by

SECRET ADMIRER

SECRET ADMIRER

Oleh: Ida Royani

Dear Zahra,

Kamu itu orangnya unik, imajinatif, ambisius tetapi bukan obsesi, dan kamu itu orangnya cuek tapi sebenarnya perhatian.

From,

(Your Secret Admirer)

“Hmmm..surat lagi, surat lagi.”keluh Zahra. Sudah hampir sebulan ini gadis cantik berambut panjang itu menerima surat-surat misterius dari seseorang yang tak dikenalnya. Tiap kali dia menerima surat, anehnya ada setangkai mawar putih cantik tergeletak diatas surat itu.

Surat yang diterimanya selama satu bulan ini bukanlah hasil tulisan tangan, melainkan hasil print out dari Microsoft word. Dan satu lagi di setiap surat-surat tersebut tidak ada namanya, sehingga cewek cantik bertubuh semampai itu tidak bisa mengenali secara pasti siapa pengirim surat itu.

Saat perempuan itu sampai di sekolah, pagi ini lagi-lagi dirinya menerima surat misterius tanpa nama lagi. Dan tak lupa setangkai bunga mawar putih kesukaannya tergeletak diatas surat itu yang ada di dalam laci meja kelasnya. Ia melihat ke sekeliling kelasnya, siapa tahu dia melihat atau menjumpai seseorang yang menaruh surat misterius itu, tapi usahanya sia-sia.

Tak ada seorangpun di kelas yang sudah datang sepagi itu, wajar saja hari ini Zahra berangkat sekolah lebih awal, sebab dia ingin mengetahui sosok sang pengirim surat misterius itu. Gadis cantik itu pun lalu membaca surat yang ditemukannya. Selesai membaca surat tanpa nama itu, ia buru-buru memasukkan surat tersebut. Dan tak lupa memasukkan setangkai mawar putih favoritnya itu ke dalam tas ransel miliknya agar teman-teman sekelasnya serta dua sahabat baiknya, Angga dan Mira tidak mengetahui tentang surat dan bunga mawar putih itu. Zahra tidak ingin siapapun mengetahui cukup dia saja yang mengetahui.

Saat gadis bermata sipit itu sedang istirahat sekolah, ia berjalan menuju ke kantin untuk membeli makanan karena tadi pagi dirinya tidak sempat sarapan di rumah. Di tengah perjalanan, dia sempat berpikir, ”apakah si pengirim surat itu sebegitu dekatkah dengannya? Sampai dia tahu tentang dirinya secara detail”.

Zahra pun sadar dari lamunannya, setelah ada panggilan dari seorang cowok, sahabat karibnya bernama Angga menghampirinya, yang juga hendak pergi ke kantin juga sehingga keduanya memutuskan untuk pergi ke kantin bersama.

Saat di kantin bersama Angga, Zahra melihat Alfa. Cowok yang disukainya sejak beberapa bulan lalu, tapi dia sedang bersama dengan Cindy pacarnya. Zahra merasa sedih melihat itu. Melihat ekspresi sahabat perempuannya yang sedang tidak bersemangat, Angga pun mencoba menghibur Zahra.

“Ra, kamu nggak ingin punya pacar kah? Lihat, Alfa dan Cindy itu. Mereka tampak bahagia ya setelah mereka jadian satu minggu lalu.”kata Angga.

“Belum tahu Ngga. Kamu sendiri ingin punya pacar ya, Ngga?”tanya Zahra

“Iya, ada seseorang yang aku sukai, Ra.”

Mendengar jawaban dari Angga itu, membuat Zahra teringat dengan surat misterius dari pengagum rahasianya itu, serta setangkai mawar putih yang di terimanya selama sebulan terkahir ini. Dia berpikir, “apakah yang mengirim itu Alfa? Cowok yang disukainya,tapi itu tidak mungkin karena lelaki pujaan hatinya itu kini sudah mempunyai pacar.

Baca Juga  Ayah

Saat Zahra masih terus memikirkan hal itu, Angga bersuara lagi pada Zahra.

“Ra, kamu sudah dengar berita belum? Kalau Mira sakit dan dirawat di rumah sakit.”

“Sudah, Ngga. Kemarin mama Mira meneleponku, tapi aku belum sempat menjenguk Mira di rumah sakit. Kamu sendiri bagaimana?”

“Sama Ra, aku juga belum ke rumah sakit. Mira kan sahabat baik kita. Sudah seharusnya kita ada untuknya memberikan semangat di saat sakit seperti ini agar dia cepat sembuh. Bagaimana kalau kita selesai makan ini langsung ke rumah sakit saja. Semenjak selesai UNAS kita kan sudah tidak ada pelajaran lagi kan! Tapi, sebelum itu kita izin dulu ke guru piket. Takutnya kita dicariin nanti oleh guru piket.”

“Oke. Aku setuju dengan pendapatmu, Ngga.”

Seusai makan di kantin, kedua remaja itu pergi ke ruang guru untuk meminta izin ke guru piket bahwa ia dan Zahra akan pergi ke rumah sakit. Setelah mereka dapat izin, keduanya pun berangkat ke rumah sakit dengan naik motor Angga untuk menjenguk Mira sahabat baik mereka. Mira terkena sakit tifus sehingga diharuskan untuk rawat inap. Sudah 2 hari dia dirawat di rumah sakit sehingga dia tidak pergi sekolah.

Saat di perjalanan Zahra tidak menceritakan tentang surat dan setangkai mawar putih kepada Angga, biarlah hanya dia saja yang tahu. Zahra sebenarnya ingin mencari tahu siapa yang telah mengirimi dia surat dan setangkai mawar putih yang diterimanya selama sebulan ini.

Ketika sudah tiba di rumah sakit, Angga dan Zahra kemudian langsung menuju ke ruangan, tempat Mira dirawat. Mereka mendapati Mira tengah terbaring lemah diatas ranjangnya, dengan ditemani oleh ibunya. Melihat kedatangan Zahra dan Angga di ruangan tempat Mira di rawat, Mama Mira berpamitan ke ketiganya untuk pergi ke kantin dan ia tidak ingin mengganggu ketiganya.

Setelah mamanya pergi dari ruangan Mira di rawat, Angga pun membuka suara. Mengawali percakapan.

”Mir, kapan kamu keluar dari rumah sakit?”tanya Angga sambil duduk di kursi di depan ranjang Mira.

“Nggak tahu Ngga. Emangnya kenapa?”

“Nggak ada kamu di sekolah nggak seru, Mir!”jelas Zahra, sambil duduk menyamping diatas ranjang Mira.

“Iya nih Mir, nggak ada kamu sepi lho di sekolah.”tambah Zahra lagi.

“Betul apa yang dibilang oleh Zahra, Mir! Nggak ada kamu sepi nih di sekolah. Kan kamu biangnya ratu gosip. Bila kamu tak ada kita hanya berdua saja di sekolah ya, hehehe.”jelas Angga sambil tertawa.

“Doakan saja biar aku cepat sembuh. Dan bisa ke sekolah lagi dengan kalian berdua.”kata Mira sambil tersenyum.

Mira memang bisa bersikap apa adanya di depan kedua sahabatnya itu. Meskipun dia tengah sakit, tapi dia tetap ceria.

“Ra, Mir, sebenarnya ada yang mau aku omongin ke kalian berdua.”kata Angga dengan serius.

Baca Juga  Harapan Sekeping Hati di Bulan Juni

“Iya. Omongin saja, kan kita bertiga sudah bersahabat lama. Jadi, apabila kamu ada masalah, aku dan Mira siap bantu.”jelas Zahra.

“Iya Ngga, ngomong saja.”imbuh Mira.

“Sebenarnya selesai wisuda nanti aku harus pindah ke Tokyo,Jepang. Aku akan melanjutkan kuliah di Jepang. Papaku dipindah tugaskan di Tokyo, jadi aku dan mama harus ikut pindah menemani papa dinas di Tokyo.”

“Yeah..pasti aku dan Zahra nggak bisa ketemu lagi denganmu, Ngga?”tanya Mira dengan ekspresi sedih. Hal itu sama seperti yang ditunjukkan oleh ekspresi Zahra.

“Mungkin masih bisa bertemu. Saat liburan musim panas (Juni, Juli, Agustus) atau setelah aku lulus dari kuliah, hehehe.”jawab Angga sambil tersenyum yang di paksakan.

“Yups! Tapi..itu lama sekali,Ngga. Apalagi kita saat ini sudah lulus. Tinggal menunggu wisuda saja. Setelah itu kita nggak  ketemu lagi ya?”tanya Zahra.

“Iya,Ra. Sudah..kalian berdua jangan sedih terus. Makanya Mir, kamu cepat sembuh biar kita bisa pergi ke sekolah bersama lagi sebelum aku berangkat ke Jepang. Dan ada satu hal lagi, sebelum keberangkatanku ke Negeri Sakura itu, aku ingin minta tolong kepada kalian berdua. Apakah kalian mau menolongku?“pinta Angga pada kedua sahabatnya itu.

“Apa Ngga?”jawab Zahra dan Mira bersamaan, dengan eksperesi sedikit bingung. Kedua gadis itu saling bertatapan, tak mengerti dengan ucapan Angga barusan.

“Sebenarnya, aku menyukai seseorang. Aku minta tolong kepada kalian untuk memberitahuku tentang bagaimana cara memperlakukan seorang cewek dengan baik, tanpa menyakitinya dengan perkataanku.Serta tentang bagaimana cara menghadapi wanita yang kita sukai, dan untuk selebihnya biar aku sendiri yang melakukannya.”

“Oke! Kapan pun kamu memerlukan bantuan dari kami, aku dan Mira siap membantumu, Ngga. Iya kan, Mir?”tanya Zahra kepada Mira.

“Yups! Aku setuju dengan pendapat Zahra itu.”jawab Mira sambil tersenyum kepada keduanya sambil menatap wajah kedua orang itu.

“Terima kasih Mir, Ra. Setelah aku tiba di Jepang pasti aku akan merindukan kalian berdua.”jelas Angga.

“Iya, aku dan Zahra juga pasti akan merindukanmu, Ngga.”kata Mira.

Juanda International Airport, Surabaya.

Waktu kepindahan Angga dan kedua orangtuanya yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Sehabis wisuda, esok paginya, Mira dan Zahra mengantar Angga sampai bandara. Diantara ketiga orang itu hanya Mira lah yang menangis tersedu-sedu. Zahra juga sedih, tapi tidak sampai menangis tersedu-sedu seperti Mira.

“Ngga, kamu jangan lupain kita berdua ya! Bila kamu sudah tiba di Jepang, jangan lupa kirim email ke aku atau ke Zahra ya!”kata Mira dengan ekspresi masih sedih, tapi sudah tak lagi menangis.

“Iya, aku nggak akan melupakan kalian berdua. Aku pasti akan kirim

kabar ke kalian melalui email.”jelas Angga.

“Ra, aku kemarin ke rumahmu untuk mengembalikan komik dan novel Jepangmu yang ku pinjam. Kata mamamu kamu sedang ada ujian masuk perguruan tinggi jadi aku titipkan itu ke mama kamu.”kata Angga dengan sedikit berbisik di telinga Zahra.

“Iya. Mama sudah bilang ke aku tadi, tapi aku belum sempat melihat dan membereskannya.”jawab Zahra.

Baca Juga  Cerpen: Potret Sebuah Kebaikan

“Iya. Nggak apa-apa, Ra.”jawab Angga sambil tersenyum.

“Terima kasih ya Ra, Mir. Aku nggak akan melupakan saat kebersamaan kita selama 3 tahun ini di sekolah.”jelas Angga sambil menjabat tangan kedua sahabatnya itu sebagai tanda perpisahan.

“Iya. Sama-sama,Ngga. Kamu hati-hati ya!”jawab Zahra dan Mira secara bersamaan sambil membalas jabat tangan dari Angga.

Seusai berpamitan dengan kedua temannya itu, Angga pun masuk ke dalam ruang tunggu dan menghampiri kedua orangtuanya yang sedari tadi sudah menunggunya.

Setelah Zahra tiba di rumahnya, gadis cantik berambut panjang itu mendapati sebuah kotak persegi panjang dengan berukuran besar berada di dalam kamarnya.

“Mungkin ini yang dibilang Angga tadi waktu di bandara.”gumam Zahra. Kemudian si gadis membuka kotak itu, ternyata memang isinya komik dan novel Jepang miliknya yang dipinjam oleh Angga beberapa bulan lalu. Mata wanita itu tertuju pada sebuah novel Jepang berjudul “Haru No Hana”, salah satu novel Jepang kesukaannya.

“Sepertinya ada sesuatu yang terselip didalamnya.”gumam Zahra.

Zahra pun kemudian mengambil apa yang terselip itu, ternyata sebuah surat. Gadis itu pun langsung membaca surat itu.

Dear Zahra,

Cinta itu memang tak memandang siapapun. Cinta adalah sebuah anugerah dari Sang pencipta. Kita tidak bisa menolak kehadirannya, tapi kita bisa merasakan dan menjaganya. Begitu juga denganku, Liangga Putra Setiawan. Aku tidak bisa menolak rasa cinta yang hadir begitu saja didalam diriku. Aku hanya mampu untuk terus menjaga cinta ini. Menjaga sebuah cinta yang tidak akan pernah lupa untuk jalan pulang ke rumah pemiliknya agar ia menemukan kesejatiannya.

From,

Liangga Putra Setiawan

(Your Secret Admirer)

Seusai membaca surat itu sampai akhir, Zahra terkejut. Ia tak percaya bahwa sekian lama dia mencari jawaban tentang pengagum rahasianya itu, ternyata hari ini dia mendapati jawaban itu di depan matanya. Ia baru menyadari bahwa yang mengiriminya surat dan mawar putih selama satu bulan ini adalah sahabat baiknya. Sahabat yang dia lepas hari ini di bandara. Zahra hanya bisa menangis terharu dengan isi surat pengakuan sahabat baiknyanya itu.

Zahra juga mendapati setangakai mawar putih cantik kesukaanya, yang terbungkus rapi disertai pita di dalam kotak persegi panjang, yang berada disamping tumpukan novel dan komik Jepang yang dikembalikan oleh Angga.

“Terima kasih,Ngga untuk suratmu ini. Pengakuan cintamu ini telah menjawab semua teka-teki tentang siapa my secret admirer selama ini.”kata Zahra sambil menatap ke langit senja yang begitu indah pada sore itu.

Tentang Penulis

Ida Royani, biasa menggunakan nama pena Adinda Koyanagi. Penulis lahir di Malang, Jawa Timur. Penulis bisa di hubungi melalui akun instagram: @adindakoyanagi, dan email: adindaroyyan12@gmail.com.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment