by

Ruai-Ruai Mencari Sunyi

Ruai-Ruai Mencari Sunyi

Oleh:

Khirza Fahira Ariftama

”Untuknya yang t’lah pergi dan menemukan jalan pulang”


Kamu sosok abu-abu mencoba tuk memecahkan sunyi. Menyuarkan bias-bias cahaya dari celah jendela yang temaram. Merapal lembut setiap kerutan pada dinding-dinding berkerak hijau nan berlendir. Hadirnya laksana surya yang enggan tenggelam menunggu sang senja menyelimuti nastabala. Kamu seumpama tetes air dari setiap kekeringan tandus berpasir. Aromamu bak candu khas kopi, merebak sudut-sudut ruangan. Kehilanganmu ibarat jalan buntu ‘tuk langkah kaki yang masih meraba.

Tangan bersorai, melambai indah ibarat perpisahan yang menyakitkan, “Nadira, tugasku kini usai. Mungkin membersamaimu hingga sekarang adalah sebuah anugerah,” ucap Bian dengan nada getir, air matanya tertahan di sudut pelupuk mata.

“Selamat atas pernikahanmu, Nadira,” ucap Tuan pada Puannya dulu yang pernah membersamai pada kehidupan lampau.

Tangis Nadira tersekat dan semakin sesak tertahan di rongga pernapasan. Tubuh Nadira lemas, rasanya ingin sekali jatuh dan luluh lantak di atas tanah. Tak ada sepatah kata yang mampu muncul dari bibir mungil Nadira. Hanya sebuah kepergian Bian kian menyiksa, hingga membuatnya ingin sekali terisak.

Perpisahan hanya selalu mengisahkan kepergian yang seolah menerimanya dengan hati lapang, dua orang yang mencoba ikhlas dan terpaksa untuk baik-baik saja.


Kehidupan adalah sebuah perjalanan, terlahir, bertumbuh besar, bekerja, menikah, tua dan berakhir tiada. Kita tidak memaksa orang tua kita untuk hidup di dunia ini, tetapi ini adalah sebuah takdir yang mengizinkan kita untuk mencicipi hidup di dunia, yang fana ini dengan masalah hidup yang berbeda-beda, dan badai petir di kepala masing-masing.

Sarayu bertiup, mega berarak berkejaran di hamparan luas bentala. Awan kini menjadi angkuh, mengabu, mendung menggulung di atap bumi memayungi rintik air yang tersublimasi.

Baca Juga  Pak Kades, Rumi, dan Halusinasi Mak Narti

Seorang, Puan menatap remang ke arah bulir-bulir yang membasahi bumi, kesendiriannya mengantarkan pada hari yang kian lama, kian kelam, dan berujung pada kegelapan. Dengki yang kian acuh, berlari dari rindu yang menyelami sunyi.

Ternyata keegoisan masih saja menjuarai kepala-kepala yang tidak ingin terlihat lemah.

Langit biru perlahan mengabu, ribuan bulir bening mengguyur luar kafe. Hujan deras yang disertai angin menabrak kaca jendela kafe tersebut.

“Hujan,” Nadira mendengkus kesal. Ia sangat membenci hujan, dalam pikiran Nadira hujan hanya membawanya ke masa lalu. Memori yang ia coba lupakan, kini mengudara kembali. Aroma khas ampo menyeruak memasuki rongga pernapasan.

Ting

Tiba-tiba terdengar suara lonceng yang sengaja dipasang petugas kafe–supaya mereka tahu apabila ada pembeli yang masuk. Sontak membuat Nadira menoleh ke arah pintu masuk untuk melihat siapa yang datang di tengah hujan deras. Ternyata seorang laki-laki bersurai hitam dengan menggunakan kaos hitam dan hem putih, yang bagian lengannya ditekuk setengah terlihat basah kuyup akibat menerobos hujan.

Lagi-lagi Nadira menghela napas setelah melihat sekilas rupa laki-laki itu. Jemari Nadira menari di atas keyboard laptop, sepertinya ia sedang mengerjakan naskah novel ciptaannya dan berakhir terjebak di kafe akibat hujan. Tangannya bergerilya mencari cangkir kopi dan ternyata isinya kosong.

Caramel Macchiato, buatmu,” ucap seseorang di balik punggung Nadira.

“Buat kamu saja, aku sudah tidak suka,” tolak Nadira pada Bian.

“Boleh duduk?” tanya Bian pada Nadira dengan melemparkan senyum simpul.

“Silakan,” balas Nadira dengan nada datar.

“Apa kabar, Dira?” tanya Bian membuka pembicaraan.

“Baik,” jawab Nadira singkat.

“Ternyata tempat ini masih jadi tempat favorit kita, ya?” lontar Bian membuat Nadira membulatkan nektranya dan tersenyum pahit. “Niatku tadi hanya berteduh di sini, ternyata semesta senang sekali mempertemukan kita di tempat yang tak terduga,” cerocos Bian.

Baca Juga  Cerpen: Cahaya di Tengah Corona

Sial, kenapa dia hadir lagi dalam hidupku. gumam Nadira. “Bian, tolong! Jangan menggangguku lagi, kamu enggak lihat aku sedang sibuk?” tegas Nadira yang tidak nyaman akan kehadiran Bian.

“Dira, aku menyesal,” beber Bian, raut wajahnya berubah sendu.

“Lantas?”

“Ternyata duniaku ada di kamu, setiap momen dalam hidupku isinya tentang kita,” ungakap Bian. Namun, tak mengubah sorot netranya menjadi luluh pada Bian.

“Dira, aku tahu kita enggak akan bisa jadi satu lagi,” lanjut Bian.

Sinting,” cibir Nadira dengan membuang muka dari hadapan Bian.

“Kita dulu bahagia banget? Kamu masih ingat enggak kita pernah hujan-hujanan bareng sepulang sekolah,” sambung Bian dengan senyuman yang terbit dari bibirnya.

“Bian, cukup! Aku pergi atau kamu yang pergi?” ancam Nadira.

“Jangan, Dira. Aku mau kamu di sini. Aku ingin berlama-lama menatap, Puanku yang dulu pernah menjadi rumah paling nyaman,” sambung Bian. “Aku ingin sekali melihat senyum indahmu sedikit lebih lama. Dira, waktuku di sini tinggal sebentar,” lanjut Bian dengan ucapan yang sedikit melantur.

Gawai Nadira berdering dengan cepat ia langsung mengangkatnya.

“Bian, aku sudah muak dengan buaianmu, cukup, Bian! Kita sudah lama tak bersama. Kamu tak ingat dulu, saat kamu di Amerika melanjutkan kuliah S2 dan banyak masalah, aku tetap mencoba memberikan semangat padamu, tapi apa? Semangatku tak bisa sampai padamu,” ungkap Nadira yang sudah tertahan bertahun-tahun dalam lubuk hatinya. Mungkin memori kelamnya sudah ia kubur dalam-dalam, entah mengapa semesta mempertemukan mereka kembali sekarang.

“Dira, maaf,” sesal Bian.

Nadira beranjak pergi meninggalkan Bian dengan masa lalunya yang mengepung kepalanya. Tangan Nadira ditahan Bian dan ternyata di hadapan mereka berdua ada Dhanan yang turun dari mobil menjemput yang hendak Nadira.

Baca Juga  Cerpen: Patah

“Ada perlu apa Anda dengan istri saya?” tanya Dhanan dengan suara tegas, seketika itu Bian melepaskan tangannya dari jemari mungil Nadira.

“Saya pergi!” pamit Bian dengan berjalan menerobos hujan.

Dhanan menuntun Nadira dengan lembut dan penuh kasih sayang masuk dalam mobil. Nadira tanpa menoleh melihat Bian tanpanya Nadira bisa bahagia, ia sekarang menemukan lelaki yang selalu ada untuknya.


Dari setiap tangan yang menggenggam harapan, Tuhan MahaBaik, sebab tak pernah mematahkan. Pun bila kadang Hamba-Nya kesasar mengeluhkan, Dia masih dengan bijak menuntun. Memang seperti ini manusia mengenal cinta, pontang-panting menghadapinya.

Bian lelaki yang dengan bodoh meninggalkan semestanya, karena dengan egois Bian meninggikan suaranya saat Nadira ingin sekali dipeluk. Pecahan-pecahan yang tak berbentuk, dengan mati-matian berusaha Bian peluk. Terasa percuma dan membuang waktu saja. Seharusnya ia tahu bahwa sudah saatnya untuk kembali asing dan tak saling sapa.

TAMAT

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment