by

Semesta Rayya Mendongeng

Uthak Uthak Ugel suka segala jenis makanan. Melihat nasi hangat dengan taburan garam saja, matanya langsung terbelalak dan lidahnya mengecap-ngecap. Setelah duduk menghadap meja, ia segera meraup makanan tanpa ingat berdoa dan mencuci tangan terlebih dahulu.

Uthak Uthak Ugel menjejalkan nasi ke dalam mulut sebanyak-banyaknya. Suapan demi suapan susul-menyusul. Kedua pipi Uthak Uthak Ugel menggembung saat ia mengunyah makanan. Kadangkala, butiran nasi berjatuhan karena mulutnya kepenuhan.

Tiap kali melihat makanan, seketika ia menjadi gelap mata. Tak ingat apa-apa lagi, dan tak ingat siapa-siapa lagi. Tak peduli apakah orang lain sudah makan ataukah belum. Satu hal yang penting baginya hanyalah perutnya sendiri.

Uthak Uthak Ugel makan tanpa takaran. Selama hidangan masih ada, mulutnya tak berhenti mengunyah. Ia akan terus makan, makan, dan makan. Walaupun perutnya sudah kekenyangan ia terus saja makan. Apabila seluruh makanan tandas tanpa sisa barulah ia berhenti.

Ya, begitulah kebiasaan Uthak Uthak Ugel.

Orangtua Uthak Uthak Ugel berkali-kali mengingatkan, “Ugel, makanlah saat kamu lapar dan berhentilah sebelum kamu merasa kenyang.”

Bagi Uthak Uthak Ugel, kata-kata itu akan masuk telinga kanan lalu keluar telinga kiri. Ia tidak pernah mau mendengarkan nasihat orang tuanya.

**

Uthak Uthak Ugel tubuhnya seperti raksasa. Perutnya besar, lebih besar daripada tempayan. Kalau ia berjalan, Bumi seperti bergoncang. Bum! Bum! Bum!

Banyak orang tak habis pikir. Dengan tubuh seperti itu, Uthak Uthak Ugel terbilang lincah memanjat pohon, terutama pohon elo. Ugel sigap bergerak dari satu dahan ke dahan lain. Ia tak gentar walaupun dahan elo doyong oleh tubuhnya yang gempal.

Pada suatu siang, Uthak Uthak Ugel duduk bersandar di bawah pohon ketapang. Saat itu matahari bersinar terik. Udara panas terasa seperti mengigit kulit. Dedaunan ketapang yang rindang memberinya keteduhan.

Uthak Uthak Ugel menatap langit biru. Gumpalan-gumpalan awan berarakan tertiup angin. Bentuknya menyerupai benda-benda di sekitar Ugel. Ada gumpalan awan yang mirip daun, ada yang mirip gunung, ada yang mirip kentongan, ada yang mirip gasing, ada yang mirip pohon cemara, ada yang mirip kuda, bahkan ada yang mirip buah elo. Untuk bentuk yang terakhir, Ugel menatapnya lama sekali.

Uthak Uthak Ugel menutup sebelah mata. Gumpalan awan mirip buah elo terlihat sangat dekat. Pelan-pelan Ugel menggerakkan tangan seperti memetik buah dari tangkainya. Ia memasukkan buah elo hayalan ke dalam mulut.

“Ummm, enaaak!!!”

Uthak Uthak Ugel menelan ludah. Rasa buah elo yang asam-asam manis terasa nyata di lidahnya. Ia memandang ke sekeliling. Siapa tahu di sekitar situ tumbuh pohon elo.

Namun, sepanjang mata memandang, Ugel hanya melihat rumput dan semak belukar. Satu-satunya pohon berkayu di tempat itu hanyalah pohon ketapang tempat ia berteduh.

Pohon elo berbuah sepanjang tahun tanpa mengenal musim. Saat masih muda, buahnya berwarna hijau. Apabila sudah masak, warnanya ungu kehitaman. Buah-buah elo tumbuh bergerombol mengeroyok tangkai.

Uthak Uthak Ugel berangan-angan, “Siang-siang begini makan buah elo. Wah, enaknya!” Lantas, ia teringat. “Di pematang sawah ada satu. Aku akan ke sana.” Dengan susah payah, ia bangkit berdiri lalu beranjak pergi.

**

Tiba di pematang sawah, Uthak Uthak Ugel kecewa. Pohon elo yang ada di sana buahnya tinggal sedikit. “Pasti anak-anak itu,” Ugel menggerutu. Dalam perjalanan tadi, ia bertemu serombongan anak-anak. Salah satu dari mereka membawa serenteng buah elo.

“Aku kalah cepat!” Uthak Uthak Ugel meninju telapak tangannya sendiri. Hatinya kesal bukan kepalang.

