by

Pejuang Garis Dua

Rasa sakit menjalari otot-otot perutku. Aku memejamkan mata erat, jemariku meremas seprei tempatku berbaring. Mencoba menahan diri untuk tidak mengaduh atau menjerit. Tangan kokoh itu terus bergerak menyusuri seputar perut, memutar, dan memijatnya.

Mama yang tak tahan melihat putrinya kesakitan memilih keluar kamar dan menunggu di ruang tamu. Setelah beberapa menit, prosesi mengerikan itu usai. Ibu tukang pijat masuk ke dalam rumah dan kembali dua meni,t kemudian dengan membawa sebungkus cairan berwarna kuning pekat. Dia mengulurkan minuman itu padaku.

“Nanti sampai rumah, jamunya diminum, ya,” pesannya.

Aku menerimanya dan mengangguk singkat. Tangan kami bersalaman dan aku menyelipkan sebuah amplop berwarna putih ke dalam telapak tangannya. Setelah berpamitan, aku dan mama pulang.

“Udah, nggak usah pijet lagi. Mama nggak tega lihat kamu dipijet kayak gitu,” komentar Mama begitu kami sudah berboncengan menuju jalan pulang.

Aku hanya diam dan patuh. Sudah dua kali kami ke rumah dukun bayi yang kata tetangga bisa membantu program hamil. Buktinya, anak tetangga kami akhirnya positif hamil. Menurutku, terlepas dari usahanya pijat ke dukun bayi atau yang lainnya, pasti karena dia memang sudah dipercaya menjaga amanah dari-Nya.
**

Di layar monitor USG, tampak segumpal benda kecil berbentuk bulat. Dokter laki-laki berkacamata dengan rambut penuh uban itu memberikan selamat. Ya, aku dinyatakan positif hamil beberapa pekan setelah menikah. Saat menikah, aku sedang haid dan kata orang-orang biasanya akan cepat “isi” ketika nikah dalam keadaan haid. Bergegas kutelepon suamiku untuk mengabarkan berita gembira ini.

“Mas, alhamdulillah aku positif hamil,” ujarku dengan bibir tak henti menyunggingkan senyum.

“Alhamdulillah, jadi sudah pasti, ya?” sahut suamiku tak kalah antusias. Sebelumnya, saat aku telat datang bulan, suami sampai membelikan tiga test pack yang berbeda untuk memastikan. Hasil yang muncul sama, dua garis merah. Agar lebih yakin lagi, aku mengecek ke dokter ditemani mama karena suami sedang bekerja.

Baca Juga  PUPUS

“Iya, Mas, sudah enam minggu.”

Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Beberapa hari berselang, kurasakan nyeri pada perut bagian bawah. Melilit menyakitkan. Lalu, seonggok organ berwarna merah kecokelatan luruh dari dalam rahim.

Janin itu kupandangi dengan perasaan remuk. Rasanya seperti kau baru saja jatuh dari ketinggian puluhan meter. Hatiku hancur berkeping-keping. Pandanganku mengabur, digantikan gerimis yang turun mulus membasahi pipi. Allah… Kenapa secepat itu kau ambil calon anak kami?

Suamiku mengusap-usap punggungku, mencoba menenangkan. Dia lantas merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Tangisanku malah semakin menjadi.

“Sabar, ya. Belum rezekinya.”

“Udah, nggak apa-apa. Nanti juga ada lagi. Mama dulu juga pernah keguguran, dua kali malah.” Mamaku ikut-ikutan menenangkan.
Dadaku berdebar tak beraturan. Keringat dingin mengucur membasahi kening. Kurasakan telapak tanganku juga berkeringat. Aku takut sekali. Setelah keguguran, bagaimana nanti jika aku harus kuret? Aku tidak mau.

Mama pun menyarankan agar aku minum jamu peluntur untuk membersihkan sisa-sisa darah dan janin.

“Mama dulu nggak kuret, nggak apa-apa. Udah, minum ini aja.”
Untuk memastikan rahimku sudah bersih dan tidak ada sisa-sisa darah akibat keguguran yang masih menempel, aku mengecek lewat USG ke lebih dari satu dokter kandungan. Alhamdulillah, dokter menyatakan bersih. Tapi kenapa aku belum hamil juga?
**

“Gimana, udah isi ta?” Pertanyaan basa-basi ini dilontarkan hampir setiap orang yang kutemui. Entah itu tetangga, kenalan atau yang lainnya.

“Masih nikmatin pacaran dulu,” sahut suami santai. Kami memang tidak pacaran sebelum menikah meski sudah cukup lama kenal. Suami adalah teman mengajar di sebuah sekolah Islam. Kurang dari tiga bulan setelah ta’aruf, kami resmi menjadi suami istri.

Baca Juga  5 Rekomendasi Novel Terbaik Karya Asma Nadia yang Wajib Dibaca!

“Mohon doanya, ya,” jawabku klise.

Lama kelamaan aku merasa muak dengan pertanyaan-pertanyaan terkait kapan punya anak. Butiran bening menitik dari sudut mataku setiap kali pertanyaan itu terulang. Hatiku seolah diremas-remas.

“Kenapa, sih, Mas, mereka selalu nanyain itu?” tanyaku teroris.

“Kamu yang sabar, ya. Kan banyak yang perhatian dan doain.” Suami masih tak terbawa perasaan dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

“Perhatian apanya!” dengusku sebal. Hellow… Kenapa tidak mereka urus saja urusan mereka sendiri? Jangan usil dan mau tahu urusan orang lain!

Mungkin maksud mereka hanya sekadar berbasa-basi. Tapi, tidakkah mereka menyadari bahwa keramahan mereka itu bagiku dan tidak pada tempatnya? Terlebih, ada satu orang tetangga desa yang selalu menanyakan pertanyaan yang sama setiap kali bertemu denganku di pasar. Wanita itu menanyakan, “Sudah isi belum?” serupa sapaan “Apa kabar?”

Puncaknya, dia mengoceh seperti ini, “Kok lama, sih? Udah berapa tahun, ya? Dulu aja saya cepet, habis nikah udah isi. Habis gitu lahiran lagi sampai anaknya banyak.” Dia tertawa cekikikan seolah tanpa dosa.

Ingin rasanya kuacak-acak mulutnya. Astagfirullahal adzim… Sabar, sabar!

“Habis nikah udah isi, Bu, tapi keguguran.” Jawaban ini menggantikan kekesalanku.

“Kalau keguguran biasanya kalau cepet ya cepet udah isi lagi. Kalau lama ya bisa lama. Mbaknya ini lama, lho. Udah tiga tahun.” Ya Allah, dia bahkan tahu berapa lama menanti hadirnya buah hati. Ingin rasanya aku enyah dari tempat ini, tapi penjual di depanku masih sibuk melayani pembeli. Aku harus antre dan terjebak melayani omongan ibu-ibu kurang kerjaan ini.

“Ya gimana lagi, Bu. Belum dikasih sama Allah. Mohon doanya saja,” pungkasku lantas melipir pergi sebelum cabai di mulutnya berubah menjadi sambal.
**

Baca Juga  7 Kalimat Sastrawi tentang Perempuan yang Indah

Dari satu dokter kandungan ke dokter kandungan lain kudatangi. Mulai dari yang praktik di rumah sakit hingga klinik pribadi. Ada dokter laki-laki dan dokter perempuan. Semuanya hanya untuk satu tujuan, punya keturunan. Sudah lebih dari seribu hari setelah kepergian calon anak yang kami beri nama Abdullah dan aku masih gagal move on. Rasa sesak selalu menyapa dadaku setiap kali melihat perempuan berperut buncit.

Kenapa dia gampang sekali punya anak? Bungsunya masih belum genap setahun dan sekarang sudah hamil lagi? Ya Allah, kenapa bukan aku yang hamil? Dan masih banyak pertanyaan demi pertanyaan lain yang kutemukan jawabannya di kemudian hari.

Hingga pada akhirnya seorang teman yang juga pejuang garis dua, merekomendasikan seorang dokter kandungan yang buka praktik di salah satu klinik di Surabaya. Katanya, baik suami maupun istri akan diperiksa oleh Pak Dokter.

Jadilah saya dan suami meluncur ke kliniknya. Saya menjelaskan padanya bahwa saya sudah pernah hamil tapi keguguran. Dokter tinggi, kurus, dan berkacamata itu pun memeriksa rahim saya. Setelah itu, saya diminta melakukan HSG dan suami disuruh analisis sperma. Setelah hasilnya keluar, Pak Dokter memberi resep untuk suami. Alhamdulillah, ikhtiar dan doa-doa kami akhirnya diijabah oleh Allah. Sebulan kemudian, dua garis merah menjadi kado terindah pernikahan kami. []

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *