by

Mariam dan Aku (Kursi Tua di Sudut Kamar)

Dari sudut kamar aku menjadi saksi perjalanan sebuah kehidupan Mariam, begitu aku mendengar dia dipanggil. Seperti hari ini aku hanya bisa melihat saat wanita tua renta, yang sudah hampir genap setahun hanya bisa terbaring di kasur lusuh itu, mencoba meraih cangkir plastik berwarna merah berisikan air putih, di samping kasurnya.

Tangannya masih bergerak meraih, tapi dia hanya bisa menghela napas dan akhirnya menyerah karena kelelahan, padahal sedikit lagi dia sudah bisa menggapainya, ah! Geram aku dibuatnya.

Badannya sangat kurus nyaris tampak seperti hanya tulang berbalut kulit keriput, rambut yang dulu hitam panjang dan lebat itu telah menjadi uban dan rontok dimana-mana, matanya terlihat lebih banyak tertutup, entah dia memang tertidur atau mungkin mata yang begitu sering berbelek dan berair itu, lebih nyaman untuk dipejamkan saja.

“Makan mak”,  seorang wanita paruh baya masuk dan membawa sepiring nasi.

Dia Nani, anak sulung dan satu-satunya anak perempuan Mariam dari tujuh bersaudara. Dari semua anak Mariam hanya Nani yang tetap di kampung dan tinggal di rumah Tua, sedang yang lain memilih merantau dan hanya pulang setahun sekali saat lebaran.

Pelan Nani menyuapi maknya yang sudah tua renta itu dengan nasi putih, kuah sayur, dan sepotong ikan goreng tanpa sambal, begitu yang selalu aku dengar saat kadang ia mengobrol sambil menyuapi Mariam, tampaknya dia sengaja mencari bahan obrolan sekali-kali,  karena pada kenyataannya lauk yang dia berikan hampir sama setiap harinya.

Nani memang tak kenal lelah mengajak Mariam berbicara, padahal dia tau bahwa respon ibunya sering melantur.

Nani tampak dengan sabar menunggu Mariam mengunyah nasi dengan mulut yang tinggal gusi tentunya, meski sudah diberi kuah banyak dan dipenyet-penyet dengan sendok sebelum disuapi ke Mariam, tetap saja si tua renta itu begitu lama mengulumnya di dalam mulut.

Baca Juga  Cerpen: KAMARKU TEMPAT KENYAMANANKU

“Cepatlah mak makannya, saya mau ke sawah lagi’’ kata Nani dengan wajah lelah dan wajah merah terbakar mata hari.

“Mak buang air besar lagi?” tanya Nani saat sadar bau tak sedap mulai menyebar setiap sudut ruangan kamar, yang pada kenyataanya memang sudah sangat bau sejak Mariam terkulai di tempat tidur, tapi berbeda dengan bau kotoran manusia yang membuat aku pun sesak, setiap Mariam membuang hajat di tempat tidur.

“Bagaimana mak ini?” lagi saya suapin makan, malah berak” kata Nani dengan nada keras kepada Mariam.

“Mak, aku dimarah-marahi di sini” kata Mariam sambil menangis bagai anak balita yang sedang mengadu kepada ibunya.

“Mak saja sudah setua ini, bagaimana maknya mak kalau masih hidup”.

Aku mendengar Nani merutuk pelan  dan meninggalkan kamar tua Mariam. Sedang aku hanya biasa melihat Mariam yang terus terisak seperti anak-anak.


Lebih kurang 15 menit berlalu, aku terkejut Nani kembali masuk ke kamar dan mendudukiku, satu satunya barang dan kursi kayu reyot di kamar Mariam selain kasur lusuh yang dia tiduri, kaki kanan depanku memang sudah lama agak miring, tapi hari ini rasanya terlalu berat untuk bertahan, kakiku terasa semakin miring dan mau patah.

Sambil duduk Nani memandang sendu ke arah Mariam “Maafkan aku mak”, bisiknya lirih, tatapannya masih ke arah Mariam yang telah tertidur dengan tinja yang tentunya masih belum dibersihkan.

“Maafkan aku mak”, lirih Nani lagi di sela tangisnya, karena 15 menit merenung menyadarkannya bahwa setua apapun dan seramai apapun anakmu, ternyata tetap ibu yang kau panggil, tetap ibu yang ingin kau berbagi keluh kesah dengannya, tetap ibu yang pelukannya sempurna tenangkan sakitmu.

Baca Juga  Cerpen: PAKAI HATI

Nani bangun dan menghampiri waniita tua renta yang sedang pilu hatinya itu, dengan lembut dia membersihkan kotoran sang ibu, dalam hati Nani berdoa agar Tuhan menjadikan hatinya Ikhlas, merawat perempuan yang telah melahirkan dan membesarkannya .


Pagi-pagi sekali, Nani masuk ke kamar dan membuka jendela, Nani membersihkan tempat tidur Mariam dari ompol semalam dan dengan lembut membersihkan Mariam dengan handuk basah, setelah menyanggul rambut ibunya, Nani tak lupa menambah bedak bayi di wajah sang ibu.

Nani keluar sebentar dan masuk lagi dengan piring Nasi di tangannya.

“Mak, saya minta maaf”, pinta Nani sambil terus menyuapi sang ibu, sedang sang ibu yang memang sudah tak banyak bicara dan telah kembali ke masa anak-anaknya hanya merespon “lagi”, saat nasi di mulutnya sudah habis ditelan. Kemudian hanya hening, Nani terus menyuapi sang ibu dengan mata yang terus menatap pilu.

Setelah menyuapi ibunya, Nani mengambil sapu tangan dan membersihkan mulut Mariam. Lalu Nani mengambil tangan ibunya dan mencium dengan penuh penyesalan “Maafkan saya mak, saya ke sawah dulu”, kata Nani lalu meninggalkan aku dan Mariam di kamar.

Dari sudut kamar, aku melihat Mariam tertidur pulas, “Mak” igaunya, kemudian pulas kembali. Begitu pulas sampai tak terlihat lagi gerakan naik turun di dadanya seperti biasa.

Penulis : Ye Je

Gravatar Image
Menulis untuk belajar, penyuka hujan dan pantai

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

Artikel Terkait