“Kalah cepat apa, Ugel?” tanya seseorang dari belakang.

Uthak Uthak Ugel terkejut. Ketika ia berbalik, seorang pemuda seusianya sedang berdiri sambil menyandang cangkul di bahu. Pemuda itu adalah putera pemilik sawah. Ugel berteman baik dengannya sejak mereka masih kecil.

Uthak Uthak Ugel merengut. “Aku kemari untuk memetik buah elo. Tapi, aku kalah cepat. Segerombolan anak-anak lebih dulu menyikat habis buah elo dari pohon ini.”

Pemuda itu memperhatikan pohon elo di pematang sawah. “Buahnya masih ada, kok. Lihat di sana!” ia menunjuk dahan sebesar paha orang dewasa yang menjorok ke arah parit.

Uthak Uthak Ugel mengibaskan tangan. “Ah, itu sedikit. Kalau kumakan cuma mengotori gigiku saja. Aku mau pohon elo yang berbuah lebat. Malah kalau ada, buahnya sangat banyak sampai menutupi batangnya.”

Pemuda itu mengingat-ingat. “Di sebelah barat ada pohon elo berbuah lebat.”

Uthak Uthak Ugel menggaruk-garuk kepala kebingungan. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. “Barat sebelah mana?”

Pemuda itu menengadah ke angkasa. Ia menaungi mata dengan tangan supaya tidak silau. Saat itu matahari mulai condong ke arah terbenamnya. “Mari, kita ikuti saja arah Matahari!”

“Loh, kok, begitu?” tanya Uthak Uthak Ugel.

Pemuda itu menjelaskan, “Matahari terbenam di kaki langit bagian barat. Kalau kita ikuti arahnya, itu artinya kita pergi ke arah barat.”

“Ho-ho-ho! Ya, ya. Aku mengerti sekarang!” Uthak Uthak Ugel tertawa lantang. Perutnya yang gendut berguncang-guncang.

Sebelum keduanya melangkahkan kaki, Uthak Uthak Ugel bertanya lagi. “Berapa pohon elo yang ada di barat sana?”

“Sebatang saja.”

Kaki Uthak Uthak Ugel mendadak mandek. “Kalau sebatang, aku tak mau. Itu masih kurang banyak. Tanggung.”

Pemuda itu kembali mengingat-ingat. “Di sebelah timur juga ada pohon elo.”

Uthak Uthak Ugel celingak-celinguk. “Timur sebelah mana?” ia bertanya.

“Timur berlawanan arah dengan barat, arah matahari terbit.

Baca Juga  Persimpangan Rasa

“Ada berapa pohon elo yang tumbuh di timur sana?” tanya Uthak Uthak Ugel.

“Dua,” jawab kawannya.

“Cuma dua?” Uthak Uthak Ugel mengernyitkan kening. Langkahnya kembali mandek. “Masih kurang. Di mana ada pohon elo lagi?”

“Di sebelah utara?” jawab kawannya.

Uthak Uthak Ugel celingukan. “Utara itu di mana?”

“Kalau kita berdiri menghadap ke arah matahari terbenam, maka utara berada di sebelah kanan kita, Ugel.”

“Ada berapa pohon elo di utara sana?” tanya Uthak Uthak Ugel.

“Ada tiga.”

“Ah, itu masih kurang banyak,” keluh Uthak Uthak Ugel.

“Kalau begitu kita pergi ke selatan saja, Ugel! Di sana ada empat pohon elo. Semua berbuah lebat!”

“Selatan itu di mana?” tanya Uthak Uthak Ugel lagi.

“Kalau kita berdiri menghadap ke arah matahari terbenam, maka selatan itu ada di sebelah kiri kita.”

Wajah Uthak Uthak Ugel berseri-seri. “Tunggu apa lagi? Ayo, kita ke sana!”

Kawan Uthak Uthak Ugel terdiam sejenak. Lalu, ia berkata pelan, “Kamu pasti ingat. Waktu aku kecil, aku pernah terjatuh dari pohon jambu. Pohonnya tidak tinggi, tapi sejak itu aku tak berani lagi memanjat pohon. Baru memegang pokok pohon, lututku sudah gemetaran.”

Uthak Uthak Ugel menepuk bahu kawannya. “Tenang, ada aku! Sekarang, tunjukkan di mana pohon elo itu berada.”

Mereka berjalan hingga tiba di tepi sungai

“Kita sudah sampai!” seru kawan Uthak Uthak Ugel.

Mulut Uthak Uthak Ugel langsung berdecak kagum. Air liurnya hampir menitik. Empat batang pohon elo berbaris rapi di tepi sungai. Semua berbuah lebat.

Tanpa membuang waktu, Uthak Uthak Ugel memanjat pohon elo yang pertama. Ia melahap buah elo satu demi satu. Lama kemudian, kawannya di bawah berseru.

“Jatuhkan satu untukku!”

“Yha, shehenthar,” sahut Uthak Uthak Ugel dengan mulut penuh. Ugel memetik sebutir buah elo yang masih hijau. Namun, rasa tamaknya tiba-tiba muncul. Buah itu tidak ia jatuhkan ke bawah, melainkan ia jejalkan ke dalam mulutnya sendiri.

“Kraus… Kraus!”

Setelah seluruh buah habis, Uthak Uthak Ugel turun dari pohon.

“Mana bagianku?” kawannya menagih.

Uthak Uthak Ugel berkilah, “Buah di pohon pertama masih mentah semua, Kawan! Nanti aku ambilkan di pohon yang kedua. Biarkan aku memanjatnya dulu. Kamu duduk saja di atas batu itu.”

Kawan Uthak Uthak Ugel menurut. Dengan sabar ia duduk menunggu.  Lama menanti, Ugel tak juga memberi perintah untuk menangkap buah elo. Ketika ia mendongak, buah-buah elo di pohon kedua sudah habis tak tersisa.

“Mana bagianku, Ugel?” tanya pemuda itu.

Uthak Uthak Ugel merosot turun. “Payah, payah! Pohon elo yang kedua buahnya terlalu asam. Karena itu aku tak memberikannya padamu. Mungkin pohon ketiga buahnya manis. Sebentar, aku naik dulu, ya.”

Perut Uthak Utak Ugel sudah membukit. Jalannya pun bertambah sulit. Namun, ia tetap naik ke pohon elo yang ketiga.

“Lemparkan satu untukku!” teriak kawannya dari bawah.

“Iya, sebentar!” sahut Uthak Utak Ugel.

Waktu berlalu. Lama kemudian, kawan Ugel bertanya lagi, “Mana buah elo untukku?”

“Sabar, sabar. Sebentar kuambilkan!” sahut Uthak Utak Ugel. Ia memetik sebutir buah elo yang ranum. Namun, hatinya bimbang. Haruskah ia berikan buah elo ranum itu kepada kawannya atau ia nikmati sendiri?

Akhirnya, Uthak Uthak Ugel memutuskan untuk menyantap buah elo itu. Demikian terjadi berulang-ulang. Tanpa terasa, buah elo di pohon ketiga sudah berpindah semua ke dalam perutnya.

Uthak Utak Ugel turun. Melihat temannya menyongsong, ia segera memberi alasan. “Pohon yang ketiga buahnya busuk. Biar kucicipi pohon yang keempat. Semoga pohon yang terakhir ini buahnya bagus.”

Kawan Uthak Utak Ugel percaya. Ia kembali duduk menunggu di atas batu.

Uthak Utak Ugel memanjat dengan susah payah. Perutnya bukan lagi membukit tetapi sudah menggunung karena gendutnya. Sambil makan, Uthak Uthak Ugel memutar otak mencari alasan baru.

Sebetulnya, sejak tadi ia berbohong. Pohon elo pertama, kedua, dan ketiga buahnya bagus-bagus. Bahkan, yang masih muda pun sama enaknya. Hanya saja, Uthak Utak Ugel enggan berbagi dengan kawannya. Ia ingin menikmati semua buah elo itu sendiri.

“Ugel, jatuhkan satu untukku!”

Uthak Utak Ugel melongok ke bawah. “Iya, sebentar!” sahutnya.

Pohon elo keempat buahnya paling lebat. Buahnya pun masak sempurna. Kulitnya yang ungu kehitaman sungguh menggugah selera. Satu atau dua hari lagi buah-buah itu mungkin berguguran ke tanah.

“Sayang sekali kalau buah-buah itu keburu jatuh,” gumam Uthak Uthak Ugel. Seperti berlomba dengan waktu, Ugel makan dengan lahap. Dalam waktu singkat, buah-buah elo di pohon keempat menghilang dari tangkainya.

Ketika sedang asyik makan, Uthak Uthak Ugel merasa lehernya bagai tercekik.

“Iiik!”

Suara itu terdengar amat kencang, sampai-sampai terdengar oleh kawannya.

“Ugel, kamu kenapa?”

“Keseretan. Iiik!”

“Lekas, turun, Ugel! Ayo, minum dulu!”

Uthak Uthak Ugel merosot turun

“Ini. Minumlah air ini, Ugel.”

Uthak Utak Ugel menerima kendi yang disodorkan oleh kawannya. “Gluk, gluk, gluk…”

Sekejap mata kendi sudah kosong.

“Masih kurang. Iiik!”

“Minum air sungai, Ugel!” usul kawannya.

“Sropooot!” Uthak Uthak Ugel mengirup air sungai. Perlahan-lahan sungai surut. Di dasar sungai, ikan dan udang menggelepar-gelepar. Jumlahnya banyak sekali.

“Iiik!”

Suara cegukan masih terdengar.

“Aku masih ingin minum!” seru Uthak Uthak Ugel.

Kawannya berpikir lagi. Tiba-tiba ia berkata, “Pergilah ke tepi laut, Ugel. Laut adalah muaranya sungai-sungai. Airnya pasti berlimpah. Kamu bisa minum sebanyak-banyaknya.”

Uthak Uthak Ugel mengangguk setuju. “Ya, ya. betul itu. Iiik!”

“Pergilah sendiri, Ugel. Aku ingin mengumpulkan ikan dan udang di sungai ini,” kata kawannya.

“Ya! Iiik!” sahut Uthak Uthak Ugel.

Sesampainya di tepi laut, Ugel segera minum. “Sropooot… Sropooot…” Perut Ugel lama-lama melendung, tetapi ia tidak berhenti minum. Bahkan, irupannya semakin kuat.

“Cegluk… cegluk… cegluk… cegluk…!”

Perut Uthak Uthak Ugel seperti balon yang terus ditiup. Semakin lama semakin mengembang. Sampai akhirnya terdengar suara nyaring yang memecah keheningan pantai.

“Duarrr!”

Perut Uthak Uthak Ugel meletus!

Suara letusan itu terdengar sampai ke desa. Kawan Uthak Uthak Ugel dan seluruh penduduk mendengarnya. Mereka bertanya-tanya suara apakah gerangan yang terdengar begitu dahsyat?

Seorang nelayan kebetulan menyaksikan kejadian itu. Tergopoh-gopoh ia menyebarkan berita kepada penduduk desa. “Perut Ugel meletus! Perut Ugel meletus! Ugel minum air laut sampai perutnya meletus!”

Kisah Uthak Uthak Ugel menjadi peringatan bagi penduduk desa lainnya. Kalau ada anak yang makan tak kira-kira, orang tuanya berkata, “Ingat kisah Uthak Uthak Ugel, Nak!”

Walaupun demikian, anak-anak di desa itu tidak pernah bosan mendengarkan kisah tentang Uthak Uthak Ugel. Malam sebelum tidur, mereka meminta ibu atau ayah mengulang kembali cerita Uthak Uthak Ugel.

**

Rayya memandangi wajah-wajah di hadapannya. Semua anak terpaku dengan mulut menganga. Rupanya, mereka menyimak betul-betul dongeng yang ia ceritakan. Raut muka mereka bagaikan sedang terhipnotis.

Baca Juga  Memories

Timbul niat iseng Rayya. Ia meniru suara balon meletus hingga semua anak terpekik kagek. Setelah menyadari suara itu berasal dari mulut Rayya, mereka tertawa terbahak-bahak.

Gilang mengambil alih kelas. Anak-anak boleh bubar. Sekolah sudah selesai. Sebelum itu, ia mengajak murid-murid yang juga anak jalanan, untuk berdoa sebelum pulang.

Pulang, Rayya membatin. Bukankah kolong tol ini adalah rumah mereka? Lantas, di mana ‘pulang’ yang Gilang maksudkan? Pertanyaan itu segera menyingkir dari kepala Rayya ketika Gilang menghampirinya.

“Rayya… makasih, ya. Pekan depan kamu bisa hadir lagikah?”

Semesta Rayya, mahasiswi semester 6 jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, balas berterima kasih atas kesempatan yang diberikan kepadanya. Iya menjawab pertanyaan Gilang dengan jawaban tegas, “Bisa banget, dong!”

Teman satu jurusan Rayya itu merupakan penggagas berdirinya ‘Roemah Kolong Tol’, yang bertujuan memberikan setetes pengetahuan kepada anak jalanan. Walaupun muridnya hanya segelintir bocah, tetapi Gilang selalu bersemangat menjalankan programnya. Kegiatan itu mampu bertahan dari hari ke minggu, minggu ke bulan.

Ada satu hal yang mengganjal di hati Rayya. Sepertinya, ia salah memilih dongeng. Pesan moral ceritanya adalah “Jangan tamak pada makanan”. Bagi anak-anak jalanan, jangankan berlaku tamak, mereka tak tahu apakah hari ini bisa makan ataukah tidak.

Rayya memandangi kumpulan bocah yang merubung di dekatnya. Mereka berlomba meniru bunyi “Sropooot…” seperti saat Uthak Uthak Ugel sedang minum. Sungguh jenaka tingkah mereka.

Suara gelak tawa terdengar riuh rendah. Tak tampak guratan beban hidup di wajah-wajah polos mereka.

Tanpa sadar, tawa mereka menular ke bibir Rayya. Bahagia itu sungguh sederhana… ***

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.