oleh

Kasih Ibu

Muka Khanza ditekuk kesal setiap kali wanita paruh baya itu menggelar dagangan di dekat gerbang masuk sekolahnya. Dari jendela kelasnya di lantai tiga, Khanza bisa melihat ibu tuna netra itu sudah siap dengan gerobak berisi ratusan pentol. Menunggu pembeli sembari berteriak kecil menawarkan dagangannya dan melempar senyum ramah.

Lalu, anak-anak akan berkerumun mengelilingi dan antre untuk membeli pentol. Bu Hanifah, si penjual pentol, selalu melayani anak-anak itu sembari berkisah. Kisah tentang para Nabi, Rasulullah, para sahabatnya, dan kisah-kisah menarik lain di dalam Al-Qur’an. Kisah yang sudah sangat jarang anak-anak itu dengar dari lisan orang tua mereka.

“Za, beli pentol, yuk!” ajak Aqila saat jam istirahat tiba.
Khanza memutar bola matanya.

“Kamu nggak bosen apa makan pentol terus?”

“Pentolnya Bu Hanifah itu nggak ada duanya.” Aqila memang penggemar pentol.

“Apalagi sambil dengerin ceritanya. Seru-seru, deh.” Aisyah mengamini.

Tiga sahabat itu lantas berjalan keluar kelas.

“Yang aku heran, emang Bu Hanifah bisa gitu bikin pentol sendiri? Apa ngambil di tempat orang dan cuma jualin aja?” Aqila memegang dagunya, berpikir.

“Bikin sendiri kok. Aku pernah ngobrol-ngobrol sama orangnya. Hebat banget, sih. Bisa mandiri meski dalam keterbatasan. Nggak mau minta-minta. Ya, kan, Za?” Aisyah menyenggol lengan Khanza.

“Biasa aja,” jawab Khanza cuek.

“Hebat, sih, menurutku. Aku salut banget sama Bu Hanifah. Nggak memanfaatkan keadaan fisiknya yang kurang. Kan ada tuh orang yang sehat malah pura-pura sakit supaya dikasihani,” bela Aqila.

“Bener banget.” Aisyah setuju.

“Tapi, suami sama anaknya ke mana? Kasihan aja gitu banting tulang sendiri. Apa udah nggak punya keluarga?” tanya Aqila.

“Suaminya udah meninggal. Anaknya ada, satu, masih sekolah. Jadi Bu Hanifah yang harus menghidupi keluarganya.”

Baca Juga  Cerpen: Heal Me to be Myself

“Ya seenggaknya anak Bu Hanifah bantuin kek. Apa nggak kasihan sama ibunya?”

Aisyah mengendikkan bahu sementara Khanza merasa tertampar dengan kalimat Aqila barusan.

“Aku tunggu situ, ya. Jangan lama-lama,” ucap Khanza saat ketiganya hampir mendekati gerobak Bu Hanifah. Dia menunjuk tempat duduk di dekat lapangan.

“Kamu nggak beli, Za? Enak banget loh pentolnya.”

“Aku nggak suka pentol.” Khanza memisahkan diri dan menjauh dari kerumunan.

Namun, naas, sebuah bola basket tak sengaja membentur kepala Khanza. Dia menjerit kaget. Kepalanya tiba-tiba berdenyut. Gadis itu pun terjatuh. Bu Hanifah yang mendengar pekikan Khanza bergegas menuju ke arah sumber suara. Dia meraba-raba jalan di depannya lantas menemukan Khanza yang terduduk di pinggir lapangan.

“Khanza! Kamu nggak apa-apa, Nak?” Bu Hanifah meraih tubuh Khanza khawatir.

Khanza spontan menepis tangan Bu Hanifah. “Pergi sana! Nggak usah sok baik, deh!”

Bu Hanifah tercekat di tempat. Hatinya mendadak gerimis. Sementara Aqila dan Aisyah yang berada tak jauh dari situ bergegas membantu Khanza berdiri

“Kamu nggak papa, Za?” Aqila mengecek kondisi Khanza.

“Pusing.” Khanza memegangi kepalanya.

“Itu kakinya lecet-lecet juga.” Aisyah mendapati luka di kaki Khanza.

“Kan abis jatoh tadi.”

“Ya udah, yuk, ke UKS.”

Aqila dan Aisyah pun meraih lengan Khanza dan memapah gadis itu menuju UKS.

“Bu Hanifah itu siapa kamu? Kok kayaknya khawatir banget tadi,” tanya Aisyah setelah mengobati luka di kaki Khanza.

“Bukan siapa-siapa,” jawab Khanza berbohong.

“Masak, sih? Kok dia tahu nama kamu padahal kamu nggak pernah beli pentol?” Aisyah curiga.

“Terserah kalau nggak percaya.”

“Tapi jangan gitu lah, Za. Kasihan dia. Kamu kok jahat banget sama Bu Hanifah.”

Baca Juga  Gadis Berkebaya Putih Gading

Bibir Khanza manyun saat mendengar kalimat Aqila barusan. Kenapa, sih, wanita tua itu jualan di sini? Pakai acara sok khawatir segala lagi! Aku harus bicara padanya sepulang sekolah nanti.
**

“Ibu jangan jualan di sekolah Za lagi!” seru Khanza ketus setelah beruluk salam dengan sang ibu.

“Memangnya kenapa, Nak? Di sekolah kamu itu rame, muridnya banyak. Alhamdulillah, dagangan Ibu jadi cepat habis.” Bu Hanifah tersenyum semringah.

“Pokoknya Za bilang jangan ya jangan!” Khanza meninggikan suaranya kesal. “Terus kalau ketemu di luar, nggak usah nyapa-nyapa Za, pura-pura aja nggak kenal.”

Bu Hanifah tersentak mendengar ucapan putri semata wayangnya barusan. Wanita itu mengelus dada sembari merapal istigfar.

“Kamu malu, ya?” Kepala Bu Hanifah tertunduk sedih. “Ya sudah, Ibu nggak akan jualan di sekolah kamu lagi.”

“Awas, ya, kalau sampai jualan di sekolah Khanza lagi!” Wajah Khanza memberengut sebal. Keningnya berkerut-kerut. Dia lantas masuk kamar dan membanting pintu.

Bu Hanifah kembali beristigfar. “Ampuni Khanza, Ya Allah. Berikan hidayah padanya agar dia berubah,”

Petang menjelang. Bu Hanifah mengetuk pintu kamar Khanza.

“Nak, makan dulu.”

Tidak ada jawaban.

“Khanza, makan dulu, Sayang. biar maagnya nggak kambuh,” bujuk Bu Hanifah.

Khanza yang ada di dalam kamar sebenarnya mendengar panggilan ibunya, tapi dia malas menjawab. Ia enggan berbicara dan bertegur sapa dengan sang ibu.

“Biar saja, biar kapok nggak jualan di sekolah Za lagi,” batin Khanza.

Gadis itu lantas menggelung tubuhnya dalam selimut.
Namun, perut Khanza melilit perih selepas isya. Maagnya pasti kambuh. Khanza mengendap-endap keluar kamar. Kepalanya celingukan mengamati keadaan. Saat tidak terlihat sosok ibunya, Khanza bergegas menuju warung terdekat. Gengsi kalau ketahuan makan di rumah.

Baca Juga  Cerpen : Glaukoma

“Mau beli apa, Za?” sapa pemilik warung ramah.

“Apa aja, deh, Bu. Yang penting ada nasi sama lauknya.” Khanza memegangi perutnya yang perih.

“Mau makan sini apa dibungkus?”

“Makan sini aja, Bu.”

“Maagnya kambuh, ya?” Pemilik warung melihat muka Khanza yang mengernyit seraya memegangi perut.

“Iya, Bu.”

“Kalau punya maag, jangan telat makan, Za. Ngomong-ngomong, tumben beli di warung. Emang ibumu nggak masak?”

“Eh, enggak, Bu.” Khanza berbohong.

“Pantesan sampai maagnya kambuh. Tapi, nggak biasanya Bu

Hanifah nggak nyiapin makan. Biasanya meski nggak masak, dia yang beli di warung. Bu Hanifah emang sayang banget sama anaknya.”

Khanza terdiam.

“Ibumu itu hebat banget, Za. Sejak ayahmu meninggal, dia banting tulang untuk menyekolahkan kamu. Bisa ngerjain apa-apa sendiri dan nggak mau minta-minta. Padahal, dia kayak gitu juga karena kamu, Za,” cerita pemilik warung seraya menyodorkan sepiring nasi berisi ayam goreng, lalpan, dan sambal kepada Khanza.

“Gara-gara saya, Bu?” tanya Khanza bingung.

“Iya, kamu kan pernah kecelakaan waktu kecil trus kehilangan penglihatan. Nah, ibumu yang mendonorkan kornea matanya untuk kamu.”

Tubuh Khanza seolah tersengat listrik ribuan volt demi mendengar kalimat ibu pemilik warung barusan. Dia tidak pernah tahu pengorbanan ibu yang demikian besar untuknya.

“Astagfirullahal adzim … Ampuni hamba, Ya Allah.”

Khanza teringat sikapnya yang sangat tidak terpuji pada sang ibu. Hujan sempurna turun dari kedua sudut mata Khanza. Gadis itu ingin lekas pulang dan bersimpuh meminta maaf di hadapan ibunya. []

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *