by

Ruang Waktu, Ruang Sejarah

Ruang Waktu, Ruang Sejarah

Oleh:

Theresia Vinka Andini

“Halo! Vanda?”

“Apa?” jawab seorang dari seberang telepon. Dia Vanda, kawan karibku sejak duduk di bangku Sekolah Dasar.

“Mata kuliah terakhir lo sampai jam berapa hari ini?”

“Udah selesai kok, ini mau pulang.”

“Eitss! Jangan langsung pulang dong. Main ke rumahku dulu, kita nonton film bareng, mumpung weekend.”

“Iya deh iya.”


Dokdokdokdok “Vinka!” seru nyaring Vanda di balik suara gedoran pintu.

“Iya, sabar,”

“Kok sepi? Orang-orang pada keluar ya?” sebelum dipersilakan masuk, Vanda sudah berjalan santai mendauhuluiku masuk rumah.

“Iya, mama papa pergi ke rumah temennya. Baru aja berangkat, makanya gerbang depan nggak dikunci.”

“Oh… ngomong-ngomong, ini foto siapa?” tanya Vanda sambil menunjuk foto besar yang tergantung rapi di dinding ruang tamu. Foto itu memang terlihat usang dan tua, mungkin hal itu yang membuat Vanda tidak bisa melepaskan pandangnya.

“Foto kakek buyutku. Memangnya aku belum pernah cerita soal foto ini ya?”

“Belum. Pantes aja fotonya keliatan tua,” jawabnya sambil mengangguk meski masih tampak heran.

“Ya udah, aku ceritain garis besarnya ya. Jadi, kakek buyutku dulu adalah seorang jurnalis era tahun 45,”

“Wih keren! Tahun kemerdekaan dong?” pekiknya menyela penjelasanku.

“Haduh dengerin dulu sampai selesai!”

“Iya-iya, maaf.”

“Foto ini sebenernya punya memori getir sekaligus membanggakan buat keluargaku. Kakek buyut dulu ikut menjadi korban keganasan pertempuran 10 November di kota kita ini. Ya, dia salah satu warga sipil yang tidak berlatarbelakang militer namun ikut terbunuh saat mengambil potret kelam masa itu.”

“Miris juga ya.”

“Iya,” pungkasku sambil mendekat pada bingkai foto lalu mengelusnya lembut. Tiba-tiba, bingkai foto besar itu berubah menjadi lubang hitam yang seakan memiliki gaya tarik magnet. Angin kencang menghantam dan menyeretku masuk ke lobang hitam itu bersama Vanda. Aku dan Vanda terlempar dalam lorong gelap panjang. Kosong, tak ada apapun. Suara bergemuruh dan gelegar angin menambahkan suasana seram.

Baca Juga  Sebenarnya Cita-citaku Apa sih?

Tidak ada yang bisa dilakukan selain mencoba tetap tenang dan memaksa nalar ini berpikir keras, mentolelir kejadian apa yang sebenarnya aku dan Vanda alami. Sebenarnya, ini lorong apa? Kenapa tak berujung? Apakah ini ruang waktu? Distorsi waktu? Tapi kenapa, bukannya itu hanya sebingkai foto yang baru saja ku pajang kemarin? Ke mana lobang ini akan membawaku dan apa yang menantiku di ujungnya?

Tiba-tiba, segala keriuhan dan kericuhan terhenti. Aku dan Vanda melayang bebas dalam lorong hampa ini. Tak berselang lama, suara bergema menyapa. “Bukan hanya tentang dukamu dan duka keluarga kita, ini tentang duka bangsa Indonesia. Aset berharga bangsa, pejuang muda bangsa harus berguguran demi membayar mahalnya harga suatu kemerdekaan. Aku hanya sebutir pasir kecil di antara banyak sekali pejuang yang rela kehilangan hidupnya demi menjaga nama Indonesia tetap ada, tak terpecah lagi. Aku akan membawamu dan temanmu ke peristiwa itu, 10 November 1945.

Saksikan betapa berdukanya tiap keluarga yang  dengan rela hati mengijinkan anaknya menjadi pejuang penjaga kemerdekaan, meski mereka tahu bahwa anaknya mungkin saja tak akan pernah kembali lagi.” Apakah itu suara kakek buyut?

                                                                        ***

Entah seperti apa resolusi dari lorong menyeramkan tadi, karena secara tiba-tiba, aku dan Vanda sudah berada di antara lautan pasukan orang kulit putih dan rakyat lokal yang membawa senjata bambu runcing di sebuah gang yang sepertinya adalah medan juang mereka. Suasana tegang dan mendebarkan sedari tadi ternyata masih terus berlanjut.

“Vanda! Ayo lari Vanda! Sebelum bambu runcing itu menusuk kita!” aku spontan menarik tangan Vanda setelah menyadari bahwa kami dikelilingi pejuang yang berlarian membawa bambu runcing mereka. Namun belum sempat berlari, segerombol pejuang pembawa bambu runcing tadi sudah melewatiku dan Vanda tanpa menabrakku. Apakah aku transparan? semu? Atau apa?

Dengan cepat dan tanpa kusadari, ada sesuatu yang terus mendorong kakiku dan Vanda menyusuri sebuah jalan. Mataku memandang kelu ibu-ibu yang berdiri di teras rumah dari anyaman bambu seperti sedang menunggu seseorang. Ratap tangis terdengar ngeri, mengudara dan memenuhi jalan-jalan yang kulewati bersama Vanda. Sekarang yang kupikirkan bukan lagi tentang bagaimana caranya pulang, tapi tentang duka mendalam yang memang dirasakan seluruh rakyat Indonesia khususnya rakyat Surabaya dalam peristiwa 10 November masa itu.

Baca Juga  Cerpen: Perjalanan Hidupku

Angin sejuk yang berhembus lembut membuatku dan Vanda yang sedari tadi lelah berjalan dan lelah bergulat dengan logika tertidur pulas di bawah sebuah pohon beringin rindang.

“Vinka! Bangun Vinka!” Vanda berusaha membangunkanku dan menggoncang tubuhku dengan hebat.

Perlahan aku membuka mataku. “Kamarku?” betapa terkejutnya aku setelah terbangun dan ternyata aku sedang berbaring di kamar bersama Vanda. Apakah tadi itu hanya mimpi?

“Kenapa kita bisa ada di sini? Bunkannya tadi..?” Vanda tertegun, bertanya heran.

“Sudah, jangan dilanjutkan Vanda. Artinya tadi itu nyata, bukan mimpi, dan yang terpenting kita sekarang sudah kembali dengan aman,” ujarku menyela perkataan Vanda, berusaha mengurai ketegangan di wajahnya.

Sekarang peristiwa-peristiwa seputar kemerdekaan lebih mendapat tempat di hati dan pikiranku, terlebih peristiwa mempertahankan kemerdekaan. Bukan tentang duka satu atau dua orang, bukan juga tentang duka suatu golongan, namun seluruh bangsa berduka dan merintih atas gugurnya pejuang bangsa. Kini, hasil juang mereka telah melekat dalam keseharian bangsa yang sudah dimerdekakan. Tak ada lagi tangis dan darah, hanya harus selalu ada semangat juang yang tak padam.

Bio :

Theresia Vinka Andini, seorang gadis berdarah Jawa Ambon yang akrab disapa Vinka. Tertarik dengan dunia kepenulisan sejak dini dan aktif mengasah diri melalui berbagai kegiatan kepenulisan. Dapat dihubungi melalui; nomor telepon 085231652341, alamat email vinka.andini04@gmail.com, dan laman Instagram @theresiavinkaa.

Terimakasih – Salam literasi 😊

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment