by

Lelaki yang Menulis Puisi Cinta Misterius

Aku menyusuri beberapa postingan di akun Instagram biro jodoh. Iseng melihat-lihat karena enggan dijodohkan. Orang tuaku bilang, mereka akan mengenalkanku pada anak teman mereka jika aku belum punya calon. Padahal usiaku baru 25 tahun, belum terlalu mengkhawatirkan jika belum menikah.

Feed Instagram di hadapanku menampilkan foto terkait informasi domisili dan usia para jomlo. Indera penglihatanku fokus mencari laki-laki yang berdomisili di Semarang dengan usia kisaran 27 tahun. Ya, hatiku masih menggenggam satu nama sejak lulus dari bangku kuliah lima tahun lalu. Laki-laki berkacamata dengan rahang tegas itu. Dia yang dua tahun lebih tua dariku, seusia kakakku.

Jika perasaanku tak salah, dia juga menaruh hati padaku. Aku sering menangkap basah sosoknya yang mencuri pandang ke arahku. Pernah suatu kali saat kami diharuskan satu kelompok berdua saja, dia datang ke kafe tempat kami mengerjakan tugas dengan gaya yang sungguh berbeda.

Retinaku tak berkedip menatap sosoknya. Pakaiannya lebih necis dan stylish. Kemeja kotak-kotak lengan panjang berwarna navy dipadu dengan celana panjang kain berwarna krem dan sepatu sport putih. Aku tak pernah melihatnya memakai setelan itu sebelumnya. Aroma wangi menggelitik sel-sel syaraf dalam indra penciumanku. Rambutnya diberi pomade dengan gaya agak spiky, menggantikan gaya belah samping yang sehari-hari dia tampilkan.

Ada yang bertalu-talu di dalam dadaku. Aliran darahku berdesir kencang. Wajahku tiba-tiba menghangat. Apa kau kemarau yang merindukan hujan? Tapi, mengapa kau tak pernah mengungkap rasa? Ah, membayangkannya saja sering membuatku cengar-cengir sendiri. Hampir setiap malam laki-laki itu menjadi lakon utama dalam bunga tidurku.

Otakku baru fokus kembali padahal layar saat menemukan tiga orang pria, yang berdomisili di Semarang dengan usia 27 tahun. Kubaca profil sekilas salah satu feed Instagram tersebut. Tinggi 165 cm, kulit sawo matang, berkacamata, lulusan S1. Ciri-cirinya mirip Jafaf. Bergegas kuhubungi kontak yang tertera di sana. Kekecewaan memelukku saat kudapati foto di CV yang dikirimkan ternyata bukan dia.
**

Aku membuka amplop dengan fotoku yang tertempel di bagian depan. Beberapa potong kertas berukuran 5×6 senti berhamburan begitu kutuang isinya ke pangkuan. Permainan dalam ospek jurusan kali ini sangat seru. Di hari ketiga kamping, setiap mahasiswa diminta untuk memasukkan beberapa potong kertas ke dalam amplop lalu menempelkan fotonya di bagian depan amplop.

Baca Juga  Cerbung: Nur Jannah (part 1)

Teman-teman dan senior akan memberikan komentar tentang orang dalam foto. Yang menarik, setiap komentar ditulis tanpa nama. Sungguh membuat penasaran, kan?

Sebagian besar ulasan dalam amplopku memuji kulit kuning langsat bak mangga muda dan wajah semanis kelengkeng warisan ayah. Satu dua mengomentari sifat cuekku. Ada juga yang menyebutku terlalu pendiam seperti patung. Tapi, tunggu, ada satu kertas yang berbeda, penuh terisi tulisan.

Meski lisan tak kuasa berucap
Sinar mata telah membuktikan segala
Meski lidah mendadak kelu saat bersua
Degup di balik dada takkan sanggup berdusta
Meski raga kita jarang bersama
Setiap malam sosokmu selalu menjelma
di benak dan hatiku …

Aku, kemarau yang merindukan hujan

Hmm, siapa orang iseng yang menulis puisi sok romantis ini? Aku tertawa sendiri dalam hati. Tanpa sadar, bibirku turut menyunggingkan seulas senyum. Lalu, merasa diperhatikan, kualihkan pandanganku ke arah jam 1. Saat retinaku bertatapan dengan retina legam miliknya, lelaki itu cepat-cepat memalingkan wajah.

Deg! Satu sengatan listrik seolah menyapa jantungku. Pandanganku masih tertuju pada sosok berkacamata dengan rahang tegas di depan sana. Kali ini, dia sibuk membaca tulisan-tulisan di kertas miliknya. Darahku mendadak berdesir kencang. Bagaimana tanggapannya saat membaca kertas dariku?

Aku iseng menuliskan “calon papa kece” di kertas miliknya. Memang itu yang kupikirkan tentangnya. Meski kertas itu tidak ada nama penulisnya, bagaimana jika dia mengenali tulisan tanganku? Ah, aku menutup muka. Sepertinya wajahku sudah bersemu merah.

Omong-omong soal membaca tulisan tangan, aku mencoba mengamati kertas berisi puisi yang masih kupegang. Rasanya tulisan tangan ini familier. Huruf-hurufnya miring ke kiri dan tidak saling bersambungan dengan jarak antar kata yang jauh. Kupikir tulisan ini milik teman satu jurusan, bukan kakak senior, tapi tulisan siapa?
**

Baca Juga  Cerpen: Perawan Berawan

“Rinai Rain?” seru Jafaf kaget begitu kami bertemu di ambang pintu rumahku.

Otot-otot bibirku spontan bergerak ke samping. Jafaf balas tersenyum. Senyum yang jauh lebih memesona dibanding yang bisa kuingat terakhir kali. Aroma parfum Woody miliknya masih sama dengan yang biasa dipakainya. Desiran halus kembali menyergapku.

“Yuk, masuk,” ajakku, berusaha meredam gejolak di dada yang seolah hendak berlompatan keluar.

Tiga laki-laki asal Semarang di feed Instagram biro jodoh memang bukan Jafaf. Tapi, dari ratusan pesan yang masuk ke inbox surelku, salah satunya adalah dia yang kini bertugas di Mojokerto. Sungguh kebetulan yang menyenangkan. Setelah saling berkirim pesan via surel, kami sepakat untuk bertemu di rumahku. Ya, aku sengaja memintanya ke rumah untuk membuktikan keseriusannya.

“Kamu apa kabar? Aku nggak nyangka kalau itu kamu,” celetuknya saat kami sudah duduk berhadapan di sofa.

“Aku baik. Emang nggak ngenalin fotoku?” Jafaf tertawa renyah.

“Sebenernya yang ikutan program itu bukan aku.”
Hatiku mencelos. Mendung mendadak menghampiri.

“Sobatku yang ngirim profil aku ke sana. Emang tuh anak iseng banget. Biar aku nggak jomlo lagi katanya.” Jafaf geleng-geleng kepala. Lengkungan manis tak lepas menghias bibirnya.

Aku ikut tersenyum, diam-diam bersyukur dalam hati. “Dan dia minta aku nemuin satu cewek tanpa ngasih tahu siapa. Surprise saat tahu kalau cewek itu kamu. Tapi, aku bersyukur, sih. Kalau nggak gini kan, aku nggak bakal ketemu kamu,” celetuknya.

Jadi, yang membalas pesan-pesan di surel itu sahabat Jafaf, bukan dia. Kemudian percakapan mengalir hangat. Jafaf lebih terbuka sekarang dibandingkan dulu. Obrolan kami berlangsung seru, dari sekadar basa-basi hingga nostalgia masa kuliah.

“Emang dulu kamu nulis apa di amplopku saat ospek jurusan?” tanyaku, tak bisa menyembunyikan rasa penasaran.

“Kamu beneran nggak tahu?” Jafaf malah balik bertanya.

Aku sudah mencocokkan tulisan tangan dalam kertas berisi puisi itu dan menemukan bahwa tulisan itu mirip dengan tulisan Jafaf. Mungkin saja dia yang menuliskan puisi untukku saat ospek jurusan. Namun, aku tak berani menyampaikan kemungkinan yang belum pasti. Aku pun menggeleng singkat.

Baca Juga  Cerpen: Menunggu Malaikat Maut

“Jafaf itu nama yang diambil dari bahasa Arab. Kamu tahu artinya apa?” Aku mengerutkan kening. Kenapa Jafaf malah membahas nama?

“Kemarau,” ucapnya saat melihat aku bergeming.”

“Kemarau ….” Aku membeo. Sorot mata Jafaf menatapku lembut.

“Ada kenangan tentang kemarau, Rain?” Sapaannya barusan membuatku tersadar. Hanya dia yang memanggilku Rain.
Rain, hujan. Aku menutup mulut. Astaga, kemarau itu memang kamu!
**

Tak ada lagi kode-kodean seperti saat zaman kuliah. Setelah mengulik pribadi masing-masing, Jafaf langsung menyatakan keinginannya untuk melamarku di pertemuan reuni kami. Untuk apa menunda niat baik, katanya. Aku merasakan wajahku memanas.

Satu pekan kemudian, lelaki berkacamata itu membawa keluarganya ke rumah. Awalnya, ayah dan ibuku setuju saja. Begitu kedua keluarga bertemu, ibuku dan mama Jafaf terlihat semringah dan tak segan berpelukan. Tampaknya mereka sudah saling kenal. Baguslah kalau begitu. Namun, saat papa Jafaf mengutarakan keinginan Jafaf untuk melamarku, ibu dan mama Jafaf tampak saling berpandangan sembari melempar kode. Mama Jafaf lantas memutuskan untuk berbicara.

“Dua puluh tujuh tahun yang lalu, ASI saya tidak keluar setelah melahirkan Jafaf. Saat diberi susu formula, Jafaf diare. Ternyata, dia alergi protein susu sapi. Dalam situasi yang sedang kebingungan seperti itu, dukungan datang dari teman-teman. Salah satunya ibu Rinai.” Wanita berkerudung hijau itu menghela napas panjang. Tampak berat melanjutkan ucapan berikutnya.

Tunggu dulu. Jangan-jangan ibu …. Aku menatap ibu dan mama Jafaf bergantian, meminta penjelasan.

“Saat itu, ibu Rinai juga mempunyai anak yang masih bayi. Dia yang membantu mendonorkan ASI-nya untuk Jafaf.”

Tubuhku bagai disambar petir di siang bolong demi mendengar kalimat mama Jafaf barusan. Jadi, aku dan Jafaf adalah saudara sepersusuan. Itu artinya kami tidak bisa menikah karena kami adalah mahram, orang yang haram dinikahi. Aku gegas berlari menuju kamarku, mengunci diri di dalamnya.

“Rain ….”

Panggilan Jafaf kuabaikan. Hujan telah sempurna turun di pipiku. []

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *