanyakan aku ingin makan apa untuk sahur dan berbuka. Dan dia yang akan repot membuatkannya sendiri untukku. Saat aku sakit, ibu tidak bisa tidur semalaman saking khawatirnya.

Ibu tak pernah marah ataupun memukulku. Dia selalu telaten menjawab pertanyaan-pertanyaanku saat kanak-kanak dan sabar mengajariku banyak hal.

“Bungkus tutup dandang serbet supaya uapnya tidak menetes ke dalam,” ujar Ibu seraya menyematkan kain kotak-kotak berwarna hitam ke tutup panci. Kami tengah membuat apem untuk megengan, tradisi orang Jawa dalam menyambut bulan puasa Ramadan.

“Eh, jangan dibuka tutup biar apemnya mekar,” cegah Ibu yang melihatku tak sabar ingin segera mencomot apem buatannya.

Aku meringis sambil menggaruk leher yang tidak gatal.

Setelah itu, kami sekeluarga akan berkumpul bersama para warga lain untuk kenduri seraya membawa nasi plus lauk. Tak ketinggalan apem dan pisang yang wajib ada.

Ada yang berkabut di netraku lantas pecah. Bara di dalam dadaku telah padam dan digantikan kerinduan yang membuncah. Malam Idul Fitri itu akhirnya aku pulang. Beriringan dengan patrol keliling yang membawa obor dari ranting pepaya yang diisi tali sumbu dan minyak gas. Wajah tirus ibu yang memucat menyambutku di depan pintu. Aku berlari memeluknya lantas bersimpuh di kakinya. Memohon maaf atas kebencian yang kutimbun dalam hati. Kurasakan pipiku basah. []

Baca Juga  Limpai Dan Mate Urak

Mega Anindyawati, editor lepas dan freelance content writer. Beberapa tulisannya pernah dimuat di media cetak dan online. Buku-bukunya yang telah terbit yaitu Sabar Menanti Buah Hati (Pro-U Media, 2019), Sepotong Kenangan dan Senja yang Memakannya (Jejak Publisher, 2021), Unconditional Marriage (JWriting Soul Publishing, 2022), Miracles of Love (Harfa Creative, 2022), dan puluhan antologi. Penulis dapat dihubungi via facebook Mega Anindyawati dan IG @mega.anindyawati.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment