by

Maria is Dead

Maria is Dead

Oleh:

Hanifah Army Azahra

Dentuman musik yang menggema telah menyumbat telinga semua orang. Sorotan-sorotan lampu beraneka ragam warna menyuar, menutup warna asli dinding ruangan luas ini. Orang-orang dengan busana nyentrik bernyanyi dan menari ria di tengah ruangan. Tidak peduli seberapa mabuk mereka sekarang.

Sudah seminggu ini aku mendatangi tempat yang sama setiap malamnya. Tempat di mana hanya ada kesenangan dan hal-hal liar yang belum pernah kutemukan sebelumnya. Tidak banyak yang kulakukan. Hanya minum, merokok, dan memperhatikan orang-orang bodoh menari seperti cacing kepanasan.

“Sudah berapa banyak?” celetuk seseorang yang baru duduk di sebelahku.

“Dua gelas. Aku sedang tidak ingin mabuk hari ini.”

Pemuda itu tertawa renyah, lantas meninju pelan lenganku. “Payah. Biasanya kau habis sebotol atau bahkan lebih.”

“Aku masih waras dengan berhenti membuat ginjalku celaka. Ini juga demi Maria. Kau seharusnya belajar dariku, Nick. Dasar otak udang,” balasku sambil merogoh bungkus rokok di saku celana dan mengambilnya sebatang.

“Ah, kau sekarang jadi lebih mendramatisa karena adikmu. Gadis itu tidak akan pernah ditemukan lagi. Percaya atau tidak, dia sudah jadi bangkai. Berhentilah mencari dan relakan saja kepergiannya,” ujar Nick.

Aku terdiam sejenak, mencerna setiap kata yang tidak sepantasnya Nick ucapkan. Pemuda itu sudah mulai kelewatan terhadapku sekarang. Dia menganggap remeh hilangnya Maria, satu-satunya adik yang kumiliki.

Rasa panas menjalar dari punggung hingga tengkuk. Kedua tanganku mengepal kuat. Aku lantas bangkit berdiri dan mencengkeram kerah baju Nick. Tanpa berlama-lama lagi, aku menghunjamkan bogem mentah ke wajah Nick. Seketika, tubuhnya jatuh terpelanting dan menghantam lantai dengan keras.

Bugh!

Bunyi debum yang dihasilkannya berhasil memancing perhatian orang-orang. Berpasang-pasang mata sontak menatap kami penuh tanda tanya. Nick mengerang kesakitan. Ia berusaha bangkit, lalu menatapku bengis. “Berengsek! Kenapa kau ini!?”

“Banyak omong! Kau lupa kalimatmu sendiri, huh?! Memang bodoh! Kau tidak pernah belajar apalagi tahu rasanya menjadi seorang kakak! Jadi sebaiknya tutup mulutmu!” bentakku tak kalah keras.

“Gadis gila! Mati saja kau!”

Alih-alih merasa bersalah dan meminta maaf, Nick justru bersiap meninjuku balik. Namun sayang, ia kalah cepat. Aku langsung menghantamkan kursi bar ke tubuhnya sebelum dia memukulku. Lagi-lagi, dia ambruk di tempat yang sama. Hanya dalam hitungan detik, darah segar mengucur di keningnya, membasahi wajahnya.

Aku mengatur napas, berusaha mendinginkan kepala. Segaris senyum miring terukir di wajahku. Baru kali ini, aku merasa sangat puas setelah menghajar orang lain. Tak ada yang berani mendekatiku bahkan Nick. Mungkin mereka berpikir dua kali untuk melakukannya setelah melihat Nick yang terkapar tak berdaya sekarang.

“Hei! Sudah cukup kalian berdua!”

Seorang wanita dengan balutan gaun minim tiba-tiba menghampiri kami. Di belakangnya, tampak 2 orang pria berbadan besar menyusul sekaligus mengawasinya. Wanita itu memandangi Nick tertegun, sebelum akhirnya beralih menatapku garang.

“Kalian berdua segera tangani bocah ini. Dan Shora, kau ikut aku sekarang. Kita perlu cari udara segar untukmu,” ujarnya dingin.

Aku hanya bisa pasrah ketika wanita itu menarik lenganku dan membawaku ke suatu tempat yang cukup jauh dari bar. Aku tidak berani melawan, karena dia adalah ibuku sendiri. Ya, aku tidak pernah mengira jika selama ini Ibu diam-diam mengikutiku ke bar.

PLAK!!

Satu tamparan keras mendarat mulus di pipi kananku. Belum sempat aku mengaduh, Ibu kembali menamparku untuk kedua kalinya. Sangat keras hingga telingaku berdenging dan sudut bibirku robek karenanya.

“SADARLAH! APA YANG TERJADI PADAMU!? APA KAU SUDAH TIDAK WARAS!? KAU HAMPIR MEMBUNUHNYA!!” teriak Ibu berapi-api.

Baca Juga  Ayah

“Sudah sebulan Maria hilang. Aku memintamu untuk mencarinya dan kau justru pergi ke bar. Di mana letak otakmu, hah!?” lanjutnya. “Apa selama ini kau menganggap hilangnya Maria sebagai masalah sepele!? Lalu membiarkannya mati tersesat sehingga jasadnya tak bisa ditemukan, begitukah maumu!? Aku tidak menyangka putriku lebih memedulikan kesenangannya daripada nasib adik kandung sendiri.”

Aku termangu sesaat. Berusaha menahan perih di sudut bibirku yang terus mengeluarkan darah. “Bu, aku juga manusia. Aku butuh istirahat. Mencari Maria tidak semudah menampar orang.”

Ibu memelotot marah. “Oh, kau menyindirku sekarang?”

“Tidak. Aku hanya ingin pulang. Besok aku akan lanjut mencari Maria kesayanganmu. Itu maumu, ‘kan?” ujarku sinis.

“Sebaiknya kau benar-benar mencarinya, Shora.”

Aku langsung melenggang pergi tanpa mengucap sepatah kata. Kurogoh korek api dan sebatang rokok yang masih tersimpan di saku jaket, lantas menyalakannya. Persetan dengan umpatan yang dilontarkan Ibu. Aku lebih suka menghirup puluhan gram nikotin daripada harus menanggapi wanita yang hanya memedulikan adikku.

Sebut aku cemburu, karena memang begitulah kenyataannya. Aku dan Maria lahir kembar identik, tetapi aku 10 menit lebih tua darinya. Meskipun kembar, kami mendapat perlakuan yang sangat berbeda dari Lizbeth, ibu kami. Singkatnya, Lizbeth lebih menyayangi Maria daripada aku.

Lizbeth bersikap demikian bukan tanpa alasan. Dulu saat Ayah masih hidup, Lizbeth juga sangat menyayangiku. Namun suatu ketika, Ayah dan Maria mengalami kecelakaan mobil di hari ulang tahunku yang ke-8. Menyebabkan Ayah meninggal dunia dan kerusakan permanen pada mata kanan Maria.

Kematian Ayah membuat Lizbeth depresi berat. Ia menganggap diriku sebagai pembawa sial bagi keluarganya. Mulai saat itulah, Lizbeth yang kukenal berubah. Wanita itu tak lagi sudi melihat wajahku lama-lama. Kasih sayangnya berganti menjadi tamparan, pukulan, dan cacian.

“ANAK BEDEBAH! KAU HARUSNYA TIDAK PERNAH LAHIR!”

“Enyah dari hadapanku! Kau pembawa sial! Maria menderita karenamu!”

Masih kuingat saat pertama kali Lizbeth melontarkan cacian itu untukku. Aku yang hanya seorang bocah 8 tahun merasa sakit hati sekaligus bertanya-tanya.

Apa salahku? Kenapa Ibu begitu membenciku? Apa yang telah kulakukan kepada Maria hingga membuatnya menderita? Dan kenapa Ibu menyebutku sebagai pembawa sial?

Namun sekarang, aku berhasil menemukan semua jawaban dari pertanyaan itu. Aku seharusnya tidak pernah berulang tahun. Dan aku seharusnya tidak pernah ada.

Tapi, siapa yang bisa mengelak takdir? Pantaskah aku menyalahkan Sang Pencipta? Tentu tidak. Semuanya terjadi atas rencana Tuhan.

Kembali pada pagi esoknya, aku benar-benar memenuhi permintaan Lizbeth. Kupacu mobilku menyusuri seluruh kota ini beserta pinggirannya, mencari Maria. Jangan berpikir kalau aku hanya menyusuri satu kota saja. Selama sebulan, 5 kota berbeda pernah kupijaki hanya demi anak kesayangan Lizbeth. Namun sama saja, aku tak menemukan batang hidung anak itu.

Aku mulai lelah dan lapar. Duduk sambil menyetir berjam-jam membuatku pusing. Kuputuskan untuk singgah di sebuah diner yang tidak terlalu ramai, mengingat hari sudah malam.

“Aku ingin sebotol bir dan omelet. Juga roti isi.” Seorang pelayan yang mencatat pesananku mengangguk, kemudian beranjak menuju dapur.

Kedua mataku menelusuri setiap bagian dan sudut diner. Diner ini tidak jauh berbeda dengan kedai-kedai makan pinggir kota yang pernah kudatangi. Tak ada yang istimewa menurutku. Bahkan pajangan ataupun frame besar berisi foto-foto konsumen yang mendapat gelar pelanggan setia pun terlihat prosais di mataku.

“Hei, kau ingin makan apa? Biar kutraktir.”

“Ah, tidak, Nick. Kau sudah sering mentraktirku. Kali ini biar aku saja, oke?”

Baca Juga  Cerpen: Sebuah Rasa

“Ya, baiklah.”

Perhatianku teralihkan oleh percakapan dua orang berpenampilan ala punk-rock yang baru saja memasuki diner. Salah satunya merupakan gadis berambut cokelat terang dan memakai eyepatch. Sedangkan satunya lagi adalah pemuda dengan bekas luka memar di wajahnya. Jika kuperhatikan lebih saksama, mereka tampak sangat dekat dan mesra. Layaknya sepasang kekasih, atau mungkin memang begitu.

Hei, tunggu. Bekas luka memar? Eyepatch? Otakku terlalu cepat memproses keadaan. Sehingga berpengaruh pada map ingatanku.

Dua orang itu, entah kenapa aku merasa sangat familier dengan mereka. Aku yakin aku pernah melihatnya, bahkan kami juga sering bertemu sebelumnya.

“Nick? Maria?”

Tanpa sadar, aku memanggil nama mereka. Cukup keras hingga membuat keduanya menoleh ke arahku. “S..Shora?”

Bak kepergok mencuri, mereka menatapku kaget sekaligus tidak percaya. Benar saja, dua orang itu tidak lain adalah Nick dan Maria. Saat itu juga, aku merasa jarum waktu berhenti bergerak. Seolah tak menyisakan sedetik saja untuk sekadar bernapas.

Senang? Tidak. Justru hanya kecewa yang bisa kurasakan sekarang. Perasaan itu membuat dadaku sesak. Bulir-bulir air mata mulai berjatuhan melewati pipiku. Menyakitkan, sungguh. Bahkan ini lebih sakit daripada penyakit fisik yang pernah kualami.

Tak ingin lama-lama tertegun, aku lantas beranjak berdiri. Lalu menghampiri meja Maria dan Nick. Dengan emosi, kutarik pergelangan tangan Maria. Memaksanya untuk ikut keluar bersamaku.

“Shora, apa-apaan ini! Lepaskan aku!” Maria memberontak, berusaha melepaskan cengkeraman tanganku.

PLAK!

Tanpa berpikir panjang, aku langsung mendaratkan satu tamparan di pipi Maria. Tidak terlalu keras, hanya saja mampu membuatnya jatuh terpelanting. Anak itu mengaduh kesakitan. Tangannya memegangi bekas tamparan yang terlihat kontras di wajahnya. Ini seperti déjà vu. Yang di mana Lizbeth juga menamparku semalam.

“Apa salahku!? Apa kau sudah gila, hah!?” bentak Maria tidak terima.

“KAU YANG GILA, BODOH! KE MANA SAJA KAU!? Satu bulan penuh aku bersusah payah mencarimu dan kau justru bermesraan dengan Nick! Asal kau tahu, Lizbeth berkali-kali hampir membunuhku karena aku tak kunjung menemukanmu!”

Satu alis Maria terangkat. Ia lalu bangkit berdiri seraya menatapku bingung. “Untuk apa kau mencariku? Aku tidak hilang karena di kota inilah tempatku tinggal.”

Mataku membulat sempurna. “Jangan bergurau, Maria! Ini tidak lucu. Ikut aku pulang sekarang. Lizbeth membutuhkanmu,” ucapku sambil menegaskan kalimat akhir.

“Dengar, aku bukan Maria. Aku Espada. Espada Falhen, teman sebangkumu di SMP, ingat?”

Kurasa anak ini sudah gila. Sampai-sampai dia tidak ingin mengaku sebagai Maria. Ia justru menyebut dirinya Espada Falhen, teman baikku saat SMP dulu. Tapi, aku lebih tahu mana yang benar atau salah.

“Hentikan bualanmu, Maria! Espada memang teman sebangkuku di SMP dan kau bukan dia. Gadis itu sudah meninggal,” balasku. “Kau juga tidak bisa menyamar sebagai Espada, karena Espada tidak buta sebelah sepertimu.”

Maria mengusap wajahnya gusar. “Shora, sadarlah! Aku tidak buta! Aku benar-benar Espada dan aku masih hidup! Adikmulah yang meninggal!”

Aku mulai muak dengan omong kosong Maria. Ia masih saja mempertahankan kebohongannya. Paling parah, dia juga mengatakan jika dirinya sudah mati. Membuatku tak dapat menyelaraskan emosiku lagi.

Tanganku lantas merogoh sesuatu yang kusembunyikan di balik pinggangku. Kemudian mengarahkannya tepat di kepala Maria. “Kau tidak memberiku pilihan, Maria. Meskipun begitu, aku tetap memberimu pilihan. Pulang atau hal terburuk akan menimpamu.”

Maria membelalak. Wajahnya menyiratkan rasa takut yang begitu besar. “Shora, kau mau apa!? Jauhkan benda itu dariku!”

Baca Juga  Cerpen: Awalazam

“Tidak sebelum kau bersedia pulang ke rumah!” bentakku.

“Sadarlah, Shora! Kau tidak tahu seburuk apa jadinya jika tak segera menjauhkan pistolmu!” ucap Maria dengan nada bergetar.

Cengkeraman tangan pada pistolku semakin kuat. Jari telunjukku mulai menyentuh pelatuk pistol. Emosi yang tak terkontrol disertai memori kelam masa kecilku berhasil menguasai tubuhku. Kemudian dengan cepat memanipulasi pikiranku.

Kini, aku merasa Shora yang asli telah berubah menjadi sesosok monster. Monster yang lahir karena perlakuan buruk ibunya. Dan monster yang berhasrat melenyapkan adiknya sebagai bentuk pembalasan dendam.

“Shora, kumohon! Jangan melakukan sesuatu yang akan kau sesali!”

“Jauhkan benda itu dari Espada, psikopat!” Seseorang tiba-tiba menyerangku dari belakang. Ia berusaha merebut pistolku dan melemparnya. Namun, hal itu justru mengundang masalah baru.

DAR!

Suara tembakan menggema. Tepat setelah jari telunjukku tak sengaja menekan pelatuk pistol saat perlawanan tadi. Aku tidak tahu kepada siapa dan apa timah panas mendarat. Yang pasti itu bukan aku.

“ESPADA!” Nick, orang yang ternyata menyerangku itu memekik. Refleks, aku pun menoleh ke belakang.

Kedua mataku membulat. Tubuhku melemas dan napasku tertahan di tenggorokan. Di sana, Maria tergeletak tak berdaya dengan leher yang bersimbah darah. Pistol di genggamanku tiba-tiba jatuh.

“Maria…”

“Espada! Espada, bangunlah!” Nick berusaha membangunkan Maria di pangkuannya. Mengabaikanku yang masih berdiri mematung dengan perasaan kacau. Apa yang telah kulakukan?

“KAU SAKIT JIWA, SHORA!” gertak Nick sambil bercucuran air mata. “Kau telah membunuhnya! Gadis hina macam apa kau ini?!”

Aku merasa ribuan belati menusuk jantungku. Air mataku meleleh. Dengan gusar, aku menghampiri Nick lalu menjauhkannya dari Maria. “Minggir kau!”

“Maria! Maria, bangunlah! Kumohon, jangan seperti ini! Maafkan aku. Maaf.”

Bugh!

Satu bogem mentah dari Nick mendarat di wajahku. Lebih keras dan menyakitkan dibanding tamparan Lizbeth. “SADARLAH! BUKA MATAMU! Dia bukan Maria! Dia Espada Falhen, teman baikmu!”

“Aku tahu kau masih sangat terpukul dan sakit hati karena ibumu, Shora. Tapi kumohon ingatlah. Ingatlah bahwa Maria sudah meninggal dalam kecelakaan itu. Ingatlah bahwa kau harus segera menghentikan kecanduanmu,” tutur Nick sambil memegangi bahuku.

Aku terdiam sebentar, merenungi ucapan Nick. Namun kepalaku mendadak terasa sakit dan telingaku berdenging. Sontak aku mengerang kesakitan. Kedua tanganku langsung menjambak kuat rambutku.

“Shora, ada apa denganmu!?” tanya Nick cemas. Aku hanya membalas dengan gelengan kepala.

Tak lama berselang, rasa sakit itu perlahan menghilang. Aku lantas memandangi mayat Maria. Tidak ada eyepatch di matanya. Rambutnya yang semula berwarna cokelat terang, kini menjadi hitam legam seperti rambut Espada. Tidak, Nick benar. Gadis itu memang Espada dan aku telah menghabisinya.

Air mataku mengalir deras. Seolah terbangun dari tidur panjang, kini aku sadar. Semua ini hanyalah halusinasi berkepanjangan. Keberadaan Maria setelah kecelakaan hingga sekarang tidaklah nyata. Terutama Maria itu sendiri.

Aku ingat bahwa Maria sudah mati. Aku ingat selama ini Lizbeth mengalami gangguan mental karena kematiannya. Dan aku ingat, aku adalah korban dari kegilaan ibuku sendiri.

Kekerasan demi kekerasan fisik yang dilakukan Lizbeth membuatku sekujur tubuhku mengalami rasa sakit berkepanjangan. Sehingga aku terpaksa mengambil jalan pintas untuk menghentikannya. Sebuah jalan pintas yang lebih dari sekadar menekan rasa sakitku selama ini.

Morfin dan teman-temannya.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment