by

Kado untuk Dia yang Menjewer Telinga Anakku

Matahari sudah mulai mengeluarkan sengatnya, ketika aku membiarkan anakku bermain sendiri sementara aku menjemur pakaian. Tiba-tiba dia pulang sambil menutupi telinga kanannya.

“Ma, Dede dicubit.”

Ada yang aneh dari ekspresi wajah bocah empat tahun itu. Ada rasa sakit yang dia coba tutupi dengan senyuman, tetapi yang muncul adalah senyuman getir, hampir terlihat seperti orang meringis.

Kuhentikan kegiatanku. Aku membungkuk dan mencoba membuka tangannya.

Susah. Keras. Tangannya tetap menempel di telinga.

“De, buka, Sayang. Mama mau lihat,” pintaku.

Ketika anak itu akhirnya dengan sukarela menurunkan tangannya. Darahku serasa naik ke kepala. Merah. Bengkak. Pasti sakit sekali.

“Bilang Mama, siapa yang jewer kamu! Ini namanya dijewer, Nak, bukan dicubit!” Aku setengah histeris.

“Mbak-mbak itu.”

Gabriel menunjuk rumah kelima di sebelah barat.

Deg.

Aku tahu siapa pelakunya. Ingin segera berlari dan menunjuk muka manusia pembenci anak kecil itu, tetapi aku masih punya sisa kewarasan. Kuminta dia bercerita walau dada ini sesak.

“Dede, kan, lagi duduk. Telus kata dia, eh, ayo sini. Telus Dede dicubit.”

Kedua sudut bibir Gabriel tertarik ke bawah. Mungkin dia sama sesaknya denganku. Sudahlah. Aku tak sanggup lagi berdiam diri. Setengah kuseret tangan anak itu. Kakinya seolah punya rem yang cukup pakem untuk menghentikan langkahku.

“Ayo ikut Mama.”

Sementara berjalan menuju rumah si pelaku, ada sedikit ragu yang menyelinap di dalam batinku. Akankah aku yang masih anak kemarin sore dan baru saja pindah ke perumahan ini mampu melawan dedengkot gang Melati Dua?

Yuli, pelaku penjeweran anakku itu adalah anaknya Bu Edo yang hobi membelah bola, sambil mengacungkan golok kepada siapa saja yang berani bersuara saat menginjak jalanan di depan rumahnya.

Dia juga anaknya Pak Edo yang tanpa tedeng aling-aling memukul dan memarahi anak-anak, yang dianggap nakal dan melawan padanya.

Pasalnya, anakku termasuk sering dimarahi oleh Pak Edo karena dia suka ikut-ikutan temannya yang lebih besar, untuk meledek atau memetik cabai milik keluarga itu. Bagaimana kalau mereka menyerang balik dan lantas mempersempit ruang gerakku di komplek ini?

Baca Juga  Pak Abai Vs Bu Asih

Namun, ketika kuingat lagi, anakku memang tidak berbuat apa-apa ketika Yuli menjewernya. Aku harus berani menegur penghuni rumah bernuansa merah hati, yang tertutup rimbunnya pepohonan dalam pot-pot besar di depan pagar itu.

“Bu Edo,” panggilku pada ibunya. Memang aku lebih ingin bicara pada orang yang sudah tahu rasanya punya anak kecil.

Gabrielku kabur melihat bahwa ternyata perempuan berusia tiga puluh tiga itulah yang keluar. Belum aku bicara sudah menyerocos dia.

“Oh, ya, Mama Gabriel, tadi aku ada sedikit jewer dia. Nakal banget, sih,” katanya dengan nada dan bahasa tubuh sok diplomatis.

Aku diam sambil mengamati gaya bicara perempuan pemilik leher pendek dan dagu berlipat dua itu. Ada banyak pengulangan kata “nakal banget”. Saat kutanya nakal yang bagaimana yang anakku lakukan, Yuli menambahkan kata “kemarin”.

“Lho, nakalnya kemarin, kok, kamu jewernya sekarang?” nada bicaraku mulai meninggi.

“Ya memang nakal. Makanya punya anak diajarin, dong!”

Yuli tidak bisa menjelaskan kenakalan anakku secara spesifik. Semuanya terasa absurd dan hanya untuk menutupi ketidaksukaannya pada Gabriel.

Sampai di situ aku sudah tidak lagi bisa mengontrol emosi. Terserah mau jadi tontonan atau bahkan diviralkan, Yuli sudah melakukan kesalahan besar yang tak akan kulupakan sampai mati.

Ada tiga hal yang kupermasalahkan dari lajang yang hobi membisu saat lewat di depan orang lain itu. Pertama, dia sudah menyakiti seorang anak kecil yang dengan polosnya “numpang duduk” di depan rumahnya, sendirian, tanpa niatan buruk sedikitpun.

Kedua, dia sudah menyentuh tubuh anak orang lain yang kalau aku niat, bisa saja kutuntut dia berdasarkan undang-undang tentang perlindungan anak.

Ketiga, dia menjewer anakku karena dendam hari kemarin yang belum terlampiaskan. Sungguh tak masuk akal bagi perempuan setua itu, melakukan hal yang mungkin masih bisa ditoleransi jika saja pelakunya adalah anak SD.

Baca Juga  JANGAN MEREGUK SEMARA DALAM BUANA MAYA

Yuli salah tingkah karena kalah posisi. Perempuan yang mengenakan tanktop berwana ulat daun dengan celana sependek selangkangan itu berkali memunggungiku. Mungkin telinganya gatal mendengar omelan ibu satu anak ini.

“Awas, ya. Sekali lagi kamu sentuh anak saya, panjang urusannya!” bentakku sambil balik kanan.

“Ya udah, deh, maaf kalau Mama Gabriel nggak terima!” sahutnya ketus.

“Jelas saya nggak terima! Seumur hidupnya, saya nggak pernah jewer dia. Siapa kamu berani main tangan sama anak orang?” omelku.

Walau pada akhirnya Yuli meminta maaf dan mungkin sakit di telinga anakku sudah mereda, tetapi nafsuku untuk menjambak rambut kriwil berujung seruncing jarum sisa rebonding itu Masih terus berkobar.

Aku berharap Bu Edo keluar, biar sekalian kulampiaskan kekesalanku, tetapi sayang, pagi itu jalanan cukup sepi dari para penggosip. Aku pun pulang dengan dendam di kepala. Andai bapaknya anakku yang “gila” itu ada di rumah, mungkin Yuli sudah kena mental.

Setelah peristiwa itu, sepanjang hari hatiku terganggu. Entah berapa kali aku berkhayal menampar pemilik senyum melecehkan itu. Namun, aku diam, berharap dia menyesal akan perlakuannya pada anak kecil, terutama anakku.

**

Hari berganti, minggu berlalu, kini sebulan sudah peristiwa menyakitkan itu terjadi. Tiba-tiba anakku pulang dan membuat satu permintaan mencengangkan.

“Ma, Dede mau ngasih kado sama Mbak Yuli, Ma.”

Apa? Mana mungkin aku melakukan permintaan itu? Melihat batang hidungnya pun rasanya tak sudi. Namun, sebagai ibu yang ingin terlihat baik, aku terpaksa memakai topeng bidadari.

“Memangnya ada acara apa, De?”

“Mbak Yuli ulang tahun, Ma.”

“Oh, begitu.”

Aku tidak mengerti alasan orang seusia dia merayakan ulang tahun. Namun, anakku terus merengek karena katanya semua teman-temannya memberi kado. Kubungkuskan dua batang sabun mandi saja dan dia sudah senang.

Baca Juga  Kala Manis Tak Seindah Madu

Kupantau Gabriel dari jauh, kusiapkan mental untuk membentengi anakku apabila Yuli menyakitinya lagi. Anakku memasuki rumah itu dan lama tidak keluar. Batin ini memaksaku untuk menyusulnya. Kakiku seakan bergerak tanpa komando.

“De. Dede. Udah selesai belum acaranya, kok, lama keluar?” tanyaku dari balik pagar yang tertutup.

Tak ada suara apapun dari dalam sana. Aku takut terjadi sesuatu pada anakku. Aku pun merangsek masuk. Lihatlah, anakku duduk di lantai sambil memegangi kedua telinganya. Tak ada satu anak pun selain dia.

Yuli diam saja. Wajahnya serupa iblis kulihat.

“Kamu masih dendam sama anakku?” tanyaku datar sambil menahan rasa ingin meninju wajahnya.

“Iya, memang sengaja saya kerjain dia biar mau datang. Kalau Mama Gabriel nggak bisa ngajarin anak, Gabriel bakal terus ngerasain jeweran saya,” sahutnya ketus.

Aku pun menggendong anakku pulang tanpa sepatah kata walau dadaku serasa terhimpit bukit batu.

Dalam perjalanan pulang, Gabriel membuka kedua telinganya. dua-duanya merah dan membengkak. Kutanya anakku apakah Yuli menjewernya lagi dan dia pun mengangguk. Jangan ditanya bagaimana perasaanku.

“Kita ke rumah sakit sekarang, ya, De.”

Anakku meronta ketakutan tetapi kutenangkan dia dengan berkata bahwa aku sedang sakit dada dan ingin berobat.

Aku pun menelepon orang yang sempat kuajak konsultasi sebulan lalu.

“Kau uruslah orang itu, Bang. Sudah cukup aku diinjaknya. Aku buat surat visum dulu,” kataku setelah pembicaraan yang cukup panjang dan menguras emosi.

Kau rasakan ini, Yuli. Dendammu kepada anakku telah mengajariku bagaimana caranya membalas dendam dengan cara cantik. Anggaplah ini kado dariku. Bukti visum dan rekaman video yang sengaja kubuat saat menyambangi rumahmu tadi kurasa cukup. Pengacaraku belum pernah gagal menangani kasus seperti ini.

**

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.