oleh

Pacarku Unik Banget!

Suara gedebuk dari arah depan kelas sontak mengundang berpasang-pasang mata untuk menatap. Gelak tawa seketika membahana di kelas 10F, terutama cewek-cewek yang tak suka dengan ketenaran Vika. Pasalnya, lagi dan lagi Vika tersandung. Kali itu gagang sapu yang melintang di depan kakinya yang jadi tersangka.

“Wah, artis 10F jatoh lagi aja lagi,” ucap Laily, cewek tinggi besar yang terkenal judes dan berani.

“Eh, iya, aku nggak lihat ini,” sahut Vika sambil mengangkat benda yang telah membuatnya tergelincir. Dia lantas bangkit sambil memunguti sekantong seblak kering yang buyar dari tangannya dan berceceran di lantai.

“Ih, lo bikin malu aja. Bisa-bisanya jatoh lagi. Kemarin kejedot pintu, sekarang kesandung. Lo itu cantik-cantik, kok, gagal fokus terus, sih. Jadi berantakan, kan,” ujar teman sebangku Vika sambil berkacak pinggang.

“Iya, maaf. Ini aku pungutin, kok.” Vika menggunakan sapu di tangannya untuk mengumpulkan ceceran kerupuk seblak.

“Cukup!” bentak suara berat dari arah pintu. Kontan ruang kelas menjadi senyap. Tanpa menoleh, mereka tahu siapa yang bicara.

“Siapa yang taruh sapu di sini? Cepat jawab sebelum gua tunjukin rekamannya di HP gua!”

Kasak-kusuk langsung terjadi. Beberapa saling senggol. Rico, sang ketua kelas menyapu pandangannya ke sekeliling. Matanya nyalang menahan emosi.

“Gua udah berkali-kali memperingatkan orang ini supaya nggak usil sama orang lain, terutama Vika. Tapi dia nggak pernah dengerin omongan gua. Cepat ngaku atau gua bikin lo malu di depan kelas!” Rico mengacungkan tangan kanannya yang sedang memegang ponsel.

“Heh! Lo pikir lo siapa? Nggak usah sok ngatur, deh. Lo cuma ketua kelas yang ditunjuk sama anak-anak. Jalanin aja kewajiban lo dengan benar!” Laily membentak balik dari tengah kerumunan.

Seisi kelas jadi ricuh. Ada pro dan kontra atas sikap Rico, juga Laily. Suasana jam istirahat pagi itu tampak semrawut dengan keributan yang tercipta karena Vika, cewek cantik yang wajahnya mirip Mawar de Jongh itu. Vika hanya bisa tertunduk malu dan mengutuki kecerobohannya.

Baca Juga  8 Keuntungan Ikut Lomba Menulis Cerpen bagi Penulis Pemula dan Profesional

“Lo nanya gua siapa? Lo bertanya-tanya?” ejek Rico.

“Iya, gua nanya! Siapa elo yang sok-sokan ngebela cewek aneh yang hobinya kesandung, kejedot, jatoh, ceroboh, nggak fokus, dan macam-macam keanehan lainnya?”

“Gua cowoknya Vika!” jawab Rico spontan.

Kelas pun hening dalam dua tiga detik untuk kemudian menjadi luar biasa heboh. Laily memekik sambil menutup mulutnya. Pasalnya cowok ganteng nan gagah dan berwibawa itu adalah incarannya sejak masa orientasi. Laily menggeleng cepat, sementara Vika mengangakan mulutnya.

“Lo udah gila, ya. Dasar cowok nggak peka! Percuma aja semua yang udah gua buat selama ini. Dasar batu, lo!”

“Memangnya lo ada berbuat apa lagi selain ngusilin Vika, hah? Gua udah tau kelakuan lo, dan gagang sapu ini emang sengaja lo taruh di dekat pintu supaya Vika kesandung,” kata Rico.

Laily menghentakkan kakinya ke lantai. Dia terdiam. Rico lantas mendekati Vika dan merangkul pundak cewek itu sambil memandang ke sekelilingnya.

“Mulai hari ini, gua adalah cowoknya Vika,” ucap Rico mantap.

Sorak gembira dari belasan remaja berseragam putih abu-abu terdengar menggema hingga ke kelas-kelas lain. Sebagian dari mereka menghampiri sumber keramaian dan mengintip dari depan pintu, juga jendela, seolah sedang menonton sebuah pertunjukan.

“Ta–tapi, Rico … apa kamu serius sama ucapan kamu?” tanya Vika ragu. Cewek itu tak berani menatap Rico.

“Kenapa? Apa kamu nggak mau jadi cewekku?” tanya Rico, sedikit cemas.

Vika terdiam sesaat. Dia tertunduk. Kelas kembali hening. “Iya, aku mau,” jawabnya kemudian.

Sorak gembira kembali menggema, kali ini yang di depan pintu dan jendela pun ikut berteriak sehingga kabar jadiannya Rico dan Vika begitu cepat merebak ke seantero sekolah.

“Diam lo semua!” bentak Laily pada anak-anak satu kelas. Dia lantas mendekati Rico yang kini memeluk pinggang ramping Vika. “Lo nggak lagi ngigo, kan?” tanyanya dengan wajah penuh kekecewaan.

Baca Juga  Cerpen: Misteri Hutan Terlarang

“Ya enggak, lah. Lo lihat sendiri, kan, gua nggak lagi tidur?” sahut Rico. Riuh rendah kembali terdengar.

“Nggak nyangka, ya, selera lo payah banget. Cewek nggak bisa ngomong R aja lo pacarin. Eh! Masih banyak cewek normal yang suka sama lo, kali!” Laily menunjuk dada Rico, lalu pergi meninggalkan kelas.

Anak-anak menyoraki Laily. Banyak yang akhirnya mengakui sikap Laily yang tidak terpuji. Satu per satu pun akhirnya meninggalkan kerumunan. Ada yang memberikan ucapan selamat, ada juga yang meledek. Beberapa cewek tampak kecewa. Rico pun mengajak Vika pergi ke kantin.

“Jadi kita pacaran?” tanya Vika pada cowok yang menggandeng tangannya sementara menyusuri koridor menuju kantin depan.

“Menurut kamu?” Rico melirik cewek setinggi pundaknya.

Vika tersipu. Dia melempar pandangannya ke sebelah kiri, menghindari tatapan Rico yang setajam ujung tombak.

“Aku nggak nyangka kamu mau sama aku yang banyak kekurangan gini. Ngomong R aja nggak bisa,” ujar Vika ketika mereka sudah duduk berhadapan.

“Udah, jangan dengerin kata Laily. Kamu itu unik, juga cantik. Aku udah lama suka sama kamu, sejak pertama kali ngeh ada kamu di kelas 10F.”

Vika tersipu. Sungguh tidak dia sangka, cowok seganteng Rangga Azof kini menjadi pacarnya. Dua mangkuk bakso dan dua gelas es teh manis menjadi saksi jadiannya sepasang remaja di SMA 1 Bekasi.

“Oh, ya, Rico,” sapa Vika.

“Loh. Kok, masih panggil nama?” protes Rico.

Pipi Vika merona. “Emang, harusnya panggil apa?” pancingnya.

“Terserah. Ayank, beb, ay, yank, atau sayang, atau papa juga boleh,” sahut Rico sambil tersenyum nakal.

“Sayang aja, deh,” sahut Vika malu-malu.

Rico setuju. Dia lantas bertanya ada apa Vika memanggilnya. Ternyata Vika ingin tahu tentang video yang Rico maksudkan ketika memarahi Laily tadi. Rico pun bilang bahwa semua itu hanyalah rekaan semata. Dia lantas bercerita tentang kegerahannya selama ini melihat tingkah Laily yang seolah tak pernah lelah meneror Vika, dan dia ingin menjadi pelindung cewek lugu itu.

Baca Juga  Titik Terendah

Rico menghentikan bicaranya. Dia menatap Vika yang senyum-senyum sendiri melihat candaan teman-teman di meja sebelah. Rico manggut-manggut, lalu memanggil nama Vika. Vika tampak terkejut seolah baru kembali dari lamunan yang begitu dalam.

“Kamu nggak nyimak omongan aku, ya?” tanya Rico lembut.

“Eh, iya. Aku nyimak, kok. Cuma tadi di sebelah rame banget, aku jadi nengok.” Vika menyesali kelakuannya.

“Iya, nggak apa-apa. Kakak perempuanku juga kayak kamu,” ujar Rico setelah menyelesaikan suapan terakhirnya.

Vika terperanjat. Saat itu juga dia takut kehilangan Rico. Di tengah rasa bimbang, Vika memilih untuk mengakui kondisinya.

“Apa kakak kamu juga ADHD kayak aku? Maaf, aku didiagnosa ADHD sejak umur tiga tahun,” ujar Vika hati-hati.

Rico menyedot tehnya. “Iya. Persis. Kakakku juga ADHD. Dia juga sering nggak fokus, pelupa, suka bertindak tanpa berpikir panjang, kadang ceroboh juga. Dan yang paling mirip sama kamu, kalau duduk nggak bisa diam. Entah tangan entah kaki, di pasti goyang-goyang.”

“Hah? Aduh! Iyaa, maaf!” seru Vika spontan sambil menutup wajahnya, sebab pijakan kaki meja kantin bergetar akibat ulahnya.

Rico terkekeh. “Tapi dia pintar bahasa Inggris, sama kayak kamu, makanya aku suka banget lihat kamu, kayak nggak asing aja buat aku.”

“Wah, kok, bisa sama gitu, ya?” tanya Vika.

“Iya. Makanya aku bisa tau banyak tentang kamu. Eh, betewe udah ngerjain PR bahasa Inggris belum? Kalau belum, buruan balik kelas, yuk. Mumpung masih ada waktu,” saran Rico.

Vika bengong sebentar. “Ya ampun! Halaman enam dua, ya? Belum!”

Vika berlari secepat kilat tanpa mempedulikan teriakan Rico yang menyusulnya dari belakang. Vika tersadar dan berbalik arah, lalu mengambil tangan Rico dan menggeretnya.

Rico tergelak. “pacarku unik banget, ya ampun!”

Bekasi, 20 Desember 2022

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *