by

Rindu yang Membelenggu

Wanita itu menatap lubang tripleks seukuran kucing yang berada di samping teras rumahnya. Ingatan Rindu spontan terbang ke masa lalu. Dia berharap bisa memutar waktu dan menarik kembali ucapannya. Saat itu, saking kesalnya, Rindu tanpa sengaja mengucapkan kalimat yang kemudian dia sesali seumur hidupnya. Ah, membayangkannya pun dia tak sanggup.

Hari dimana Tangkas dilahirkan adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidup Rindu. Anak itu terlihat seperti anak-anak lain pada umumnya, lucu dan menggemaskan. Semua tampak normal hingga saat usianya tepat 3 tahun, Rindu menyadari ada yang tak beres dengan Tangkas. Tingkah anak itu terlalu aktif. Dia senang sekali berlarian ke sana kemari. Tak bisa duduk diam dan selalu menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Saat ditanya, dia tak menghiraukan lawan bicaranya.

Rindu pun mendatangi dokter spesialis untuk memeriksakan kondisinya. Hasil pemeriksaan menunjukkan kalau anak laki-lakinya menderita Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD). Anak itu kesulitan memusatkan perhatian, impulsif dan hiperaktif.

Seiring bertambahnya usia, Tangkas jadi sering kabur dari rumah dan berlarian tak terkendali. Rindu pun memagari teras rumahnya hingga menjulang menyentuh langit-langit. Meski begitu, Tangkas selalu punya akal untuk melompati celah di antara dua pagar.

Mungkin sudah puluhan kali anak itu berhasil menyelinap keluar rumah, dan sebanyak itu pula Rindu berhasil menemukannya.
Yang bisa dilakukan Tangkas sepanjang hari hanya bermain di dalam rumah. Mendengarkan Rindu membacakan buku-buku favoritnya, yang disambut dengan senyum merekah dan mata berbinar khas anak-anak.

Atau dia akan bermain petak umpet, bersembunyi di dalam lemari pakaian dan berendam di dalam mesin cuci. Terkadang, anak itu asyik menumpahkan minyak dan detergen hingga habis.

Kegiatan favorit Tangkas adalah bermain air. Anak laki-laki itu akan memasukkan berbagai benda yang dia temukan ke dalam air. Menyalakan keran hingga membanjir. Meninggalkan lantai dalam keadaan licin dan berceceran air. Di lain waktu, anak itu akan mengeluarkan semua benda dari dalam tas. Membuat Rindu berpeluh keringat saat membereskan semua kekacauan yang dibuat bungsunya.

Baca Juga  Anathema

Saat buang air besar, kotoran Tangkas berceceran di lantai. Rindu sampai harus menyobek berlembar-lembar kertas tebal, untuk membersihkan kotorannya dan kemudian mengepelnya beberapa kali.

Dan yang paling membuat Rindu kesal adalah saat Tangkas menyeret baju, yang ada di jemuran dan menumpahkan tepung di atasnya. Rindu harus mencucinya ulang baju-baju itu. Atau saat Tangkas buang air kecil di atas setumpuk baju yang telah rapi disetrika.

Sungguh Rindu lelah. Rindu jadi tak bisa bebas ke mana-mana. Dia merasa waktunya habis hanya untuk mengurus Tangkas, seorang anak laki-laki yang tingkahnya sama dengan lima orang anak.

Suatu ketika, Rindu mengajaknya bermain di teras rumah bersama kakaknya yang duduk di kelas 4 SD. Permainan berlangsung seru sampai kemudian wanita itu merasa ingin ke toilet. Dia pun menitipkan Tangkas untuk diawasi kakaknya. Berpesan untuk menjaga sang adik agar tidak kabur memanjat celah antar pagar seperti biasa. Namun, saat Rindu kembali, anak laki-lakinya sudah tidak ada di teras.

“Adik ke mana, Kak?” tanya Rindu pada si Kakak.

“Tadi ada di sini main.”

“Nggak keluar kan, Kak?”

“Kakak nggak lihat dia manjat pagar kok, Ma.”

“Trus sekarang adik di mana?”

Kakak mengedikkan bahu. “Nggak tahu, main di dalam kali, Ma.”
Rindu pun menyisir mesin cuci dan lemari pakaian tempat dia biasa ngumpet. Menengok kolong tempat tidur dan menyibak korden. Mengecek setiap celah yang memungkinkan Tangkas untuk sembunyi. Namun, hasilnya nihil. Kepanikan pun menyergapnya. Detak jantung Rindu menjelma godam yang bertalu-talu. Dia sambar jilbab instan yang tergantung di hanger. Terburu wanita itu mengambil dompet dan HP.

“Kak, Mama mau nyari adik dulu, ya. Kakak jaga rumah,” pesan Rindu pada si Sulung. Kakinya sibuk mengenakan sandal.

Baca Juga  Zami

“Iya, Ma.” Kakak mengangguk singkat.

Setelah menutup pagar, Rindu berlari sembari celingukan ke sana ke mari. Sesekali dia berhenti dan mengamati sekeliling. Rindu mencoba mengingat-ingat warna baju dan celana yang terakhir kali dipakainya. Satu jam berlalu tanpa hasil.

Baterai HP-nya juga sudah low. Dia pun numpang men-charge baterai HP di warung yang dilewati, sekaligus bertanya apakah ada anak berbaju merah dan bercelana hitam yang lewati sini. Penjaga warung menggeleng. Rindu menghela napas panjang, berpikir ke mana lagi harus mencari.

Sembari menunggu baterai HP penuh, Rindu menelepon suaminya dan menyiarkan pesan tentang hilangnya Tangkas ke beberapa media sosial. Berharap ada orang di kecamatan ini yang melihat ke mana perginya anak itu. Beberapa menit kemudian, sebuah pesan masuk ke inbox. Si pengirim pesan mengabarkan bahwa dia sempat melihat Tangkas. Anak itu hampir tertabrak sepeda motor karena berlarian di jalan. Si pengirim pesan sempat menolong anak laki-laki itu dan menawarinya segelas teh hangat yang langsung diteguk habis.

Lalu, saat dia lengah, anak itu kabur entah ke mana.
Suami Rindu bergegas menemuinya, menanyakan banyak hal terkait hilangnya anak mereka. Pria itu terduduk lesu. Wajahnya bermuram durja. Dia meminta Rindu pulang dan menggantikannya mencari Tangkas.

Suami Rindu juga melapor pada polisi. Tiga hari dua malam pria itu tak pulang dan tak enak makan. Makanan dan minuman, yang dipaksakan masuk ke mulutnya hanya untuk memberi energi saja. Rindu pun resah karena belum ada kabar tentang anaknya. Yang bisa dia lakukan adalah terus memanjatkan doa agar Tangkas segera ditemukan.

Rindu menatap ruangan-ruangan di dalam rumahnya yang jauh lebih rapi sekarang. Namun, tanpa kehadiran Tangkas, rumah itu terasa seperti bukan rumahnya. Benda-benda di sekeliling rumah kompak menyergap Rindu dengan berbagai kenangan tentang anak laki-lakinya. Mendung menyapu wajah Rindu saat melihat busa pencuci piring. Tangkas suka menghisap dan mengunyah spons. Dia juga sering kedapatan memakan tisu, kertas, batu, dan baterai.

Baca Juga  Becik Ingin Jadi Handphone

Hati Rindu gerimis saat Tangkas memasukkan batu, jagung atau gulungan kertas ke hidung. Bahkan, satu siung bawang merah seolah turut menyeret Rindu dalam pusaran kenangan. Telinga wanita itu berhalusinasi mendengar suaranya yang kres kres mengunyah bawang.

Hati Rindu amat menyesal telah mengucapkan kalimat yang menjelma doa. Bahwa dia lelah, capek, letih dengan semuanya. Pada puncak ketidakberdayaannya sebagai manusia biasa, Rindu berharap Tangkas menghilang saja.

“Ya Allah, ampuni hamba yang belum bisa menjaga amanah-Mu dengan baik,” desis Rindu. Hatinya seolah disayat sembilu. Keran air mengucur dari kedua bola matanya.

“Nggak apa-apa rumah berantakan. Mama nggak akan ngomel asal kamu pulang, ya, Nak. Mama kangen kamu,” bisik Rindu menitipkan pesan pada angin.

Pada hari ketiga pencarian, penantian itu akhirnya menemukan titik terang. Sebuah pesan masuk mengabarkan kalau ibu di seberang sana pernah melihat Tangkas di dekat sungai. Rindu dan suaminya bergegas menuju lokasi setelah menitipkan si Sulung pada neneknya.

Sesampainya di lokasi, sudah banyak orang yang berkerumun. Beberapa dari mereka mengangkat sebuah kantong berisi tubuh anak kecil berusia 5 tahun. Saat Rindu dan suaminya mendekat, disingkaplah penutupnya. Rindu mendapati wajah anak laki-lakinya yang membiru dengan tubuh terbujur kaku.

Ya Rabb! Kepala Rindu tiba-tiba berputar dan seketika semuanya gelap. []

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

2 comments

  1. Gak bisa bayangin kalo jadi Rindu. So far cerpennya bagus, reminder banget buatku biar lebih sabar lagi merawat dan membersamai anak2