by

Selesaikan Ceritamu, Pengembara

Selesaikan Ceritamu, Pengembara

Oleh:

Fahrul Rozi

Pengembara dari timur menancapkan jarum pada peta usang. Pengembara itu mengatakan “Di kota itu tak ada orang lapar, dan orang miskin. Di sana, mereka diberi beras, minyak, dan gula tiap awal bulan. Lalu tiap pertengahan bulan, mereka mendapat wesel berisi Rp 555.000. Kota itu seperti surga. Tak ada pertengkaran, kericuhan, konflik agama, ras, dan demonstrasi. Kota itu sungguh surga.” Warga yang mendengarnya menatap nyalang—dari matanya seperti mengharap cerita yang lebih panjang, yang akan membawa mereka jauh dari desa kecil ini. Tapi pengembara itu tidak peka. Dia berjalan keluar dari lingkaran warga.


Pagi. Ketika burung bercericit dan ayam mengkokok di atas pagar rumah, pengembara itu berdiri dari pembaringannya di bawah pohon beringin. Ia tidak sendiri, ia bersama kambing, mengembik tidak jauh dari tempatnya. Seekor Makaw hinggap di pundak si pengembara, mengangguk-angguk. Lalu pohon beringin bergoyang oleh angin. Beberapa hewan yang lewat ikut nimbrung.

“Sebentar lagi aku meninggalkan tempat ini dan pergi mengembara,”

“Bagaimana bisa tuan bilang begitu, apa tuan tidak kasihan pada kami?” celetuk Makaw di pundaknya.

“Kalian sudah besar dan tak perlu kujaga lagi. Kalian sudah bisa menjaga diri kalian satu sama lain,”

“Tapi tuan tidak bisa pergi sendirian, saya akan senang sekali bila tuan mengizinkan saya ikut,” Burung Makaw menganjurkan.

“Tidak, tidak, ini berbahaya untukmu,”

“Tapi … saya sangat senang bila tuan mengizinkan saya ikut serta,”

“Namun ini bukan perjalanan biasa … nyawamu bisa terancam,”

“Saya menerima resiko itu,” ceriwis Makaw.

“Saya boleh ikut…” gajah menganjurkan.

“Saya Tuan,” monyet mengangkat tangan.

“Saya, saya….” dan hewan lain mendesak diberi izin untuk ikut serta.

“Baiklah-baik, kita akan pergi bersama dari tempat ini dan mengembara,” semua hewan bersorak dan sebentar lagi perjalanan panjang menunggu mereka.

***.

Di desa kecil di sebelah kota besar nan maju, hidup beberapa keluarga di desa ini. Rumah-rumah mereka beratap rumbia dengan dinding bambu dan bertiang kayu. Tidak ada kamar dan dapur—hanya ruang kosong berukuran 5 x 4 meter. Di sana mereka makan, tidur, belajar, bermain. Jangan tanyakan di mana mereka memasak dan mandi, sebab di rumah tak ada kamar mandi maupun dapur.

Baca Juga  Cerpen: Heal Me to be Myself

Ada sesuatu kebiasaan di desa kecil ini—sesuatu yang tidak pernah ada di desa manapun; Setelah selesai makan malam, mereka akan bergantian bercerita tentang hari yang baru dilalui. Sandi berdiri dan menghadap jendela setelah mendengar cerita bapaknya.

Andi, bapak Sandi bercerita tentang pengembara yang baru ia temui di batas desa. Ia bilang, pengembara itu memiliki hidung mancung dan kulit coklat. Pengembara itu membawa peta usang sedikit robek dan menunjukkan di mana ada kota seperti surga.

“Apakah Bapak yakin dengan orang itu? Bagaimana kalau orang itu berbohong?”

“Apa maksudmu San?” Andi bangkit dan menatap punggung anaknya.

“Sebab aku tidak pernah mendengar sebuah kota yang seperti itu, walaupun ada, itu sangat mustahil. Apakah aku salah?” Sandi berbalik dan menatap pada ayahnya.

“Mengapa kamu bilang begitu San? Apa kamu tidak percaya pada desa kita, pada tradisi kita?”

“Bukan, bukan soal itu. Tapi aku masih belum yakin dengan omongan orang itu, apa Bapak tahu orang itu sedikit mencurigakan,”

“Tidak percaya dan tidak yakin itu tidak jauh beda, mengapa malam ini kamu membuatku bingung San?”

Sandi diam. Ia kembali memandang ke luar jendela. Angin semakin kencang, menggoyangkan atap rumbia, rumah berderik sampai sebuah batang pohon patah di luar. Sandi menutup jendela karena cuaca makin buruk. Ia beringsut dan segera menutup pintu.

Andi melihat anaknya dengan aneh, tapi akhirnya ia menghampar tikar dan Didik, adik Sandi segera berbaring tidur, lalu Andi tidur di sampingnya. Sandi melihat bapak dan adiknya tidur cepat sekali, dan ia menyusul di samping Didik. Tidak lama setelahnya pintu terbuka, perempuan dengan penutup kepala datang membawa lilin. Ia membuka pakaian dan penutup kepalanya, lalu ia juga membaringkan badannya di samping Andi.

“Mengapa Mama lama sekali?” tanya Sandi ketika si Mama merebahkan badannya.

“Cuaca diluar sedang buruk, jadi Mama agak terlambat.”

Baca Juga  Anak-Anak Pak Sularsa

Bukan hanya keluarga Andi yang bekerja di kota, tetapi keluarga lain juga bekerja di sana, sebagai pelayan, sebagai cuci piring, tukang masak, tukang parkir, dan lain-lain. Namun yang membedakan keluarga Andi dengan keluarga yang lain adalah Isti, istrinya, paramedis di kota sebelah dengan gaji lebih banyak dari pekerja yang lain.

Sebenarnya Andi sendiri adalah salah satu keamanan di hotel, namun karena beberapa alasan yang kurang jelas manajer mengeluarkannya. Dengan tabungan yang dimiliki Andi, ia membeli tanah di belakang rumahnya dan menanam padi dan biji-bijian lainnya.

Akan tetapi Sandi adalah anak laki-laki pendiam dan tidak suka bergaul. Sandi tumbuh dengan buku yang diberikan Andi ketika masih bekerja di kota. Namun karena Andi tidak lagi bekerja di kota, Sandi lebih sering menghabiskan waktunya menulis—di kertas dan tinta yang diberikan mamanya.


Esoknya. Ketika pengembara itu bangun dari pembaringannya, ia keluar dan seketika banyak anak-anak mengerumuni dan memintanya bercerita. Awalnya si pengembara ingin menolak permintaan mereka, sebab ia sudah memutuskan berhenti melakukan itu. Namun karena desakan mereka, si pengembara akhirnya bercerita:

“Di tempat saya tinggal, jauh di timur sana, semua hewan dan manusia berteman cukup baik dan bahkan mengerti bahasa masing-masing. Saya pergi bersama beberapa hewan terdekat saya untuk mengembara. Dari sanalah, aku berangkat mengembara,”

“Tapi si gajah, kawan saya jatuh ketika menyeberangi jurang. Saya hampir putus asa dan ingin kembali ke tempat asal saya tinggal, tetapi jarak sudah terlampau jauh. Si monyet menuntunku ke bawah pohon pinus. Lalu ia membawakan air yang entah dapat dari mana dan si Makaw mengepakkan sayap pada wajahku yang berlelehan peluh,”

“Bagaimana dengan Kota Surga?”

“Aku lupa dengan nama kota itu, tapi yang jelas namanya bukan “Kota Surga”. Jika ada pendatang masuk kota itu, mereka akan diberi kartu yang ditulis nama dan asal mereka. Lalu mereka akan diberi tempat tinggal, sebuah apartemen yang cukup mewah. Sayangnya, aku tidak lama di sana. Aku harus pergi untuk mengembara.”

Si pengembara yang dikelilingi anak-anak, berdiri. Ia keluar dari lingkaran mereka dan beranjak pergi. Pohon meranti tumbuh di mana-mana, daun-daunnya menyapu tanah. Ia berjalan menuruti intuisinya. Batiba ia sudah di pinggir sungai.

Baca Juga  Dua Arah

Di sana di atas batu besar, Sandi duduk sambil membaca. Si pengembara membersihkan tangan, kaki, dan wajahnya. Ia pura-pura tidak melihat Sandi dan berjalan meninggalkan sungai. Ketika hampir keluar sungai, Sandi memanggil.

“Apa kau si pengembara itu?”

Si pengembara mengangguk.

“Apa yang kau cari di desaku?”

“Tidak ada. Saya hanya singgah untuk istirahat,”

Sandi diam. Si pengembara juga diam. Rambut panjangnya sudah sepinggang, dan warnanya tidak lagi hitam—cokelat seperti tanah liat. Tubuh kurusnya ditutupi jubah hitam layaknya penyihir, tapi ia tidak bawa sapu ajaib, ia juga tidak bawa tongkat sihir. Tubuh yang kurus itu kelihatan gemuk dengan ikat pinggang yang berisi botol air, buah-buahan, dan uang kertas yang dimasukkan dengan paksa.

“Ceritakan padaku tentang kota itu,”

Maka pengembara itu bercerita tentang kota itu. Namun si pengembara tidak menyelesaikan cerita. Ia sudah bosan dengan cerita yang disampaikan dari hari ke hari, cerita tempat tinggalnya, cerita hewan dan manusia yang mengerti bahasa masing-masing, dan cerita kota yang seperti surga. Ia ingin singgah di satu tempat di dunia ini, lalu pergi, dan singgah ke tempat lain. Dan setelah banyak cerita yang ia dapat, ia akan sampaikan cerita itu pada orang-orang baru yang ia temui. Tapi Sandi mendesaknya.

Si pengembara diam. Ia tidak punya cerita lain, dan ia merasa mual ketika menyelesaikan cerita itu, sebab ia sendiri tidak percaya dengan ceritanya; cerita yang ia dapat dari warga kota surga itu. Bisa saja mereka berbohong agar si pengembara menceritakannya pada orang lain sehingga cerita kota itu menjadi populer. Tapi anehnya, ia tidak melihat kemiskinan di kota itu. Tidak ada.

“Selesaikan ceritamu, Pengembara.”

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment