by

Rahasia Penarik Jodoh

Rahasia Penarik Jodoh

Oleh:

Mega Anindyawati

Laki-laki muda itu berdeham untuk mengusir rasa kikuk yang sedari tadi memeluknya. Sang gadis melirik dari sudut mata. Jantungnya bertalu-talu tak beraturan. Wanita paruh baya di depan keduanya bersedekap. Dia menatap sejoli itu dengan sorot mata tajam.

“Jadi begini, Bu. Maksud dan kedatangan saya kemari adalah untuk melamar putri Ibu,” ungkap Arya setelah berbasa-basi sejenak.

“Kerjaan kamu kan cuma gitu. Mau dikasih makan apa anak saya?” tembak Ningsih.

“InsyaAllah akan ada rezeki dari Allah.”

Ningsih melengos. “Maaf, nih, ya. Tapi, Mayang mau saya jodohkan dengan orang lain.” Dia berlalu pergi seraya melambaikan tangan tanda mengusir.

Mayang menghela napas panjang demi melihat kelakuan ibunya. Arya sudah melakukan beragam cara untuk menaklukkan hati Ningsih, tapi tak satu pun yang berhasil. Sudah tiga kali Arya melamar Mayang dan sebanyak itu pula Ningsih menolak.

“Ibu kenapa nolak Arya lagi?” kejar Mayang begitu Arya pulang.

“Kamu yang kenapa mau sama dia? Jangan hanya karena umur kamu jadi seenaknya pilih suami. Dia itu kerjaannya cuma bersih-bersih masjid. Mana bisa kenyang pake doa!” sembur Ningsih.

“Arya kan juga jualan sayur dan buah keliling, Bu.”

“Penghasilan dia seberapa, sih? Ibu nggak mau kamu hidup susah.”

“Arya itu agamanya baik, loh, Bu. Anaknya juga salih dan nggak macem-macem.”

“Tapi dia nggak selevel sama kamu.”

Astagfirullah. Mayang nggak pernah mikir kayak gitu.” Mayang geleng-geleng kepala.

“Kamu itu S1, May. Lulusan universitas negeri terbaik di kota, sedangkan dia apa? Cuma SMA. Kerjaan kamu juga enak di kantoran. Seenggaknya kamu nyari manajer lah kalau nggak bisa dapetin direktur.”

Baca Juga  Cerpen: Panji Si Tukang Bolos

“Apa semuanya harus diukur dengan materi?”

“Kamu ini… Gimana bisa hidup seneng kalau nggak punya uang?” tanya Ningsih retoris.

Mayang memegangi keningnya pusing. Entah bagaimana lagi cara meyakinkan ibunya agar menerima Arya.

“Sudah, nanti Ibu yang carikan calon. Kamu nggak usah pikirin omongan orang-orang yang ngatain kamu atau iri lihat temen-temenmu yang udah punya anak.”


Mayang memilin jemarinya resah. Arya sudah melakukan beragam cara untuk menaklukkan hati Ningsih, tapi tak satu pun yang berhasil. Sudah tiga kali Arya melamar Mayang dan sebanyak itu pula Ningsih menolak.

“Mas, apa kita kawin lari aja?” Sebuah ide gila datang dari rasa frustrasi.

Arya menggeleng. Dia juga ingin menikah dengan Mayang, tapi bukan dengan cara yang tak patut. “Kita butuh restu Ibu, May.”

“Tapi sampai kapan kita kayak gini terus?”

“Kamu doain aja ya supaya ibu berubah pikiran. Hanya Allah yang Maha Membolak-Balikkan Hati.”

“Nggak kurang-kurang aku doain, Mas. Aku cuma takut kalau….”

“Kenapa, May?”

Aku takut perjuangan dan kesabaran kamu akan padam seperti lilin yang terbakar habis.


“May, jangan duduk depan pintu. Pamali.”

“Emang kenapa, Bu?”

“Kamu ini dibilangin orang tua selalu nanya alasannya. Jangan duduk di depan pintu biar jodohnya nggak balik.”

“Jodoh Mayang balik karena ibu yang nolak dia, bukan karena duduk depan pintu,” gumam Mayang.

“Apa?” tanya Ningsih memastikan.

“Ibu mau ke mana?”

“Usaha supaya kamu dapat jodoh.”

Beberapa menit kemudian, Ningsih kembali dengan membawa sebaskom air yang sedikit keruh. “Cuci mukamu pakai ini?”

Mayang mengendus bau air di baskom. “Ini air apa, Bu?”

“Nanya terus nih anak.” Ningsih berkacak pinggang sebal. “Ini air bekas siraman calon pengantin. Kamu pakai buat cuci muka supaya ketularan nikah.”

Baca Juga  Ayah

Mayang memutar bola matanya. “Nggak ah.”

Bola mata Ningsih melebar. “Kamu nggak nurut sama Ibu?”

Mayang terpaksa mengikuti kemauan Ningsih.

“Sekarang, kamu ikut Ibu.” Ningsih menarik tangan Mayang.

“Ke mana?”

“Udah, ikut aja.”

Ternyata Ningsih membawa Mayang ke tempat pernikahan tetangga mereka. Keduanya menyelinap di balik kuade pengantin.

“Ngapain ke sini? Ini masih temu manten. Kondangannya masih nanti malam.”

Ningsih menunjuk rangkaian bunga Cempaka yang menjulur dari kepala sampai dada pengantin perempuan. “Sekarang, kamu ambil Kantil itu satu.”

“Buat apa?”

“Biar kamu ketularan nikah, Mayang.”

“Ya udah, nanti Mayang mintain ke mbaknya.”

“Jangan minta, ambil aja tapi nggak boleh ketahuan mantennya.”

“Nyuri, dong.”

“Udah, ambil sana. Kamu nggak inget pesan almarhum bapakmu?”

Hmm, repot urusannya kalau sudah bawa-bawa nama bapak. Sebelum meninggal, bapak Mayang berpesan supaya gadis itu menjaga ibunya dan selalu patuh padanya. Tapi, apa iya harus patuh pada ibu untuk urusan semacam ini?

Akhirnya Mayang terpaksa mengambil bunga Cempaka itu saat pengantin sibuk bersalaman dengan para tamu.


Beberapa hari ini rumah Mayang kedatangan banyak tamu laki-laki. Ada teman dan tetangga yang ditemuinya terakhir kali. Sisanya orang tak dikenal yang dijumpainya di jalan. Mayang enggan menemui tamu-tamu itu. Selain khawatir Arya salah paham, alasan utamanya adalah karena Mayang mencium kejanggalan.

Beberapa pemuda tak dikenal tiba-tiba membuntutinya sampai rumah hanya untuk kenalan. Tak hanya sekali kunjungan, besoknya mereka datang lagi seraya membawa buah tangan. Perbincangannya pun kebanyakan mengulik pribadi Mayang. Bahkan ada yang tanpa basa-basi menyatakan kekaguman dan mengajak ke pelaminan. Iiih… Mayang bergidik ngeri. Tidak mungkin air bekas siraman dan bunga Cempaka itu penyebabnya.

Baca Juga  Cerpen: Tentang Kita yang Sepakat untuk Mengakhiri

“Sepertinya jampi-jampi yang dibacakan si Mbah ke bedak yang dipakai Mayang mulai bekerja,” batin Ningsih.

Ningsihlah yang akhirnya menemui tamu-tamu itu. Menanyai mereka satu per satu, terutama pekerjaan dan tempat tinggalnya. Hingga terseleksi seorang duda tajir berumur 40 tahun.

“Udah, kamu terima aja dia. Orangnya kaya, mapan, ganteng lagi,” ucap Ningsih.

Mayang memejamkan mata erat. Rasanya ingin berteriak kalau dia sudah lelah mengikuti semua permainan ibunya.

“Lagian pekan depan Arya juga mau nikah.”

“APA?” Mayang tersentak.

Ningsih mengulurkan sebuah undangan sederhana bersampul cokelat. Tak ada kata-kata apa pun dari Arya dan tiba-tiba saja dia akan menikah. Mayang terduduk lemas di lantai. Langit seolah runtuh di atas kepalanya. Pandangannya berkunang-kunang. []

Mega Anindyawati, editor lepas dan freelance content writer. Beberapa tulisannya pernah dimuat di media cetak dan online. Buku-bukunya yang telah terbit yaitu Sabar Menanti Buah Hati (Pro-U Media, 2019), Sepotong Kenangan dan Senja yang Memakannya (Jejak Publisher, 2021), Unconditional Marriage (JWriting Soul Publishing, 2022), Miracles of Love (Harfa Creative, 2022), dan puluhan antologi. Penulis dapat dihubungi via facebook Mega Anindyawati dan IG @mega.anindyawati.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment