by

Pak Abai Vs Bu Asih

Suara berisik nan memekakkan telinga kembali terdengar dari rumah tiga lantai bercat gading itu. Bersamaan dengan itu, tangis seorang bayi pecah. Merasa terusik dengan alunan musik dangdut yang disetel melebihi volume maksimal, seperti layaknya sedang hajatan.

Tak sekali ini saja Pak Abai tidak menghiraukan orang-orang di sekitarnya dengan menyetel musik bervolume ngeri. Hobinya mendendangkan lagu dangdut sembari berjoget bak orang mabuk. Di lain waktu, lelaki empat puluh tahun itu malah pernah menyetel musik dangdut keras-keras meski azan sudah berkumandang. Dia tak mematikan sound system jumbonya untuk menunggu azan selesai.

Lelaki berkumis itu juga gemar begadang di pos kamling dekat rumahnya dan menutup akses jalan yang melewati pos. Agar tak terganggu saat tengah asyik mendengarkan musik dangdut, sembari bermain kartu bersama beberapa kawan baiknya yang sama-sama berkelakuan sinting. Saat malam semakin larut, beberapa warga mendapati kawanan itu teler dan tertidur di pos kamling hingga fajar menyingsing.

Para tetangga sudah hafal kebiasaan Pak Abai yang tidak tahu tepo seliro itu, tapi tak ada yang berani menegur langsung. Mereka hanya kasak-kusuk membicarakan pria berkumis itu di belakang. Sebagian besar warga takut akan dipersulit urusannya, saat mengurus dokumen-dokumen penting yang membutuhkan tanda tangan ketua RW.

Apalagi warga miskin yang cuma bisa pasrah agar urusan terkait bantuan dari pemerintah lancar. Mereka menyesal menjadikan Pak Abai sebagai ketua RW, hanya karena iming-iming serangan fajar yang menggiurkan.

Obrolan para warga itu membuat Bu Asih geram. Kenapa orang-orang hanya kasak-kusuk dan tak ada yang menegurnya?

“Sudahlah, Bu. Biarin aja. Suka-suka dia.”

“Iya, Bu Asih. Jangan ikut campur, ntar dia ngamuk.”
Begitu kata tetangga-tetangganya.

“Ya nggak bisa gitu, Bu Ibu. Kalau orang salah itu harus diingetin. Kita ikut dosa kalau membiarkan kezaliman terjadi di depan mata,” sanggah Bu Asih.

Baca Juga  Tertarik Dengan Indahnya Puisi? Ini 9 Rekomendasi Buku Puisi Berbagai Genre

“Nanti Ibu nggak dapat BLT, loh.”

“Yang ngasih rezeki saya itu Allah, bukan dia.”

“Aduh, Bu. Mending cari amannya saja lah. Nggak usah aneh-aneh.”

“Saya nggak takut selama saya benar dan tidak menyalahi aturan moral, hukum, dan syariat.”

Ibu-ibu berbisik-bisik mengomentari keberanian Bu Asih. Ada yang bilang Bu Asih cari mati. Yang lain berkata Bu Asih sok-sokan jadi pahlawan.

“Siapa yang namanya Bu Asih?” Tiba-tiba Pak Abai dan dua orang laki-laki yang mengekornya bak pengawal muncul. Profesi Pak Abai sebagai juragan mebel berdompet tebal, menjadikan dagunya semakin mendongak dengan dada yang membusung saat berjalan. Wajah Pak Abai memerah dengan urat-urat leher yang menegang.

“Saya, Pak.” Bu Asih mengangkat tangannya.

“Ibu, ya, yang buka jalan depan pos kamling?” tanya Pak Abai dengan nada suara yang naik beberapa oktaf.

Ibu-ibu di belakang Bu Asih saling sikut dan mulai mundur teratur, khawatir pecah perang dunia ketiga. Seorang ibu berdaster motif bunga-bunga, bergegas memanggil suaminya dan beberapa orang lelaki yang tengah bercengkerama tak jauh dari situ. Berjaga-jaga jika keadaan menjadi gawat nantinya.

“Iya, Pak. Saya mau lewat, jadi saya buka jalannya,” jawab Bu Asih santai.

“Ibu berani, ya, buka jalan seenaknya. Saya ketua RW di sini, Bu.” Pak Abai menepuk-nepuk dadanya emosi.

“Saya buru-buru mau nganter anak saya lomba badminton, Pak.”

“Baru juga belajar badminton, udah sok-sokan. Ayo, sparing sama saya.” Pak Abai mengeluarkan dompet kulitnya yang berisi beberapa lembar rupiah bergambar Soekarno-Hatta dan tiga buah ATM.

Lelaki berkumis itu mengeluarkan sebuah ATM-nya. “Ini isinya seratus juta, kalau berani lawan saya.”

Bu Asih melongo. “Lha, ini kenapa malah ngajak tanding badminton. Yang dibahas apa, komentarnya apa,” batinnya.

Baca Juga  Cerpen: Menjadi Apapun

Bu Asih pun paham kalau Pak Abai tipikal orang yang selalu ingin menjadi nomor satu dalam segala hal. Tipe manusia yang haus akan sanjungan dan pujian, keras kepala, nggak mau kalah, dan maunya menang sendiri meski jelas-jelas salah. Wanita paruh baya itu memilih tak menanggapi topik melenceng yang baru saja dilontarkan Pak Abai.

“Pak, jalan dekat pos kamling itu kan jalanan umum, jadi wajar kalau saya buka. Soalnya kalau muter jauh.” Bu Asih kembali pada pembahasan awal mereka.

“Ibu harus menghargai orang lain!” sungut Pak Abai kesal sembari menunjuk-nunjuk muka Bu Asih.

“Lho, memangnya siapa yang tidak menghargai orang lain? Saya cuma mau lewat saja kok. Lewatnya juga permisi kalau ada orang.”

“Ibu tidak menghargai saya sebagai ketua RW!” teriak Pak Abai sembari berkacak pinggang.

Bu Asih mengernyitkan dahinya. “Kalau menurut Bapak saya tidak menghargai orang lain. Lalu, apakah menyetel musik keras-keras dan mengganggu tetangga itu termasuk tidak menghargai orang lain?” sindir Bu Asih berani.

Pak Abai membuang muka, salah tingkah. Dadanya berdentum-dentum hendak meledak. Dalam hati, Pak Abai berujar, “Asem, ini orang kurang ajar bener, berani-beraninya nantang.”

“Tidak ada yang merasa terganggu selama ini. Ibu saja yang tidak bisa tenggang rasa dengan kesenangan orang.” Kalimat ini muncul menggantikan. Pak Abai merasa harus tetap harus menjaga wibawanya sebagai ketua RW, apalagi banyak saksi mata di sana.

“Bukannya tidak ada yang merasa terganggu, tapi tidak ada yang berani ngomong. Coba Bapak tanya semua warga di sini untuk jujur, pasti mereka semua merasa terganggu.”

Bu Asih mengedarkan pandangannya ke semua tetangga yang berdiri terpaku dengan jarak lebih dari dua meter. Mereka semua hanya membisu sembari berdoa dalam hati agar tak ada korban dalam percekcokan ini.

Baca Juga  Review Novel The Prodigy: Saat Kamu Harus Siap Menerima Kenyataan yang Ada dalam Hidup

“Kalau Bapak senang musik, kan bisa menyetel musiknya cukup didengarkan telinga sendiri, ndak seperti orang kondangan. Ada bayi yang butuh ketenangan juga azan yang harus didengarkan dan dijawab. Satu lagi, menurut Bapak, apakah menutup jalanan umum untuk kepentingan pribadi itu termasuk tidak menghargai orang lain?” lanjut Bu Asih tenang.

Skakmat. Pak Abai seolah ditonjok tepat di wajahnya. Namun, bukan Pak Abai namanya kalau tidak songong dan sombong.

“Saya di sini sudah dua puluh tahun. Ibu baru dua minggu jadi warga sini sudah ngelunjak,” bentak Pak Abai dengan bola mata yang dibesar-besarkan. Kedua tangan Pak Abai mengepal kuat-kuat.
Seorang ibu berdaster mendorong suaminya untuk maju. Takut kalau Pak Abai akan melayangkan tinjunya di wajah Bu Asih. Namun, sang suami ciut nyalinya kalau harus berurusan dengan Pak Abai.

“Mau sudah lama di sini atau sebentar nggak ada hubungannya, Pak. Yang penting gimana kita bisa menghargai orang lain dan tenggang rasa pada tetangga. Sudahlah, saya cuma mau menyampaikan keluhan warga. Terserah Bapak sekarang, yang penting saya sudah mengingatkan,” tutup Bu Asih seraya berlalu pergi, mengayuh sepeda onthelnya menjauh.

Pak Abai mengumpat kasar. Dia menyisir sekeliling dengan pandangan murka. Kerumunan warga bubar seketika.

“Awas kamu, Sih!” bisik Pak Abai hampir tak terdengar. Urat-urat di lehernya semakin menegang. Kepalan tangan kanannya dia hantamkan ke tangan kiri berulang kali. Dalam benaknya, dia tengah menyusun rencana balas dendam untuk membuat wanita itu kapok dan tak lagi bermulut nyinyir. Kalau bisa sampai janda miskin itu berlutut memohon-mohon ampun dan bersimpuh di kakinya. []

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.