by

Cerpen: Miss You Too

Kaca di hadapanku mengembun, mungkin karena hawa dingin yang menyeruak dari segala penjuru. Titik-titik hujan dengan derasnya jatuh mengenai kaca dan rerumputan yang ada di pekarangan. Sesekali kilat dan suara menggelegar memecah kesunyian. Aku selalu senang ketika hujan datang. Bukankah doa yang mustajab salah satunya adalah ketika hujan turun? Yah, hujan selalu menyenangkan bagiku meskipun aku tak bisa tersentuh olehnya.

“Umi!” aku membalikkan badan, menyipitkan sedikit mataku.

“Kau terbangung, Sayang?” tangan mungil seseorang menjulur, memintaku untuk segera meraihnya. Aku tersenyum melihat tangan mungil itu mengusap-usap mata yang masih terlihat begitu mengantuk. Sepertinya suara petir di luar mengusik tidur buah hatiku.

Maapin Patih, Umi!” aku mengerutkan kening.

“Loh, kok minta maaf Sayang? Memangnya Fatih salah?” jawabku sambil membaringkan Fatih di tempat tidur. Wajahnya masih saja sendu, membuatku penasaran dengan apa yang dipikirkan anak berusia 4 tahun ini.

“Patih salah Umi!” ucapnya sesaat ketika kepala kecilnya mendarat di atas bantal putih bermotif polkadot biru muda di tengah-tengah tempat tidur.

“Oh ya?” tanyaku sambil mengelus puncak kepalanya. Dia mengangguk lemah.

“Boleh Umi tau salah Fatih apa?” kulihat matanya mengerjap, menatap langit-langit kamar. Aku tersenyum kecil memandang tingkahnya.

“Fatih dan Abi tidak merahasiakan sesuatu pada Umi kan, Sayang?” tanyaku memancing.

“Ssssssst!” Fatih meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.

“Jadi bener?” tanyaku memastikan.

“Benel tata Abi, culit cimpan lahacia dali Umi!” ucap Fatih dengan gaya cadelnya. Aku tertawa kecil menanggapi ucapannya.

“Abi ngomong gitu?” Fatih mengangguk cepat.

“Abi bilang Patih haluc jagain Umi talo Abi tidaa di lumah.” Fatih memanyunkan bibir kecilnya.

“Telus tadi Patih bobo. Jadi Patih gaa jagain Umi. Umi tan tatut petil. Maapin Patih yaa Umi.” aku menghela nafas kecil, menarik Fatih dalam pelukanku.

“Tentu saja Umi memaafkan, Sayang,” Fatih menarik kepalanya, menatapku dengan mata berbinar.

“Benal Umi?”

“Tentu saja.”

“Abi?”

“Kenapa dengan Abi?”

“Umi maapin Abi juga?” Apakah pria itu membuat perjanjian aneh dengan anak berusia 4 tahun ini? Bagaimana bisa dia melakukan itu? Fiuh, aku masih tidak mengerti bagaimana jalan pikirnya.

“Umi?” suara kecil Fatih kembali membuyarkan lamunanku. Tentu saja anak ini tidak akan berhenti sebelum mendengar jawaban.

“Umi akan pikirkan!”

“Umi gaa maapin Abi?” aku mengelus pipi tembemnya. Sama seperti Abinya dulu, suka sekali bertanya hingga membuatku pusing memikirkan jawaban.

“Maaf itu terkadang tidak perlu diucapkan Sayang, tapi berada di sini!” aku menunjuk dada kecil Fatih yang diikuti mata kecilnya yang tampak bingung.

“Di dalam sini ada hati, di sana maaf itu berasal.”

“Hati itu aapa Umi?” sudah kuduga pertanyaan baru akan muncul.

“Fatih kalo ketemu sama temen-temen di sekolah rasanya gimana?” Fatih memain-mainkan jemarinya di pelipis, pertanda dia sedang berpikir keras.

“Celu Umi. Fatih ceneeeng banyaa temen.” Aku menoel hidung kecilnya.

“Nah, rasa seneeeeng itu ada di hati, Sayang. Di dalam dada Fatih!” kulihat kening Fatihku berkerut. Sepertinya dia belum puas dengan jawaban yang kuberikan.

“Baiklah akan Umi jelaskan lagi. Jadi, di dalam hati bukan hanya ada rasa seneeeng. Tapi juga ada rasa marah, benci, sayang, cinta, bahagia. Semua hal yang Fatih rasakan saat bermain, saat berlari, saat tertawa, saat menangis, saat tersenyum, saat takut, semuanya berasal dari hati, Sayang. Apakah sekarang Fatih mengerti?” kulihat anggukan cepat darinya.

“Hati kelja kelac yaa Umi!” aku tersenyum menanggapinya. Belum terpikir jawaban apa yang harus aku berikan.

“Umi…Umi…celita dong!”

“Cerita apa, Sayang?” tanganku masih terus mengelus lembut puncak kepalanya. Hal yang paling Fatih suka, dia akan tertidur seperti biasa tapi entahlah kali ini mengapa mata kecilnya belum juga terpejam? Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Mungkin sebentar lagi dia akan tertidur.

“Celita Abi!” jawabnya bersemangat.

“Cerita Abi? Seperti apa sayang?”

“Tata temen Patih, Abi hebat Umi!”

“Hebat?” tanyaku lagi, memastikan pertanyaan apa yang akan diajukannya kali ini.

“Abi cembuin banyaa olang. Temen-temen Patih bilang Abi hebat. Hebat itu apa Umi?” aku menepuk-nepuk pundak Fatih berharap dia segera tidur tapi sepertinya tidak begitu, berkali-kali matanya mengerjap-ngerjap memandangiku, menunggu jawaban.

“Hmmmmm. Hebat yah?” Fatih mengangguk sangat cepat, membuat rambutnya yang tertata rapi berhamburan. Aku tak bisa menyembunyikan senyum di wajahku, memandang wajahnya yang penuh dengan rasa ingin tahu.

“Fatih mau mendengarkan cerita Umi? Sepertinya cerita Umi cukup panjang.”

“Patih udah bobo Umi, jadi Patih punya banyaa waatu untuu dengal.” Aku cukup kaget mendengar jawabannya kali ini.

“Darimana Fatih belajar mengucapkan kata-kata itu, Sayang?”

“Abi!” sudah kuduga.

“Ayo celita Umi!” baiklah, sepertinya usahaku untuk membuatnya tidur sama sekali tidak berpengaruh. Justru mata kecilnya membulat sempurna, menantiku untuk bersuara. Padahal hujan di luar semakin deras dan semakin sering suara petir menyambar dan menyisakan getar-getar kecil pada dinding rumah.

Baca Juga  Cerpen: Janturan Kehidupan Manusia

“Baiklah Umi akan cerita tentang kehebatan Abi dan Fatih harus berjanji tidak akan menceritakannya pada Abi, bagaimana?” fiuuh, bagaimana bisa aku bernego dengan anakku sendiri. Yah, karena memang aku tak ingin ayahnya tau apa yang aku simpan selama ini. Bukan, bukan karena aku tak ingin dia tahu, hanya saja mungkin tidak untuk sekarang.

“Napa Umi?” Fatihku selalu suka menunggu jawaban dengan cara seperti itu, bertanya tanpa henti.

“Nanti di suatu hari Umi pasti akan cerita Sayang, tapi tidak sekarang. Bukankah Fatih mau mendengarkan cerita tentang kehebatan Abi?” Fatih mengangguk, mengapa anak ini senang sekali mengangguk. Jemariku mengelus pipi putihnya, membuat Fatihku tersenyum.

“Ayo Umi celita!” rajuknya sambil menarik-narik mukena yang masih aku kenakan usai sholat tadi.

“Baiklah. Umi akan mulai ceritanya.” aku menarik nafas pelan memotong sejenak cerita yang baru akan dimulai, jantungku entah mengapa berdebar begitu keras. Mungkin karena aku sedang mengumpulkan semua memoriku yang telah lalu, tentang sosoknya yang merupakan bagian dari hidupku yang begitu berharga.

Entah mengapa perasaan ini hadir kembali, rasa yang membuatku seakan berada pada dimensi waktu yang berbeda. Juga rasa sesak yang hinggap membuat mataku tiba-tiba memanas namun sentuhan kecil di jemariku membuat kesadaranku kembali, kulihat senyum manis Fatihku begitu mirip dengan senyumnya, suamiku.

“Kehebatan Abi adalah ketika suatu hari dia berlari di bawah hujan. Saat itu, Umi akan melahirkanmu, Sayang. Abimu sedang berada di rumah sakit saat itu, dan Umi menghubunginya ketika perut Umi terasa mules, sepertinya kau sedang meninju keras perut Umi!” Fatih mengerutkan dahinya aku tertawa kecil melihat ekpresi terkejutnya.

“Patih buat Umi catit?”

“Tidak Sayang, tapi kau yang membuat Umi semakin kuat menunggu kedatangan Abimu. Jalanan macet pada saat itu, ditambah dengan hujan yang semakin deras. Umi bersyukur bidan yang memang menangani Umi tinggal dekat dengan rumah kita dan segera mempersiapkan perlengkapan untuk bersalin. Abimu bersikeras segera pulang meskipun Umi sudah melarangnya karena pasien di rumah sakit pasti lebih membutuhkannya.”

“Kemacetan begitu panjang meskipun hari sudah malam. Umi dapat mendengar semua kekhawatiran Abimu. Hingga dia mengambil keputusan untuk berlari sejauh kurang lebih 3 km. Hujan saat itu sangat deras, Umi dapat mendengar setiap tetesnya dengan begitu baik bersamaan dengan suara Abi yang kian melemah.

Umi khawatir terjadi sesuatu pada Abimu, namun justru Abi lebih mengkhawatirkan Umi. Kau tahu? mungkin pada saat itu engkau ingin merasakan kehadiran Abi, karena sudah sekitar 2 jam lebih kau masih saja belum keluar dari perut Umi, namun hanya dalam hitungan menit saat Abimu datang dan mengecup kening Umi, kemudian menggenggam tangan Umi kau menendang berkali-kali hingga sakit yang Umi rasakan tak dapat Umi ungkapkan dengan kata-kata…”

“Telus Patih nangic yaa Umi, oee oee gitu?” aku tertawa mendengar ucapannya.

“Yah, suaramu sangat nyaring, Sayang. Membuat semua sakit yang Umi rasakan menguap, menghilang seakan tidak berbekas. Abimu terus menggenggam tangan Umi tanpa sedetikpun terlepas sejak ia datang. Bahkan kemeja Abi masih meneteskan air hujan yang membasahi seluruh tubuhnya. Namun Abi tak ingin beranjak sebelum melihatmu, memegangmu dan menggendongmu, Sayang.”

“Saat itu Umi melihat wajah Abi yang begitu ceria memandangmu. Seakan tidak pernah berlari, seakan tidak pernah merasakan lelah, seakan tidak pernah merasa kedinginan. Abimu hebat dengan tekadnya untuk mendampingi Umi saat melahirkanmu. Meskipun Abi memiliki banyak pilihan yang tak perlu membuatnya merasa lelah, pilihan yang mungkin bisa Abi pilih tanpa harus berkorban. Tapi Abimu adalah pria yang hidup dalam perjuangan dan pengorbanan yang begitu hebat bagi Umi, bahkan sangat hebat.”

Sejenak aku terdiam, mengingat bagaimana satu kalimat itu meluncur begitu saja dari lisanku. “Aku menyayangimu dan juga anak kita.” Aku ingat sekali raut wajahnya, binar kebahagiaan yang tak dapat terlukis dan aku kembali melihat tangis itu untuk kedua kalinya dalam hidupku bersamanya sejak ijab kabul. Sebuah tangis kebahagiaan.

“Umi, celitanya kok cetoop?” aku tersadar ketika tangan kecil Fatih menyentuh pipiku. Hei, sejak kapan aku menangis?

“Umi tangen sama Abi yah?” aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya.

“Patih juga tangen Abi, Umi. Tapi Patih nda boleh cedih, nanti alo Patih cedih yang jaga Umi ciapa?”

“Oke, Umi tidak sedih, Sayang. Umi lanjut ceritanya?”

“Ciap Umi, Patih punya waatu panjaaang buat dengel!” aku menoel hidung Fatih yang dibalasnya dengan kekehan kecil.

“Saat Umi mengandungmu sekitar usia 2 bulan. Umi mengidam ingin naik sepeda dan naik sepeda itu maunya bersama Abi dan perjalanannya adalah tempat Abi bekerja, sekitar 10 km dari sini dan Fatih tau kan itu tempat yang jauh?”

Baca Juga  Cerpen: Cahaya di Tengah Corona

“Mas sepertinya aku ingin naik sepeda deh.”

“Benarkah? Apakah itu keinginan si kecil di dalam sini?” dia mengelus perutku yang masih rata. Aku hanya mengangguk kecil.

“Kalo begitu ayo naik sepeda, Mas jagain.”

“T-tapi…” suaraku tiba-tiba mengecil, seakan tidak terdengar tapi dia memiliki pendengaran yang baik.

“Ada apa? apa ada hal lain yang kau inginkan?”aku kembali mengangguk. Tidak tega mengatakannya.

“Katakanlah. Pasti akan Mas penuhi!”

“Bener?”

“Tentu saja. Kau jangan meremehkan suamimu ini!” aku tertawa mendengarnya.

“Percaya diri sekali.”dia hanya tersenyum.

“Jadi? Apa keinginanmu?”

“Naik sepedanya dengan Mas, terus perjalanannya ke tempat Mas kerja!”

Hening beberapa detik

Aku hanya melihat wajahnya yang datar tanpa ekspresi. Aku tak bisa menebak jalan pikir suamiku ini, sepertinya dia tidak akan sanggup. Aku harus siap untuk kecewa kali ini.

“Ayo, bersiaplah. Kita berangkat!”

“Abimu memiliki harga diri yang tinggi, Sayang. Permintaan Umi tentu saja disetujuinya. Bahkan Abi mengayuh sepeda sambil mengulang hafalan bersama Umi, juga bercerita tentang nama apa yang akan kita berikan untukmu nanti. Abi tak mengeluh Sayang. Abi bahagia dapat memenuhi segala keinginanmu selama dalam kandungan Umi.”

“Juga yang terpenting dari semua itu, kehebatan yang begitu Umi ingat dari Abimu hingga detik ini adalah ketika pertama kali Abi datang menemui kakek untuk meminta izin menggenggam tangan Umi!”

“Haluc ijin yaa Umi?”

“Tentu saja harus izin, Sayang. Abi harus melakukan ijab Kabul dahulu dengan kakek untuk memegang tangan Umi seperti ini!” Aku menggenggam tangan kecil Fatih yang tampak bingung, terlihat dari raut wajahnya.

“Abi melewati banyak batu-batu terjal untuk bisa menggenggam tangan Umi, Sayang. kau tahu kan bagaimana rumah kakek dan juga pekerjaan kakek dan nenek?” Fatih mengangguk.

“Di sana tempat Umi tinggal sebelum Abi datang. Umi bahagia hidup bersama kakek dan nenek di rumah tua itu. Meskipun kayu-kayu rumah sudah keropos tapi Umi bahagia hidup di sana. Melewati masa kecil bergelayut dengan terpaan angin laut dan juga kerasnya tanah kebun. Abimu adalah orang yang tidak memandang semua itu, Sayang. Tujuan Abi hanya satu, ingin segera menggenggam tangan Umi, meskipun dunia seakan menentang, tapi Abimu dengan tekad dan pengorbanan yang sangat hebat mampu membuat dunia berbalik arah untuk mendukungnya.”

“Kata temen Fatih, Abi cayang Umi, Umi cayang juga cama Abi?” tanganku bergetar mendengar pertanyaan sederhana Fatih. Ditambah keringat yang memenuhi telapak tanganku, juga jantung ini yang entah mengapa berdetak lagi bahkan sangat cepat. Aku harus mengucapkannya.

“Ayolah, ucapan itu hanya di depan anakmu Kei. Ucapkanlah!” batinku mendukung.

“Tentu saja. U-Umi Sa-sayaaang sekali pada Abimu dan juga padamu, Sayang. Sangat sayang!”

“Patih juga cayang Umi, cayang Abi!” Fatih memelukku erat dan menyembunyikan kepala kecilnya di pundakku. Aku menahan nafasku yang seakan tersekat, mataku memanas, menahan airmata yang sepertinya tidak bisa kucegah kali ini. Segera kuhapus agar Fatih tidak melihat, bisa-bisa anak ini mengadu pada Abinya.

“Fatih tidur yaa Sayang, udah malam.” Fatih mengangguk kecil dalam pelukanku dan mengangkat kepalanya hendak berbaring di bantal, namun matanya membulat sempurna mengarah pintu kamar.

“ABI…!” Fatih melompat-lompat di atas tempat tidur. Aku telonjak kaget mengikuti pandangan Fatih pada pria di depan pintu yang berjalan mendekat pada kami.

“Wah, kau belum tidur, Boy?” ucapnya sambil merentangkan tangan dan kesempatan itu digunakan Fatih untuk menghambur dalam pelukannya.

“S-sejak k-kapan M-Mas b-berdiri di sana?” aku bersumpah telah berusaha membuat suaraku terdengar biasa, namun jantungku seperti meledak dan membuat kata-kataku seperti mobil mogok. Dia hanya tersenyum menanggapiku.

“Aku butuh jabawan Mas, bukan se…”

“Abi, Patih ngantuk.” Aku memandang wajah anakku dari balik punggung Abinya. Mengapa dia begitu mudah memejamkan mata seperti itu. Hei, Fatih. Kau harus tanggung jawab. Bantu Umi menghadapi Abimu.

“Tidurlah Boy, cup-cup Sayang.” aku masih kesal pada dua pria di hadapanku ini dengan melipat kedua tangan di atas dada dan duduk di samping tempat tidur, tapi melihat kebersamaan mereka justru senyum yang terukir di wajahku.

Segera kuambil tas yang dipegang Mas Dafa. Yah, dia Mas Dafa, suamiku. Rambutnya terlihat masih basah, sepertinya dia pulang saat hujan turun dengan derasnya. Tunggu, bukankah itu berarti? Aku menggeleng segera. Tidak, dia tidak mungkin mendengar percakapanku dengan Fatih.

“Aku bersihkan tempat tidurnya dulu.”

“Boleh aku mendengarnya lagi?” ucap Mas Dafa sambil menggendong Fatih dan memandangiku mempersiapkan tempat tidur Fatih.

“Apa?”

“Kau tau maksudku, Kei?” Mas Dafa menunjukkan senyumnya, seperti biasa yang ia lakukan ketika butuh sebuah jawaban.

“Mas mau mandi? Saya siapkan pakaian dan air hangatnya dulu!” ucapku setelah Mas Dafa meletakkan Fatih yang telah tertidur sesaat setelah tempat tidur telah siap. Sebelum aku melangkah sebuah tangan kokoh memegang tanganku dan dalam hitungan detik aku telah berada dalam pelukannya.

Baca Juga  Cerpen: Apa Kabar Senja?

“Aku hanya ingin memelukmu sebentar. Bisakah kau tidak pergi untuk sebentar saja? Aku mengerti, sangat mengerti. Traumamu masih belum sembuh dan aku tidak masalah dengan itu. Aku mendengar semua perbincanganmu dengan anak kita. Kau tahu? Kebahagiaanku semakin bertambah saat bersamamu. Jadi kau harus bisa sembuh dari lukamu. Aku tak butuh kata-kata cintamu karena kehadiranmu dalam hidupku adalah cinta sesungguhnya yang kumiliki. Jadi jangan pernah merasa bersalah saat kau tidak dapat mengatakan kata itu untukku. Oke!” aku hanya diam, mendengar irama jantungnya yang begitu merdu bagiku, berdetak cepat.

“Kata-kata cintamu tidak penting bagiku meskipun aku tetap ingin mendengarnya.” Aku berusaha lepas dari pelukan pria ini tapi dia menahanku.

“Kau menunjukkan cinta yang nyata. Cinta yang tidak hanya bermain pada kata-kata saja. Cinta yang kau tunjukkan dengan menjaga kehormatanmu ketika aku tiada, cinta yang kau tunjukkan dengan melayani semua kebutuhanku, memperhatikanku, menenamiku, mendampingiku, juga menjadi ibu dari anakku. Cinta yang kau tunjukkan dengan ilmu dan kederhanaanmu.”

“Cinta yang kau tunjukkan dengan senantiasa menjadi wanita yang bermanfaat bagi oranglain dengan ilmu yang kau miliki. Aku terlalu egois jika meminta terlalu banyak lagi padamu. Jadi, jangan jadikan traumamu adalah beban. Kita lalui semuanya bersama, seiring waktu semua luka itu akan melebur hingga di suatu waktu kau hanya akan ingat kebahagiaan yang membuatmu terus tersenyum bahagia, Kei.” Aku mengangkat wajahku, memandang mata cokelatnya. Juga senyum yang menampilkan sebuah lesung di bagian pipi kanannya. Ingin sekali aku mengucapkan beribu kata cinta untuknya tapi apalah dayaku. Trauma masa lalu membuat lidahku keluh.

“Aku akan ke kamar mandi. Tidurlah temani Fatih. Cukup aku saja yang mengucapkannya. Aku menyayangimu istriku, Sangat!” ucap Mas Dafa kemudian mengecup keningku lantas berlalu menuju kamar mandi.

Miss you tou

Suaraku lirih, tentu saja dia tidak mendengar karena pintu kamar mandi telah tertutup. Ini adalah ungkapanku yang ke-1825 dan kau hanya mendengarnya dua kali. Apakah kau tahu? Bahwa sejak kau memindahkan tanggungjawab Bapak di pundakmu, kata-kata itu tak pernah luput dari bibirku. Setiap hari aku selalu mengucapkannya. Tepat saat aku melihat punggungmu. Terimakasih telah bersabar begitu lama. Bersamamu aku terus belajar menyembuhkan traumaku.

Pada 5 tahun perjalanan rumah tangga kita, kau hanya mendengar dua kali ungkapan hatiku padamu. Kau selalu memberikan siraman cinta yang begitu banyak padaku, hingga aku berani mengungkapkan kata itu secara sadar. Kau adalah hadiah hebat yang Allah berikan dalam kehidupanku. Titipan yang senantiasa aku syukuri dalam setiap tarikan nafasku. Meskipun waktu bergerak begitu cepat, kau selalu mampu mengiringi langkahku. Melengkapi bagian kosong dari jemariku. Sebuah impian nyata yang menjadikan bintang di langit memiliki cerita sendiri saat kau membersamaiku memandangnya.

Kau membuatku mengerti akan setiap luka. Menerjemahkan setiap rasa yang mendera bersama waktu yang berlalu hingga menjadikan semua itu adalah bagian dari jalan kau menemukanku. Kau membuatku mengerti apa arti dari perjuangan dan pengorbanan sebenarnya. Sebuah ikhlas yang dibersamai dengan kebulatan tekad untuk menggenggam. Juga sebuah keyakinan dan kepercayaan adalah modal utama kau melangkah. Bagaimana bisa kau lepas dari julukan itu, hebat. Bahkan Fatih pun berkata demikian.

Kau adalah mimpi yang menjadi nyata dalam kehidupanku. Kaulah yang aku butuhkan. Keberanianmu yang aku ingin genggam. Keikhlasan dan perjuanganmu yang membuatku luluh bersama waktu. Kehadiranmu adalah obat dari sekian banyak luka yang hinggap dalam kehidupanku yang telah berlalu.

Sungguh, aku ingin mengatakannya sesering mungkin, kata-kata yang ingin kau dengar. Tapi inilah kehidupan kita, aku harus melewati bagian dari kekuranganku dan kau selalu menjadi seseorang dengan kesabaran yang kian meluas. Namun, aku merasa ada keindahan di tengah kekurangan ini. Tatkala kata-kata yang ingin kau dengar meluncur dari lisanku, ada binar kebahagiaan yang berlipat-lipat ganda dari mata cokelatmu. Kebahagiaan yang membuatmu memelukku lebih lama. Kebahagiaan yang membuatmu mencium keningku lebih lama. Kebahagiaan yang membuatmu membanjiriku dengan kata-kata cinta.

Aku begitu sempurna dalam hidupku yang penuh dengan kekurangan saat pertama kali kau mengetuk pintu. Terimakasih cinta, yang aku inginkan tidak hanya di dunia ini saja tapi aku berharap celah jemariku di isi oleh jemarimu menggandengku dan anak-anak kita kelak hingga SyurgaNya. Semoga.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Penulis : Marni Azka

Gravatar Image
Nama lengkap Marni. Lahir di Penajam Paser Utara pada 22 November 1992. Sangat menyukai dunia literasi. Bercita-cita menjadi penulis yang mampu menginspirasi.

Comment

Artikel Terkait