by

Rambut Merah yang Tak Masuk Surga

Suatu sore di Cerita Kafe. Ada sepenggal kisah usang yang bangkit kembali setelah puluhan tahun terkubur bersama sakit yang tak kunjung terlupakan. Semua itu tak terlalu jauh dari pandangan mata, hanya terbatasi oleh dinding kaca setebal satu senti, juga meja dengan mesin penghitung dan laci penyimpan uang.

Dari sebuah jarak, Tasya memandangi sekumpulan ibu-ibu paruh baya yang duduk melingkar dengan gaya luar biasa ceria. Tawa mereka menggema ke seluruh ruang tanpa atap. Kopi beraroma vanilla menemani mulut-mulut yang selalu menganga dengan bunyi serupa “ha”. Dada Tasya menyempit seketika.

Tasya membuang muka, berusaha menepis kenangan yang pernah membawa luka, tetapi tak kuasa. Kalimat-kalimat tajam yang pernah menghunjam jiwanya seakan berteriak-teriak lagi di telinga. Pelakunya adalah orang-orang yang di depan mata, kira-kira dua puluh tahun lalu, ketika mereka melihat sesuatu yang tak biasa.

Ibu beranak dua itu menyesap kopinya—perpaduan robusta dan arabika, tanpa gula, tentunya. Ia menatap hampa. Wanita-wanita hampir tua itu mungkin seusianya ketika mereka menista rambut merah menyala di kepala Tasya, yang dinilai tak bisa dicontoh oleh anak-anaknya.

Angannya melesat ke masa lampau, ketika dirinya muncul setelah beberapa hari menghilang ke tengah perkumpulan orang-orang, yang katanya sedang berbakti di rumah Tuhan.

“Pantas minggu lalu tak datang, ternyata sedang mengganti warna rambut,” sinis seorang petinggi ketika Tasya baru saja menampakkan diri.

“Lihatlah anak orang tak punya yang kebanyakan gaya,” umpat orang suci lainnya saat Tasya berpaling membelakangi. Indra pendengarannya masih jelas menangkap kata demi kata, yang terlontar bak tamparan yang menyisakan rasa ngilu di pipi.

Sungguh, rambut merah Tasya kala itu menjadi sebentuk dosa baru yang seolah tak terampuni. Pasalnya belum ada yang berani berbuat itu dalam komunitas rohani. Sontak aksi Tasya memunculkan reaksi yang hampir seratus persen negatif adanya.

Baca Juga  5 Peluang Kerja Jurusan Sastra Indonesia

Tak ada yang tak mencibir, semuanya nyinyir, membuat Tasya gerah tiap kali memasuki ruang ibadah. Hilang sudah keberanian dan senyum semringah di wajah Tasya yang indah.

Tasya menerima semuanya dengan tidak lapang dada—sebab istilah itu sejatinya omong kosong belaka. Siapa bisa terima dikatai perempuan nakal, generasi tak guna dan tak terdidik orang tua? Namun, yang paling mengerikan dari semua adalah tatkala mereka mewakili Tuhan dengan berkata bahwa Tasya tak akan masuk surga!

Ya. Di mata manusia-manusia “tanpa dosa” itu Tasya dianggap serupa dengan dunia, dengan ingar-bingar dan segala kebebasan yang tiada tara, meninggalkan norma-norma dan kebenaran yang terkandung dalam nilai agama, untuk hidup tanpa banyak tingkah dan polah yang menyimpang dari pakem yang ada di surga. Entah surganya siapa.

Sempat terbersit untuk menghitamkan kembali rambutnya, tetapi Tasya sadar itu bukan tindakan penyelamatan, sebab Tasya tak rela membuat mereka merasa menang dan semakin berkacak pinggang. Toh cercaan itu tak serta merta hilang.

Satu hal yang membuat Tasya tetap mengangkat kepala adalah kerutan di dahi ibunya yang ketika pertengahan bulan—masih jauh dari tanggal gajian tetapi gas dan minyak telah habis tanpa sisa—bertanya, “Makan apa kita besok?”

Itu yang membuat putaran otak Tasya muda berhenti di depan salon Sahara yang membutuhkan model untuk para kapster binaannya berlatih. Uang lima puluh ribu rupiah telah mengembangkan senyum ibunya, sekaligus sukses mengubah warna rambutnya.

Dua puluh tahun lalu, hari itu hari Minggu ketika ia berpapasan dengan yang katanya penghuni surga. Tanpa bertanya ada apa dan mengapa, mereka melepaskan tatapan penuh murka, seakan ada iblis yang baru keluar dari neraka. Sedetik kemudian, mulut-mulut itu terbuka, menyuarakan kicauan memekakkan telinga.

Baca Juga  Cerpen: Tentang Kita yang Sepakat untuk Mengakhiri

Sejak saat itu, Tasya yang jelita dipandang bak seonggok sampah dalam bejana kaca. Cantik tetapi busuk dalamnya. Bisa diterka, sikap dan kata mereka menciptakan luka yang hingga sekarang masih menganga, meluluhlantakkan mental dan kepercayaan dirinya.

Serupa tali kekang yang dihentak paksa, Tasya menarik diri dari dunia yang sarat sukacita. Ia memilih untuk mengintip saja dari balik jendela, tetapi tidak untuk menghitamkan kembali rambutnya, sebab ibunya bangga dan berkata, “Yang rambut merah itu anak saya.”

Ibu yang bangga itu kini telah tiada, meninggalkan Tasya dengan sejuta nestapa. Suami yang memberinya dua anggota baru sebagai keluarga tak jua menyembuhkan derita dalam batinnya. Semua karena kalimat beracun yang ditembakkan dahulu kala, yang masih mencari tersangkanya untuk sebuah kata maaf saja.

Ingatan Tasya kembali ke kafe setelah melakukan pengembaraan ke zaman ketika dirinya masih muda. Sekarang Tasya sedang berdiri di tempat usahanya sendiri, dan dia dikenal orang sebagai wanita yang beruntung.

Memiliki suami seorang pengusaha multisektor yang sepenuh hati membimbing dan menyayangi, juga anak-anak yang bertumbuh sempurna dan penuh sukacita seharusnya cukup, tetapi soal luka lama, itu cerita berbeda.

Dendam lawas yang dulu berhasil ia tutupi dari pendengaran dan penglihatan sang ibu kini mencuat lagi. Wajah-wajah culas bertopengkan ayat-ayat dan kemampuan menjaga kesucian itu kini Tak lagi menakutkan. Kaki Tasya memaksanya mendekati mereka yang penampakannya tak sesuci sedia kala.

“Selamat sore, ibu-ibu. Apa kalian masih mengingat saya?” sapanya ramah berhiaskan senyuman palsu.

“Hai, Tasya. Apa kabar? Tentu saja kami ingat,” sahut salah seorang yang dulu mencibirnya.

“Siapa tak kenal dengan istri pengusaha sekelas Antonius Pratama? Ah, siapa sangka bisa bertemu pemilik kafe ternama ini,” imbuh seseorang yang dulu menghinaku sebagai orang tak punya yang kebanyakan gaya.

Baca Juga  THE FUNERAL

“Ngomong-ngomong, kau masih secantik dulu. Apa rahasianya?” seorang pencaci mencoba berbasa-basi.

Tasya melipat tangannya di dada. ‘Ini yang kutunggu,’ kata hatinya.

“Dulu? Dulu kapan, ya?” tanya Tasya dengan senyum manis yang penuh arti.

“Dulu, waktu masih muda. Waktu rambutmu masih merah,” seorang pencerca sepertinya kelepasan bicara.

‘Gotcha,’ kata hati Tasya.

“Iya. Dulu kau cantik sekali. Itulah yang membuat kami semua terinspirasi,” kata seseorang yang rambutnya paling merah, persis milikku dulu.

“Oh, iya. Tentu saja. Saya tak pernah lupa. Dulu rambut merah menjadi penyebab saya tidak masuk surga, bukan? Apa kalian ingat?”

Tasya bicara se-elegan mungkin. Tidak ada penekanan dalam tiap katanya. Semua ia gelontorkan dengan datar dan penuh senyum.

Sontak lima orang di hadapannya gelisah, seolah tertangkap basah telah berbuat salah. Tasya bisa melihat ekspresi wajah nenek-nenek yang kelimpungan, tetapi dua detik kemudian menunjukkan cengiran memuakkan.

“Mengapa rambut kalian merah semua?” lanjut Tasya di puncak nyalinya. “Mungkin saja kalian tak masuk surga.”

Tasya berlalu sambil mengibaskan rambut hitamnya, meninggalkan tanya yang tak kunjung ada jawabnya, sebab mereka lupa.

Bekasi, 10 September 2022

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.