by

Pertengkaran Ketiga belas

Belum lagi sembuh batin Anya atas luka yang ditorehkan oleh Viko, kekasih barunya yang terlihat begitu sempurna di awal kedekatan mereka, pertengkaran pun terjadi lagi, dan ini sudah tiga belas kali.

Sebelumnya, Anya sudah berjanji tidak akan kembali lagi ke dalam pelukan pria pencemburu berat itu. Terlalu sakit tuduhan-tuduhan yang Anya alami sebagai seorang janda dan orang tua tunggal. Namun, rasa cinta menjatuhkan Anya kembali. Lagi, dan lagi.

Teman dan sahabat Anya, mereka tidak tahu bagaimana sikap Viko sebenarnya, karena nama itu telanjur banjir pujian sebagai calon bapak sambung dan suami yang sempurna. Dia begitu menunjukkan kasih sayangnya pada Audrey, putri semata wayang Anya yang ditinggal minggat oleh ayah kandungnya di usia tiga tahun.

Anya yang sudah bertahun-tahun tersakiti oleh sikap cuek sang mantan suami yang tak pernah peduli, bahkan ketika Anya mengubah takdirnya dari tulang rusuk menjadi tulang punggung, tentu merasa tersirami oleh hangatnya perhatian yang bertubi-tubi dan silih berganti Viko berikan.

Ya. Anya yang dulu harus pontang-panting siang dan malam demi menghidupi Audrey dan membayar rumah kontrakan, kini tak perlu lagi melakukan semua itu, karena Viko telah mengevakuasi Anya dan Audrey ke rumah yang sangat layak untuk ditempati, rumah mendiang orang tua Viko.

Viko sendiri tinggal di rumah yang juga dijadikan kantor olehnya. Pokoknya semua orang bilang Anya beruntung karena kembali bertemu dengan Viko, teman semasa kecilnya dulu. Anya pun bilang begitu, sebelum pertengkaran demi pertengkaran yang menguras emosi dan energi terjadi.

Anya yang dulu kurus kering kini jadi semakin cantik dan seksi di tangan Viko yang mendandaninya bak seorang ratu. Sejak saat itu pula Viko menjadi posesif, dan tidak bisa melihat Anya berbalas komentar dengan teman-teman lama yang berjenis kelamin laki-laki.

Anya yang semula bahagia dicemburui—sebab mantan suaminya tak pernah punya hati—lama-lama gerah juga. Viko selalu berpatroli ke setiap sosmed Anya yang kini berprofesi sebagai penulis.

Tak terhitung Viko salah paham dan melarang Anya berbalas komentar lagi. Anya tak terima sebab dia merasa semuanya masih dalam batas wajar. Viko berang. Dia menjadi sangat curiga dan selalu mengecek ponsel Anya tiap kali mereka bertemu.

Baca Juga  Cerpen: Pesan Terakhir

Semua sedang baik-baik saja ketika Anya jatuh lagi. Giliran story Facebook Anya yang menuai amarah Viko. Padahal Anya cuma mengungkapkan kekesalannya atas akhlak seorang penulis yang ternyata berani memposting guyonan yang tak layak.

“Kamu mengagumi penulis itu? Perempuan atau laki-laki? Kamu suka sama dia? Sudah berapa lama saling berbalas komentar? Apa dia sudah berkeluarga? Apa dia tahu kamu suka? Kamu naksir dia?”

Itu adalah sebagian dari pertanyaan rutin yang keluar dari mulut Viko tiap kali dia marah dan cemburu. Kalau sudah begitu, masalah kecil bisa jadi selebar dunia, dan setiap gerakan Anya dianggap salah olehnya.

Anya tak pernah bisa melawan atau bahkan sekadar membela diri. Diam salah, menjawab pun apalagi. Semua itu berlangsung beberapa hari hingga Viko mereda sendiri, lalu meminta maaf tanpa menyadari Anya masih merasa lara.

Mengenai si penulis yang menjadi bahan pertengkaran ketigabelas mereka, Anya sampai ingin pergi dan kembali ke rumah ibunya, daripada hidup dikekang bak binatang peliharaan yang harus tetap berada di dalam sarang dan tak boleh “keluyuran” atau akan dianggap cari peluang.

Viko, duda anak tiga yang pekerja keras dan seakan tak punya waktu untuk berbasa-basi dengan apa yang Anya sukai itu, membuat Anya gamang dan menyesali apa yang telah terbuka dan tampak terlalu ekstrem untuk dilalui.

Anya ingin yang biasa saja, perhatian tapi tidak pemaksa, penyayang tapi tidak mengekang, dan selalu ada tapi bukan untuk memarahinya. Kegagalan membuat Anya ragu untuk mengiyakan pinangan Viko.

Bulan kelima dengan tiga belas pertengkaran, suasana yang hampir sama dengan masa lalu Anya. Bedanya, dulu Anya yang berada di posisi Viko, dan ayah Audrey benar-benar melakukan apa yang Anya tuduhkan, tak seperti Viko yang mengada-ada dan menganggap semua perempuan sama saja.

Viko kerap kali mengungkapkan bahwa dirinya trauma atas sikap wanita yang disayangi di depan tetapi main gila di belakang. Namun, Viko lupa bahwa Anya juga punya luka yang sama. Itulah yang Anya cemaskan. Jadi baby sitter untuk bayi besar bukanlah perkara mudah.

Baca Juga  Persahabatan Seorang Wizard

Kini Anya berada di sebuah persimpangan. Audrey sudah begitu lengket pada Viko. Viko yang merindukan sosok anak kecil pun sudah tak bisa melepaskan Audrey. Anak itu adalah obat rindunya pada anak-anak yang telah dewasa dan ikut ibunya.

Masih tentang si penulis yang Anya bilang tak ada hubungannya, Viko masih terus mempermasalahkan hingga hari kedua dan ketiga. Makin Anya meradang, makin Viko berang, seolah genderang perang terus bertalu dan enggan berhenti sebelum memakan korban.

Anya dan Viko adalah korban, sekaligus penyerang. Telah dua belas kali bertengkar dan selalu Anya yang mengalah memang membuat Viko lantas luluh dan meminta maaf. Setiap permintaan maaf mengandung hadiah, dan gelang emas yang melingkar di tangannya adalah satu dari semua yang Viko berikan.

Namun, Anya tak pernah senang dengan pemberian di ujung pertengkaran. Dia terbiasa mandiri dan mendapatkan uangnya sendiri. Kini, walau orang mengira Anya telah mendapat obat dari sakitnya selama ini, tetapi Anya tak ingin gegabah lalu gagal lagi. Dia tak suka mengalah, dia lebih suka mempertahankan kebenaran walau risikonya fatal.

Kali ini Anya sedang mempertimbangkan untuk mundur. Dia berpikir mungkin saja mantan istri Viko juga tak kuat menerima ikatan yang terlalu kencang, hingga hampir tak bisa napas dan akhirnya memilih lari.

Viko menelepon lagi, dan lagi-lagi Anya menolak. Lalu, seperti sebelum-sebelumnya, berondongan chat penuh tuduhan muncul dan semakin menyakiti hati Anya.

[Sedang asyik sama yang lain?]

Itu salah satunya. Salah dua dan salah tiganya tak kalah menusuk kalbu.

Anya megap-megap menahan emosi. Dia lelah meyakinkan Viko bahwa hanya laki-laki itu yang kini bertahta di hatinya. Tiap kali cemburu, Viko berubah menjadi lawan terberat yang sulit Anya hadapi. Laki-laki berperawakan nyaris tanpa cela itu tak seindah impian Anya.

Baca Juga  Aku Bukan Anak Durhaka

Telepon kembali berdering, kali ini tekad Anya sudah bulat. Dia enggan mengklarifikasi, hanya ingin pergi. Itu kata terakhir sebelum dia memblokir akses Viko. Hingga satu jam kemudian Anya tenang tanpa gangguan yang mengaduk-aduk emosinya.

“Malam ini semua harus berakhir, atau besok pagi aku lemah lagi,” kata Anya sambil berkemas sementara si kecil terlelap.

Anya dan dua kopernya telah siap di pekarangan. Audrey sudah berpindah ke dalam gendongan. Tinggal menunggu taksi online dan semuanya selesai. Namun, semua buyar ketika dia membuka pintu. Sosok tinggi besar itu sudah berdiri dengan gagahnya di depan sana. Dia mematung dan tak bersuara.

“Mau ke mana?” tanya Viko ketika Anya memilih untuk tak menggubris dan malah menyeret koper-kopernya ke luar.

“Cukup. Kalau tidak bisa percaya, sekuat apapun aku berusaha meyakinkan, kamu tetap tidak akan percaya.”

“Kamu yang sudah bikin aku tidak bisa percaya,” sahut Viko.

“Ya makanya, selesaikan saja. Bukan cuma kamu yang punya trauma. Aku pun. Dan aku sudah terlalu lelah untuk menyeriusi hal receh yang kamu buat,” ujar Anya.

Tiba-tiba Viko berlutut dan memegangi kaki Anya. Hari sudah cukup malam, sekitar jam sembilan, dan taksi online sebentar lagi datang.

“Jangan pergi,” pinta Viko.

“Terlambat. Sudah tiga belas kali sikap dan mulutmu menyakiti. Aku tidak akan sanggup jika ini terus terjadi. Maaf. Ini kunci rumahmu.”

“Tidakkah kamu mengerti bahwa semua ini aku lakukan karena rasa insecure yang menggunung di dalam sini?” kata Viko sambil menunjuk dadanya.

Anya bergeming.

“Kamu terlalu cantik dan terlalu banyak diingini, sejak dulu. Bahkan aku selalu kalah dari mereka yang salah satunya kamu pilih. Sekarang aku punya kesempatan walau belum pasti. Tidakkah akan kupertahankan milikku sampai mati?”

Taksi online datang, dan Anya menyeret kedua kopernya dengan tenaga penuh, lalu meminta tolong kepada sopir untuk meletakkannya di jok belakang. Dia pergi, meninggalkan Viko dan air mata yang menetes di pipinya. []

Bekasi, 22 Oktober 2022

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *