by

Mirror Verse

Mirror Verse

Oleh:

ReztElliot

The Mirrorverse is a realm accessible by mirrors throughout Earth-Prime.

Pernahkah kau membaca jika semesta memiliki lebih dari satu dunia?

Pernahkah kau mendengar jika kau bisa masuk ke dalamnya hanya dengan menukar jiwamu?


Setiap manusia memiliki tujuh jiwa yang terpisah dan hidup di dunia berbeda. Tidak seperti seekor kucing yang memiliki sembilan jiwa yang saling berkaitan dan bisa hidup di dunia yang tidak bisa manusia tempati.

Dunia kaca dan dunia bawah.

Sedikit manusia yang tahu jika mereka bisa bertukar jiwa dan berpindah tempat dari dunia asal mereka ke dunia yang lain. Mereka hanya tidak temukan pintunya, mereka hanya tidak temukan jalannya, mereka hanya tidak temukan orangnya. Dia yang bisa menuntun manusia menuju dunia baru.

Sedikit manusia juga yang tahu jika mereka punya cara untuk masuk ke dunia kaca dan melewati dunia bawah, dengan mengikuti peraturan yang ada.

Peraturan pertama : Kematian

Laki-laki dengan tatapan lurusnya itu terhenti dari apa yang ia kerjakan sejak setengah jam lalu–memotret.

Bagian lengan kanannya terasa perih seperti ditusuk atau digores belati tajam dengan sengaja. Ia mendesis pelan sembari melihat penyebab rasa sakitnya, tanda pada lengannya menghilang satu.

“Raind? Kau baik?” tanya seorang wanita yang tengah jadi objek fotonya tersebut, Raind mengangguk, ringan.

“Baik, hanya digigit serangga,” jawabnya pelan dengan tatapan mata yang sudah teralih. Lelaki itu menengadah ke arah langit, mendung dengan awan gelap yang sudah menutupi. Akan hujan pikirnya.

“Kita sudahi dulu hari ini, terima kasih untuk kerja kerasnya. Akan kukirim seperti biasa,” jelas Raind dengan dirinya yang mulai membereskan barang-barang. Wanita itu mengangguk setuju, toh mereka sudah dua jam berada di padang rumput hanya karena Raind belum merasa puas.

Okay, aku pulang lebih dulu kalau begitu. Sampai bertemu lagi nanti.” Wanita dengan rambut panjangnya itu melambaikan tangan dan berjalan meninggalkan Raind sendirian. Raind mengangguk menanggapi salam tersebut sebelum matanya kembali tertuju pada tanda yang hilang di lengan miliknya.

Raind memiliki tujuh garis horizontal yang mirip guratan luka di lengan kanannya. Ia tidak pernah mengingat bagaimana dirinya mendapat tanda ini, tidak juga orang tuanya. Raind anak yang dibesarkan di panti asuhan sejak ia masih bayi.

Banyak yang berasumsi jika Raind bukan pria baik karena bekas luka tersebut, tapi tidak pernah jadi soal. Raind lebih dari pada mengerti jika ia memang berbeda dibanding manusia pada umumnya. Ia tidak bisa melihat pantulan diri di cermin, ia selalu dapat mimpi aneh, dan terakhir kali ia mendapati tanda memanjang pada lengannya.

Raind menggerakkan kaki lebih cepat dari sebelumnya, dia merasa harus segera sampai ke rumah dalam waktu singkat. Mungkin kali ini akan dapat petunjuk yang lebih jelas, batinnya.


Segera lelaki itu membuka laci tempat ia menyimpan segala sesuatunya. Ia menoleh untuk memastikan jika sudah mengunci pintu dan jendela, ia tidak ingin pada saat seperti ini muncul tetangga atau orang yang sekedar suka mencampuri urusan orang lain mengganggunya. Mengingat Raind yang tinggal di daerah pinggir kota dengan notabene rumah-rumah kecil bersampingan.

Buku kecil usang dengan sampul berwarna cokelat gelap. Jemarinya membalik halaman satu persatu, sampai ia temukan catatan yang ia tulis satu tahun lalu.

“Tanda itu adalah jiwa, jika salah satu atau sisa jiwa itu mati maka tanda pun akan hilang dengan sendirinya.”

Raind mendudukkan tubuhnya di atas kasur, ingatannya dipaksa mundur, saat ia mendapat semua informasi ini dari mimpi dan mulai mencatatnya.

“Jika ada jiwa yang mati, pintu akan muncul. Jika dua jiwa mati, pintu akan terbuka.”

Raind memejamkan mata, dulu ia hanya menganggap dirinya berbeda, dulu ia hanya menganggap dirinya tidak waras. Terkadang pria ini bertanya kenapa ia mencatat semua kalimat yang ia dengar dari mimpi-mimpi aneh tersebut? Terkadang juga, pria ini bertanya apa guna catatan konyol yang ia simpan seperti harta karun ini? Jawabannya ia temukan hari ini. Dan Raind sama sekali tidak pernah menyangka jika hari ini adalah hari terakhir ia menikmati hidup di dunianya.

Baca Juga  Khwaabon

Peraturan kedua : Dapatkan Pengorbanan

Raind berdiri tegak menatap cermin besar yang selalu ia tutupi. Perlahan jarinya menarik kain putih yang sudah menyelamatkannya selama bertahun-tahun. Raind begitu takut pada kaca, sejak ia tidak bisa melihat pantulan dirinya sendiri, kaca adalah benda paling menyeramkan untuknya.

Sementara kamera adalah satu-satunya benda yang membantu. Karenanya ia berdedikasi untuk menjadi fotografer andal dunia. Raind menarik napas, tremor ringan sudah ia rasa, ia tegakkan kepalanya. Tidak ada Raind di sana, single bed, lemari kayu kecil yang sudah lapuk, meja panjang dan kursi kecil. Semua hal terlihat jelas di sana, di dalam kaca yang ada di hadapannya, kecuali dirinya sendiri.

Lidah ia gigit, salah satu tangannya sudah menggenggam potongan es untuk menghindari serangan kecemasan yang ia punya. Raind mengatur napasnya selama satu menit sesaat, sebelum memberanikan diri lagi untuk melihat cermin tersebut. Terlihat retakan pada ujungnya.

Raind mengerutkan kening merasa aneh dengan apa yang ia lihat, ia dekatkan wajahnya untuk memastikan. Sekelebat bayangan gadis yang hendak terjun bebas dari jembatan penyebrangan dibarengi suara melengking yang berteriak korban ditemukan.

Raind spontan memejamkan mata dan mundur ke belakang hingga kehilangan keseimbangan. Ia terduduk di lantai, napasnya berat dan tubuhnya terasa dingin.

“Siapa?” tanyanya pada diri sendiri, tanya yang tidak bisa dijawab oleh setiap manusia yang ada di sana termasuk dirinya sendiri. Ia paksa otaknya bekerja, ia paksa pikirannya berjalan. Ia tidak pernah melihat gadis itu, tapi ia tahu tempat itu, ia tahu persis di mana tempat itu. Jembatan penyebrangan yang berada dekat dengan rumahnya.

Raind segera beranjak dari tempatnya, berlari ia meninggalkan rumah secepat yang ia bisa.

Peraturan ketiga : Temukan Pintu

“Hei!” teriaknya menggema sia-sia. Tangan yang terjulur tidak sampai pada tangan yang menunggu. Tangan yang terjulur ke bawah itu hanya bisa menangkap angin saat aspal jalanan lebih dulu menangkap si gadis.

Napasnya masih putus-putus, ia sudah berlari secepat yang ia bisa. Kalau saja ia bergerak lebih cepat, kalau saja ia buka kainnya lebih cepat, kalau saja ia tidak perlu hidup seperti ini.

Rasa sakit kembali pada lengannya, tanda ke dua yang menghilang hari ini. Raind merasa kehilangan napasnya, pikirannya juga kendalinya. Ia tidak mengerti apa yang terjadi pada hidupnya.

Teriakan Raind cukup menimbulkan keributan, atensi masyarakat sekitar dan gunjingan yang juga ditujukan padanya, membuat Raind berakhir dalam sebuah ruangan kecil berwarna putih dengan tangannya yang diikat.

Pandangannya mengedar, menatap lantai putih di bawah kakinya, menatap dinding putih mengelilinginya, menatap atap dengan belasan lampu yang menyakiti bola matanya. Raind mengingat lagi catatannya, ia mengingat lagi bagaimana ia berusaha mengatakan tentang mimpi dan bayangannya.

Bagaimana ia meyakinkan jika ia hanya berbeda, bukan gila.

“Aku tahu gadis itu akan melompat, aku melihatnya dari retakan kaca.”

“Seperti … cenayang yang melihat masa depan? Apa kau mengonsumsi jenis obat penenang atau semacamnya? Kau punya surat keterangan kesehatan jiwa?”

“Aku tidak gila, Pak. Aku … aku hanya berbeda, aku hanya bermimpi tentang informasi-informasi yang aku tidak tahu itu apa. Semuanya kutulis di buku itu! Semuanya. Aku juga tidak bisa melihat bayanganku di cermin, aku bisa melihat pantulan benda juga orang lain, tapi diriku sendiri tidak bisa, tidak ada! Bisakah kalian membantuku? Aku … aku butuh bantuan, kumohon.”

Baca Juga  Jeda Mati

“Tentu … tentu saja, tenangkan dirimu. Dokter sebentar lagi datang, jadi kau akan dapat bantuan. Percayalah, kau hanya … berilusi.”

“Aku tidak gila! Aku tidak gila! Aku tidak GILA!”

“Bantuan! Kami butuh bantuan!”

Peraturan keempat : Jadilah Tidak Normal.

“Kau yakin kita akan berhasil?”

 “Yakin, yakin sekali. Tunggu saja, dia akan merangkak dan pulang lebih awal.”

“Baiklah, aku percaya. Tapi, aku sedikit tersinggung dengan peraturan nomor empat. Memangnya kita tidak waras?”

 “Makhluk waras mana yang percaya jika dunia kaca ada? Jika kau dan aku ada? Lihat dirimu, mata tiga, tangan empat, kau bahkan marah dipanggil monster.”

 “Diam. Kau tidak kalah mengerikan dariku, dasar kepala tiga!”

Dua makhluk yang sejak tadi mengintip dari balik kaca itu sibuk bercakap tanpa tujuan, mereka tengah menunggu waktunya habis, mereka tengah menunggu lelaki yang akan menyelamatkan dunia mereka sadar.

Raind masih diam, masih betah memandangi sekitarnya. Pikirannya melayang, ingatannya tumpang tindih bercampur mimpi.

“Kau bukan salah satu dari mereka, kau tidak seharusnya tinggal di sana.”

Salah satu catatan yang juga ia ingat, suaranya jelas, kata-katanya juga. Hanya saja ia tidak bisa menggambarkan orangnya, orang yang mengatakan hal tersebut padanya. Buram.

Ia sudah berada dalam ruangan tersebut selama enam jam, satu menit pun tidak ia biarkan matanya tertutup. Raind benar-benar tidak ingin tertidur, benar-benar tidak ingin kembali bermimpi aneh seperti apa yang dialaminya selama ini.

Mungkin hidupnya memang harus berakhir seperti ini, mungkin memang akan lebih baik seperti ini. Dikurung dan dikendalikan, kungkungan yang akan membuatnya jauh dari makhluk sosial.

Lelaki ini sudah teramat lelah, kelopak mata sudah memaksa untuk terpejam. Sekilas matanya tertutup, Raind tersentak, tidak tahu karena apa. Pandangannya lagi mengedar, kali ini ia temukan hal ganjil.

Hal yang tidak ia lihat sebelum matanya tertutup tadi.

Kaca.

Ada sebuah kaca besar bersandar pada dinding ruangan, kaca besar tanpa bingkai. Hanya butuh beberapa senti saja bagi kaca itu untuk menutupi dinding seluruhnya.

Alis Raind bertaut, perlahan ia turunkan kakinya. Tangannya masih dirantai, dia tidak dianggap cukup berbahaya oleh pihak rumah sakit hingga membiarkan kakinya bebas.

Tidak ada bayangan, tidak ada pantulan. Hanya ada benda-benda di dalam ruangan, tapi jika diperhatikan lagi, benda-benda yang terpantul pun berbeda. Ada empat bantal di atas kasurnya, sementara pada kenyataan hanya ada satu bantal yang diletakkan.

Lalu lampu yang hanya ada satu dan pintu berwarna hitam yang ada di tengah ruangan. Pintu yang sudah jelas sekali tidak ada di dalam ruangan tersebut, namun terpantul jelas dalam kaca.

Peraturan kelima : Kau Adalah Yang Terpilih

“Pintu?” tanyanya dalam bisik, lelaki ini semakin meragukan kewarasannya. Semakin yakin dengan semua pendapat dan tudingan orang-orang padanya, bahwa ia bukan berbeda, bukan juga spesial. Hanya tidak waras saja.

Pikirannya kacau, tidak seirama dengan langkah kakinya yang malah semakin mendekat. Ujung kaki yang harusnya membentur kaca tersebut malah seperti ditarik ke dalam, malah seperti sedang menembus air. Mematung dia, mendapati kenyataan atau khayalan yang semakin menjadi. Matanya tertuju pada kaki dalam waktu panjang, cukup panjang hingga kesadarannya mulai hilang karena efek obat yang ia telan siang hari tadi. Raind tersungkur.

Peraturan keenam : Percayalah Pada Semua Yang Kau Lihat

Hei … hei.

Suara-suara kecil itu membangunkannya, menyadarkannya dari tidur yang Raind rasa kilat. Sepasang bola mata amber itu terbuka, keduanya terbelalak saat melihat dua makhluk aneh dan mengerikan di hadapannya.

Makhluk yang mirip manusia, hanya saja memiliki tiga kepala dan ekor kecil memanjang dengan ujung yang tajam pada bagian belakangnya. Di sebelahnya, makhluk dengan tiga mata dan empat tangan yang tengah sibuk melambai-lambai di hadapan Raind.

Baca Juga  SUDUT PANDANG BAHAGIA

Makhluk kepala tiga tersebut menggeleng dan menyilangkan tangannya di dada. “Sudah kubilang, muncul di hadapannya begini akan membuatnya terkejut.”

Si makhluk dengan tangan empat terkekeh. “Anggap saja ujian, kalau melihat kita saja sudah aneh, bagaimana ia melihat kumpulan Vaggard? Atau Opherion? Hai, Raind. Aku Terrence, dan kepala tiga ini Cosmo. Kami adalah penghuni dunia ini, dunia yang tidak bisa dimasuki manusia biasa pada umumnya.”

Raind masih mematung. Masih berputar otaknya, telinganya seperti diisi air hingga tidak bisa mendengarkan apa-apa. Bibirnya setengah terbuka dan pandangannya terus terpaku pada dua makhluk tidak biasa di hadapannya, Raind mengerjapkan mata. Ia mulai berhitung. “Satu … dua … tiga … empat … lima … aku tidak bermimpi.”

“Tidak bermimpi, tentu saja! Kau sudah penuhi semua aturannya, yah, walau sebenarnya kau tidak lakukan apa-apa. Tidak seperti bantuan itu dilarang, haha,” jelas Terrence dengan salah satu matanya yang tertutup dan dua tangannya memegangi tubuh Raind.

“Raind, lihat sekitarmu. Lalu coba ingat dengan perlahan.” Kedua tangan tersebut memutar tubuh Raind hingga menghadapkan lelaki ini pada dunia di luar imajinasinya. Dunia yang tidak pernah ia pikirkan ada, dunia yang selama ini hanya tergambar di dalam mimpinya.

Raind menatap potongan arus sungai yang melayang di atas udara, alirannya tenang dan berarah. Menunjukkan ikan-ikan yang seolah memanfaatkan fenomena ini untuk menyeberang hingga ke danau.

Dari sungai, matanya beralih menatap akar-akar pohon besar di atas tanah. Sebagian akar pohon tersebut membentuk bangunan kecil seolah ada yang tinggal di dalamnya. Tanah yang ia injak sekarang pun berbeda, tanahnya memiliki lubang-lubang kecil dan berwarna hijau gelap. Tidak ada berbatuan, yang ada hanya pilar-pilar kokoh yang berdiri hampir di seluruh tempat.

“Mimpi … mimpiku.” Raind kembali berbisik, setengah kagum setengah tidak mengerti. Dia merasa kagum dengan apa yang ia lihat, tetapi ia merasa tidak mengerti kenapa ia ada di sini.

“Langsung pada intinya saja, Raind, kami adalah makhluk yang selalu mendatangimu dalam mimpi. Kami yang menghantuimu di kehidupanmu sebelumnya, semua itu kami lakukan agar bisa membawamu ke sini,” ujar Cosmo mengambil alih. Terrence hanya tersenyum tipis, tapi tidak menyanggah.

“Raind, kau bukan bagian dari mereka. Karenanya, kau merasa berbeda, karenanya kau tidak bisa melihat dirimu sendiri di cermin. Raind, kau adalah bagian dari dunia ini. Dunia kaca, salah satu dari dunia yang tidak bisa ditempati manusia biasa, seperti yang aku katakan sebelumnya. Jujur saja, saat ini bukan waktunya untuk kau datang, dan kami memang memaksakan keadaan. Karena kami kehabisan waktu.”

Raind mengerutkan keningnya, belum juga ia mengerti dengan keberadaannya, ia sudah dihadapkan dengan kenyataan yang lain.

“Aku … tidak mengerti.”

Cosmo dan Terrence diam dan saling bertatapan satu sama lain sebelum Cosmo memutuskan untuk bicara.

“Kami membawamu ke sini untuk menyelamatkan dunia ini, bukan, kau bukan pahlawannya. Tapi sebaliknya, kau adalah seseorang yang akan menghancurkan dunia ini tiga bulan dari sekarang. Sebelum hal itu terjadi, kami melakukan apa pun untuk membawaku ke sini lebih cepat dari garis takdir.”

“Raind, kau adalah pengkhianat duniamu nantinya. Tapi jangan khawatir, aku dan Cosmo akan memastikan hal itu tidak pernah terjadi.”

Peraturan ketujuh : Tidak Ada Kata Keluar Setelah Masuk

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment