by

Sebelum Tujuh Hari

Sebelum Tujuh Hari

Oleh:

Alda Imroatul Istifaiyah

 Hari Kamis.

Hari terakhir Arzan bertemu dengan mendiang Neneknya dan hari ini pula ia mengalami perpisahan selamanya dengan beliau.

Ia berdiri memandangi lubang kuburan yang akan ditutup. Para warga senantiasa membantu untuk memenuhi liang dengan tanah galian di samping mereka. Syukur, cuaca hari ini terbilang bagus, meskipun agak mendung, jadi pemakaman bisa disegerakan.

Ia bisa lihat di sampingnya, Sang Ibu, sesenggukan meratapi Nenek yang telah ditimpa tanah. Hanya usapan di bahu serta punggung yang bisa laki-laki ini berikan pada wanita yang telah melahirkannya. Jujur, Arzan tidak terlalu dekat dengan Nenek sebab ia hanya pulang ke desa dua kali dalam satu tahun.

Tampak jelas ekspresi sedih dan lelah di raut wajah Ibunya. Bagaimana tidak sedih? Keluarga Arzan baru saja dikabari kemarin bahwa Nenek mendadak sakit dan langsung bergegas pulang ke kampung halaman. Tentu saja kepergian Sang Nenek membuat Ibunya sangat terpukul.

“Mas Arzan, Ibuknya dibawa ke rumah dulu aja.” Sembari berbisik, kalimat tersebut terlontar dari mulut Pak RT ke telinga kiri Arzan. Beliau tak kuasa melihat Ibu Arzan yang sudah lemah—mungkin hampir pingsan. Arzan hanya mengangguk sopan kemudian merangkul Sang Ibu, lantas membawanya meninggalkan makam yang sudah lumayan sepi—tinggal beberapa penggali kubur yang masih menetap membereskan barang-barang.

“Bun, kita pulang dulu, ya? Tadi Bunda belum salat asar, ‘kan?” Ibunya hanya bisa mengangguk sembari masih menatap makam Nenek di samping pintu masuk pemakaman. Pandangan sendu tersebut lantas dialihkan ke putra semata wayangnya. “Ayo, Bang.”

Sekilas Arzan melihat Ayahnya masih berada di makam Nenek, membereskan barang-barang yang digunakan untuk menggali kuburan tadi, sembari sedikit menanggapi pertanyaan para tetangga Neneknya. Ia yakin Ayahnya merasakan hal yang sama seperti Sang Ibu, namun seorang Ayah pasti tidak ingin terlihat lemah di depan putranya, Arzan yakin itu.

Tangannya merogoh saku celana sebelah kanan, mengambil kunci motor dari sana, kemudian menghampiri motor matik berwarna hitam yang terparkir tak jauh dari pintu masuk pemakaman. Kaki jenjangnya mulai menggerakkan standar motor ke belakang. Ia bisa lihat dari kaca spion, Sang Ibu berjalan ke arahnya.

Setelah Ibunya naik ke jok motor, Arzan segera menstarter motor matik dan meninggalkan pemakaman umum desa. Kedua mata Arzan memperhatikan sekitar seraya berkendara dengan pelan serta hati-hati. Hal yang ia sukai saat berkunjung ke desa ialah pemandangan hijau yang terpampang luas. Hamparan padi hijau yang jika dihitung luasnya entah berapa hektare, itik yang memang digiring pulang ke kandang setiap sore, serta suasana desa yang menurutnya menenangkan. Berbeda jauh dengan di kota.

Baca Juga  Cerpen: INDIGO

Berbelok ke kiri, Arzan sampai di rumah mendiang Neneknya. Rumah joglo dengan beberapa pohon mangga dan rambutan di pekarangan. Sebenarnya ini menambah keasrian rumah Nenek, namun hanya berlaku saat matahari masih menampakkan dirinya.

Arzan turun dari motor—menyusul Sang Ibu yang lebih dahulu masuk ke rumah. Ia menilik ke sekitar, mulai dari pekarangan dengan daun mangga kering yang berserakan, teras dengan genting yang harusnya sudah diganti, kemudian rumah tetangga yang agak berjarak—dipisahkan oleh kebun kecil yang ditanami kacang-kacangan. Melangkah masuk ke dalam ruang tamu, ia disambut oleh tetangga yang sedang menyiapkan perlengkapan untuk acara tahlilan nanti malam.

“Mas, sampean mandi dulu aja.”

Lagi-lagi Arzan hanya menanggapi dengan anggukan. Ia kurang bisa bercengkerama dengan orang tua, apalagi mereka lebih sering menggunakan bahasa Jawa yang agak sulit dipahami olehnya. Langkahnya membawa ke kamar tidur yang memang sudah ia tempati dari kemarin, lantas menjatuhkan raganya ke atas kasur—seketika suara dipan tua yang berada di bawah kasur kapuk tersebut terdengar dengan jelas. Ia tebak dipan ini belum pernah diganti sejak Kakeknya meninggal sembilan tahun silam.

Jemari lentiknya mengambil ponsel yang ada di samping bantal tempat ia merebahkan diri. Tak perlu lama-lama, telunjuknya menekan dua pesan yang berasal dari satu grup—gabungan grup voli putra SMAS 1 Nusantara dan SMK Gading.

NusGad Voli (28)

Kak Rizal

Shi, gimana? Dah sampe?

Kak Bobby

PERJALANAN AMAN KANN??

udh smpe kak. aman

Kak Yumna

udah dimakamin, zan?

Kak Kino

Turt berduka cita ya ar

udh. mksh kak

Kak Rizal

Btw hati hati yak

Kak Yumna

ngaps dah? @Kak Rizal

Kak Rizal

Ya hati hati aja deh zan

Kak Bobby

APAAN DAHHH

Kak Yumna

lo keps mulu dah

Edgar

Sabar bang @Kak Yumna

Kak Yumna

gbs sabr gue

Kak Rizal

Kalo kata orang dulu, sebelum 7 hari, arwahnya masih ada di dunia

Kak Bobby

HAH SERIUSAN?

Kak Yumna

jangan didengerin kas itu anak bullshit

Kak Rizal

Yeeee dibilangin jugak

“Bang.”

Arzan memalingkan wajahnya dari ponsel menuju Ibunya yang berdiri di bingkai pintu jati yang sengaja memang tidak ia tutup. “Iya, Bun?” Laki-laki berambut hitam ini segera mengubah posisi menjadi duduk kemudian beradu pandang dengan Ibunya. Bisa Arzan tebak, Ibunya baru saja selesai melaksanakan salat asar, terlihat dari raut wajah yang agak segar daripada tadi.

Baca Juga  Cerpen: Assalamualaikum Mak, Abah!

Netra sedu Sang Ibu masih melekat pada putranya, perlahan memasuki kamar—mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan. “Abang mandi dulu, terus ganti bajunya.”

Arzan hanya mengangguk lagi. Bersamaan dengan Ibunya yang keluar dari kamar, ia berdiri—hendak meraih ransel hitam yang berada di lantai plester, kemudian menurunkan ritsleting terkait. Tangannya meraih baju takwa warna hitam dengan bordir putih motif dedaunan di bagian bahu kanan. Selesai mengeluarkan barang tersebut, Arzan mengacak kembali isi ransel. Ia butuh handuk dan beberapa perlengkapan mandi. Akhirnya, ia mendapatkan satu buah sikat gigi dan pasta gigi, serta sabun batang yang belum terpakai sama sekali.

Raganya menegak, ia berdiri lantas beralih keluar kamar dan menuju area belakang rumah. Kamar mandi Neneknya memang berada di luar rumah, jadi Arzan harus berjalan kurang lebih dua menit untuk sampai di kamar mandi.

Saat melewati dapur, ia pun disapa kembali oleh para Ibu-Ibu yang memang sedang memasak makanan untuk para hadirin nanti. Arzan mengangguk kembali sembari tersenyum kecil— untuk formalitas semata saja. Lain halnya dengan para wanita paruh baya ini, mereka terlihat senang dengan kehadiran Arzan. Bisa ia dengar, Ibu-Ibu ini mulai bercengkerama dengan suara keras seraya menatapnya.

Apa Arzan melakukan kesalahan? Sepertinya tidak. Entahlah.

Arzan melanjutkan langkahnya untuk sampai ke kamar mandi luar. Hal yang tidak ia ketahui, para Ibu-Ibu tadi sebenarnya sedang mengagumi ketampanannya, tapi dengan menggunakan bahasa Jawa yang dengan sangat jelas Arzan tidak akan mengerti.

Telapak kakinya berhenti di bangunan kecil dengan tembok beton setinggi dua meter. Atapnya sudah mulai tua, belum lagi sumur di samping kamar mandi luar ini menambah suasana menyeramkan. Netranya beralih ke sekeliling yang hanya ada kebun dengan tanaman kacang panjang menjulur lebat, tak lupa tiga pohon kelapa menjulang tinggi dan satu pohon jambu di dekat sumur Nenek.

Tanpa basa-basi lagi, Arzan langsung memasuki bangunan terkait. Menyantolkan handuk di belakang pintu kayu, lantas satu per satu pakaian ia tanggalkan.

“Bang, tidur dulu aja. Ini udah malem, loh.”

Baca Juga  Cerpen: Rokok dan Pengorbanan

Perkataan sang ibu menyusup ke telinganya. Sebenarnya Arzan hanya ingin duduk di depan teras bersama tetangga yang ia temui di pemakaman tadi, namun Ibu bersikeras menyuruhnya istirahat.

“Iya, Bu.”

Arzan mulai bangkit, ia mempercepat langkah kaki agar sampai ke kamar. Belum satu menit ia berjalan, sudut matanya menangkap siluet putih di samping pintu kamar nenek yang terbuka.

Kalau kata orang dulu, sebelum tujuh hari, arwahnya masih ada di dunia.

Ketikan yang Rizal kirimkan tadi mendadak muncul di ingatan Arzan, sontak saja kepala ia arahkan pada kamar terkait. Entah penasaran atau apa, pelan tapi pasti, laki-laki ini bergerak menuju kamar nenek. Napas ia tahan, detak jantung berpacu layaknya sehabis lari, netranya tak lepas dari kamar tersebut.

Kepalanya menengok ke dalam, melihat seisi kamar yang terbilang cukup rapi, mungkin Ibu Arzan yang merapikan tadi pagi.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya ada dipan beserta kasur kapuk yang sudah lumayan tua, jendela kayu yang tertutup rapat, bau khas nenek, dan satu lemari besar dengan cermin di tengah beserta bayangan putih di dalamnya. Arzan menghela napas lega, ia lantas membalikkan badannya. Ya, setidaknya laki-laki ini tidak melihat—hei, tunggu dulu!

Dalam hitungan detik, indra penglihatannya kembali ke arah cermin tadi. Lagi-lagi tidak ada siapapun. Mana ada bayangan putih tanpa benda di depannya? Kalaupun itu sebuah noda, mana mungkin bisa hilang secepat ini? Baru saja Arzan akan melangkah masuk ke kamar nenek, suara dari Ibu memanggilnya.

“Bang! Kamu ngapain?”

Arzan gelagapan, bagaimana cara ia menjelaskan hal yang baru saja ia alami ke ibunya? Pikirannya berkontradiksi, apa barusan hanyalah halusinasinya saja? Atau itu tadi benar-benar sosok nenek yang masih berkeliaran di dunia? Entahlah, Arzan tidak habis pikir.

“Kok nggak tidur?”

“I-iya, Bun. Ini mau tidur, kok. Abang tidur dulu.”

Arzan dengan cepat mengatakan kalimat itu, lantas berjalan menuju kamarnya. Pandangannya masih menatap sang ibu walau badannya bergerak menjauhi. Lalu, tepat saat Arzan masuk dan menutup pintu kamarnya, Ibu Arzan beralih menatap lekat kamar nenek seraya berkata,

“Udah saatnya pengorbanan.”

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment