by

Jatil Kelok Batas

Jatil Kelok Batas

Oleh:

Finka Novitasari

Ia melihat dua garis. Mula-mula lurus dan tenang, tetiba garis itu berkelok menukik tegas. Tidak ada aba-aba—bahkan tidak ada yang mengira—bila garis yang semula lurus akan melengkung bagai patah siku. Itu merupakan garis dua lajur rabat beton yang mengiringi selama melintas Kelok Batas. Nama tersebut dipilih karena jalan membentuk batas dua kecamatan—lebih populer disebut batas dukuh karena hanya digunakan mobilisasi dua dukuh.

Matanya diarahkan ke sebelah kanan, lalu ia temukan gugus pegunungan—lebih tepat dikatakan bukit—serupa nasi yang dicetak menggunakan mangkuk agar berbentuk bulat sempurna.

Ia memahami sepenuhnya, ia telah kembali. Sebentar lagi akan melewati Kelok Batas yang bagai huruf ‘L’ terbalik itu, tempat di mana ia meruahkan perasaan yang menghujam dadanya selama ini. Sebelum sampai di sana, di seberang jurang, terdapat sebuah rumah kecil berdinding gedek. Tampak asri dengan dua rumpun bambu yang melingkup di atasnya bagai lengkung gapura. Dedaunan kering tersapu angin bergulung-gulung di halaman. Tidak ada rumah lain di sekitar. Bila dilihat dari kejauhan hanya tampak serupa gubuk angker di tengah hutan.

Di Kelok Batas pula, tepatnya di samping rumah gedek, sebuah tanah lapang terhampar luas. Ketika malam satu Suro, di tanah lapang itu selalu digelar pertunjukan jatilan untuk meruwat desa. Iring tari-tarian menyala bagai kunang-kunang di gelap hari. Para gadis penari jatil bergerak kapang-kapang, berkelok, lantas beraksi penuh penghayatan.

Ada banyak kisah—setidaknya yang pernah pemuda itu dengar—mengiringi Kelok Batas. Seperti diriwayatkan leluhur, terdapat makhluk penunggu Kelok Batas yang tak segan-segan mencelakai korban bila tidak memberi isyarat ‘permisi’ tatkala melintasi kawasan tersebut.

Dan, benar saja, acapkali terjadi kecelakaan yang mayoritas korbannya belum terbiasa dengan tanjakan curam itu. Beberapa kali kendaraan terjerumus ke dasar jurang hingga hancur tak berupa. Ada pula riwayat mayat-mayat korban penumpasan PKI yang dibuang ke dalam jurang dan konon arwahnya bersinggasana di seputaran Kelok Batas.

Kisah lain, barangkali, akan lebih dipercaya datang dari seorang gadis penduduk setempat yang mengalami kecelakaan tunggal hanya karena lupa membunyikan klakson. Dua batang kayu jati menjadi perantara penyelamat tubuhnya, ketika gadis itu urung terlempar ke dasar jurang lantaran tersangkut dua batang kayu tersebut. Namun, sang gadis tetap tidak selamat. Agaknya ada faktor lain yang memicu kematiannya.

Pemuda itu tidak tahu persis walau ia turut memakan jeruk yang berhamburan di jalan bawaan sang gadis—meski lebih banyak yang terjun ke jurang—dibanding ikut menolong bersama penduduk lain. Syahdan, korban langsung dikubur di tepi jurang Kelok Batas untuk menolak bala.

Baca Juga  Cerpen: Rumah Pohon Berbagai Cerita

Terhitung sejak tinggal di kota rantau, telah lama pemuda itu tidak melintasi Kelok Batas. Biasanya, selepas Subuh, muda-mudi memenuhi rabat beton Kelok Batas menyongsong matahari gegas menampakkan wujud. Ketika fajar ceruk jurang akan menjelma gugusan mega hingga Kelok Batas tampak serupa negeri di atas awan.

Ia rindu suasana itu. Suasana fajar dan petang di mana ia masih bisa menghirup udara segar sembari menikmati warna merah saga di pelupuk cakrawala. Namun, ada hal lain yang lebih dirindukannya lebih dari sekadar spot sunrise maupun sunset: pesona sosok gadis penari jatil.

Semenjak terpikat oleh lekuk tubuh sang penari jatil pada malam satu Suro, ia tak bisa menghapus bayang-bayang kecantikan yang tergurat dari balik riasan sang gadis. Sepasang bola mata serupa kelereng, hidung bangir, dan kulit kuning langsat yang melekat pada diri penari jatil itu, tak pelak membuat ia mulai jatuh hati padanya. Pernah suatu kali pemuda itu hendak menyapa, tetapi seketika teman-temannya melontar gurau dengan olok-olok.

Kali lain dicobanya kesempatan ketika berburu spot matahari terbit di Kelok Batas. Ia mencoba mendekat sang gadis yang tengah bercangkung di antara belukar, sendirian. Namun, dari arah rumah gedek tiba-tiba ada yang memanggil, “ambil air, Apsarini! Tak ada air di dalam kulah. Air tempayan tinggal di dasar, sesibur pun tak ada. Tak sepatutnya anak gadis keluar rumah sebelum pekerjaan rumah selesai …!” Mendengar amuk yang telah mencapai ubun-ubun itu, sang gadis gegas menunaikan titah.

Walau telah mengetahui nama sang gadis, tugasnya belum selesai. Pemuda itu masih berusaha mendekati. Kerap kali ia bersembunyi di sela rimbun tanaman teh-tehan yang menjadi pagar hidup rumah limas sang gadis. Ia turut mengajak dua tiga teman untuk mengawani. Mafhumlah ia bagaimana galaknya nenek sang gadis apabila mengetahui cucunya mulai didekati para bujang.

“Nenek uzur itu banyak cakap. Dia tidak cuma bermata tajam, tapi juga tak segan-segan melayangkan kayu bakar bila melihat cucunya didekati anak bengal macam kita.” Demikian cerita salah seorang kawan yang makin membuat sang pemuda bergidik ngeri.

Lain waktu ia menjalankan misi yang sama: mengintip Apsarini. Apes! Kali itu dewi fortuna sedang tidak berpihak padanya. Nenek tua mengetahui rumahnya sedang diintai ketika terdengat tawa cekikikan dari balik pagar. Nenek tua memiliki tiga pohon kuweni yang belum matang benar. Sepemahamannya, anak-anak bengal itu pasti hendak mencuri kuweni untuk dijadikan rujak.

Pelintiran daun telinga dan omelan penyebab bengang telinga mesti diterima sang pemuda dan kroni-kroninya. Banyak kawan telah mengurai cerita serupa. Begitu pun ibu bapaknya melarang dirinya berurusan dengan nenek tua. Sang pemuda menurut saja, meski tak sampai hati merelakan pesona gadis ayu yang sedang ranum-ranumnya itu. Apsarini, ah, nama yang elok.

Baca Juga  Tak Searah

Ia tiba di Kelok Batas saat senja memerah di kaki gunung. Ia hentikan sejenak laju motornya, menepi di sisi kiri ruas jalan. Tidak banyak yang berubah, hanya rerumputan liar hingga sepaha orang dewasa tumbuh di kanan kiri jalan, menandakan kegiatan gotong-royong tidak digalakkan serutin dulu.

Sepanjang angin berembus, keheningan menyergap meski sesungguhnya decit burung ketika berpindah dari dahan satu ke dahan lain masih bisa terdengar. Ia melempar pandang dari kejauhan, mengintai rumah gedek sebab masih penasaran pada gadis penari jatil. Dihunusnya tatap pada setiap sisi rumah, mencari-cari keberadaan Apsarini kalau-kalau dia ada di rumah dan pemuda itu akan mengajaknya menikmati senja temaram di Kelok Batas. Tetapi, rimbun tanaman, pohon kuweni, dan pagar hidup yang melingkupi limas lapuk itu membatasi mata selidiknya.

Pemuda itu memutar pandang ke arah gugus gunung yang telah lama tidak ia nikmati. Namun, tatapannya malah menukik pada sebuah rupa di antara dua batang kayu jati. Angin saling berkejaran diikuti munculnya sekelebat bayang yang kemudian menjelma sebuah sosok. Siapa gerangan pemilik paras ayu itu? Dengan langkah gontai seorang gadis mengirap surai.

Apsarini. Ya, tidak salah lagi, gadis itu muncul dari balik belukar dengan jarit parang srimpi beserta sampur kuning merah melilit pinggangnya. Persis ketika hendak menjelma widodari pada malam satu Suro.

Pemuda itu tercekat, perlahan kakinya mendekat. Menikmati seulas senyum dari bibir ranum yang telah lama hilang dari pandang matanya. Parasnya ayu, bening. Dilihatnya lamat-lamat wajah Apsarini, jantungnya berdegub. Jiwa yang semula redup mendadak hidup, persis ketika rindu terpaut oleh sapaan.

Langit makin kelam, sedang wajah gadis itu seolah membiaskan cahaya. Wajah yang pucat kesi, beku, serupa mayat yang sudah terbenam dua-tiga hari. Namun, pesonanya menyembul ketika sampur mulai dikibaskan dan kakinya yang telanjang menghentak tanah tiga kali. Indah sekali, akunya. Entah dari mana asalnya, tetiba suara gending menyepuh sunyi. Tubuh Apsarini bergerak seirama tetabuhan gendang, saron, gong, dan gambang yang bersatu padu.

Sesungguhnya tak ada pesta digelar, tetapi pemuda itu merasakan kemeriahan. Persis ketika penayub mulai mengelilingi penari jatil dengan sampur mengalung di leher. Sepasang binggel yang melingkari mata kaki bergemerincing. Ia takluk. Tak kuasa hatinya mengelak.

Baca Juga  Cerpen: Sebuah Rasa

“Kau masih di sini?” tanya pemuda itu. “Sekali pun aku sudah bertahun-tahun meninggalkanmu?”

Sang gadis membalas dengan sehidang senyum. Angin mengibas rambutnya ke udara, tetapi udeng yang melekat di kepalanya tak bergoyah sedikit pun.

Pemuda itu mendekat. Namun, langkahnya tak kunjung sampai. Padahal, Apsarini masih berdiri di antara dua sisi batu yang terpancang dengan separuh cahaya yang berpendar memancarkan paras ayu, persis ketika pemuda itu berjumpa dengan sang gadis di suatu waktu, di ujung senja pada sebuah masa.


“Dik, Mas tadi ketemu pujaan hati.” Pemuda itu tersenyum. Sang adik dahinya mengerut diikuti tanya yang seketika memintasi kepalanya: siapa?

Pemuda itu terus tersenyum. Malam itu ia membawa kerinduan ke rumah, berharap lelah datang dan kantuk mengundang sang gadis lekas-lekas mengetuk mimpinya. Namun, adiknya berpikir ada sesuatu yang lain. Tidak mungkin, batinnya berkali-kali. Ia menindih-redam sejenak pikiran yang bercabang-cabang dan merambati berbagai kemungkinan-kemungkinan. Cukuplah kejadian lalu sekali terjadi, bukan terulang-ulang, ia membatin lagi.

“Kuburnya di sebelah Utara Kelok Batas. Besok kuantar jika Mas ingin menziarahinya.”

Adiknya yang masih mengenakan mukena itu lantas berlalu meninggalkan sang pemuda. Ia mematung. Sesaat kelu menjarah lidahnya. Tetiba ada sesuatu memaksa masuk dalam benaknya, mengetuknya berkali-kali: kenapa rumah gedek suram tak terawat; kenapa ketika mencoba didekati, gadis itu terasa makin jauh; kenapa ada dua batu terpancang di dua sisi. Apsarini akan menari. Ia terus meyakini.

Lain dari itu, dadanya sesak mendengar ucapan sang adik. Cerita sang belahan jiwa yang telah terkubur lama hendak digali kembali. Ada kisah yang belum rampung. Kisah yang bercerita tentang dirinya, juga Apsarini.

Sementara, di waktu yang sama, di suatu ruang yang lain, tubuh seorang gadis meliuk bersama dua sampur merah kuning melingkari pinggangnya. Matanya terlihat keperakan, air mata menganak sungai di sana. Senja yang telah larut itu menyadarkannya akan satu hal: ada yang tidak tergapai meski jarak sedekat nadi. Sedu-sedan yang tertahan akhirnya pecah mengetahui sang pemuda membentangkan ruang yang begitu luas di dadanya. ”Datanglah kembali pada suatu malam, di sebuah makam manakala tak ada candra juga gemintang, Sayangku.”

Catatan:

Suro: Muharam

Binggel: Gelang kaki

KOMPAK Yogyakarta, Mei 2022

Finka Novitasari, mahasiswi Manajemen, Universitas Alma Ata, Yogyakarta. Aktif dalam Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK).

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment