by

Memeluk Erat Luka Stigmatisasi

Memeluk Erat Luka Stigmatisasi

Oleh:

Theresia Vinka Andini

Sore ini, salah satu sudut jalanan Malioboro kembali tampak padat oleh penikmat-penikmat himne senduku. Ditemani senar gitar klasik yang berdenting merdu, aku memberikan penampilan terbaikku seperti biasanya-membawakan lagu sendu. Tak salah lagi, aku adalah musisi jalanan di Malioboro.

Aku menggantungkan hidup pada penghargaan para penikmat himneku. Kotak bertempelkan tulisan apresiasi seni silakan diisi seikhlasnya di hadapanku perlahan mulai terisi. Tak jarang juga para pelancong-pelancong itu hanya berlalu-lalang, mampir sejenak, lalu pergi begitu saja.

Lulus dari Institut Kesenian ternama di kota Jogja tak menjanjikan kehidupan perkerjaan yang mulus. Menjadi musisi jalanan di Malioboro adalah pilihan yang cukup baik bagiku. Tak hanya sebagai realisasi untuk menyalurkan hobiku, menjadi musisi jalanan juga memberiku penghasilan – meski jumlahnya tak tentu.

Telepon genggam di sakuku bergetar kencang selepas aku meletakkan gitarku pada salah satu bangku taman di trotoar Malioboro sebagai sandaran. Para pedestrian Malioboro tak lagi mengerumuniku. Neli, ini telepon dari Neli, kawan dari masa kecilku yang tak pernah putus komunikasi denganku sampai saat ini. Sikapnya banyak berubah dan didewasakan melalui sebuah peristiwa masa lalu yang terus diingatnya hingga kini. Bukan ingatan manis, melainkan menyakitkan.

“Halo Senja!” suara riang itu menyapaku. Sebenarnya hampir setiap hari suara itu menyapaku melalui saluran telepon tapi tak pernah sekalipun menimbulkan perasaan bosan. Entahlah, suara itu seperti menjadi pelepas penat bagiku.

“Kau di mana Neli?”

“Di belakangmu Senja. Berbaliklah!” belum sempura aku membalik badanku, Neli sudah berlari-lari kecil ke arahku.

“Heh? Kenapa kau tidak bilang kalau sudah pulang ke Jogja? Apakah masa baktimu sudah selesai?” Neli sudah berada tepat di depanku.

“Duduklah dulu Senja. Nanti akan aku jelaskan,” Neli telah mendudukkanku pada bangku tempatku menyandarkan gitar.

“Baiklah-baiklah ceritakan!” ujarku setelah Neli menyusulku duduk.

“Hey kau dapat banyak uang malam ini?” dengan amat santai Neli mencomot kotak uang di sebelah kaki bangku taman.

“Jangan mengalihkan pembicaraan Neli. Ceritakan dulu,” Dengan intonasi lembut aku meminta Neli untuk bercerita terlebih dahulu.

“Baiklah Senja, baiklah. Iya, masa baktiku sudah selesai. Lebih cepat dari seharusnya bukan? Karena aku akan dipindahtugaskan. Kali ini akan lebih jauh Senja,” Neli sudah masuk dalam suasana serius, senyum terkembangnya hilang.

“Pindah tugas? Lagi? Ke mana Neli?”

“Maluku Senja. Tanah Halmahera.”

“Astaga jauh sekali Neli. Bagaimana bisa?” tanyaku terkejut.

“Entahlah Senja, ini sudah jalan hidupku. Pilihan hidupku untuk mengabdikan diriku harus aku pertanggungjawabkan, bukan?” Neli tertawa kecil di ujung kalimatnya.

Aku menunduk terdiam. Ini artinya, rencana besarku yang sudah kurancangkan jauh-jauh hari lalu lagi-lagi harus diundur. Neli adalah seorang relawan pendidikan untuk anak-anak dari keluarga kurang beruntung di daerah pelosok. Setelah peristiwa pahit beberapa tahun lalu itu, Neli memutuskan untuk bergabung menjadi relawan dalam Lembaga Lentera Pendidikan, Lembaga yang menyediakan tempat bagi para sukarelawan untuk mengabdikan hidupnya atas dasar kemanusiaan.

Sebenarnya, luka masa laluku dan Neli tidak berbeda jauh. Mimpi kami sama-sama dipatahkan oleh keluarga kami sendiri. Pandangan keluarga kami yang masih jauh tertinggal di belakang, tidak mau berdamai dengan perkembangan zaman, tanpa mereka sadari telah mematahkan hati anak mereka.

Neli memutuskan menjadi relawan pendidikan untuk membuka mata keluarganya sekaligus semakin membuat mereka merasa kesal dengan Neli dan membuat mereka merasa bersalah. Entahlah siapa yang lebih beruntung antara aku dan Neli. Yang jelas, luka itu tidak akan hilang untuk waktu yang lama.

“Senja!” seruan Neli memecah hening, membuatku mengangkat kepala.

“Apa?” tanyaku singkat.

“Aku akan segera berangkat Senja, aku hanya diberi waktu satu minggu untuk berkemas dan berpamitan dengan keluargaku. Hari senin pagi-pagi aku akan berangkat,” Neli menjelaskan dengan nada bicara yang menurun. Aku tahu, meskipun luka itu belum hilang, Neli tetap berbesar hati untuk menghargai keluarganya.

Meskipun arah hidupnya telah jauh berubah, meskipun masih ada keinginan untuk membuat keluarganya merasa bersalah, Neli tetap Neli. Dia tidak bisa menipu hati lembutnya untuk tetap membuka ruang maaf bagi keluarganya. Berbeda denganku yang sekarang sudah hidup sendiri, amat jarang pulang ke rumah. Latar belakang keluargaku memang sangat keras.

“Lalu, apa kata mereka?” aku memecah lengang.

“Tidak ada,” Neli tertawa datar. “Masih tetap sama, mereka tidak mengiyakan, juga tidak melarang. Entahlah.”

“Kau akan tetap berangkat?”

“Sudah pasti iya. Aku akan menentukan arah hidupku sendiri Senja. Dan pilihanku masih tetap sama.” Penjelasan Neli membuatku bingung, aku tidak pernah sampai hati menentang pilihannya, karena itu hidupnya. Sejauh apapun perasaan yang kurasakan sekarang, seberapa lama pun perasaanku sudah memutuskan untuk berbulat hati padanya, tidak akan pernah memberiku hak mengatur kebebasannya untuk menentukan pilihan. Begitulah hidup, sekuat apapun ikatan kita dengan seseorang tidak akan pernah mengalahkan hak mereka untuk berkehendak bebas.

Baca Juga  VERSI TERBAIK DARI MASA LALU

“Kali ini berapa lama Neli?”

“Enam bulan Senja. Tepat pada pembuka bulan dua belas nanti aku akan pulang.”

“Tapi kau tau bukan, tugasmu kali ini mungkin saja tak akan semudah tugas di Tulungagung kemarin?” tanyaku cemas.

“Aku tau Senja. Aku tau dengan baik. Percayakan saja padaku, aku tau caranya menjaga diriku dengan baik,” Neli tertawa kecil. “Tunggu dulu, kenapa kau jadi pencemas? Ada apa Senja?” tanyanya menggodaku yang tanpa kusadari membuat aku merasa sedikit canggung.

“Tidak apa-apa,” jawabku singkat. “Oh iya, besok Minggu, apa kau mau ke Parangtritis?”

“Ayolah Senja, aku bosan selalu ke sana tiap kali pulang bertugas,” jawabnya membuatku terkejut. “Tapi tidak apa-apa asalkan kau yang mengajak,” jawaban Neli sempurna membuatku mengulum senyum malu.


Sore ini Neli tampil kasual, wajah manisnya yang ditimpa pendar cahaya senja sempurna nampak bersinar-sinar.

“Senja, apa kau mau duduk?” tanya Neli ketika kami berjalan di atas hamparan pasir pantai setelah membeli minum dan makanan ringan.

“Duduk di mana Neli? tidak ada tempat duduk di sini.”

“Sebentar, tolong bawakan ini,” Neli menyerahkan kantong kresek berisi minuman dan makanan ringan.

“Jangan Neli, sayang kalau kotor!” aku berseru spontan melihat Neli dengan santai membuka syal yang tersampir indah di bahunya dan membentangkan syal itu di atas pasir pantai. Neli bermaksud menjadikannya sebagai alas.

“Tenanglah, ini bisa dicuci,” jawab Neli dengan santai. Tanpa banyak bicara Neli sudah duduk bersila dengan rapi di atas pasir beralaskan syalnya. “Duduklah Senja, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan sebelum aku berangkat.”

“Apa?” tanyaku sambil membuka tutup botol minuman sembari duduk di sebelah Neli.

“Apa kau masih..”

“Luka masa lalu itu?” aku menyela.

“Bagaimana kau bisa menebaknya hah?” tanya Neli heran.

“Mudah saja. Aku sudah hafal Neli. itu yang selalu kau tanyakan hampir setiap kita bertemu sebelum kau berangkat bertugas,” aku tertawa kecil membuat Neli salah tingkah.

“Baiklah,” Neli tertawa, tidak ada perdebatan seperti biasanya. “Kalau begitu jawablah seperti biasanya.”

“Masih tetap sama Neli. Ayah tetap tidak mau melembutkan hatinya. Lalu, untuk apa aku juga melembutkan hatiku?”

“Bagaimanapun, dia orangtuamu Senja. Temui dia sekali saja. Sudah sangat lama kau tidak mengunjungi rumah orangtuamu. Siapa yang tau kalau mereka akan melembutkan hati?”

“Tidak bisa Neli, tidak mau. Biarkan tetap kak Fajar yang penurut itu yang menjadi anak kesayangan mereka. Aku sudah lelah.”

Neli tau betul ceritaku, keluargaku, semuanya. Bagaimanapun, kami tumbuh besar bersama, merancang mimpi besar kami bersama-sama, lebih-lebih lagi, keluarga kami masing-masing mematahkan hati kami di waktu yang sama juga.

Ayah, seorang anggota militer berwatak keras. Seorang Angkatan Darat. Dia memiliki satu bintang di bahunya, pangkatnya Mayor, dan pernah tergabung dalam skuad pasukan Garuda. Lengkap sudah hatinya berbangga dan menjadi semakin keras. Dia menentang keras keinginanku untuk mengambil sekolah seni dan menjadi seorang musisi. Berlatar belakang keluarga militer, tak memberiku kesempatan untuk merasakan dukungan dari keluargaku untuk berkarir di bidang seni.

Ayahku, dan semuanya, menganggap kesempurnaan seorang laki-laki terletak pada fisiknya yang kekar ditambah sempurna lagi dengan seragam doreng militer yang melekat pada tubuhnya. Ayah menghina dan mentertawakanku saat aku menyatakan keinginan untuk berkarir di bidang seni. Ayah menganggap bahwa seniman bukan seorang laki-laki sejati. Ayah tidak mau aku mengingkari tradisi keluarga yang selama ini mempertahankan seragam militer pada tiap generasi.

Meskipun generasiku telah diwakili oleh kakakku, ayah tetap dengan keras memaksaku untuk memperjuangkan seragam militer. Kak Fajar, yang memang sedari kecil didoktrin mengejar karir untuk menjadi anggota militer pada akhirnya sukses masuk dalam Akademi Militer dan lulus dengan pangkat Letda Laut. Lebih-lebih lagi, kakak berhasil tergabung dalam pasukan kapal selam, korps Hiu Kencana. Keberhasilan Kak Fajar membuat ayah semakin berambisi membuatku berhasil mendapatkan seragam doreng Angkatan Udara.

Sudah berkali-kali aku mencoba meyakinkan bahwa aku akan tetap menjadi laki-laki sejati meskipun masuk dalam dunia seni. Ayah malah semakin menghinaku dengan mengatakan aku menyia-nyiakan tubuh atletisku. Fisikku memang cukup kekar karena dulu tiap sore aku selalu ikut berlatih fisik dengan Kak Fajar.

Hanya dengan tujuan dan maksud untuk berolahraga tetapi ayah menyalah-artikan bahwa aku juga punya keinginan masuk dunia militer. Ayah menganggap aku telah mengecewakannya. Dia tetap kokoh pada pola pikirnya yang keras bahwa seorang laki-laki di keluargaku harus berseragam militer agar dianggap laki-laki sejati. Ditambah lagi aku hobi memasak sejak kecil, membuat ayah semakin punya ide untuk menghinaku.

Setelah kalah melawan kekerasan hati seorang veteran Angkatan Darat itu, aku memutuskan untuk mengejar mimpiku sendirian. Tanpa dukungan keluarga. Saat itu ibu hanya menangis, tidak kuasa membela karena keluargaku memiliki stigma bahwa seorang wanita hanya punya peran mengurus rumah, sangat tidak boleh menentang keputusan laki-laki.

Baca Juga  Cerpen: Sebab Kamu Hanya Mencintainya

“Sudahlah Neli, mari kita bahas hal yang lain saja,” aku tertawa getir memecah senyap. Neli memandangku prihatin sambil mengusap air mataku yang entah kapan menetes membasahi pipiku – aku tidak menyadarinya.

“Senja, tolong jaga dirimu dan tetaplah baik-baik saja meskipun kita akan berpisah cukup lama kali ini. Aku hanya ingin mengatakan itu. Jangan khawatir tentang aku, saat kau baik-baik saja, aku juga akan baik-baik saja,” Neli tertawa malu-malu. Sikap dewasanya sangat menonjol di saat seperti ini.

“Aku tau Neli. Lebih dari apapun, jaga dirimu dengan baik, aku..”

“Aku apa Senja?” kalimatku terputus. Sepertinya Neli tau apa yang akan aku katakan. Untung saja aku segera sadar sehingga tidak sampai terucap.

Aku tertawa, “Aku akan menunggumu Neli,” kataku mantap meyakinkan.

“Kau yakin bukan aku yang lain?” Neli tertawa kencang menggodaku.

“Sudah-sudah, ayo pulang, aku akan mengantarkanmu,” aku segera mengalihkan arah pembicaraan kemudian cepat-cepat beranjak berdiri.

“Dasar kau ini Senja!” Neli menggerutu kemudian berdiri melipat syalnya.

Malam itu, aku mengambil sebuah keputusan yang akan aku realisasikan beberapa bulan lagi mendekati waktu berakhirnya penugasan Neli. Aku akan mengungkapkannya.


Lima bulan berlalu dengan sangat cepat. Hari-hari yang panjang itu aku habiskan dengan tidak sabaran. Aku mengisi waktuku dengan tetap menjadi musisi jalanan saat malam hari, dan saat siang hari aku menjadi guru musik privat yang mendatangi muridku dari rumah ke rumah. Selain itu, tiap akhir pekan aku juga dipercaya untuk mengisi penampilan secara solo dalam acara live musik di salah satu café dekat Malioboro.

Neli selalu jadi tempat pertama bagiku untuk menceritakan semua hal terkait kehidupanku. Begitupun Neli, tak terhitung seberapa banyaknya cerita yang sudah dia ceritakan dengan suara riangnya. Saat murid-muridnya sudah mulai pandai menulis, pandai menjahilinya, bahkan hal-hal konyol dan sederhana yang dilakukan muridnya setiap harinya tidak lupa diceritakan padaku. Hanya saja, tidak selalu kami bisa berkomunikasi dengan lancar. Jaringan telepon sangat menentukan kelancaran komunikasi kami.

Pagi ini, setelah lima bulan penantian yang panjang, akhirnya aku merealisasikan keputusan yang kubuat sepulang dari Parangtritis petang itu. Aku memutuskan untuk menyusul Neli ke Halmahera dan akan pulang bersama Neli setelah penugasan Neli berakhir. Aku mengenal Ibu pendiri Lembaga Lentera Pendidikan.

Neli pernah mengajakku bertemu dengan beliau. Jadi mudah saja bagiku untuk meminta ijin menyusul Neli. Beliau malah merasa amat senang saat aku mengatakan akan ke Halmahera, Beliau tertawa dan bergurau bahwa aku bisa menjadi tenaga pendidik tambahan.

Setelah perjalanan panjang, sore ini aku tiba di camp penginapan para relawan Lentera Pendidikan. Aku berencana memberi kejutan pada Neli, itu sebabnya aku tidak langsung menemuinya malam ini. Aku akan menumpang di rumah salah satu relawan lokal terlebih dahulu sebelum besok pagi aku akan menemui dan mengejutkan Neli.

Sekolah sederhana yang didirikan Lembaga sukarelawan ini memang hanya seadanya, tapi tawa ceria dan gurat senyum anak-anak yang berlarian pagi ini menjelaskan padaku bahwa sekolah ini amat berarti bagi mereka. Di tengahnya, terdapat tanah lapang tempat anak-anak berlarian dan di satu sisi lain terdapat sepetak tanah yang amat mengejutkanku. Lapangan voli. Ya, lapangan voli. Aku takut luka lama Neli yang belum kering kembali tergores lagi.

“Kakak, boleh kasih tunjuk di mana ibu guru Neli?” aku bertanya pada salah satu guru lokal, berusaha meniru intonasi bicara mereka.

“Oh kakak Neli to? Tapi kakak ini siapa?” aksen bicaranya sangat khas orang timur.

“Aku ini Senja, temannya Neli kakak, sukarelawan baru dari Lentera Pendidikan.”

“Oh begitu to? Kakak Neli ada di lapangan voli. Kakak berjalan saja ke sisi timur,” jawabnya sambil menunjuk lapangan voli yang terlihat ramai. “Kakak mengerti to?”

“Mengerti kakak, terimakasih banyak.”

Aku berlari-lari kecil ke arah lapangan voli. Ternyata pagi ini Neli yang lebih dulu mengejutkanku, bagaimana bisa? Bagaimana bisa Neli berada di lapangan voli? Apa luka di hatinya itu sudah sembuh? Bukankah stigma itu menggurat luka yang amat dalam di hati Neli? Pertanyaan-pertanyaan itu terus melintas di pikiranku, menambah antusiasmeku untuk segera menemui Neli.

Aku berdiri di bibir lapangan. Benar-benar tidak kusangka Neli justru tertawa lebar setelah memberi serangan smash pada lawannya dan berhasil mencetak poin – meskipun semakin bingung, tapi aku merasa lebih lega.

Neli sepertinya menyadari kedatanganku, “Senjaaaa!!!” serunya kencang membuat banyak pasang mata mengikuti gerakannya berlari ke arahku, sontak memelukku.

“Bagaimana bisa kau di sini? Heh?” tanyanya keheranan melihat wajahku yang terlihat lebih heran. “Aku bahagia sekali Senja! Ayo ikut aku, aku akan menceritakan sesuatu.” Belum sempat aku menjawab, Neli sudah menyeret tanganku mengajakku duduk di rerumputan hijau belakang bangunan sekolah yang nampak rapi seperti tikar dari rumput.

Baca Juga  Hal Kecil yang Disepelekan

“Neli,” aku menatapnya lamat-lamat. “Kau sudah pulih? Luka itu?” aku patah-patah bertanya.

“Luka apa Senja? Luka itu sudah jauh tertinggal di belakang, sudah kering dan hilang. Lima bulan ini benar-benar mengubahku dan mengubah perspektifku tentang cara menyembuhkan luka, Senja. Berdamai, bukan membalaskan.”

“Tapi masuk ke lapangan voli?” tanyaku heran.

“Sebenarnya aku berencana menceritakan ini setelah aku kembali ke Jogja Senja. Tapi kejutan macam apa ini, kau malah datang ke sini?” raut riang membingkai wajah Neli.

“Ya sudah ceritakan sekarang,” aku kebingungan harus menjawab apa.

“Senja, kenangan-kenangan itu memang buruk. Tapi, alih-alih mengingatnya dan membencinya, bukankah berdamai dengan semuanya adalah pilihan yang tepat? Aku memilih untuk menggenggam erat semua kenangan itu, bukan melupakannya karena ujung-ujungnya akan ingat lagi, kan? Berdamai dan menerimanya adalah pilihan terbaik.

Menggenggam erat, untuk berdamai. Saat kau berhasil berdamai dengan kenangan menyakitkan itu, itu akan berubah jadi kebanggan Senja. Bahwa kau pandai berdamai dengan hidup, kau berhasil meninggalkan kenangan menyedihkan itu jauh di belakang.”

“Aku memang membenci voli Senja. Memang teramat banyak kenangan menyakitkan. Tetapi, bukankah lebih banyak kenangan manis yang harus dijaga agar tak hilang dari ingatan? Itu sebabnya aku memilih untuk berani masuk lapangan lagi Senja. Berdamai dengan semuanya.”

Penjelasan Neli sempurna membuatku menganga, “Neli,” aku menatapnya lamat-lamat dengan suara bergetar.

“Cobalah untuk berdamai Senja, coba saja, kau akan menang.”

Aku tau betul bagaimana luka masa lalu itu membuat Neli amat terpuruk beberapa tahun ini. Kecintaannya pada voli berubah menjadi kebencian ketika keluarganya menentang keinginannya untuk menjadi atlet voli. Neli adalah pemain voli kawakan di klub berlatihnya. Ada salah satu bank ternama yang melirik Neli dan ingin merekrutnya untuk tergabung dalam tim voli bank itu. Tapi peristiwa malam itu, membuatnya harus mengubur mimpinya dalam-dalam.

Saat berdebat dengan ibunya hari itu, dia menangis kencang. Ayahnya merusak bola voli kesayangannya dengan pisau supaya dia berhenti bermain voli lagi. Keluarganya, khususnya ibunya beranggapan bahwa kodrat seorang wanita adalah di rumah, mengabdikan hidup untuk melayani keluarga. Bukannya menghabiskan waktu begitu lama di lapangan kemudian bepergian dari satu daerah ke daerah lainnya untuk bertanding.

Ibunya dengan tegas menyuruh Neli untuk mengambil pendidikan yang wajar ketika memasuki waktu kuliah. Bekerja yang wajar – idealnya kantoran supaya tetap banyak waktu dengan keluarganya. Ibunya beranggapan bahwa seorang atlet tidak pernah di rumah, bahwa atlet adalah orang liar yang tidak punya keluarga. Terlebih lagi seorang wanita, ibunya menganggap tabu dan hal gila jika seorang wanita menjadi atlet. Ibunya sangat ingin Neli memenuhi kodrat seorang wanita untuk mengurus rumah tangga.

Semenjak perdebatan panjang hari itu, Neli memutuskan untuk membenci voli supaya bisa menghilangkan ingatan tentang voli dan tidak tersiksa ketika mengingatnya. Neli dengan sengaja menjadi sukarelawan – supaya jarang berada di rumah dan membuat ibunya merasa semakin merasa kesal karena Neli melanggar kodrat seorang wanita.

Padahal keputusan Neli untuk memenuhi panggilan kemanusiaan adalah mulia. Neli hanya ingin menunjukkan pada keluarganya, bahwa apapun pekerjaan seorang wanita, jika ia bijak mengatur waktu, akan tetap bisa mengabdi untuk keluarga. Dia berusaha mematahkan stigma bahwa wanita hanya mempunyai hak untuk mengurus rumah dan selalu berada di rumah.

“Tidak mudah untuk berdamai Neli. Tapi aku akan mencobanya,” aku mengatakannya dengan kepala tertunduk. “Ada satu lagi Neli,” aku mengangkat kepalaku.

“Katakan Senja.”

“Aku yakin kau sudah tau perasaanku Neli. Perasaan itu berubah menjadi sesuatu yang berbeda sekarang, bukan lagi sekedar sahabat, kawan masa kecil, atau apalah..”

“Aku tau Senja,” Neli memotong kalimatku, matanya berbinar. “Aku juga punya perasaan yang sama. Perasaan itu.”

“Sudah saatnya kita benar-benar berdamai dengan semua luka itu. Sudah saatnya kita mematahkan stigma keluarga kita tentang seperti apa seharusnya seorang wanita maupun laki-laki menjalani hidupnya. Kita pasti bisa mengubah perspektif keluarga kita masing-masing Senja.

Berdamailah terlebih dahulu. Pekan depan kita akan pulang bersama-sama dan bersama-sama berdamai dengan keluarga kita. Bukan saling berdebat, tapi mematahkan stigma itu dengan jalan damai. Berdamai, pilihan terbaik.”

Aku spontan memeluk Neli yang sedari tadi tersenyum sambil meneteskan air mata. “Mari bersama-sama menjemput janji kehidupan Neli. Menjemput janji kehidupan denganku,” ujarku pelan sambil memeluk Neli.

Bio :

Theresia Vinka Andini, seorang gadis berdarah Jawa Ambon yang akrab disapa Vinka. Tertarik dengan dunia kepenulisan sejak dini dan aktif mengasah diri melalui berbagai kegiatan kepenulisan. Dapat dihubungi melalui; nomor telepon 085231652341, alamat email vinka.andini04@gmail.com, dan laman Instagram @theresiavinkaa.

Terimakasih – Salam literasi 😊

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment