by

Pak Kades, Rumi, dan Halusinasi Mak Narti

Pak Kades, Rumi, dan Halusinasi Mak Narti

Oleh:

Patria Praty Dhina

Telah puluhan malam Mak Narti terjaga. Ia mendapati dipan di sebelahnya kosong. Padahal jika Rumi ingin turun, setidaknya ia akan menyenggol kaki ibunya yang tidur di lantai, persis di sebelah dipan. Tak sempat berpikir panjang, Mak Narti berlari menuju kamar mandi tanpa mengeluarkan sebentuk suara, sebab Rumi bisa saja kabur melalui pintu belakang dan menghilang entah ke mana.

Dengan mengendap-endap, Mak Narti masuk ke kamar mandi. Ia melihat Rumi sedang berendam di bak berukuran 2×1 meter, hingga kepalanya yang tanpa sehelai rambut itu berada di bawah permukaan air. Mak Narti ikut menceburkan diri ke bak. Rumi terperanjat. Ia berusaha melarikan diri tetapi tertangkap oleh tangan ringkih Mak Narti.

“Rumi! Rumi! Ini Emak, Nduk. Tenang, ya. Tenang,” bujuk Mak Narti.

“Panaaas! Panaaas!” Rumi meronta dengan hebatnya di tengah kecipak air yang membasahi tembok berlumut.

Mak Narti memeluk Rumi dan membiarkan anak gadisnya menangis keras-keras. Ia mengerti, kebakaran hebat di pabrik tekstil tempat Rumi bekerja telah merusak permukaan kulit tubuh anaknya dari kepala hingga kaki, juga mengguncang jiwanya, apalagi wajah cantik Rumi kini jadi mengerikan.

“Tidak, Nduk. Sudah tidak panas. Tidak panas, ya. Sudah hilang apinya. Sudah selesai, ya. Sekarang Rumi ikut Emak. Emak akan jaga Rumi dari serigala jahat itu.”

Mak Narti terus mengusap tubuh kurus kering penuh keloid yang ia lihat, sudah tak malu telanjang bulat sejak ditemukan di area gudang yang merah membara, tiga bulan lalu. Rumi menggigil kedinginan, juga ketakutan. Pelan-pelan ia keluar dari bak. Lengannya dicengkeram erat oleh Mak Narti yang menyeimbangi gerakan Rumi dengan penuh kewaspadaan, sebab bisa saja Rumi histeris lagi lalu menceburkan diri ke danau. Itu yang Mak Narti takutkan.

Mak Narti membimbing Rumi masuk kamar, mengeringkan tubuh putri tunggalnya itu dengan handuk, lalu memakaikan daster tanpa celana dalam, sekadar menutupi aurat yang Rumi sudah lupa, sebagaimana ia lupa siapa dirinya. Yang Rumi ucapkan hanya kata “panas”, kadang dengan teriakan lantang, kadang berupa rintihan saja.

Baca Juga  Cerpen: Heal Me to be Myself

Mak Narti mengganti pakaiannya yang basah sambil tetap mengawasi Rumi. ‘Andai kamar ini punya pintu, mungkin aku tak akan secemas ini,’ gumamnya dalam hati. Ya. Pintu rumah wanita paruh baya itu hanya ada dua, di depan dan di belakang. Itu pun hanya dikunci selot dari dalam. Rumi yang katanya gila saja masih bisa membukanya. Sungguh tak aman, apalagi jika ditinggal pergi, pintu depannya hanya diganjal lipatan kertas.

Sebenarnya tak ada yang bisa diambil dari rumah berlantai tanah yang hampir rubuh itu. Mak Narti hanya punya dipan dan lemari pakaian, juga perabot untuk makan. Semuanya tak layak dicuri. Mak Narti hanya mempunyai seikat kayu bakar yang ia peroleh dari kebun untuk dijual ke pasar pada pagi-pagi buta, dan hasilnya ia pakai untuk mengepulkan asap di dapur.

“Tidur ya, Nduk, biar Emak bisa istirahat sebentar.”

Mak Narti mengusap kepala Rumi hingga gadis itu terlelap. Rasa kantuk juga menyergap tubuh lunglainya, hingga Mak Narti tak sempat lagi membaringkan tubuhnya di lantai beralas tikar pandan rombeng. Ia tertidur dalam posisi duduk.


“Astaga!”

Mak Narti terjaga lagi. Ia mendapati dipan di sebelah kanannya dalam keadaan kosong. Seperti puluhan malam sebelumnya, Mak Narti kembali tergopoh mencari keberadaan Rumi. Ada sebongkah lelah yang menghinggapi hati rapuhnya. Ingin sekali Mak Narti berkata “cukup”, tetapi lagi-lagi janda itu mendapati Rumi tak ada di sisi. Mau tak mau ia harus pergi ke kamar mandi sebagai tujuan pertama.

Rumi yang berada di dalam bak terperanjat. Ia menyadari kedatangan ibunya dan berusaha kabur dari sana. Mak Narti yang teramat penat lantas menghardiknya tanpa sengaja. “Rumi! Mau sampai kapan kamu merepotkan Emak? Kamu bisa mati kalau terus berendam di bak dan menenggelamkan kepalamu! Pakai sedikit otakmu untuk berpikir!” Kali itu Mak Narti tak bisa menahan diri.

Rumi ketakutan dan berlari menuju pintu belakang. Ia membuka kancing selot dan berbelok ke arah kebun. Mak Narti sadar akan bahaya yang mengintai anaknya, ia pun berusaha mengejar Rumi sebelum sang putri tiba di tepi danau—sebab Rumi tak pandai berenang.

Baca Juga  Hal Kecil yang Disepelekan

Di tengah pekatnya kegelapan malam dan dinginnya udara yang menusuk tulang, Mak Narti mengerahkan seluruh kekuatannya untuk berlari ke kebun belakang. Pikirnya, ia harus bisa menangkap Rumi, tetapi terlambat.

Byurr!


Pukul enam pagi, matahari belum lagi memunculkan bulatannya. Desa Bendul dikejutkan oleh penemuan sesosok mayat di danau. Warga sekitar tak berani bertindak sebelum melapor ke kantor desa. Bersama beberapa perangkat desa, warga saling membantu untuk menarik mayat yang berjenis kelamin wanita itu ke tepi.

“Ya Allah! Mak Narti! Itu Mak Narti! Kasihan sekali, belum empat puluh hari ditinggal Rumi, sekarang malah menyusulnya ke alam baka!” seru Minah, tetangga terdekatnya. Yang lain pun ikut histeris mengetahui sosok berpakaian kaus lengan panjang dan celana panjang hitam itu ternyata Mak Narti.

“Bagaimana mungkin Mak Narti bisa menceburkan diri ke danau? Kalian, kan, tetangganya, masakan sampai tidak tahu?” tanya Pak Kades.

“Sejak Rumi meninggal, beliau memang suka berhalusinasi, Pak. Merasa bahwa di rumahnya masih ada Rumi dengan tubuh penuh luka bakar dan selalu ingin menceburkan diri ke air karena kepanasan,” sahut Minah ketus. Yang lain mengiyakan dengan wajah penuh kesal terhadap penguasa yang kehadirannya kerap kali memancing emosi.

“Lho, kalian ini bagaimana? Sudah tahu ada tetangga yang dalam keadaan seperti itu, kok, tidak melapor?” Pak Kades meninggikan nada bicaranya.

“Sudah, Pak. Kami sudah melaporkan hal itu, tetapi tidak ada respons dari RT setempat,” keluh seorang warga sambil menyaksikan proses evakuasi yang masih berlangsung.

Pak Kades lantas menyuruh orang memanggil Kamto, RT yang bertugas di wilayah tempat tinggal Mak Narti. Ia memarahi Kamto di depan orang banyak, katanya, “Kalau tidak becus mengurus warga, lebih baik kamu mengundurkan diri saja!” omel Pak Kades di depan banyak orang.

Kamto menggamit lengan Pak Kades dan mengajaknya menyingkir dari situ, dengan diiringi oleh sungutan para warga yang lantas meneriaki Kamto hingga menyuruhnya mundur. Mata Pak Kades jelalatan, memastikan tak ada satu manusia pun pada radius dua meter dari tempat mereka berdiri.

Baca Juga  Cerpen: Hanya Uang

“Bagaimana?” tanya Pak Kades hati-hati.

“Aman, Bos. Memang sebaiknya begini, jadi kita tidak perlu pakai tangan sendiri, seperti saat kita melenyapkan Rumi dulu,” sahut Kamto. Matanya melirik licik pada pria bertubuh tambun yang menyandang gelar orang nomor satu di desa Bendul.

Satu sudut bibir Pak Kades melengkung ke atas. Ia mengingat kembali kejadian lima bulan lalu di hotel Mawar, di mana ia mendapatkan “daging segar” yang Kamto suguhkan atas perintahnya. Tidaklah ia sangka gadis itu berani buka mulut dan mengancam akan membeberkan kehamilannya jika Pak Kades tidak mau bertanggung jawab. Itulah yang menjadi penyebab terjadinya sebuah rekayasa jago merah di pabrik tekstil, tiga bulan lalu.

Ia yang merasa aman saat mengetahui Rumi mati, masih terus memikirkan kemungkinan kehancuran karirnya karena Mak Narti masih ada. Ia bahkan sempat membicarakan hal itu pada Kamto, si anjing peliharaan. Mujur baginya, Mak Narti juga mati, menyusul Rumi yang nyawanya melayang setelah tenggelam di bak kamar mandi.

“Bos. Anjing lapaaar. Butuh pengganti daging segaaar,” bisik Kamto setengah tertawa.

Pak Kades memandangi wajah culas berkumis tebal di hadapannya, lalu mengangguk-angguk sambil menyeringai. Seketika itu juga muncullah ide untuk melenyapkan Kamto juga. Saat Pak Kades mulai memikirkan caranya, melintaslah Minah dengan tatapan penuh kebencian.

“Kasihan Mak Narti. Dia dan anaknya jadi korban keserakahan serigala jahanam sampai harus kehilangan nyawa,” tandas Minah sambil melenggang.

Beberapa detik kemudian, Pak Kades sudah bisa mencerna apa arti ucapan Minah. Ia pun mulai memikirkan bagaimana cara melenyapkan dua nyawa sekaligus tanpa menggunakan kedua tangannya.

Bekasi, 10 Juni 2022

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment