by

Menanti Persalinan

Jarum gerimis menghujani atap halte bus. Di bawah naungannya, dua anak pengojek payung sedang berdiskusi serius. Anak yang satu gundul sedangkan satunya berambut keriting. Mereka baru saja menemukan sebuah dompet.

“Kalau isinya lima ratus juta, gimana?” tanya si Keriting dengan mata berbinar.

“Kita bagi dua,” jawab si Gundul. “Nanti bagianku, aku pakai buat Emak pergi haji.”

“Kalau isinya satu juta?”

“Kita bagi dua. Nanti bagianku, aku kasih Emak buat belanja.”

“Kalau isinya seratus ribu?”

“Kita bagi dua. Nanti bagianku aku pakai buat…,” si Gundul menunjuk restoran fast food seraya berkata,  “Beli ayam goreng.”

“Kalau isinya sepuluh ribu?”

“Tetap dibagi dua. Nanti bagianku, aku belikan bubur kacang ijo.”

Si Keriting menghirup dalam-dalam aroma dompet kulit di tangannya. Seolah-seolah benda itu adalah sepotong ayam goreng renyah yang baru diangkat dari kuali berisi minyak panas.

“Beli ayam goreng saja, yuk!” si Keriting memutuskan. “Berapa saja isi dompet ini, kita sisihkan buat beli ayam goreng. Aku lapar.”

Si Gundul mengangguk setuju.

Sambil menahan napas, si Keriting membuka lipatan dompet. Ia melongok isi di dalamnya. Tak ada uang di sana, hanya sehelai struk belanja yang menghuni dompet itu.

Si Keriting terbahak. Ia menumpahkan isi dompet. Helaian kertas struk melayang sebentar di udara, sebelum jatuh di lantai halte yang basah.

Menyaksikan pemandangan itu, meledak pula tawa si Gundul.

Si Gundul dan si Keriting menertawakan ketololan mereka. Kedua bocah itu meributkan pepesan kosong. Dompet temuan mereka ternyata kosong melompong. Melayanglah uang ratusan juta dalam angan-angan mereka.

Aku tak mampu menahan senyum melihat tingkah kedua bocah itu.

Selesai makan siang tadi, aku pergi ke ATM dekat kantor. Hujan tiba-tiba turun dan memaksaku berteduh di halte bus. Kulihat dua bocah laki-laki hilir mudik menawarkan ojek payung. Hujan turun sebentar kemudian gerimis merinai. Tak seorang pun menyambut uluran payung yang diangsurkan si Botak dan si Keriting.

Baca Juga  Kesempatan dan Konsekuensi

“Hei, Dik!” panggilku kepada si Gundul. “Antar Om ke sana, ya!” Aku menuding restoran fast food, sepuluh meter dari tempat kami berada. “Kamu juga ikut,” perintahku pada si Keriting.

Payung terkembang. Aku berlindung di bawahnya meski gerimis tinggal satu-satu. Di belakangku, mengekor dua bocah lelaki dengan tubuh kuyup dan menggigil. Mereka saling bisik dengan wajah berseri-seri.

“Akhirnya ada yang sewa,” kudengar salah satu dari mereka berbisik. Terselip nada bahagia dalam ucapan itu.

Aku pura-pura tak mendengar dan terus melangkah.

“Duduk di sini,” kataku. Dua bocah itu menurut. Dengan canggung mereka duduk di kursi bagian luar, dekat patung badut yang menjadi ikon restoran tersebut.

Tak berapa lama, aku kembali sambil membawa tentengan berisi makanan dan minuman. “Ini buat kalian,” ucapku.

Si Gundul dan si Keriting berpandangan. Semerbak ayam goreng membuat mereka akhirnya memutuskan menyambar tentengan dari tanganku.

“Terima kasih, Om!” seru mereka berbarengan.

“Oiya, ini ongkos ojek payungnya!” kataku sambil menyodorkan uang seratus ribu.

Setelah menerima uang dariku, kedua bocah itu pergi sembari berjingkrak-jingkrak kegirangan. Sempat kudengar mereka saling bisik memuji kebaikanku.

Ah, andai mereka tahu…

Istriku akan segera melahirkan anak pertama kami. Dadaku membuncah oleh luapan kebahagiaan bercampur rasa gugup. Akhirnya, setelah menunggu sewindu lamanya, Tuhan mempercayakan amanat itu kepada kami.

Aku membutuhkan kanal untuk mengalirkan perasaan agar dadaku tidak jebol. Beruntunglah aku bertemu kedua bocah itu.

Harus kuakui, sebagai seorang laki-laki, sisi emosionalku sangat kuat. Aku pun tak mengerti mengapa begitu.

**

“Sudah siap?” Ran menghampiriku. Tas berisi perlengkapan bayi telah ia jinjing.

Aku menarik napas panjang. Rasanya, ada kelelawar di dalam perutku. Sayap kelelawar berkelepak semakin hebat ketika aku tersadar anak pertama kami sudah ‘mengetuk pintu’. Ia sudah tak sabar hendak menyapa dunia.

Baca Juga  THE GUEST

“Kita berangkat sekarang?” tanya Ran.

Aku mengangguk yakin. “Baiklah. Kita berangkat sekarang!”

Ran membukakan pintu mobil untukku. Setelah memastikan posisiku sudah nyaman, ia berjalan memutar lalu duduk di belakang kemudi.

“Semua akan baik-baik saja,” ucap Ran sesaat sebelum menginjak pedal gas. “Tarik dan embuskan napas teratur,” lanjutnya.

Aku menurut. Kuirup napas kuat dan dalam kemudian menghelanya perlahan. Perasaanku menjadi lebih baik. Namun, saat teringat akan bayi kami, kelelawar di dalam perutku bermanuver lagi. Ia seperti ingin mengaduk-aduk makanan  yang belum tercerna sempurna di dalam lambungku.

Trisemester awal kehadiran calon bayi kami, aku dilanda mual hebat. Tiap kali mencium aroma masakan, isi perutku berontak hendak keluar. Aku berjuang keras agar bisa makan.

Rasa mual itu dapat kuredam dengan keinginan makan makanan tertentu. Pernah suatu malam, mendadak aku ingin melumat buah buni yang mulai langka keberadaannya.

Buni berbentuk bulat mungil. Saat masih muda, buahnya berwarna hijau. Warnanya berangsur berubah dari hijau menjadi merah, merah tua, lalu ungu kehitaman. Buni yang sudah masak sempurna, terasa manis dengan sedikit campuran masam. Namun, ketika warnanya masih merah, bukan main kecutnya.

“Kamu serius?” tanya Ran ketika aku minta ditemani mencari buah langka tersebut. “Susah cari buni sekarang. Jangankan malam-malam, siang hari saja belum tentu kita temukan,” kata Ran tak ingin berbohong.

“Di Pasar Minggu, dekat kebun binatang, mungkin ada yang jual, Ran,” kataku.

“Tapi, ini sudah malam,” Ran berujar.

“Kamu tahu kan, Ran. Ini bukan keinginanku. Ini maunya jabang bayi kita kita. Kamu enggak mau bayi kita nanti ileran, kan?” aku merepet panjang.

Ran memutar bola mata. “Kamu masih percaya itu?”

Aku memberengut. “Kalau begitu, biar aku pergi sendiri,” ucapku ketus.

Ran akhirnya mengalah. Ia menemaniku berkeliling kota. Namun, benar katanya. Buah buni tak kami temukan. Untung saja ada penjual buah gowok di pinggir jalan. Buahnya mirip anggur, berkulit tebal, berwarna hitam keunguan, dan terasa kecut saat dimakan. Buah itu berhasil meredakan rasa mualku. Kelelawar di dalam perutku pun menjadi tenang.

Baca Juga  Contoh Karya Puisi Bebas dan Ciri-cirinya!

Sejak calon bayi kami hadir, perasaanku menjadi lebih peka, lebih sensitif. Aku kerap memiliki permintaan-permintaan ajaib. Aku bersyukur Ran bersabar. Segala keinginanku selalu ia upayakan.

“Jangan ngadi-ngadi, ah,” cetus Ran saat aku memohon padanya untuk menarik kumis Pak Legowo, petugas keamanan di perumahan kami.

“Ini bukan kemauanku, Ran,” kataku menegaskan. “Ini keinginan buah hati kita. Oiya, nanti tarik kumisnya yang kencang ya, sampai Pak Legowo meringis-ringis.”

Ran mengibaskan tangan, seolah kata-kataku sekadar angin lalu. Tapi toh keinginanku ia wujudkan juga. Aku tertawa geli melihat ekspresi Pak Legowo sewaktu Ran menarik tinggi-tinggi ujung kumisnya.

Pak Legowo pasrah sebab Ran berkata kalau itu keinginan calon buah hati kami.

“Kita sudah sampai,” ucap Ran, mengembalikan pikiranku yang melayang sesaat tadi.

Bangunan rumah sakit khusus ibu dan anak tampak menjulang. Seketika jantungku berdebar kencang. Kelelawar di dalam perutku berulah lagi. Rasanya, ia sedang memilin-milin usus-ususku sekarang. Keringatku bercucuran. Ran mengelus punggungku, menenangkan.

Everthing is gonna be okay,” bisik Ran lembut.

Aku mengangguk dan memaksakan seulas senyum.

Bayi kami semakin keras ‘mengetuk pintu’. Dia sudah bosan berenang-renang di dalam air ketuban. Dokter dan perawat bersiap menyambut kelahirannya. Momen penting itu telah berada di depan mata.

Ran menggenggam erat tanganku, memberiku semangat dan kekuatan.

Saat kulihat Ran mengejan, kelelawar di dalam perutku kalang-kabut. Dia terbang menabrak-nabrak dinding perutku. Sewaktu kulihat cairan merah pekat Ran menggenang, kelelawar itu melejit ke kepalaku.

Aku merasa pusing dan mataku berkunang-kunang. Sempat kudengar Ran mengejan panjang, disusul lengkingan tangis bayi. Setelah itu, aku tak ingat apa-apa lagi. **

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *