by

Odong-Odong Terbang ke Kahyangan

Tole mengusap bahu neneknya dengan lembut. “Terus gimana, Mbah?” bisiknya.

Si Mbah tidak menyahut. Kelopak matanya terkatup. Beberapa saat lalu, si Mbah tengah bercerita tentang seorang pemuda yang mencuri selendang bidadari. Suaranya lama-lama menghilang kemudian berganti dengan bunyi dengkuran. Ia terlelap sebelum Tole mendengar akhir kisah mereka.

Tole mengguncangkan bahu si Mbah, kali ini sedikit lebih kuat. Si Mbah tergeragap. Ia menggumamkan kata-kata yang tidak Tole mengerti, seperti sedang berkumur-kumur. Ketika Tole mengajaknya bicara, si Mbah kembali mendengkur.

Rahang si Mbah tidak menutup sempurna. Tole mengintip ke dalam rongga mulutnya. Lagu ‘Burung Kakatua’ tiba-tiba terngiang di telinga Tole.

Burung Kakatua, hinggap di jendela. Nenek sudah tua, giginya tinggal dua… Trek dung, trek dung, Trek dung lalala… Burung Kakatua…

Seperti siang-siang sebelumnya, si Mbah menceritakan kisah itu supaya Tole mau tidur. Seperti siang-siang sebelumnya pula, si Mbah terlelap hampir di pengujung cerita. Sampai pada bagian, sang Bidadari kembali ke kahyangan setelah ia menemukan selendangnya yang dulu hilang.

Ruang sempit itu terisi suara dengkuran si Mbah.

Tole mencoba untuk tidur. Udara tengah hari bolong membuat tubuhnya seperti cacing kepanasan. Entah karena atap seng yang menaungi kontrakan; ataukah karena kasur murahan yang Bapak beli dari pedagang keliling. Tole merasa seperti sedang tiduran di dekat nyala kompor. Punggungnya basah oleh keringat. Ia iri melihat si Mbah bisa tidur dengan nyenyak.

Bapak Tole bekerja mengaduk pasir dan semen menjadi bubur untuk merekatkan batu bata. Tak heran apabila tangannya kasar dan kapalan. Setiap malam, Bapak mengusap-usap punggung Tole dengan telapak tangannya yang kasar dan kapalan hingga Tole tertidur.

Bapak tidak pandai bercerita. Jangankan bercerita, berbicara pun suaranya tersendat-sendat. Itu sungguh tak masalah bagi Tole. Usapan tangan Bapak malah lebih manjur daripada dongeng si Mbah. Bapak tak pernah gagal mengantarkannya pergi ke alam mimpi.

Baca Juga  Pohon Jambu yang Patah Hati

Selama Bapak pergi bekerja, Tole berada di rumah bersama si Mbah. Seringkali si Mbah-lah yang berada di rumah, sementara ia keluyuran ke mana-mana. Si Mbah tak pernah melarangnya bermain, asalkan menjelang tengah hari ia sudah pulang untuk tidur siang.

Si Mbah menuturkan kisah pengantar tidur yang itu-itu saja. Tole sudah hafal jalan ceritanya, namun ia tetap menyimak penuh perhatian. Hanya saja, si Mbah selalu ketiduran sebelum tiba di akhir cerita.

Tole tidak pernah bisa memejamkan mata. Sepanjang siang, ia memandangi foto usang Ibu sampai ia merasa jenuh. Foto itu satu-satunya harta berharga milik keluarga Tole.

Tole pernah bertanya kepada Bapak, di mana Ibu berada. Bapak menjawab dengan tergagap, “Sur-sur-sur…”

“Surau!” tebak Tole.

Bapak menggeleng.

“Sur-sur-sur…”

“Surabaya!” celetuk Tole. Ia teringat lagu Naik Kereta Api.

“Sur-sur-surga!” Kali ini Bapak berucap lebih cepat. Ia mengucapkan kata surga sambil menerawang langit-langit.

Tole curiga Bapak mengarang cerita.

Si Mbah tidak pernah mau menjawab tiap kali Tole bertanya Ibu ada di mana.

Diam-diam Tole memperhatikan, satu-satunya dongeng yang si Mbah tahu hanyalah kisah tentang seorang pemuda desa yang mencuri selendang bidadari. Tole menduga kisah tersebut ada hubungannya dengan Ibu. Mungkin Ibu adalah bidadari itu.

Ibu berhasil menemukan selendangnya kemudian kembali ke kahyangan. Kahyangan ada di langit. Cocok dengan jawaban Bapak, saat berkata Ibu berada di surga sambil menerawang langit-langit. Tole yakin kalau kahyangan dan surga adalah tempat yang sama.

Tole menyesali tindakan Bapak yang kurang rapi menyembunyikan selendang. Andai selendang itu masih tersimpan, mungkin Ibu masih ada di sini, tidak pergi ke tempat asalnya di kahyangan. Andai selendang itu masih ada, Tole tentu masih punya Ibu.

Bunyi musik dari luar menyela suara dengkuran si Mbah. Tole berjinjit, mengintip dari balik jendela.

Sepasang odong-odong parkir di depan kontrakan. Odong-odong yang di depan sudah sarat penumpang. Odong-odong satunya masih menunggu kursi-kursi kosong terisi. Sambil menunggu, Pak Sopir menyetel lagu Balonku dengan volume tinggi.

Baca Juga  Cerpen: Misteri Hutan Terlarang

Tole memperhatikan mata si Mbah yang tampak segaris. Ia menjulurkan lidah, memastikan neneknya tidak berpura-pura tidur. Apabila sedang terjaga, si Mbah bakal marah besar jika Tole berani melakukan itu di depan mukanya.

Karena si Mbah diam saja, Tole berjingkat-jingkat menuju lemari pakaian. Ia membuka laci dengan sangat hati-hati. Laci lemari adalah peti harta karun si Mbah. Ia biasa menimbun uang sisa-sisa belanja di dalamnya. Lembaran dua ribuan lusuh berjejalan. Tole meraup beberapa lembar sambil tersenyum girang.

Tole duduk di kursi odong-odong paling belakang. Suara jug-gejak-gejuk-gejak-gejuk kereta api terdengar dari kejauhan. Tole menyimak suara si Ular Besi sembari menunggu dua kursi di sebelahnya terisi.

Untunglah Tole tak harus menunggu lama. Seorang ibu dan anak perempuannya membuat Pak Sopir menyalakan mesin kendaraan. Odong-odong siap bertualang: menyusuri jalan, melewari rumah-rumah yang berdesakan, menyeberangi jembatan, melintasi rel kereta api, memasuki gang sempit lalu mengantarkan Tole pulang.

Tole bertepuk tangan riang. Odong-odong mulai melaju.

Angin menggeletik wajah Tole. Rasa tergelitik mengingatkan Tole kepada laki-laki yang pernah tinggal di kontrakan sebelah. Laki-laki itu berjanji akan memberikan uang sepuluh ribu asalkan ia boleh mengelitiki Tole.

Hari itu Tole kaya raya. Ia punya uang sepuluh ribu dalam saku celananya. Ia bisa makan es krim sambil naik odong-odong. Namun, hari itu kursi odong-odong seperti ada pakunya. Tole tak bisa duduk dengan nyaman.

Malam harinya, Tole tak bisa tidur. Bapak mengusap-usap wajah Tole, menghapus tiap butiran air mata yang menetes di pipinya. Tangan Bapak kasar dan kapalan namun Tole merasa nyaman. Ia jatuh tertidur dan lupa akan rasa nyeri akibat paku hantu di kursi odong-odong.

Laki-laki di kontrakan sebelah—tiba-tiba pindah rumah. Tole tak pernah melihatnya lagi.

Belaian angin semakin terasa. Wajah laki-laki itu kian nyata tergambar di pelupuk mata Tole.

Baca Juga  The Antagonist

Tole menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangan.

Anak perempuan di sebelah Tole menoleh dengan wajah iba. “Jangan takut,” ia berbisik, “Makin ngebut makin asyik!”

Tole mengintip dari antara sela-sela jari. Rel kereta api membentang di kejauhan. Odong-odong yang di depan sudah melintasi jalur lalu-lalang si Ular Besi.

Terdengar Pak Sopir mengeluh. Ia berkata kepada para penumpang kalau odong-odong yang di depan melaju terlampau cepat. Mereka tertinggal jauh. Mestinya, sepasang odong-odong itu berjalan beriringan. Pak Sopir bertekad untuk menyusul meski klakson kereta api sudah menyalak galak.

Sepanjang jalan penuju perlintasan si Ular Besi, orang-orang berseru ke arah odong-odong yang Tole tumpangi. Suara mereka terbawa angin. Tole hanya menangkap kata-kata “berhenti” dan “mau lewat”. Siapa yang mau lewat?

Tole menurunkan telapak tangan. Ia melihat ada lengkung pelangi di langit. Bidadari-bidadari main seluncuran pelangi. Mereka melambaikan tangan ke arah Tole.

“Toleeee…!”

Suara para bidadari melengking mirip klakson kereta api.

Tole terperenyak saat odong-odong berguncang hebat. Roda-rodanya terangkat ke udara.

Malam tadi, Tole memaksa si Mbah menuntaskan ceritanya. Si Mbah bilang, sang Bidadari  meninggalkan suami dan anaknya untuk kembali ke kahyangan. Akan tetapi, suatu hari nanti ia akan datang untuk menjenguk si buah hati.

Tole benar-benar yakin sekarang. Ibu adalah bidadari. Ia datang untuk mengajaknya pergi ke kahyangan.

Dalam hati, Tole menduga-duga, barangkali ibunya bidadari dengan selendang merah, atau mungkin jingga, atau kuning atau hijau atau biru atau nila atau ungu. Mereka semua serupa. Tole rela, yang mana pun ibunya.

Tole celingak-celinguk. Entah di mana penumpang lain. Ia merasa seorang diri.

Odong-odong terbang ke langit. Para bidadari mengiringi di kanan dan kiri. Mereka mengapung sambil melambaikan selendang seperti sedang menari.

Tole teringat sesuatu. Buru-buru ia merogoh saku baju. Wajahnya mendadak pucat. Foto Ibu terbawa olehnya. ***

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.