by

Pria Berperut Buncit yang Muntah di Angkot

Dadaku seolah disumpali tangan-tangan hitam kekar yang mencengkeram menyakitkan saat melihatnya. Dia yang membuat hariku luluh lantak saat itu. Kalau pagi itu aku tidak bertemu dengannya, mungkin ceritanya akan berbeda.

Seperti biasa aku naik angkutan umum ke sekolah. Mobil Mitsubishi Colt yang dicat cokelat muda dengan tempat duduk yang saling berhadapan. Angkutan umum yang selalu lewat depan rumah dan mengantarku tepat di depan gerbang sekolah. Beruntung sekali aku diterima di SMA Negeri yang jalurnya dilewati angkutan umum.

Di pagi hari, angkot selalu ramai dengan anak-anak sekolah dan orang-orang yang hendak berangkat kerja. Di bangku yang terisi empat orang, duduk seorang laki-laki berpakaian necis. Dia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna peach yang dipadu dengan celana panjang hitam. Rambutnya disisir klimis. Di pangkuannya terdapat sebuah tas kerja hitam. Laki-laki dengan ciri-ciri layaknya pekerja kantoran juga duduk di sebelah kananku.

Kira-kira 4 km kemudian, angkot berhenti dan seorang penumpang naik. Ah, itu teman sekelasku, Diyah. Dia mengambil tempat duduk tepat di sebelah kiriku. Tak lama kemudian, seorang pria berperut buncit dengan kaus oblong kedodoran naik. Dia duduk di depanku.

“Nin, boleh pinjam HP-nya? Aku perlu hubungi ortuku, nih,” tanya Diyah.

“Boleh,” jawabku tanpa pikir panjang seraya mengambil HP yang ada di dalam tas. Aku biasa meletakkan HP-ku di dalam tas bagian belakang, dekat dengan punggung saat tas kupakai.

Entah apa yang perlu disampaikan temanku itu pada orang tuanya. Dia hanya mengetikkan sesuatu sebentar dan mengirim pesan singkat. Lalu, dia mengangsurkan HP-ku kembali. Kumasukkan HP itu ke dalam saku kanan.

Tiba-tiba, pria berperut buncit menepuk kakiku dan dia muntah—atau mungkin meludah dalam porsi banyak. Aku bergidik jijik melihatnya. Lantas pria berkemeja di sebelah kananku meminta aku untuk membuka jendela. Kubuka jendela di belakangku. Kupikir pekerja kantoran itu memintaku membuka jendela agar udara segar bisa masuk.

Baca Juga  Cerpen: Luka yang Sama

Namun, pria paling ujung dekat kaca belakang malah memintaku untuk menutup jendela. Agar pria berperut buncit tidak kena angin, katanya. Kuturuti permintaannya layaknya boneka yang dikendalikan pemiliknya.

Setelah pria berperut buncit muntah-muntah, dia mengetuk bagian atas angkot.

“Kiri, Pak.” Dia pun turun di perempatan dekat pasar.

Angkot kembali melaju dan entah mengapa aku spontan merogoh saku kananku.

“HP-ku! HP-ku nggak ada,” seruku syok. Wajahku pasi. Terbayang ekspresi kemarahan ibu saat tahu kalau HP-ku raib.

“Coba dicari dulu di dalam tas, Mbak,” ujar pria kantoran yang duduk dekat jendela belakang angkot.

“Tadi aku taruh sini,” kataku seraya menepuk saku kanan.
Aku merasa HP-ku diambil pria berperut buncit tadi. Kurasa dia tidak benar-benar muntah, tapi hanya sekadar pura-pura. Aku menyesal tidak menepuk balik tepukannya.

Kudengar dari orang-orang kalau ada orang tak dikenal yang menepuk kita di angkutan umum, kita harus bergegas menepuk balik supaya tidak kena gendam. Ya Allah, apa aku sudah kena gendam? Hatiku bergemuruh panik. Aku celingukan melihat ke depan, siapa tahu pria berperut buncit itu masih kelihatan.

“Jatuh mungkin, Mbak. Coba cari di bawah,” saran pria kantoran di sebelahku.

Bodohnya aku karena menjelma kerbau yang dicucuk hidungnya. Aku kembali celingukan mencari di bawah tempat duduk penumpang. Diyah ikut mencari.

“Aduh, ke mana, ya…” Aku spontan menghentikan angkot dan berlari menyisir sekitar sampai lupa membayar ongkos angkot. Hatiku yakin kalau pria berperut buncit itu yang mengambil HP-ku. Orang-orang di sekitar tempat kejadian yang melihatku panik menghampiri.

“Ada apa, Mbak?” tanya seorang ibu berjilbab marun.

“Saya kecopetan, Bu. HP saya ilang.” Kurasakan sebutir air bening menitik di kedua sudut mataku. Mendadak tenggorokanku terasa kering.

Baca Juga  Gift

“Wah, jangan-jangan kena gendam. Emang sering kejadian di angkot.”

Aku terduduk lemas di trotoar. Tak ada tanda-tanda pria berperut buncit dengan kaus kedodoran. Kurasa kedua pria berpakaian kantor itu juga komplotan pencopet yang sengaja mengulur waktu agar kawannya bisa melarikan diri. Mungkin juga salah satu dari mereka yang mengambil HP-ku saat aku membuka tutup jendela. Atau jangan-jangan sopirnya juga terlibat? Astagfirullah, aku jadi suudzon.

Angkot yang tadi kutumpangi sudah tak terlihat, membawa serta Diyah yang tak bertanggung jawab. Padahal hilangnya HP-ku ini karena salahnya. Kalau dia tidak meminjam HP-ku, tentu pencopet itu takkan tahu karena aku selalu menyimpannya di dalam tas. Hatiku terbakar marah pada Diyah.

Aku tak ada gairah melanjutkan perjalanan ke sekolah. Tapi aku juga ketar-ketir kalau harus kembali pulang. Wajah merah padam ibu dengan muka melotot kembali terbayang. Bagaimana tidak, HP itu kami beli dengan keringat berdarah-darah. Ibu yang hanya seorang single parent penjual nasi kuning, mengumpulkan uang sedikit demi sedikit agar bisa membelikanku HP.

HP yang kubutuhkan saat sekolah online selama dua tahun pandemi COVID-19. Dan setelah kasus terjangkit karena wabah menurun, aku menggunakan HP itu untuk membantu ibu berjualan makanan secara online di aplikasi pesan antar. Pesanannya jauh lebih banyak dibandingkan berjualan di depan pasar. Duh, bagaimana ibu bisa berjualan online kalau HP-ku hilang?

Otakku seolah tak bisa berpikir. Jangankan melapor ke polisi dekat situ, membawa tubuhku saja rasanya limbung. Ibu-ibu tadi mengulurkan segelas air mineral padaku.

“Minum dulu, Mbak. Biar lebih tenang.”

“Makasih, Bu.” Kutenggak habis isi di dalam gelas plastik tersebut.
Setelah merenung cukup lama, aku pun memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Aku menyeberang jalan raya dan menyetop sebuah Isuzu Elf berwarna biru tua. Angkot besar itu yang akan membawaku pulang dan menurunkanku tepat di mulut gang. Di dalam angkot, kudengar pembicaraan dua orang ibu tentang kasus gendam atau pencopetan yang marak terjadi di angkot.

Baca Juga  Cerpen: Tentang Kita yang Sepakat untuk Mengakhiri

“Ponakanku kapan hari diputer-puterin nyampek terminal Surabaya, Bu. Uangnya ludes. Dia baru sadar pas udah diturunin. Untung nggak diapa-apain.”

“Kalau aku pernah loh, Bu. Disapa laki-laki pakai topi sambil mukul lenganku. Trus ya tak pukul balik. Habis gitu dia duduknya mepet-mepet gitu sambil nyembunyiin tangannya di bawah tas. Ya tak semprot, tak suruh duduk agak jauhan. Wong masih kosong kok ndusel-ndusel. Lah ternyata nggak tau kenapa aku diminta mereteli perhiasanku. Anting-anting, kalung, cincin tak kasih semua, kayak orang nggak sadar waktu itu. Tapi trus pas dia mau turun itu perhiasanku dibalikin semua. Katanya, Ibu lagi puasa, ya? Gak mempan kalau pas puasa. Entah apanya yang gak mempan. Untungnya gitu loh, Bu, pas tirakat. Blai selamet.”

“Lha, iya, Bu. Kalau masih rezeki kita ya balik lagi, kalau udah nggak rezeki ya pasti ilang.”

Aku seolah tertampar mendengar kalimat ibu itu barusan. Merasa bahwa kedongkolanku pada Diyah tak tepat. Mungkin sudah takdirnya HP itu hilang. Buktinya, aku yang biasa menyimpan HP di tas malah menyimpannya di saku rok. Ah, semoga saja ibu tidak mengamuk dan semoga ada rezeki pengganti dari-Nya, Aamiin. []

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.