by

Persahabatan Seorang Wizard

Persahabatan Seorang Wizard

Oleh:

Adilah Larasati

Al bersiap dengan kapaknya, bersembunyi di semak belukar. Di hadapannya ada seekor beruang grizzly cokelat menjulang. Mata kelabu Al Chester berkilat-kilat penuh dendam.

Dia benci beruang.

Bukannya tanpa alasan, tetapi mengingat masa lalunya— berlumuran darah, kedua orangtuanya di tanah, tak lagi bernyawa, sementara hewan terkutuk itu menyambar kepala ibunya.

KRAUK.

Al menutup mata, mengatur deru pernapasannya.

‘Ini dia,’ bisiknya.

Dan dalam hitungan ketiga, ia menyerbu.

Tidak biasanya kawannya menyerang membabi buta begitu, pikir Adley. Entah atas faktor apa ia bertindak demikian. Yang jelas, Al kini tampak benar-benar bernafsu membunuh si beruang. Ayunan kapaknya membelah udara, menari-nari di padang rumput hijau diikuti oleh nyaring raungan si beruang.

Adley keluar dari persembunyiannya. Buku sihir miliknya mengambang beberapa senti di atas telapak tangannya, menguarkan aura biru tua neon berbentuk lingkaran dengan aksara kuno dan simbol-simbol arcana. Ia merapalkan mantra-mantra sebelum menyerang si beruang.

Tak perlu tunggu lama, tiga garis api muncul dari ujung jarinya, membakar si beruang cokelat yang kini merintih dalam kesakitan.

Sialnya, ia spontan berubah target.

Beruang itu tiba-tiba lebih tertarik pada Adley, berlari dan menerjang si wizard. Cakarnya yang panjang berhasil menebas kulit sang pria, meninggalkan tiga jalur panjang berdarah di perut Ad.

“Sial—” dalam kondisi terdesak, Adley mengeluarkan belati miliknya. Ia mengayunkan senjata tersebut, tetapi si beruang berhasil menepisnya.

Belati Ad terlempar dan jatuh dalam danau, menimbulkan suara ‘tring’ keras saat bilahnya bertabrakan dengan batu.

Al berdecak dari tempatnya berdiri. Ia mengangkat kapaknya lagi, hendak melancarkan serangan dari arah belakang. “I WOULD LIKE TO RAGE!” Teriaknya, sebelum berlari dan mengayunkan mata tombak kapaknya.

Baca Juga  Cerpen: Kamu Bukan Jodohku

Serangannya meleset.

Si beruang lagi-lagi memutuskan untuk menyerang Ad, kali ini dengan dua gigitan. Satu nyaris kena, satu lagi mengiris di bekas luka yang sama.

Adley terhenyak dan mundur. Ia meringis memegangi perutnya. Lukanya parah sekali.

“Cepat, obati lukamu sana!” Al kini berdiri di hadapan Ad, menghalau serangan si beruang. “Dan ambil belatimu. Akan aku bereskan si buas ini.”

Al berlari menjauh dari Adley selagi ia mengacungkan kapak, berteriak selagi memutar-mutar tombaknya di udara untuk mendistraksi si beruang.

Pria berjubah biru itu mengerang. Yang dilakukan Al Chester hanyalah mengulur-ulur waktu setidaknya sampai petang tiba. Apa bocah itu bahkan bisa bertahan sendirian? Dengan beruang sebesar itu, apakah kapak saja bakal mempan? Adley tertatih-tatih ke pinggir danau, mencelupkan tangannya ke dalam air dingin seraya sedikit meraba-raba. Ah, itu dia belatinya.

Diambilnya perban dan salep ajaib dari kantongnya, diolesnya salep ke bekas luka yang hampir mengoyak usus dan lambungnya. Adley menggigit perban dan menariknya sedikit sebelum memotong sisanya dengan belati.

Ia sudah baik-baik saja, setidaknya keadaannya tidak separah tadi. Lalu dimana Al? Kenapa sekarang semuanya senyap?

Adley memutuskan untuk bangkit dan menyusul barbarian itu, entah kemana. Ia melewati gerombolan pinus, mengikuti jejak-jejak pertarungan, lalu sampailah ia di lembah hijau yang melandai.

Al Chester, dengan kepala berdarah-darah dan lengan koyak bersandar di salah satu pohon. Ia tampak sama sekali tak bertenaga. Sekarat. Kapak miliknya terbengkalai beberapa meter jauhnya. Ia cuma berkedip lemah ketika si beruang membuka mulut lebar-lebar, hendak memangsa kepalanya.

‘Jadi seperti ini ya,’ Al berpikir, tepat di ambang kehidupan dan kematian. ‘Apa akhirnya aku akan menyusul mereka…?’

“ACID ARROWS!”

Panah hijau berkilau melesat pada si beruang dan menusuk punggungnya sebelum meledakkan cairan asam.

Baca Juga  Cerpen: Sebab Kamu Hanya Mencintainya

Hewan buas itu menggeram, fokusnya teralihkan pada si penyerang.

‘Belum mati juga..?’ Adley menyeringai, peluh menetes dari pelipisnya.

Si beruang turun dengan keempat kakinya, bersiap menyerang, tetapi Al yang sigap meraih kapak dan melemparkannya dengan segenap tenaga, menembus tepat di jantung sang beruang.

Lolongan keras menggaung di sepanjang lembah, burung-burung mengepakkan sayap dan terbang dari dahan-dahan pinus. Makhluk raksasa itu kemudian ambruk dengan dentuman keras di tanah.

“……”

“……”

Senyuman lebar nan miring menghiasi bibir Al. Diinjaknya mayat sang beruang penuh bangga selagi kedua tangannya berusaha mencabut kapak dari jantung si buas.

Adley ambruk di rerumputan, napasnya terengah-engah. Menggunakan sihir seperti tadi rupanya cukup menguras tenaga. “Aku tidak mengerti..,” katanya. “Sebegitunya kau membenci beruang?”

Al mengelap keringat yang dari tadi bercucuran, bercampur dengan darah. Kapak sudah berada dalam genggamannya. Ia yang tadinya sempat dipenuhi oleh ketakutan akan kematian, memori orang tuanya saat dicabik oleh taring binatang buas itu, kekhawatirannya kepada Ad yang tidak ingin dia akui, semua.

“Yeah, sangat benci.” Jawabnya singkat.

“…bukan ingatan yang baik, huh.” Adley menerka-nerka. Ia menatap langit biru yang mulai berubah oranye, meniup bunga dandelion yang baru saja dipetiknya dari tanah. “Hei, tiba-tiba aku teringat saat aku pergi dari rumah,” Dia mulai mencerocos. “Keadaannya sama seperti sekarang. Matahari tenggelam, burung-burung terbang ketakutan.”

“Yang kau dengar itu mungkin teriakanku,” celetuk Al sembarangan. Tumben saja dia bercanda disaat seperti ini.

“Nggak mungkin,” melihat keping-keping bunga dandelion terbang, Adley terkekeh mendengar pernyataan kawannya. “Tidak sedikitpun aku berada di sekitar tempat ini. Entahlah, bagaimana denganmu?”

“…Rumah yang dingin itu cuma satu-satunya tempat tinggalku. Aku nggak punya rumah lagi semisal… katakanlah, terbakar mungkin?” Al mulai meracau sembarangan lagi.

Baca Juga  SUDUT PANDANG BAHAGIA

“Kau punya banyak uang, bangun saja lagi satu.” Ad kemudian terdiam. Sesuatu terbetik di benaknya. “Ah ya, mengembara. Apa itu tidak pernah terlintas dalam pikiranmu? Banyak orang-orang luar biasa yang bisa kau temui sepanjang perjalanan. Beberapa mungkin akan jadi lawan, namun aku juga yakin kau akan mendapatkan lebih banyak kawan.”

“Aku sudah merasa cukup dengan rumahku yang sekarang,” Al menutup mata, merasakan angin dingin menerpa wajah dan rambutnya yang lepek karena darah dan keringat. “Bahan baku disini banyak, hutan dekat, rumah sudah sesuai 101 list rumah impian, hah!”

Ad mengangguk. “Itu adalah Valevila untukmu.”

Keheningan muncul, kali ini karena keduanya menatap langit dan awan. Memikirkan sesuatu, entah apa.

“Tapi ini saja tidak cukup,” Adley meneruskan. “Aku mendambakan petualangan, tantangan, dan marabahaya. Memang kedengaran agak gila.”

Al mengernyit, tetapi ia hanya mengembuskan napas pelan. “Yeah Burnette, yeah,” ia mengangguk lalu menunjuk pada Ad, senyuman meremehkan menghiasi bibirnya. “Tapi dengan lengan lembek yang tak mampu menghajar beruang itu, gimana bisa?”

Adley sontak terduduk dari posisinya. “Mi— apa kau bilang?!” Ia melotot, kemudian mendengus geli. “Dikatakan oleh seorang barbarian yang hampir kebunuh makhluk besar fluffy.

“Hah?!”

Lalu sepanjang petang, mereka saling hajar selagi ikatan persahabatan antara mereka mengerat.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment