by

Kasiyah

Hamparan hijau di tepi pantai menerbitkan harapan di tengah kekalutan yang melanda jiwa. Debur ombak yang selalu menemani hariku, seakan mengingatkan diri ini untuk senantiasa bersyukur atas nikmat-Nya. Sulit melakukan itu ketika persoalan sedang menerpa.

Sudah dua bulan belakangan ini aku menaruh curiga atas gerak-gerik Kasiyah, yang tampak semakin jauh dari apa yang kukenal, seolah ada jurang tak kasat mata di antara hati kami, terlebih semenjak tanda-tanda perselingkuhan mulai tercium. Hanya tanda, dan kecil saja, tetapi aku sudah merasa tak nyaman karena luka masa lalu. Karena Sarmi, tepatnya.

Ketika itu Sarti memberitahuku bahwa Facebook-nya diblokir oleh Kasiyah. Setelah itu, Sulam, teman sekolahku–teman Kasiyah juga—bertanya padaku apakah Kasiyah sudah tak berhijab lagi, sebab dia beberapa kali melihat perempuan mirip Kasiyah dengan pakaian seksi di desa sebelah.

Juga, semakin hari Kasiyah semakin cantik, tetapi bukan wajah seperti itu yang ingin kulihat. Kasiyah telah kehilangan kecantikan alami, kecantikan yang begitu kurindukan di balik topeng tebal bernama makeup itu. Ah. Dia tak lagi sesederhana dahulu.

Ada lagi, Sulam membernama di akun Facebook-nya bukan lagi “Kasiyah Bojone Sartono”, tetapi Keysha Pramitha. Pramitha adalah nama belakang Hanum, putri kami yang masih berumur dua tahun. Sedangkan Keysha, siapa Keysha? Kurasa itu hanya pelesetan saja. Mungkin dia malu menggunakan nama aslinya.

Masalahnya, untuk apa dia memblokir Sarti dan banyak orang lainnya kalau tak sedang menyembunyikan sesuatu? Andai aku paham bermain Facebook, atau sekalian saja menjadi hacker, pasti sudah kuacak-acak akunnya. Sayang, ponselnya terkunci, sebab katanya Hanum sudah pintar mengunduh aplikasi, dan aku enggan menyelidiki.

**

“Mas. Sarapan,” ujar Kasiyah sambil menyodorkan sepiring nasi dengan sambal goreng cumi kesukaanku.

“Makasih,” jawabku singkat.

“Mas? Kok, kamu beda dari biasanya?”

“Ah. Beda apanya. Bukannya kamu yang beda?” Aku menuding balik. Dia sedikit terperangah.

Kasiyah mungkin bisa membaca air mukaku yang biasanya ramah. Ternyata aku lupa menarik kedua sudut bibirku ke atas. Maaf, Kas. Aku hanya sedang mencoba mengasah instingku sebagai laki-laki. Namun, aku sadar masih harus mengumpulkan banyak bukti.

“Mas, aku mau ngode lagi.”

Mataku mengerjap beberapa kali. Tak kuduga dia ingin kembali ngode, istilah yang populer di kampung ini untuk menyebut pekerjaan menjual ikan di TPI.

Rata-rata wanita di kampung pesisir ini, memang bekerja menjual ikan atau menjadi tukang masak di restoran seafood tepi pantai. Namun, aku tak ingin Kasiyah kembali bekerja, sungguh tak ingin. Andai satu hari berisi seratus jam tentu akan kugunakan semuanya untuk mencari uang, demi mempertahankan istriku agar tetap di rumah.

Baca Juga  Elegi Purnama

“Mas! Boleh ndak?” Kasiyah membesarkan volume suaranya.

“Hmm. Ndak boleh. Istriku ndak boleh bekerja. Apa belum cukup uang yang kuberikan setiap minggunya?”

“Ya kalau dicukup-cukupkan, sih, cukup saja, Mas. Tapi aku kan, kepingin punya mobil.”

“Astagfirullah, Kas!” Aku menghela napas.

“Kok, malah istigfar? Memangnya ndak boleh punya mobil? Orang hidup kalau ndak punya tujuan ya ndak bakal maju, Mas,” protes Kasiyah.

“Bukan ndak boleh, tapi uang sejuta seminggu itu kuperoleh dari bekerja siang malam, jaga WC, jadi kuli pasar, jualan mainan, bantu-bantu di warung Om Gaul, sama jadi tukang sapu pantai. Kalau mau punya mobil ya sabar. Tunggu beberapa kali panen lagi biar bisa beli yang murah-murah dulu.”

“Kalau cuma untuk uang muka aku juga masih simpan, Mas. Kita kredit saja, kayak si Ginah.”

Aku menggeleng. “Jangan. Aku ndak mau berurusan dengan yang namanya riba. Lebih baik beli sesuai kemampuan. Nanti kalau punya uang lagi bisa kita tukar dengan yang lebih bagus,” tegasku.

Kasiyah berlalu. Ada gurat kecewa di wajah ayu itu. Tak apa. Bagiku lebih baik raga ini habis tergerus lelah, asal keluarga kecilku tetap utuh—sebab aku curiga Kasiyah akan lebih mudah bertemu dengan selingkuhannya di sana.

Sejuta seminggu memang jatah Kasiyah, tetapi lebihnya kusimpan rapat di bank. Jumlahnya cukup untuk tambah-tambah beli mobil. Biarlah ini menjadi bagian dari kejutanku padanya.

**

Sarti tergopoh menghampiriku di ladang semangka. Dia mengacungkan tangan kanannya yang menggenggam ponsel. “Mas. Celaka. Ka-kamu harus siap m-menerima kenyataan,” ujarnya terbata-bata.

“Ada apa? Soal Kasiyah?” tanyaku pada adik perempuan satu-satunya itu.

“Mbak Kas sekarang ada di pemancingan Sikudi sama Hanum, sama cowok juga, ndak pakai jilbab dia. Mas Darmin yang kabari.”

“Ya, Allah!” Napasku tersengal.

“Mas Darmin sudah lama sembunyi-sembunyi membuntuti Mbak Kas. Hampir setiap siang Mbak Kas pergi. Jam empat baru kembali. Tetangga ndak ada yang tahu. Mereka kira Mbak Kas kerja.”

Darahku serasa mendidih. Gigiku gemertakan dan tanganku gatal. Berarti benar kata Sulam. Perempuan yang dia lihat itu memang Kasiyah. Tak ada waktu lagi. Aku harus menertibkan istriku yang mulai liar itu.

Cepat-cepat kunyalakan sepeda motor. Sarti melompat ke boncengan. Kami melaju ke arah utara dengan kecepatan tinggi. Terbayang terus di mataku ingatan-ingatan keji itu. Entah apa yang akan kulakukan jika Kasiyah benar-benar bertingkah seperti Sarmi. Aku takut, khawatir, marah dan panik dalam waktu bersamaan.

Baca Juga  Cerpen: Rumah Pohon Berbagai Cerita

Ingin aku berteriak, menumpahkan sesak di dada, tetapi Sarti pasti akan lebih heboh dalam usahanya menenangkanku, seperti yang sedang dia lakukan sekarang.

**

“Kasiyah! Apa-apaan ini?” bentakku pada pasangan haram yang sedang bermesraan di tepi kolam pemancingan.

“M-Mas Sartono ….”

Kasiyah terperanjat dan secepat kilat melepaskan diri dari pelukan lelaki pemakan teman itu.

“Sa-sabar, No. Aku bisa jelaskan.”

“Aah! Banyak bacot kamu!”

Aku mengayunkan tangan dengan kekuatan penuh disertai amarah yang membara. Sayang, Darmin tiba-tiba berdiri di belakangku dan menahanku mendaratkan bogem mentah.

“Sabar, Mas. Jangan emosi. Bisa celaka,” kata suami Sarti itu.

Aku berusaha melawan nafsu dalam diriku untuk meninju dan mencekik pebinor itu dengan melihat keadaan di sekeliling. Puluhan mata tertuju ke arahku, Darmin tak henti mengusap punggungku sambil terus menenangkan. Sarti dengan wajah memelas terus memanggil namaku, sementara Hanum yang semula asyik bermain menangis ketakutan.

“Sudah berapa kali kamu tidur sama istriku? Jawab, Sulam!”

“Sumpah, aku baru dua kali janjian ketemu sama istrimu. Ndak ada tidur sama dia, cuma jalan-jalan saja. Aku khilaf, No. Maaf.”

“Lalu, apa maksud perkataanmu di warung Mbak Gin tempo hari, yang bilang Kasiyah tidak berhijab lagi? Kamu sengaja mengetes kepekaanku atau memang ingin mengejek?”

“Maaf, No. Kasiyah yang lebih dulu menggodaku.”

“Bohong! Sulam, kamu tega sekali! Kan, kamu yang ajak aku ke sini,” sanggah Kasiyah pada sesama pengkhianat.

“Sudahlah, pergi kamu, Sulam! Kalau mau cari pelampiasan jangan sama istri orang. Sekali lagi kupergoki kalian berhubungan walau cuma melalui chat, kuhabisi kalian berdua!”

Sulam terbirit setelah meminta ampun. Dia hafal betul bagaimana sifatku sejak masa sekolah. Tak ada yang kutakuti dan tak ada yang berani menyentuh Sarti, juga harga diriku.

“Mas …,” Kasiyah menatap penuh harap.

“Kas. Kita sudahi saja semuanya. Kamu silakan pergi, Hanum biar sama saya,” kataku dengan rasa sesak yang teramat sangat. Tak kusangka Hanum juga harus mengalami nasib buruk seperti yang menimpaku dan Sarti.

Kasiyah menangis dan bersujud di kakiku. Sarti menggendong Hanum sambil memohon pula padaku, tetapi tak ada yang kupikirkan selain mengusirnya.

“Tidak ada maaf untuk sebuah pengkhianatan. Aku ndak mau ada Sarmi lagi dalam hidupku!” kataku dengan suara bergetar menahan amarah dan luka yang kembali menganga.

Baca Juga  Cerpen: Pandemi Merugikan Atau Menguntungkan?

“Ibu, Mas. Sarmi itu ibu kita,” sela Sarti.

“Ya. Ibu yang tega pergi dari pagi sampai sore dan membiarkan kita kelaparan, Ibu yang tega mengunci kita di kamar mandi sementara dia asyik berbuat mesum di kamar Bapak, Ibu yang tega mengancam kita pakai pisau kalau berani mengadu sama Bapak, Ibu yang memilih pergi bersama binatang jahanam itu!”

“Aku sama sakitnya, sama kamu, Mas. Kamu ingat, kan, kita selalu menangis tiap kali melihat anak-anak lain dipeluk mesra sama kedua orang tuanya, sedangkan kita, sakit pun ditahan sampai Bapak pulang. Aku ndak mau Hanum menderita seperti kita. Bukalah hatimu, Mas. Berikan Mbak Kas satu kesempatan lagi,” pinta Sarti sembari sesenggukan.

Aku terduduk lemas di lantai. Tak peduli di mana dan ada siapa, aku meraung-raung bak orang gila. Benci, dendam, juga kekecewaan yang sudah lebih dari dua puluh tahun kupendam kini tumpah sama sekali.

Entah berapa ribu luka yang Sarmi ciptakan sejak aku berusia delapan dan Sarti enam. Sarmi tak pernah tahu betapa aku harus menanggung malu setiap membuka pintu. Sakit sekali ketika anak-anak juga ibunya mengejekku sebagai anak pelacur.

“A-ampun, Mas. Aku khilaf. Aku janji akan berubah, Mas. Aku dipanas-panasi grupnya si Ginah suruh jalan sama Sulam. Tapi aku ndak pernah tidur sama dia, Mas. Demi Allah.” Kasiyah mengiba.

“Jangan bawa-bawa nama Tuhan! Menjijikkan!”

“Mas!” Sarti setengah membentak.

“Wajah Sarmi ada di dia, Ti!”

“Tapi wajah Mbak Kas juga ada di Hanum, Mas. Aku mohon. Kasihan Hanum. Aku yang sudah lama ingin punya anak saja belum dikasih kepercayaan, kamu malah mau bikin anakmu seperti kita. Eling, Mas.”

“Kalau begitu, mulai dari sekarang Hanum anakmu. Aku akan mengurus perempuan jalang ini supaya terputus kutukan Sarmi dalam keluarga kita.”

“Mau ke mana, Mas?” tanya Sarti.

“Jangan mencariku,” sahutku sambil menggeret Kasiyah dan memaksanya membonceng sepeda motorku.

**

Untuk Hanum, anakku satu-satunya, Bahagialah engkau bersama Lik Sarti dan Lik Darmin. Ayah akan menjagamu dari kejauhan, sambil mengawasi Kasiyah mengejar mimpinya untuk bisa membeli mobil bagus, supaya dia tidak perlu mengejar uangnya Sulam lagi. Untunglah kami ditempatkan di satu komplek sehingga bisa saling mengunjungi di negeri orang ini.

Bekasi, 23 Agustus 2022

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

1 comment