by

Mimpi dan Gadget

Mimpi dan Gadget

Oleh: Alfariza

Zaman modern sekarang, smartphone sudah menjadi sesuatu yang lumrah. Mulai dari anak kecil hingga orang tua, sudah menjadikan smartphone sebagai hal yang wajib untuk mereka miliki. Era globalisasi membuat teknologi semakin terasa canggih, hingga tak jarang sebagian orang membeli smartphone ataupun alat elektronik yang termahal, untuk mengikuti trend dan mendapat kualitas terbaik.

Namun, seperti hal lain yang mempunyai sisi positif dan negatif. Smartphone juga mempunyai banyak dampak negatif. Istilah ‘Yang dekat menjadi jauh dan jauh menjadi dekat’  semakin sering terdengar. Seperti lelaki berumur 15 tahun ini, panggil saja Dio. Sudah berapa kali teriakan dari dapur itu memanggilnya. Tapi, sepertinya ia tampak biasa biasa saja, seakan menulikan pendengarannya.

“Dio! Elu ye! Udah berapa kali Enyak manggil. Telinga lu tuli ape gimane?” Suara wanita parubaya dengan bahasa Betawi itu terdengar nyaring. Sepertinya kekesalannya yang terbendung sudah mencapai puncaknya.

“Apa sih Nyak, ini Dio kalah tau nggak! Ganggu banget,” ujar Dio dengan kesal. Mendengar itu, wanita parubaya yang kerap dipanggil Enyak Surti itu terlihat menahan amarahnya.

“Dasar ye lu, kagak bantuin gue! HP mulu noh lu liatin. Kagak ada peduli-pedulinya lu sama Enyak!” omel Enyak Surti. Sayang, Dio tampak berjalan ke kamarnya dan mengabaikan perkataannya.

Di dalam kamar, Dio tampak menjatuhkan dirinya ke kasur. Rasa kesal karena kalah dalam permainan online itu masih tertanam dalam dadanya.

“Coba aja gue hidup sendiri, pasti nggak ada yang bakal gangguin gue,” gumamnya sembari kembali membuka ponselnya

“Bang Dio, bantuin Nensi dong, kerjain PR Nensi nggak ngerti.” Belum lama Dio memainkan ponselnya. Suara anak berumur 7 tahun itu terdengar dari balik pintu.

Baca Juga  Cerpen: Hikayat Duha

Ya elah, kerjain sendiri napa sih! Apa gunanya lo sekolah kalau kagak ngerti. Jangan ganggu gue! Gue mau sendiri,” ujar Dio setengah membentak. Gadis kecil yang dipanggil Nensi itu tampak menahan tangisnya dan kemudian berlalu pergi.

“Dah ah, mau tidur aje gue. Ganggu banget,” gerutu Dio sembari memperbaiki posisi hingga tak lama terlelap tidur.

  • ••••

Matahari senja tampak memasuki penjuru ruangan kamar Dio. Lelaki itu tampak mengusap wajahya yang masih setengah mengantuk. Rasa lapar mulai mendatanginya. Dio mulai melangkahkan kakinya keluar kamar menuju ke dapur. Dio membuka tudung saji yang terletak di atas meja makan. Matanya seketika terbelalak mendapati meja makan yang tampak kosong

“Loh … Ini Enyak nggak masak apa gimana nih?” tanyanya dengan raut wajah heran.

Enyaaak! Enyaaaak!” panggilnya sembari melangkahkan kakinya mencari keberadaan Enyak Surti. Entah perasaannya saja atau bagaimana, rumahnya terasa sepi. Tak ada tanda-tanda aktivitas Enyak Surti ataupun Nensi yang terasa.

Langkah kakinya sudah menginjak teras Rumah. Enyak Surti dan Nensi pun tak terlihat batang hidungnya. Bahkan seluruh penjuru ruangan sudah Dio periksa.

Mpok Leha! Liat Enyak Dio nggak?” tanya Dio pada tetangganya. Raut wajah tetangga yang dipangilnya Mpok Leha itu tampak bingung.

Enyak? Elu pan tinggal sendiri, gimana bisa tanyain Enyak lu ke gue,” jawab Mpok Leha dengan wajah heran. Tapi sepertinya Dio yang lebih heran mengenai apa jawaban dari Mpok Leha.

Dio kembali berjalan masuk ke dalam rumah. Dio menghela nafas sembari mendudukkan dirinya pada sofa panjang yang ada di ruang tamu. Dio mencoba untuk menenangkan dirinya. “Ini aneh banget, gue kan tinggal sama Enyak sama Nensi. Kok Mpok Leha bilang gue tinggal sendiri? Nggak, ini pasti gue dikerjain Enyak sama Nensi nih,” gumannya dengan pikiran tenang.

  • ••••
Baca Juga  Tumbal

Malam sudah sangat larut, dengan rasa lapar Dio masih setia menunggu Enyak Surti dan juga Nensi, adiknya.

“Ini udah malam banget,” monolognya sembari menatap bulan yang tampak terang. “Enyak sama Nensi dimana sih?” ujar Dio kembali. Suasana rumahnya pun tampak sepi. Perasaan Dio mulai merasa tak nyaman. Pikirannya mulai meliar kemana mana. Hingga pada satu titik, ia teringat ucapannya siang tadi.

“Coba aja gue hidup sendiri, pasti nggak ada yang bakal gangguin gue.”

Kata-kata itu mulai terngiang di benaknya. Pikiran positif pun seakan sudah beranjak pergi. Dilihatnya smartphone yang terletak di atas meja. Saat menunggu Enyak Surti dan Nensi tadi, ia memainkan benda itu sebentar hingga merasa cemas kembali ia pun menghentikannya.

Pukul 23:59 terpampang jelas pada smartphone itu, sudah sangat larut. Tapi kedua orang yang sejak tadi ditunggu belum juga nampak. Pikiran buruk semakin bersarang di kepalanya. Bagaimana kalau Enyak Surti dan Nensi tidak kembali? Bagaimana kalau dia benar-benar sendiri?

Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja, detak jantungnya bahkan berdetak tak seperti biasanya. “Gue nggak mau kayak gini,” gumamnya dengan perasaan takut. Diingatnya sejak pagi ia mengabaikan panggilan Enyak Surti dan tidak membantu adiknya, Nensi. Hingga  pikirannya kembali ke masa ia pertama kali mendapatkan HP baru. Semenjak saat itu, Ia kian berubah menjadi orang yang abai. Tak pernah peduli lagi dengan apa yang ada disekitarnya.

Penyesalan mulai menghantuinya. Dibaringkan tubuhnya diatas Sofa, sembari menutupi matanya dengan lengan, guna menutupi air matanya. “Bang! Bang…bangun Bang!?” sayup sayup ia mendengar suara Nensi. Segera ia membuka matanya.

Baca Juga  Bulan, Bintang, dan Janji Seumur Hidup

Yang terlihat adalah dirinya sedang berada di kamar, dan masih siang hari. Ternyata hanya mimpi. Dio mengusap wajahnya yang tanpa disadari penuh dengan air mata. Enyak Surti yang sejak tadi memandangi anaknya dengan pandangan khawatir, kemudian terbelalak mendapati Dio yang seketika memeluknya. “Enyak…maafin Dio ya, Dio nggak bakal abaiin lagi panggilan Enyak…Dio janji Nyak,” ujar Dio dengan penuh penyesalan.

Mendengar itu Enyak Surti terkekeh. “Iye nak, Enyak maafin. Padahal kalau elu kagak sadar sadar, Enyak mau bakar tuh HP. Biar tau rasa lu,” balas Enyak Surti dengan nada bercanda.

“Maapin Abang juga ya Si, PR lu gimane? Udah selesai?” tanya Dio, beralih pada adiknya.

“Udah bang, Mpok Leha yang bantuin. Abang nya ngeselin sih,” jawab Nensi dengan wajah kesal.

Mimpi yang barusan dialaminya, seakan memberi Dio pelajaran. Mimpi tadi terasa sangat nyata baginya, bahkan perasaannya pun masih terasa didalam hatinya. Ia tak ingin lagi mengabaikan orang orang disekitarnya, karena game online yang selama ini menyibukkannya. Itulah janji Dio

~SELESAI

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk. 

Comment